Archive for May, 2008

Jawaban bagi saudaraku…

Setelah artikel ini, yang kemudian saya tanggapi dengan ini, penulisnya kemudian memberikan tanggapan lebih lanjut yaitu ini. Oleh karena itu saya coba untuk memberikan tanggapan sebagai berikut:

Hmm… ok, Insya Allah saya bisa menangkap pesannya. Oleh karena itu saya mohon maaf, berarti masalah ini ada pada tataran perbedaan pandangan kita seputar dakwah politik serta bagaimana kita memandang hubungan kita sebagai individu muslim dengan ulil amri/penguasa. Hal ini bersifat furu’iyah (ijtihadi dalam dakwah), dan bukan hal yang bersifat Ushul (pokok ).
Saya menghormati argumen dan sikap antum tersebut seutuhnya, namun disamping itu saya berharap pula antum bisa menghormati sikap yang kami pilih yang meninjau fenomena ini dari sudut pandang berbeda. Sekali lagi, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga gesekan-gesekan kecil dalam hal pemikiran ini tidak menghalangi kita untuk tetap berukhuwah sebagai sesama muslim.

Penyebab utamanya telah jelas, yaitu bagaimana masing-masing memahami interaksi antara seorang muslim dengan pemerintahnya memang sama sekali berbeda. Tanpa mencoba untuk merendahkan atau beradu/menyanggah argumen beliau, saya coba memaparkan sedikit dari apa yang saya pahami. Bahwa sebagaimana rukun islam yang lima, dakwah dan amar ma’ruf nahyi munkar merupakan kewajiban yang secara inheren muncul bersama dengan keislaman kita. Pada intinya, dakwah merupakan kewajiban yang melekat pada diri seorang muslim.

Salah satu bentuknya adalah mengkritisi dan meluruskan kedzaliman yang dilakukan institusi pemerintah terhadap rakyat yang diayominya. Inti dari keberadaan pemerintahan adalah untuk memberikan kemaslahatan bagi ummat, jika hal itu tidak dapat dilakukan oleh ulul amri dan bahkan cenderung terjadi hal sebaliknya (eksploitasi rakyat secara zalim) maka sudah sepatutnya sebagai seorang muslim mengingatkan. Tujuannya agar yang sudah salah tidak semakin bertambah salah.

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-ra’du: 19)

Wallahu a’lam bishshawab

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Kekalkanlah Ikatan Kami Yaa Allah!

Kemarin, hari jumat siang, alhamdulillah aku diberi kesempatan untuk kembali bersua dan bersilaturahmi dengan saudara-saudaraku alumni Husnul Khotimah di acara silaturahmi ISHLAH (Ikatan Alumni Husnul Khotimah) cabang Bandung. Begitu banyak hal berkesan yang aku dapat dari acara ini, terutama karena bisa berkenalan dengan alumni-alumni angkatan muda yang sebelumnya nggak saya kenal dan berbagi cerita dan kegundahan seputar Pondok serta rekan-rekan yang menghilang dari peredaran selepas keluar dari ma’had. Acara yang berlangsung selepas jumatan hingga maghrib itu benar-benar menjadi sarana melepas kerinduan dan isian ruhiyah yang maknyus buat saya pribadi.

Ada belasan ikhwan serta belasan akhwat dari berbagai angkatan yang hadir. Alhamdulillah aku dan Akh Iman belum menjadi angkatan [paling] tua, karena akh Ginanjar Hatuala datang di acara tersebut. Beliau adalah teman seangkatan Ramdhan TG’03 yang (baru aku ingat ternyata sama sepertiku) keluar dari ma’had selepas MTs untuk melanjutkan studinya di SMU negeri. Keberadaan beliau begitu aku syukuri karena ada kisah dan taushiyah dari Ikhwan yang baru saja berbahagia dengan kelahiran anak pertamanya ini, yang luar biasa mengena bagi diriku. Taushiyah ini beliau dapat dari seorang alumni lain eks-presiden ISHLAH pusat, Akh M. Muthi Ali. Insya Allah taushiyah tersebut akan coba aku rangkaikan bagi antum semua yang membacanya saat ini.

Alkisah…

Di suatu waktu, ada seorang akhwat alumni generasi awal yang selepas lulusnya dari HK kemudian melanjutkan studi dan menetap di daerah jakarta. Bersyukurlah, Allah menghendaki akhwat ini untuk tetap istiqamah dengan aktivitas dakwah dan tarbiyahnya selepas dari ma’had, disaat banyak pula alumni yang lain yang seolah-olah terbebas dari belenggu aturan di ma’had dan kemudian secara utuh kehilangan identitas kesantriannya (kayak saya juga, terutama saat SMA). Seakan gemblengan selama 6 tahun hilang begitu saja, berganti dengan pencarian identitas dan pemaknaan hidup yang semu dalam trend serta mode yang ada di lingkungan barunya. Bahkan tidak jarang pula dari mereka yang kemudian kehilangan ruh dan kemauan untuk tetap istiqamah dalam melanjutkan aktivitas halaqahnya.

Tetapi tidak begitu dengan akhwat ini. Militansi nan menggebu-gebu terbina dalam wajihah aktivitasnya seakan bersinergi dengan tempaan tsaqafah dan pemahaman yang didapat semasa di ma’had. Amanah seakan silih berganti menggoda uluran tangannya, hingga suatu waktu sampailah beliau pada suatu ujian yang menguras energi ruhiyahnya hingga mencapai limit. Himpitan masalah yang sedemikian besar membuatnya gundah hingga titik yang tak tertahankan. Ditengah kegundahan itulah, ia coba untuk berhenti sejenak, menemukan sebuah tujuan pelarian dari kejaran bayang-bayang masalah yang menghantuinya tersebut. Dan… ia memutuskan untuk melarikan diri ke… Ma’had Husnul Khotimah.

Ia memutuskan untuk kembali kerumah yang telah sekian ia tinggalkan. Tanpa banyak pertimbangan, dipacunya mobil pribadinya, menyetir sendirian dirute antara jakarta-kuningan, ditengah malam tanpa ada rekannya yang tahu. Hanya dia dan perjalanan malam itu yang larut dalam perenungan, dengan tujuan satu… kembali ke rumah yang telah menggembleng dan memberinya banyak hal sebagai bekal kehidupan. Dan sampailah ia ke tujuannya di dini hari yang dingin menusuk, dengan segera melanjutkan perenungannya dalam raka’at-raka’at sunyi menjelang subuh. Baginya kini, tujuannya untuk menemukan perhentian sejenak ditengah hiruk-pikuk aktivitas rutinnya telah tercapai.

Ia datang ke rumah ini bukan untuk menanti wejangan dari ustazah-ustazah yang membinanya. Ia datang ke rumah ini bukan pula untuk menemukan wadah curahan hati diantara rekan-rekannya yang masih menetap disini untuk mengabdi pada Ma’had. Bahkan ia telah berniat untuk bungkam seribu bahasa tentang segala masalah yang tengah menimpanya saat itu. Semuanya karena sekali lagi, tujuannya kesini tak lebih hanya sekedar menemukan kembali suasana yang telah lama hilang dari derap langkah kesehariannya di Ibukota. Tidak lebih sedikitpun.

Namun… kedatangan si anak hilang di rumahnya setelah sekian lama ternyata segera disambut oleh kehangatan pelukan rekan-rekan dan ustadzah-ustadzahnya disana. Dan serta merta pertanyaan itu terungkap oleh saudari-saudarinya tersebut…

“Ukhti sedang punya masalah?”

“Ada yang bisa ana bantu ukh?”

“Jika ukhti punya masalah, ukhti bisa cerita ke kami.”

Ajaib!! Serta-merta bantuan yang sesungguhnya tidak ia harap-harapkan tiba-tiba datang begitu saja. Rengkuhan ukhuwah yang hangat tersebut akhirnya mampu melunakkan hatinya untuk mengungkapkan permasalahan yang sebenarnya masih sedemikian menghimpitnya. Para pendengar setia ini mendengarkan dengan seksama dan mencurahkan segala daya upaya mereka untuk meringankan gundah saudarinya ini. Singkat cerita… dengan energi baru yang berlipat-lipat, hati yang plong dengan solusi, ia kembali ke Jakarta dengan kondisi pikiran yang lebih segar. Siap menghadapi tantangan-tantangan baru di ruang-ruang aktivitasnya.

Kisah tersebut membawa kita pada sebuah perenungan, tentang apakah sebenarnya yang telah menggerakkan rekan-rekan dan ustadzah dari si Akhwat ini, sehingga mereka secara spontan dan naluriah segera dapat menyadari akan adanya masalah yang sedang melanda si Akhwat dan secara proaktif menawarkan bantuannya tanpa menunggu curahan hati si Akhwat. Padahal si Akhwatpun sejak awal tidak sedikitpun berniat untuk memberatkan pikiran saudari-saudarinya tersebut dengan masalahnya. Mungkin kita akan secara otomatis mengungkapkan satu kalimat: “Itu semua karena ukhuwah…”. Namun, apakah sesederhana itu penjelasan dari semua fenomena tadi? Apakah fenomena tersebut muncul begitu saja seiring kedekatan yang telah terjalin bertahun-tahun?

Sekarang aku coba mengajak kita semua untuk mungkin sedikit merenung tentang kejadian sejenis yang mungkin pula kita alami dengan bentuk yang berbeda. Mungkin kejadian-kejadian lain ketika kita merasakan adanya kemudahan dan bantuan yang tiba-tiba datang tanpa kita sangka-sangka. Momen-momen yang ternyata jika kita pikirkan lebih dalam, sebenarnya telah menyelamatkan diri kita dari lenyapnya hidayah yang bisa terjadi kapanpun tanpa kita mampu mengelaknya. Mungkinkah itu semuanya muncul begitu saja seiring semakin lamanya kita berinteraksi dengan rekan-rekan kita tersebut?

Satu ucapan akh Ginanjar yang segera menyentak pikiran saya…

Kita nggak akan pernah tahu kapan doa rabithah yang kita ucapkan akan terkabul!

Doa yang sedemikian fasih terucap dari lisan-lisan kita itu, yang mungkin saking seringnya diucapkan mungkin kerapkali terasa kosong tanpa ruh sehingga menjadi lantunan hafalan yang terucap spontan saja. Pernahkan terlintas dipikiran kita bahwa kemudahan-kemudahan dan bantuan-bantuan saudara-saudara kita seiman yang muncul di keseharian aktivitas kita mungkin saja merupakan jawaban Allah terhadap doa Rabithah kita selama ini? Akh Ginanjar pun melanjutkan dengan sedikit gurauan…

Bahkan mungkin doa-doa ma’tsurat kita semasa di pondok dulu yang ‘terpaksa’ kita ucapkan ba’da subuh dan maghrib karena telah menjadi acara wajib yang tidak bisa kita elakkan. Tanpa kita sadari doa itu mungkin telah terkabul dalam bentuk kemudahan-kemudahan yang kita rasakan, dan bantuan yang tidak kita sangka-sangka. Meskipun doa itu terucap setengah terpaksa keadaan.

Dari sinilah kemudian ada baiknya kita memaknai lebih dalam tentang doa yang begitu akrab dengan kita ini. Sesungguhnya jika kita renungkan doa tersebut lebih dalam dan apa yang terjadi dengan diri kita sebagai makhluk, maka kita temukan bahwa sesungguhnya faktor terbesar yang membuat kita tetap istiqamah dalam naungan diin-Nya mungkin bukanlah ikhtiar kita untuk senantiasa dekat dengan saudara-saudara kita, melainkan keridhaan dan kehendak Allah untuk tetap mempertemukan kita dengan saudara-saudara kita tersebut. Maka dari itu secara pemaknaan sendiri, doa rabithah ini sebenarnya terdiri dari dua bagian:

Bagian pertama:

Allahumma… Innaka ta’lam anna hadzihil quluub (Yaa Allah… sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini…)
qad ijtamaat alaa mahabbatik… waltaqqat ala Thaa’atik… (telah berkumpul dalam kecintaan pada Mu, dan bertemu dalam ketaatan kepada Mu…)
wa Tawahhadat ala da’watik… wa ta’aahadat nashrati syari’atik… (dan bersatu dalam dakwah/seruan Mu… dan berjanji/berikrar untuk membantu/memenangkan syari’at Mu…)

Pada hakikatnya bagian pembuka doa rabithah ini bukanlah suatu bentuk permohonan. Bagian ini sebenarnya suatu bentuk pengakuan seorang hamba terhadap ketentuan yang telah menjadi kehendak Allah terhadap dirinya dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan. Bagian ini adalah pengakuan kita bahwa tidak ada kekuasaan apapun yang kita miliki sehingga kita berkumpul dalam jama’ah dan komunitas yang sama, melainkan karena keridhaan Allah terhadap keberadaan kita disini.

Selanjutnya, setelah kepasrahan yang kita berikan tersebut, di bagian kedua/akhir masuklah kita pada rangkaian permohonan:

fa watstsiqillahumma rabithatahaa…
wa adimmuddahaa… wahdiha subulahaa…
wamla’haa bi nuurikalladzi laa yakhbuu…
Wasyrah suduurahaa bi faidzil iimaanubik…
wa jamiilit tawakkuli alaik…
wa ahyihaa bi ma’rifatik…
wa amithaa ala syahaadati fii sabiilik…
wa amithaa ala syahaadati fii sabiilik…
wa amithaa ala syahaadati fii sabiilik…
innaka ni’mal maulaa… wa ni’mannashiir…

Kita memohon supaya ikatan hati yang kita rasakan ini dikekalkan oleh-Nya, dst…, dst…, hingga di permohonan pamungkas, kita meminta untuk dimatikan bersama saudara-saudara kita tersebut bersama-sama dalam predikat kematian tertinggi dan paling mulia, yaitu dalam kesyahidan. Sesungguhnya pada bagian ini kita tidak sedang mendoakan diri kita sendiri. Kita sedang mendoakan agar kita memperoleh kebaikan, dan kita ingin agar saudara-saudara kita menerima kebaikan yang sama baiknya (dan bahkan mungkin lebih). Ditengah ucapan (yang semoga kita ucapkan dengan) tulus pada fragmen terakhir itulah, sesungguhnya kita sedang berusaha berikhtiar menempatkan diri kita dalam tingkatan ukhuwah tertinggi, yaitu itsar. Memberikan permohonan terbaik kita disela-sela doa harian kita bagi mereka, saudara-saudara yang kita coba untuk jauh lebih kita cintai dibanding diri kita sendiri.

Dan pertanyaan penutup… sudahkah perasaan kita menyertai permohonan yang terucap dalam doa kita tersebut?

Ardee’est Things in My Life
[Menjelang dzuhur, Ganesha, 31 Mei 2008]
Teruntuk saudara-saudaraku, Uhibbukum Ahsanu Mahabbatu Fillah

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

DisOrientasi

Saat hobi jadi profesi Mulai SMK aLe adlh pecandu Teknik Mesin, sampe kuliah smstr 4, teuteup.. Smstr 5 mulai nyandu komputer hingga mampu mndirikan usaha Rental Komputer Kemampuan Teknik Mesin(nya) melorot Karena punya usaha rental Dan terima servis kmptr Kmampuan d bdng kmptr mningkat Dan d bdng Mesin jd mengharukan Sekarang beralih lg ke bLogging Belum cukup mumpuni d bdng kmpr, skr nyandu [...]

Comments off

Cara menghilangkan (list dan form) komentar di Wordpress

Sebelumnya aLe kasih kabar gembira neh,
Mulai sekarang kamu2 bisa kirim request segala kesulitan kamu tentang dunia Wordpress dan dunia online kepada aLe loh, silahkan meluncur kehalaman request. Memang sih aLe ga bgitu pintar dan jago dalam dunia tersebut tadi, tapi minimal dari request anda aLe akan menjadi tahu banyak hal, siapa tahu yang anda ‘keluh-kesah’kan nantinya aLe belum menguasai, jadi mau gak mau aLe kudu belajar lagi. Walhasil, lebih banyak belajar akan menjadi lebih mumpuni dan lebih jago tentunya ;) *sok + kePDan mode : on*

Yeah, untuk mengawali karir request tutorial kali ini, ada sebuah ‘curhat’ yang aLe temukan di shoutbox teman. Yang me-request ini adalah salah satu dari pemilik warung jajanan keripik kentang blog keritikentang, tepatnya si nona. Halo non, salam kenal dari aLe ya *halah* :P

Seperti tertera pada judul postingan kali ini,
Bagaimana sih cara menghilangkan (list dan form) komentar di Wordpress?

Cukup mudah sebenarnya (jika tahu) ^^
Silahkan login ke akun bLog anda, dan masuk ke Tab ‘Design / Template’
Masuk di Theme Editor dan klik ‘Single Post (single.php)’

Perhatian! : Copy paste dahulu semua kode tersebut di Notepad, agar jika sewaktu2 anda salah dan terjadi error bisa dikembalikan kodenya

Temukan kode dibawah ini :

<?php comments_template(); ?>

Yup, silahkan hapus kode tersebut, dan tekan tombol ‘Update File’
Lihat hasilnya, disemua postingan anda tidak akan nampak form komentar dan komentar masuk 1 pun.

Ohya, jika anda ingin melakukan di bagian halaman/page
lakukan langkah2 diatas pada file ‘Page Template (page.php)’

Selamat mencoba ;)

Comments off

Raja

Nyumbang

Foto atau gambar bisa berbicara banyak hal.  Terkadang sebuah foto bisa ‘menampar’ lebih keras daripada tangan untuk menyadarkan kita.  Kejadian dalam foto di atas tidak selalu kita saksikan setiap hari.  Namun, itu adalah sebuah kejadian nyata.

Saya bersyukur dikaruniai fisik yang masih sempurna, begitu pun anda, mungkin.  Akan tetapi, tidak semua orang -termasuk saya- yang bisa berbesar hati menerima karunia tersebut.

Hati adalah raja, begitu Rasulullah SAW mengajarkan.  Jika sang ‘raja’ lemah, lemah pula rakyatnya, begitu pun sebaliknya.  Beruntunglah jika anda memiliki raja yang kuat, berani, sehat dan baik.

Foto di atas hanya salah satu dari sekian banyak kejadian yang pernah kita lalui.  Akan tetapi, dari foto di atas, saya - dan mungkin juga anda- mendapatkan (lagi) sebuah pelajaran berharga betapa luar biasanya kekuatan sang raja.

Foto di atas saya ambil dari blog-nya caplang.  Konon, caplang juga dapat dari milis, entah milis apa.  Saya hanya membayangkan, jika foto tersebut dipajang di tempat pengambilan BLT, apa yang akan masyarakat pikirkan ya?

Citamiang61.  300608. 16.30.

Comments off

Perlunya Inisiatif IGOP : Indonesia Go Proprietary

Legal Summit IGOS Summit 2 baru saja kelar . Setelah selama dua hari digelar di JaCC Kebong Kacang, Jakarta (27-28/5). Acara ini merupakan deklarasi ulang atau mungkin lebih pasnya pemantapan kembali deklarasi IGOS Summit yang dulu pernah dikukuhkan oleh lima departemen. IGOS Summit yang pertama kurang mantap? Mungkin. Sekarang sudah ada 18 instansi yang ikut deklarasi kedua ini.

Tapi, apakah sudah mantap? Ya. Mereka telah mantap untuk mendeklarasikan IGOS Summit 2 dengan penggunaan sofware legal. Jadi, terserah apakah Open Source atau Proprietary, yang penting legal. Dua-duanya didukung pemerintah dan berharap bisa saling menjembatani, tidak perlu lagi ada pertentangan. Eh…tunggu-tunggu… ini acara “Be Legal Summit” apa IGOS Summit ya? Entahlah, seharusnya yang lebih tepat adalah “Be Legal Summit”. Karena kalau IGOS Summit, berarti mereka sudah mantap memilih Open Source.

“Mungkin, IGOS Summit 2 ini hanyalah sekedar seremonial saja,” kata Onno W. Purbo ketika sedang berbincang-bincang di acara IGOS Summit tersebut.

Mungkin ada benarnya juga yang dibilang pak Onno. Dan agar terlihat bahwa itu adalah acara untuk kalangan “Open Source”, maka acara-acara maupun peserta adalah dari kalangan komunitas Open Source. Menkominfo M.Nuh pada sambutannya juga memberikan ide untuk membuat duta besar atau ambassador Open Source. Pak Menteri ini memang rada nyentrik, dulu pas pesta blogger juga pernah menantang blogger untuk membuat semacam Mars Blogger dengan hadiah laptop. Saya sendiri tidak tahu kelanjutannya.
Betty
Ambassador agar lebih menarik biasanya adalah cewek yang muda, smart, cantik. Cari-cari-cari, akhirnya terpilihlah Betty Alisyahbana, mantan orang nomor satu di IBM yang sekarang memiliki portal QBHeadlines. Saya tahunya informasi ini dari feha. Pemilihan beliau sebagai duta besar Open Source saya kira juga cukup tepat. Mengingat jam terbangnya yang sudah cukup tinggi di industri TI dalam negeri dan membawa IBM menjadi salah satu perusahaan paling diidamkan banyak orang.

Seberapa jauh keefektifan duta besar ini? Saya belum tahu. Semoga saja bukan merupakan kelatahan dimana sekarang memang sedang musimnya duta besar. Segala sesuatu memakai duta besar.

Nah, sekarang sudah terlihat dengan jelas bahwa pemerintah “mendua”. Mendukung baik Open Source maupun Proprietary. Tapi, saat ini sepertinya masih kurang adil. Karena deklarasi yang ada baru IGOS (Indonesia Go Open SOurce!). Seharusnya kalau pemerintah memang mendua, maka jangan setengah-setengah. Pemerintah juga sebaiknya mendeklarasikan IGOP (Indonesia Go Proprietary!).

Dengan adanya IGOS dan IGOP, maka semakin terlihat bahwa pemerintah memang mendukung keduanya. Selain itu, jika ada IGOP, saya sangat yakin pemerintah akan mendapat dukungan yang sangat besar dari Microsoft. Vendor tersebut akan mau mengeluarkan “bantuan” yang cukup besar dengan dalih mencerdaskan kehidupan bangsa lewat teknologi.

Terutama adalah bantuan kepada sekolah-sekolah, sehingga ketika mereka sudah memasuki dunia kerja, maka akan terjadi ketergantungan terhadap produk yang proprietary. Ini tentu sangat menguntungkan bagi Microsoft dan perusahaan sejenisnya. Jadi, tidak masalah kalau mereka keluar uang duluan atau investasi dimana nanti pasti akan memetik hasilnya.

Pada acara IGOS SUMMIT 2 kemarin, kan juga sudah menetapkan duta besar baru untuk Open Source, yaitu ibu Betty. Maka agar program IGOP ini sukses dan menarik, perlu juga pemerintah mencari duta besar untuk Proprietary software.

Secara tidak sengaja, saya iseng-iseng main ke wikinya Cah Andong. Cukup surprise bahwa ternyata salah satu blogger kita ada yang sudah menjadi Ambassador Microsoft. Siapa lagi kalau bukan Alex. Sesuai dengan halaman “About Me” di blognya, Alex memang Microsoft Student Ambassador. Dulunya, dia adalah aktivis Linux di Jogjakarta. Bahkan sempat menjadi koordinator KSL di kampusnya. Tapi, idealis sekarang memang sudah gak penting lagi. Sehingga berganti “mahzab” merupakan hal yang wajar.

Microsoft, seperti yang kita tahu adalah perusahaan software terbesar di dunia yang berpaham proprietary. Jadi, Alex mungkin bisa masuk sebagai nominasi.
Tapi menurut Anda, apakah Alex tepat jadi ambassador Proprietary, ataukah ada calon lain?

Entah siapa yang akan jadi ambassador nantinya, karena IGOP baru sebatas wacana yang saya gulirkan. Belum tahu apakah ini akan berjalan atau tidak. Dan saya kira, ini cukup adil kan? Inisiatif yang adil bila pemerintah memang tidak mau memilih OPen Source sebagai pilihan utamanya.

Dan jika memang berjalan, saya yakin dukungannya akan sangat besar. Instansi pemerintah yang ikut mendeklarasikan saya kira tidak cuma 18 seperti di IGOS Summit 2, tapi mungkin sampai ratusan. Karena proyek-proyek TI yang menggunakan software proprietary biasanya sangat menggiurkan. Banyak uang yang mengalir. Tentu, ini akan menguntungkan dua belah pihak, kan?

Comments off

Orang terkaya di Indonesia

Benar kah Aburizal Bakrie adalah manusia yang paling terkaya di Asia Tenggara ?

Menurut berita yang saya dengar, kekayaannya mencapai 5,4 Milliar USD.

Gak tau juga, muter - muter di Internet masih lom dapet juga :D , tapi bagaimana dengan Achmad Zaini ? dia mengklaim mempunyai kekayaan 20 kali lipat dari APBN Indonesia. Om Priyadi memberikan data bahwa mustahil klo dia sekaya itu, karena dengan begitu dia merasa mempunyai hak atas lebih dari setengah emas di bumi.

Saya pribadi pun tidak meyakini bahwa dia mempunyai kekayaan sebanyak itu, dan dia juga mengakui bahwa dirinya adalah keturunan ke 13 dari Prabu Siliwangi. Dari situ saya berkesimpulan itu boong belaka, kenapa ? karena biasanya orang kaya mentok sampe tujuh turunan :D, bukankah kita selalu bilang klo berangan - angan klo pengen kaya sampe tujuh turunan, sialnya dia ternyata turunan ke 13.

Entah apa salah angka tujuh ?

Bahkan kadang kita sering menyumpah orang dengan bilang “Lo kalo boong, mandul 7 turunan yah.” Gimme a break, kita semua tahu, klo orang mandul itu gak bakalan punya turunan.7 Juga itu nomor nya beckham dulu, gak tau sekarang udah ganti apa belom, gak merhatiin :D .

Bek to topic :

Berarti, Orang terkaya di Indonesia memang bakrie, seengganya itu menurut majalah forbes.

Comments off

Aku lebih cinta matiiiii… daripada kamu!!

“Aku cinta matiiiii… daripada kamu!!” by Admiring Pelangi

[Serius... ini fiksi lho, cuma sekedar cerpen iseng nan spontan]

“Say, aku cinta kamu!”

Akhwat yang diajak ngomong itu bengong. Jangankan tersentuh, kebayangpun nggak dengan apa yang barusan dicelotehkan si Cowok sableng itu.

“Ah… masa’ sih? Serius?” sahut si akhwat kesal.

“Seriuuuussss deh, aku cintaaaaaa banget sama kamu!” jawab si cowok dengan tampang memelas.

“Hmmm… kamu berani ngelamar aku hari ini juga?”

Si cowok diam, sekarang giliran dia yang bengong ditodong seperti itu.

Ngh… aku mau kok nikahin kamu, tapi… masak iya secepat itu?”, tanyanya ragu.

“Lho, emangnya kenapa?” tanya akhwat itu menantang.

“Ngh… ya… kita kan belom terlalu mengenal.” jawab si cowok sambil garuk-garuk kayak beruk diatas pohon kapuk.

“Lhah… nah, itu dia! Kok bisa kamu ngomong cintrong?”, introgasi si Akhwat berubah jadi segalak polwan baru lulus Sepolwan Pasar Jumat.

“Menurut aku kamu baek, pinter, solehah, bla bla bla…” jawabnya sambil terus mengabsen sifat si akhwat yang ada dalam bayangannya.

“Nah… nah… nah…” potong si Akhwat, “katanya nggak kenal aku. Tapi kok… kayaknya malah kamu yang lebih kenal diriku dibanding diriku sendiri?”.

Si cowok mati kutu… persis kayak kutu dipites pake kuku. Dia terdiam salting sambil sesekali menggaruk kepalanya yang nggak gatal sama sekali.

“Yo wis lah… gini deh, kalo emang kamu cinta sama aku, aku mau kamu ngaji! Mentoring sana… baru bilang cinta sama aku.”

Dengan garukan yang semakin keras, si cowok nggak berkata apa-apa. Cuma manggut-manggut walaupun bingung. Seumur-umur, dia ngaji cuman waktu SD, semasa masih ikut TPA. Itupun kabur-kaburan, berhubung harus mengejar jadwal rutin ‘penting’ seperti Satria Baja Hitam RX dan Saint Seiya yang dijamin mendidik anak-anak indonesia jadi superhero yang siap menyelamatkan profit perusahaan multi nasional dan diberdayakan jadi buruh elit di perusahaan asing.

Si cowok dengan langkah gontai berbalik meninggalkan medan pertempuran. Tapi… tiba-tiba langkahnya terhenti. Kayaknya masih ada yang mengganjal pikirannya yang sehari-hari gak pernah jauh dari analisis seputar pertandingan Serie A atau strategi memenangkan PES, WE, CM dan berbagai game lainnya. Dan iapun belum menyerah…

“Tapi… aku serius loh, Ful…” *berhubung sebenernya nama karakter nggak penting di cerita ini, kita kasih nama aja si Akhwat ini dengan Fulanah*

“Serius apa?” potong si Akhwat dengan nada lembut tapi nyelekit, menusuk dalam-dalam hati cowok yang kurang baik dan tidak rajin menabung itu.

“Ak… Aku…” katanya ragu, “Aku cinta kamu karena Allah lho!!” lanjutnya berusaha memberanikan diri. kata-kata itu terlintas begitu aja ketika dia ingat dengan sebuah artikel di blog saat disuruh membuat makalah kuliah Agama dan Etika Islam. Sejujur-jujurnya, Ia nggak tau pasti arti dari kata-kata itu secara persis.

*Gedubrak* Si Akhwat bingung antara harus geli dengan kata-kata itu atau pengen nonjok si pahlawan cinta monyet yang ia sendiri lupa kenal dimana. Pengen rasanya jurus pamungkas taekwondonya Ia keluarkan. Tapi tiba-tiba bidadari virtual nan cantik di sebelah kanannya berkata lembut, “sabar atuh ukhti… kesempatan nih, ayo dingajiin! Target potensial nih…”. Ia pun menarik nafas puaaaaannjjjjang, lalu…

“Huh… Iya deh… terserah kamu. Aku juga cinta kamu karena Allah…”

Betapa berbunga-bunganya si Cowok sableng itu mendengar kata ‘cinta’ yang ditujukan padanya.

“Tapi…” lanjut si Akhwat membuyarkan proyek kebon bunga yang baru saja menggusur lapangan bola di hati si Ikhwan, “pokoknya gak mau tau, aku pengen kamu mentoring dulu… Titik!!” lanjutnya sambil segera ngeloyor pergi dengan perasaan yang sudah mumet dengan serbuan mendadak si cowok di musim Ujian Akhir Semester kayak sekarang ini.

“Eh… eh…” sahut si Cowok kebingungan kayak pejabat korup ketangkep basah KPK.

“Seriuuuuuusss… Ful! Aku cinta mati sama kamu!” teriaknya pada si Akhwat yang semakin jauh.

Si Akhwat menoleh sebentar,

“Tapi aku lebih cinta mati daripada kamuuuu!!!” balasnya yang disambut dengan sunyi, bersamaan dengan semakin mematungnya si Ikhwan.

***

Sembilan bulan lebih sembilan hari kemudian…

Seorang ikhwan masuk kedalam mesjid bersama rombongan keluarganya dengan muka cengengesan yang nggak bisa ditahan. Dia menyapa beberapa temannya. Mereka adalah teman satu kelompok mentoringnya. Gerombolan anak nongkrong, yang sama-sama berusaha belajar tentang Tuhan dan Agamanya.

Begitu matanya melirik sedikit pada bidadari bergaun putih yang sudah sejak tadi nangkring di barisan Akhwat yang tersekat hijab, tiba-tiba dadanya kembang kempis. Terasa panas dingin bulu kuduknya melihat bidadari yang dalam hatinya yang paling dalam ia harapkan jadi pendampingnya di surga kelak. Si bidadari tertunduk saja, sama dag-dig-dugnya dengan calon presiden RRT (Republik Rumah Tangga) itu. Singkat cerita, prosesi akad berjalan lancar dan sukses walaupun sempat diwarnai kericuhan karena si Ikhwan saking gugupnya lupa dengan nama calon istrinya itu dan malah mengabsen mantan-mantan pacarnya semasa masih berandalan dulu. Setelah prosesi, kedua mempelai segera diboyong ke tahta mereka sebagai sepasang manusia paling bahagia di hari itu.

“Ful… ful…”

Di tengah langkah gemulai bak pameran busana pengantin, si Ikhwan tiba-tiba memanggil perempuan yang menggandengnya itu dengan setengah berbisik.

“Apa kang?” jawab si Akhwat malu-malu.

“A… aku cinta mati sama…”

“Ssst…” belum sempat melanjutkan, si Akhwat memberi isyarat kepada pangerannya itu untuk tidak melanjutkan.

“Aku lebih cinta mati daripada kamu.” lanjutnya dengan senyuman.

Si ikhwan termenung sebentar, lalu dengan senyum sumringah dia menanggapinya…

“Aku juga lebih cinta mati daripada kamu…” ucapnya berbisik, “Aku ingin mencintai mati, sama sepertimu.” lanjutnya dengan nada bersungguh-sungguh.

Bidadari itu menjawabnya dengan senyum. Senyum penuh arti yang diiringi lantunan doa yang sejak bertahun-tahun lalu begitu akrab dengan lisannya.

Allahumma… Innaka ta’lam anna hadzihil quluub
qad ijtamaat alaa mahabbatik… wal taqqat ala Thaa’atik…
wa Tawahhadat ala nashrati syari’atik…
fa watstsiqillahumma rabithatahaa…
wa adimmuddahaa… wahdiha subulahaa…
wamla’haa bi nuurikalladzi laa yakhbuu…
Wasyrah suduurahaa bi faidzil iimaanubik…
wa jamiilit tawakkuli alaik…
wa ahyihaa bi ma’rifatik…
wa amithaa ala syahaadati fii sabiilik…
wa amithaa ala syahaadati fii sabiilik…
wa amithaa ala syahaadati fii sabiilik…
innaka ni’mal maulaa… wa ni’mannashiir…

Dan ucapan pangerannya tadi menjadi hadiah paling romantis baginya di hari paling istimewa sepanjang hidupnya itu.

*** tamat ***

Ardee’est Things in My Life
[Menjelang maghrib, Ganesha, 29 Mei 2008]
Yaa Allah berikan murabbiyah terbaik bagi anak-anakku

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

korupsi

Korupsi adalah hal yang sudah menjadi lumrah di negara kita ini. Contoh paling gampang ketika saya mau ambil SIM C , saya tanya kesana - kesini jawabannya sebagian besar adalah “Beli aja, murah koq…” , makanya saya gak heran klo di jalanan banyak kecelakaan atau pengemudi ugal - ugalan, wong sim nya aja “Beli”.

Dan sering pula saya mendengar teman saya yang membanggakan bisa “nawar” pas di tilang polisi, padahal dia, konon katanya mahasiswa yang sering berdemo menuntut di berantas nya korupsi, klo saya lihat sih emang pasti dia yang bersalah, motor pake spion nya pas - pas an, buat ngaca aja gak cukup, apalagi buat lirik kebelakang, udah gitu gak punya sim , dan banyak deh daftar kesalahannya, yah kita doakan saja dia bisa balik ke jalan yang benar.Setiap kali saya coba menasihati dia, dia selalu bilang “Yah elo gak pernah ngalamin sih”.

Kita lebih senang cepat dan gampang, masalah bener atau nggak nya itu belakangan. Kebanyakan orang bilang ribet ngurus nya, atau sering kali waktu yang menjadi kambing hitam.

Yah, saya nulis ini bukan berarti saya gak pernah korupsi, pernah sih dulu waktu masih SMA, korupsi duit buku, dan saya nyesel sampe sekarang, nyesel kenapa cuman minta sedikit.

Well, everybody made a mistake, but i promised myself no to repeat that damn mistake. — korupsinya loh, bukan quantitas nya –

How about you ???

Comments off

Negeri Penghutang Bermobil Mewah

Saya tiba-tiba tertarik untuk memberi komentar terhadap artikel milik “Jagoan Saya” ini. Berkaitan seputar kesemrawutan lalu lintas kota bandung dan juga isu Pengurangan “Subsidi” (yang menurut pak Kwik sebenarnya mengada-ada) BBM, menurut saya pembatasan tempat parkir bukan suatu solusi yang tepat, setidaknya untuk menjawab dua masalah sekaligus. Bagaimanapun saya pikir sumber masalahnya adalah terlalu banyaknya jumlah kendaraan yang dimiliki penghuni Republik indonesia. Jadi solusinya (edited)…

Menurut saya yang harus dibatasi bukan parkirannya pak… Tapi jumlah kendaraannya.

Nyambung dengan kasak-kusuk akhir-akhir ini soal BBM dan Bantuan Langsung Tewas (karena rebutan) sebenarnya langkah pengurangan subsidi yang dilakukan pemerintah bisa kita nilai sebagai kebijakan yang tidak perlu terjadi.

Ahmadinejad bisa membuat subsidi BBM bagi masyarakatnya hingga dibawah Rp. 1000/L, tetapi dengan konsekuensi logis, jumlah kendaraan dikurangi (diantaranya kebijakan 1 keluarga 1 mobil, pelarangan penggunaan mobil tua dan pengetatan peraturan kepemilikan mobil baru). Kebijakan penaikan harga BBM oleh pemerintah menurut saya hanya menambah ironi yang terlihat dari bangsa ini.

Saat mahasiswa, karyawan dan buruh berdemo protes kenaikan harga BBM, ternyata banyak juga masyarakat yang protes karena kendaraan pribadinya terjebak macet karena demo tersebut. Padahal kalau jumlah kendaraan pribadi bisa direduksi dan fasilitas transportasi umum bisa dibenahi, kemacetan bisa hilang dengan sendirinya.

Wajarlah jika kemudian bangsa yang miskin fisik dan moral ini membuat orang luar terbengong-bengong. Saat mereka ingin mengucurkan ‘bantuan’ a.k.a hutang, yang mereka temui adalah serombongan pejabat berjas diatas mobil berkursi empuk dan sejuk ala selebritis. Padahal mereka sendiri hanya naik transportasi umum.

Jadi, masalahnya sekarang jumlah kendaraan atau luas area parkir di Bandung?

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

alah

ya udah lah, terserah lo deh…have it you own way.

Comments off

Sabar Unlimited: Karena sabar nggak berbatas

Kata orang tua, sabar itu nggak berbatas…
Kalau berbatas, namanya bukan sabar…
tapi sekedar penantian…

Menunggu sesuatu yang dinanti…
Menanti sesuatu yang ditunggu…

Sampai kapan penantian itu berakhir?
Tak berbatas… karena kita tidak akan pernah tahu
Jalan yang IA sediakan bagi kita…

Kita hanya diminta menunggu, dan terus menunggu
bersama ikhtiar yang tak habis-habis
bersama doa yang tak putus-putus
bersama prasangka baik terhadap Sang Pemilik Nasib

Jika yang dinanti itu tidak kunjung datang
maka lapangkanlah hati kita…
Karena itu mungkin washilah-Nya…
Untuk menjadikan kita orang yang kuat

Dan jika saat itu tiba… sesuai pinta kita
Sesungguhnya belum pantas kita lepas bergembira
Karena mungkin itu hanya sekedar ujian lainnya…
Akankah kita bersyukur… atau lupa dan kufur

Entah saat itu kapankah akan tiba…
Yaa… Allah Rabb penguasa hati-hati yang memohon lirih
Tundukkan hati ini dalam keridhaan atas ketentuan-Mu

“Haadza min fadhli rabbi, liabluanii a asykur, am akfur…”

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Datar

Tidak banyak yang saya lakukan hari ini , tidak terlalu banyak….
hari ini tanpa saya sadar , sudah hampir berlalu, dan saya masih stuck di sini, di kantor yang lumayan runyam, mengerjakan banyak hal yang gak jelas. Satu - satu nya hal yang jelas saya lakukan adalah mengupdate blog ini :D
Entahlah, kepala ini sudah terlalu banyak pikiran, sehingga dua hari belakangan ini saya susah sekali tidur. Tak tahu lah, apa karena saya sudah tidak sabar menunggu hari sabtu besok ??? atau karena sekarang tanggal tua?
Tidak terlalu banyak pula yang bisa saya ceritakan di hari saya yang datar ini yang  seperti papan datar, tanah datar, selamat datar para tamu, datar tak di jemput, pulang tak di datar, bola datar, yah pokok nya datar.
Minggu kemarin pun saya menepati janji saya, sama sekali tidak membuka laptop, berusaha hidup tanpa laptop di sabtu dan minggu, sayangnya praktis saya juga tidak melakukan apa - apa, sungguh hari yang tidak produktive, sungguh orang yang tidak produktive, dan sejak kapan produktif menjadi produktive saya gak tau. Padahal maksud nya dia *mungkin* , agar weekend tuh digunakan untuk bersosialisasi, mencoba untuk mengenal dunia, membalik dunia saya yang introvert menjadi extrovert, well it didn’t turned out well i guess, so, can i use my laptop on weekend ? :p
Jangan memberi ikan pada orang kelaparan, tapi berikan kail dan umpan agar mereka dapat mencari ikan sendiri tanpa harus bergantung sama kita
, kira - kira itu adalah kesimpulan gw yang sempet berdiskusi dan mendapat masukan yang super dari SSL .
gak jelas kan ? namanya juga gak ada kerjaan…

Comments off

Kapan Anda merasa Seksi?

Yeah,. aLe hari ini merasa seksi *narsis mode : maximum* Saat aLe bangun tidur tadi pagi, entah mengapa aLe langsung tersenyum mungkin gara2 ada yang bangunin lewat telefon kali yah makasih ya say trus aLe langsung mandi dan berbersih diri,. abis tuh pake kawos dari paman tyo dan menata rambut yang abis [...]

Comments off

Ketidakkonsistenan

tanya

Pernahkah kamu melakukan sebuah ketidakkonsistenan? Apa akibat dari ketidakkonsistenan tersebut?

Seberapa besar pengaruh ketidakkonsistenan tersebut?

Comments off

Efek dari kenaikan BBM

Efek dari kenaikan BBM dah berasa hari ini … saya yang biasanya menghabiskan sekitar 10000 untuk berangkat ke kekantor, hari ini tak berasa sudah mengeluarkan lebih dari Rp 10000 , yaitu Rp 13000.

Kenaikan ini mayan berasa sih, tapi seengga nya kenaikan tarif angkutan masih dalam batas wajar, yang Rp. 2000 jadi Rp. 2500. Gak sampe perkiraan saya yang bakalan naik sampai Rp. 1000 .

Disaat ini , disaat kepercayaan rakyat terhadap pemerintah mulai menipis, tak lupa momen ini di manfaatkan oleh calon - calon di tahun 2009 mendatang, orang sudah mulai menebar janji, politikus ulung mulai memanfaatkan momen kenaikan BBM ini sebagai wacana untuk menarik perhatian rakyat banyak.

Ironi, yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin, kurang terlihat janji - janji yang dulu di ucapkan oleh wakil rakyat, ntah sampe berapa kali kita harus memilih, baru mendapat wakil yang jujur, dan yang paling penting memihak rakyat, bukan memihak kepada kronco - kronconya sendiri.

Saya ingin tahu, berapa banyak wakil rakyat yang mau merasakan susah, bukan hanya turun kejalan kemudian mengawasi ,tapi ikut merasakan bagaimana rasanya jika kebutuhan naik, tapi duit pas - pas an.

Menemukan pejabat yang jujur, wakil rakyat yang memang benar - benar mewakili rakyatnya memang sulit, sesulit menemukan jarum dalam jerami, tapi Something it’s impossible only took a little longer .Tidak mustahil di pemilihan 2009 nanti kita dapat memilih wakil tersebut.

Kita hanya perlu lebih hati - hati dalam memilih, klo saya pribadi jelas tak akan memilih kaum - kaum oportunis itu, yang memanfaatkan krisis kepercayaan ini dengan slogan - slogan, dan janji - janji kosong, yang Indonesia perlukan saat ini bukan janji tapi langkah pasti.

Comments off

Festifal Malang Kembali (FMK) 2008

Uda pada tahu belum klo di Malang sedang ada pesta besar? Festifal Malang Kembali alias Malang Tempo Doeloe Sebuah acara yang diadakan tiap 1 tahun sekali di kota Malang dalam serangkaian merayakan ulang tahun kota Malang. Tahun ini (kalau tidak salah) sudah menjadi tahun ketiga Festifal Malang Kembali diadakan. Dan tahun ini pula Festifal ini benar2 [...]

Comments off

Validasi Themes CanCerBoy sukses

Wow,
Ternyata bisa sampe panas dingin neh memvalidasi Themes Wp ^^
Tapi ahirnya sukses juga memvalidasinya,
Baik Css maupun XHTMLnya benar2 valid, untuk melihat hasil validasi themes ini silahkan chek disini (utk xhtml) dan disana (utk cssnya).

Ternyata memang semudah yang dibayangkan
Itu kalau sudah bisa loh :D
kalo belum bisa mungkin agak ribet,
karena bukan hanya ‘bisa’ saja yg dibutuhkan,
tetapi ‘faham yg dimaksud’ itulah yg paling dibutuhkan,.

Btw, ada yg berminat dengan themes 1 kolom ini? *ngarep* :P

Comments off

Seandainya Pemerintah Kita Tidak Tuli…

Saya baca artikel ini, dan merasa perlu memberikan tanggapan seperti dibawah ini (Siapa tau orangnya menolak komentar saya):

Wallahu A’lam ya…
Saya termasuk yang pro terhadap Demonstrasi dengan banyak argumen:

Pertama, karena pengungkapan aspirasi paling murah dan dapat menggugah perhatian orang banyak adalah demonstrasi. Yakinlah mas, mau sekeren apapun konsep dan solusi yang anda buat untuk masalah bangsa ini, kalo anda nggak bisa menyampaikannya pada pejabat kita yang tuli dan mati hati di jakarta sana maka konsep anda sampai kapanpun hanya sekedar tumpukan kertas.
Kedua, mahasiswa dan demonstran itu bukan selebritis mas, temen2 kita yang buruh juga bukan artis. Tapi mereka punya aspirasi untuk pemerintah/legislatif. Apa anda pikir jika mereka ngirim perwakilan ke Istana/DPR suara mereka akan didenger? NGGAK mas! Kenyataan dilapangan: Kalo aspirasi kita-kita yang rakyat kecil ini mau didenger, nggak ada jalan lain bahwa Demonstrasi lah sarananya.
Ketiga, masalah kemudian banyak efek samping dari demonstrasi seperti kemacetan dan kerusuhan, itu sih balik lagi ke para demonstran dan manajemen massanya. Bukti nyatanya bahwa demonstrasi itu tidak selalu berefek buruk ada kok. Coba anda perhatikan kalo Kader PKS (bahkan sejak 1999 masih bernama PK) turun kejalan, sudah hampir dipastikan polisi udah nggak dibutuhkan di jalanan untuk menjaga ketertiban demo. Mereka udah bisa mengatur diri mereka sendiri.
Jadi kesimpulannya… ‘DEMO = Rusuh + Macet’ itu nggak benar…

Saya ingin menutup posting ini dengan 3 buah lagu aksi yang sampai sekarang masih melekat dihati:

Lagu pertama adalah lagu yang paling sering digunakan pada Aksi kabinet KM ITB masa Presiden Ahmad Mustofa hingga Anam:

Kepada para mahasiswa, yang merindukan kejayaan…
Kepada rakyat yang kebingungan, dipersimpang jalan…
Kepada pewaris peradaban, yang telah menggoreskan…
sebuah catatan kebanggaan, dilembar sejarah manusia…

wahai kalian yang rindu kemenangan, wahai kalian yang turun kejalan
demi mempersembahkan jiwa dan raga, untuk negeri tercinta (2X)

Lagu kedua, kreasi dari rekan-rekan aktivis kiri. Tapi pesan dan semangat yang dibawa sebenarnya universal:

Buruh, Tani, Mahasiswa, Rakyat Miskin Kota

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
bersatu padu tuntut perubahan
bersatu tekad dalam satu suara
demi tugas suci yang mulia

Hari-hari esok adalah milik kita
terciptanya masyarakat sejahtera
terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa orba

marilah kawan mari kita berjuang
di tangan kita tergenggam arah bangsa
ayolah kawan ayo kita dendangkan
sebuah lagu tentang perubahan

di bawah topi jerami
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

di bawah topi jerami
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
bersatu padu tuntut perubahan
bersatu tekad dalam satu suara
demi tugas suci yang mulia

Hari-hari esok adalah milik kita
terciptanya masyarakat sejahtera
terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa orba

marilah kawan mari kita berjuang
di tangan kita tergenggam arah bangsa
ayolah kawan ayo kita dendangkan
sebuah lagu tentang kebebasan

di bawah rezim tirani
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

di bawah rezim tirani
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

bagiku suatu langkah pasti

Lagu ketiga, kebanggaan mahasiswa ITB. Judulnya Kampusku, sebuah simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan militer terhadap mahasiswa selama orde baru. Sekarang jadi simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan rektorat terhadap kreativitas mahasiswanya:

“Kampusku rumahku, Kampusku negeriku
Kampusku kebebasanku, Kampusku wahana kami

Di sana kami DIBINA, menjadi MANUSIA DEWASA
Namun kini apa yang terjadi, ditindas semena-mena

Berjuta Rakyat menanti tanganmu, mereka lapar dan bau keringat
Kusampaikan salam-salam perjuangan, kami semua cinta-cinta Indonesia.”

Semoga jadi janji yang tidak akan pernah mati:
SALAM GANESHA!! BAKTI KAMI, UNTUKMU TUHAN, BANGSA DAN ALMAMATER! MERDEKA!

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

[Weekly Lyric] Ungu - Cinta Dalam Hati

Posted by mobile phone:
mungkin ini memang jalan takdirku
mengagumi tanpa di cintai
tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia
dengan hidupmu, dengan hidupmu

telah lama kupendam perasaan itu
menunggu hatimu menyambut diriku
tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah
bahagia untukku, bahagia untukku

reff:
ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu
meski ku tunggu hingga ujung waktuku
dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejap saja

repeat reff

Komentar:
Gak ada maksud apa-apa milih lagu ini… cuma kebetulan denger aja tadi malam di SCTV music award, dan trus hanyut ikut menyanyi. Hehe… lirik yang dalam buat seorang secret admirer.

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

[Weekly Lyric] Sleeping Child

Posted by mobile phone:
[Weekly Lyric] Sleeping Child
The milky way upon the
Heavens
Is twinkling just for you
And mr. moon he came by
To say goodnight to you
I’ll sing for you i’ll
Sing for mother
We’re praying for the world
And for the people everywhere
Gonna show them all we care
Chorus:
Oh my sleeping child the world’s so wild
But you’ve build your own paradise
That’s one reason why I’ll cover you sleeping child
If all the people around
The world
They had a mind like yours
We’d have no fighting and no wars
There would be lasting peace on earth
If all the kings and all
The leaders
Could see you here this way
They would hold the earth in their arms
They would learn to watch you play
Chorus:
Oh my sleeping child the world’s so wild
But you’ve build your own paradise
That’s one reason why I’ll cover you sleeping child
I’m gonna cover my
Sleeping child
Keep you away from the world so wild

Kenapa Lirik ini:
Karena tadi pagi denger dari kamarnya temen dan tiba-tiba jadi penasaran dengan isi liriknya. Jadilah saya nangkring di pintu kamarnya untuk sekedar mendengar lebih tajam isinya. Dan saya terpesona sodara-sodara. Lagu ini ternyata berbicara tentang kenaifan serta kepolosan seorang bocah. Yaa… imajinasi masa kecil menjadi sesuatu yang seiring berjalannya usia perlahan sirna dari diri kita. Buat saya makna dari lagu ini jadi lebih dalam saat saya mengingat bagaimana politisi-politisi mungkin berpikir jauh lebih kekanak-kanakan dibanding anak-anak.
Sedikit nyambung dengan isu paling aktual hari ini (kenaikan BBM), saya kembali berpikir bahwa sebenarnya pencabutan subsidi sebenarnya tidak perlu terjadi seandainya yang ada dipikiran para pejabat itu adalah rakyat. Memang, subsidi akan membengkakkan APBN, tapi bukankah tugas Pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya? Bukankah sebenarnya masih buaaaaanyak opsi lain selain mengurangi subsidi dan pengalihan menjadi BLT yang notabene memunculkan pintu korupsi baru?
Pemerintah kita memang pemerintahan yang bodoh dan mati hati! Menilik negeri nun jauh diseberang lautan, Iran, pemerintahnya tidak enggan untuk mempush harga BBM bagi rakyatnya hingga beberapa ratus rupiah saja per liter. Tetapi konsekuensi logisnya beberapa aturan diperketat. Semisal munculnya beberapa poin regulasi, diantaranya: 1) Mobil tua tidak boleh lagi turun ke jalan, 2) Mobil baru harus bermesin Hybrid (menggunakan dua macam bahan bakar), 3) Pembatasan jumlah mobil, satu KK hanya boleh memiliki satu mobil/kendaraan, dll. Subsidi yang diimbangi regulasi tadi saya pikir merupakan solusi cerdas yang cenderung pro pemerataan kesejahteraan. Disisi lain reduksi jumlah kendaraan di jalan raya juga membantu kita mengurangi polusi yang selama ini menjadi celah yang digunakan negara maju untuk menekan Indonesia secara politik.
Kenapa kemudian opsi kenaikan harga menjadi pilihan utama? Apa karena kepentingan industri otomotif untuk meraup konsumen sebanyak mungkin menjadi hal yang jauh lebih penting ketimbang nasib masyarakat miskin kota kayak saudara-saudara saya di pemukiman padat semisal taman hewan?
Memang pasti banyak masyarakat kita yang sudah terlanjur nyaman dengan mudahnya regulasi kepemilikan mobil di Indonesia akan bersikap resisten, tapi resistensi ini tidak akan berlarut-larut jika infrastruktur transportasi umum dapat dibenahi pula. Jika rangkaian kebijakan diatas bisa dijalankan saya yakin bahwa pemotongan subsidi BBM adalah hal yang non sense.
Tetapi sekarang masalah utamanya adalah, apakah pemerintah dan DPR kita masih cukup punya hati untuk memikirkan rakyatnya? Saya pikir jawabanya mungkin TIDAK, karena menurut prediksi saya, dengan naiknya harga BBM saat ini, yang paling pertama bergembira-ria adalah lawan politik SBY, karena inilah kesempatan emas untuk menghancur leburkan citra SBY didepan masyarakat. Jika pun ada suara kontra dari elit politik, yakinlah bahwa hal itu taklebih dari sekedar ‘kecap’ yang mereka gunakan sebagai bumbu kampanye 2009.

File info:
Type: image jpg
Size: 80.66 kb
[Weekly Lyric] Sleeping Child

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Antara PKS dan celana Jeans

Alhamdulillah, minggu ini aku insya Allah akan terberdayakan lagi buat bantu-bantu di protokolernya DPW. Ada hal remeh temeh yang sedikit yang menggelitik aku untuk berkomentar. Yaitu instruksi saat brifing beberapa hari lalu. Hmm… nggak ada yang aneh dengan briefingnya, cuma instruksinya itu lho… di hari-H nanti kita yang cowok diminta untuk menggunakan celana jeans bro…! Tumben-tumbenan ini mah. Alasannya, itu rikuest dari panitia pusat untuk para protokoler sebagai bagian dari usaha “New Look, New Image” *gedubrak*. Aku sih tetep seneng-seneng aja, berhubung biasanya kalo tugas pasti dikasih seragam, minimal kaos ato kemeja. Tapi jangan salah ya… itu bukan berarti aku ikut nimbrung buat ngejar kaos/kemeja, itu mah sekedar side effect aja… yang utama, aku ada kesempatan beramal dan berinteraksi dengan ikhwah yang lain biar nggak futur.

Yang bikin menggelitik sebenarnya saat para protokoler tiba-tiba bengong dengan instruksi tadi. Berhubung emang rata-rata kagak pernah lepas dari celana bahan dikeseharian kita, instruksi ini emang agak sulit dipenuhi. Aku sendiri seumur-umur cuman pernah sekali punya celana jeans. Itu pun udah bertahun-tahun yang lalu, waktu aku belom tinggi-tinggi amat dan belom gembrot kaya bapak-bapak sekarang. Nah lho… sekarang pasukan protokoler kita jadi pada bingung. Dan saya yakin pertanyaan yang mungkin sama dalam pikiran kami semua adalah:

“Kemana ya ane nyari pinjeman celana jins?”

ato

“Hadooooh… masih ada duit nyisa nggak ya akhir bulan ini buat beli celana jeans?”

Tapi bukan kader PKS kalo kagak tsiqoh sama instruksi mas’ul. Toh ini bukan hal fundamental (ushul) yang butuh diperdebatkan lebih lanjut. Cuma sekedar sedikit manuver dakwah yang harapannya bisa semakin memperluas coverage area dari para kader ini. Bukankah dimasa lalupun wali songo melakukannya melalui akulturasi budaya kejawen? So, sambil manggut-manggut laskar bocah berjenggot itu pun sepakat mengusahakan agar jargon “New Look, New Image” itu bisa terlaksana. Untungnya dari mas’ul paham juga dengan kondisi kita-kita ini, dan memberikan penegasan “mohon diusahakan, tapi ya… kalo ternyata sulit juga nggak papa.”.

Sekian dan Wassalam

Admiring Pelangi

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Dag dig dug…

Posted by mobil