Archive for July, 2008
July 30, 2008 @ 6:11 pm
· Filed under melody, plants, something on my mind, whole life, furniture, hugh grant, Lyrics, Lyrics, puito-melankolik, lyric
It’s never been easy for me
To find words to go along, with a melody
But this time there’s actually something, on my mind
So please forgive these few brief awkward lines
Since I’ve met you, my whole life has changed
It’s not just my furniture, you’ve rearranged
I was living in the past, but somehow you’ve brought me back
And I haven’t felt like this since before Frankie said relax
And while I know, based on my track record
I might not seem like the safest bet
All I’m asking you, is don’t write me off, just yet
For years I’ve been telling myself, the same old story
That I’m happy to live off my so called, former glories
But you’ve given me a reason, to take another chance
Now I need you, despite the fact, that you’ve killed all my plants
And though I know, I’ve already blown more chances
Than anyone should ever get
All I’m asking you, is don’t write me off, just yet
Don’t write me off just yet
http://www.lyricsmode.com/lyrics/h/hugh_grant/dont_write_me_off.html
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me
Permalink
July 30, 2008 @ 3:37 pm
· Filed under emoh, dragon zakura, dorama, gak, pinter, Tokoh, todai, berani, banget, saya, gakpentingbgt, jelas, jawaban, amit, ardee, iseng
Berhubung lagi iseng gak jelas di TnC, posting dikit tentang komentar saya di blognya si surya… (hehehe… biarin ajah…klo komentarnya gak diapprove juga tetep wae)
# Artikel pertama: http://surya554sangtrainer.wordpress.com/2008/07/23/miripkah/
Saya komentari:
ardee Your comment is awaiting moderation.
Yang ditanya bedanya kan?
Jawaban saya… Buaaaanyak!!!
- Hm… yang dibawah, jelas lebih imut dari yang diatas…
- Yang diatas lebih ‘amit-amit’ dari yang dibawah…
- Yang diatas mah ‘ngerasa’ mirip sama yang dibawah…
- Kalo yang dibawah mah malah emoh dibilang mirip sama yang diatas… (sok atuh klo gak percaya ditanya langsung… berani gak?)
Betul tidak sodara-sodara… (*dengan gaya yang sama sekali gak mrip sama si Aa…* Aa na saha… hehehe)
Sok… mana hadiahnya?
# Artikel kedua: http://surya554sangtrainer.wordpress.com/2008/07/23/henshin/
Saya komentari:
ardee Your comment is awaiting moderation.
Ih pinter banget milih gambarnya… kok kepalanya bisa mirip gitu sih sama kamu Sur…
# Artikel ketiga: http://surya554sangtrainer.wordpress.com/2008/07/21/dragon-zakura/
Saya komentari:
ardee Your comment is awaiting moderation.
Film ini kalo dibuat versi indonesianya… kayaknya si tokoh utamanya bakalan bilang:
“Kalo ente-ente mau ngerubah nasib ente… Masuk ke Itebe!!!” (sebagai ganti ajakan untuk masuk Todai di dorama aslinya… hehehe)
Ah… dasar iseng!!
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me
Permalink
July 30, 2008 @ 1:06 pm
· Filed under entah, pendosa, kerap, malam ini, tnc, riya, hari ini, siap, sabar, Allah, keikhlasan, pasrah, masih, hati, mahasiswa
Ya Allah…
Aku berwashilah padamu dengan amalku yang sedikit…
dengan amal yang kerap berlumur ujub dan riya ini…
dengan remah-remah keikhlasan yang tersisa… mungkin?
ku memohon berikan aku sedikit kelapangan sabar di dada ini…
barang dua atau empat puluh tahun lagi…
Tuhan… aku berharap aku siap…
Untuk patah hati hari ini…
Meskipun itu berarti kuharus patah hati 3x sehari
Atau, beribu-ribu kalipun tak mengapa juga…
Jika itu caramu menghukumku didunia…
asalkan kau ringankan siksaku diakhirat kelak…
Tuhan… sungguh aku rela…
Kau robek-robek hati ini hari ini…
Meski sakit dan pedihnya mengoyak akal sehatku
Meski ia menjerit dalam sunyi, di hingar bingar hari
Meski itu berarti aku harus tetap tersenyum apapun yang terjadi…
Asalkan itu mengurangi adzab yang kau timpakan padaku kelak…
Tuhan, kutahu tiada tawaran yang kumiliki hari ini…
Untuk menukar keselamatanku dari api nerakamu…
Hanya sesosok pendosa yang tertunduk pasrah…
Berharap sedikit ridho masih tersisa untukku…
sedikiiiiiit saja… dipenghujung malam ini…
entah untuk esok…
[TnC, malam ini terselamatkan...]
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me
Permalink
July 30, 2008 @ 3:55 am
· Filed under Film, Blogosfer, wongkito, Palembang, Palembang Blogger, Pictures
Setelah sukses menyelenggarakan WongKito Goes To School (Sabtu 26 Juli 2008) , dengan menghadirkan pembicara utama yang sangat tampan, bijaksana, dan rupawan.
Komunitas Blogger WongKito pada hari minggunya mengadakan BakSos ke KM 20 (daerah Air Batu) untuk membantu mereka yang mendapat musibah kebakaran.
Ternyata pada hari yang sama, seorang blogger dateng jauh-jauh dari Jakarta (who?? seorang blogger yang dipastiin kamu semua tau) [...]
Permalink
July 29, 2008 @ 10:24 pm
· Filed under Launching, cheLsea oLivia, ultah, mEt uLtah, saNg idoLa, blog
Seharusnya kemaren postingan ini di publish ^^
Gara2 seharian kluar dan lagi ga bisa konek iNet, jadi sekarang deh publishnya
*huks, malah curhat*
Yeah, seperti yang aLe sampaikan di bLog CheLsea oLivia wiJaya ZoNe
Kemaren sang idola sedang merayakan ulang tahun
Yup, sapa lagi klo bukan yayang Chelsea oLivia wiJaya ^^
Hohoho
Met ultah ya Say
Smoga cepet ktemu dan [...]
Permalink
July 29, 2008 @ 9:49 pm
· Filed under Dunia Cyber
Untuk mengakses multiple database di Symfony, berikut langkah-langkahnya :
- buka PROJECT_DIR/config/databases.yml
all:
database1:
class: sfPropelDatabase
param:
dsn: pgsql://foo:bar@hostname/database1
database2:
class: sfPropelDatabase
param:
dsn: mysql://foo:bar@hostname/database2
- buat PROJECT_DIR/config/database1.schema.xml
<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<database name="database1" defaultIdMethod="native" noxsd="true">
<table name="foo" phpName="Foo">
....
</table>
</database>
- buat PROJECT_DIR/config/database2.schema.xml
<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<database name="database2" defaultIdMethod="native" noxsd="true">
<table name="bar" phpName="Bar">
....
</table>
</database>
- $ symfony propel-build-model
- Contoh pemakaian :
$c = new Criteria();
$articles = ArticlePeer::doSelect($c, Propel::getConnection('database2'));
ok, itu adalah langkah-langkah pemakaian multi database. silakan mencoba
Referensi :
Permalink
July 29, 2008 @ 3:34 am
· Filed under Lain - lain
21:30 Sampai di Bandara Kota Padang.
Di sana sudah ada sanak keluarga yang jemput (tentunya bukan keluargaku yah, secara…….. me gak ada darah minang)
Perjalanan Padang-Solok memakan waktu kurang lebih 2 jam.
Setelah sampai………..akhirnya ku bisa tidur dengan nyenyak………….
17 Juni 2008
Pada hari ini kumulai lah tugasku di Solok (tentunya berkaitan dengan tugas kantor)
Yang aneh mulai dari hari ini adalah masalah “MAKANAN”
- Pedas
- Berminyak
- Ada juga yang kering (dendeng kering)
- Nasi Solok yang Unik
- Teh Telor
- Es Tebak
- Sate Padang
Dan kesemuanya itu jarang banget ditemuin di Pulau Jawa……
Ya udah, gak ada jalan lain…….SIKAAAATTTT 
Beberapa minggu di sana (kurang lebih tiga mingguan), akhirnya ku bisa jalan2.
beberapa tempat yang kukunjungi :
- Danau Kembar
- Bukit Sileh
- Pusat Kota Solok
- Danau Singkarak (lewat pinggirnya aja)
- Bukittinggi
Dan beberapa tempat lainnya.
Yang pasti …. aku dah kangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen banget sama Permaisuriku di RUMAH.
maka dari itu, 14 Juli 2008 Akhirnya aku pulang ke Bandung untuk kembali ke RUMAH…….(secara, tugas juga dah selesai di sana) dengan membawa seabreg Oleh2.
14 Juli 2008 (23:59) sampai di BSM Bandung.
15 Juli 2008 (00:30) akhirnya aku bisa kembali bertemu istriku yang sudah kurindukan. 
demikianlah ceritaku selama di Bandung.
Semoga bermanfaat.
Wassalam
Permalink
July 29, 2008 @ 3:15 am
· Filed under Dunia Cyber
Berikut adalah source code untuk insert BLOB (File Binary) ke MySQL
Semoga Bermanfaat 

Permalink
July 29, 2008 @ 2:51 am
· Filed under Sampoerna, Smart Telecom, Telkom, Telkomsel, NTS, Mobile-8, Indosat, Bakrie Telecom, Excelcomindo Pratama, HCPT, Telekomunikasi
Sejak tiga tahun yang lalu, kita yang menggunakan kartu SIM Prabayar diwajibkan registrasi 4444. Pelaksanaan ini mengacu pada Peraturan Menkominfo No. 23/M.KOMINFO/10/2005 tentang Registrasi Terhadap Pelanggan Jasa Telekomunikasi, khususnya Pasal 2. Di pasat tersebut menyebutkan, bahwa pelanggan mempunyai hak menggunakan jasa telekomunikasi setelah memberikan identitasnya secara benar kepada penyelenggara telekomunikasi. Memang sempat mendapat pro kontra [...]
Permalink
July 29, 2008 @ 2:39 am
· Filed under Lain - lain
Setelah sekian lama lepas dari dunia blog.… akhirnya saya bisa memulai lagi aktivitas bloger ini.
Bingung dari mana mulainya………
Tapi karena judulnya dah ditulis duluan, akhirnya kali ini saya akan menguraikan perjalanan saya selama di Solok Sumatera Barat.
16 Juni 2008
Diriku bersama rekan kerja(baca : boss) naik taksi menuju BSM (secara, kita harus naik BUS Pemadu Moda Primajasa untuk menuju ke Bandara). Dengan dianter istriku tercinta bersama temannya, kami berangkat ke BSM.
Sampai di BSM sekitar pukul 14.30. Menunggu bentar kedatangan bus sambil mengucapkan pesan-pesan serta alert and warning kepada istri tercintaku(secara, istriku kali ini tidak bisa ikut ke Solok).
Bus pun dateng, dan kita berangkat ke bandara.
Di dalam perjalanan, bus melaju begitu kencang, entah supirnya lagi kambuh jiwa pembalapnya, atau emang ngejar waktu, sampe2 ada penumpang yang laptopnya jatuh dari tempat penyimpanan di atas kepala penumpang sampai ke lantai bus. GUBRAK !!! pada kaget semua, untung gak kena kepala orang tuh.
Singkat cerita, kami sampai juga di Bandara.
pukul 18.30, kami sampai di Bandara.
Setelah istirahat sejenak, dan menunggu kedatangan pesawat, akhirnya kami berangkat juga.
pesawat TAKE OFF…………………………………………………..
* to be continued………………….
Permalink
July 28, 2008 @ 9:44 pm
· Filed under rangkaian, rencana, alhamdulillah, persiapan, rumah kontrakan, kabar, sosok, katro, calon, lancar, shalat, kesempatan, pagi, adik perempuan, muslimah, menikah, ninda, orangtua, tidak akan, kerjaan, jika tidak, adzan, belum ada, bimbang, datang ke, saya, pertanyaan, iseng, GPH, jalan-jalan, itb, pribadi, melankolis, tarbiyah, Curhat, Dakwah, Komputer, hikmah, keluarga, zamzam, Allah, belajar, jilbab, pernikahan, proses, hati, halaqah, pesantren, ganesha, murabbiyah, nikah, pasrah, mahasiswa
Sabtu kemarin akhirnya saya memutuskan untuk pulang kampung kerumah orang tua di jakarta. Ini adalah awal tahun ke-6 dikampus. Mungkin bisa dikatakan sudah terlalu lama saya dikampus, sehingga saya sudah meniatkan untuk tidak memberatkan orangtua lagi masalah biaya kuliah. Niatnya sih sudah ada, tapi jalannya ternyata belum ada. Kerjaan yang baru kurang lebih sebulan ini saya jalani belum cukup menjanjikan untuk jadi sandaran pembayaran uang kuliah. Lagipula, saya sendiri merencanakan gaji pertama akan saya gunakan untuk mencicil rumah kontrakan. Apapun yang terjadi beberapa bulan ini, inilah persiapan yang saya coba lakukan.
Seperti apapun hidup yang kita jalani, pada hakikatnya itu hanyalah rangkaian rencana Allah yang terjadi pada diri kita. Kita sama sekali tidak memiliki kekuatan apapun dalam menentukan akan seperti apa nasib kita dimasa depan. Begitu juga hari itu, sabtu lalu, selepas SPN aku berencana untuk langsung ke stasiun. Pagi harinya aku sudah titip-titip ke Zamzam dan Ninda agar rapat GPH bisa berjalan. Namun ternyata ada yang merubah rencanaku ketika kelas SPN berjalan. Sebuah jarkom masuk, dengan gaya perintah yang nggak mungkin aku tolak, aku memutuskan mengundur keberangkatanku hingga sore tiba. Akhirnya, aku tidak memiliki alasan apapun untuk tidak datang ke rapat GPH. Segera setelah kelas SPN selesai aku segera menuju Skanda.
Aku bersyukur juga tidak jadi segera ke stasiun. Saat itu hanya ada Ninda dan Zamzam saja, yang berarti rapat tidak akan mulai jika tidak ada orang ketiga. Alhamdulillah, rapat pun berjalan dengan lancar dan cukup singkat, dengan tiga poin saja yang dibahas. Beberapa saat menjelang selesai, Syifa datang menambahkan beberapa poin laporan. Rapat pun ditutup dan kami segera bubar masing-masing. Kebetulan sekali adzan berkumandang beberapa saat kemudian.
Aku mulai bimbang saat itu, jarkom dengan kode “Q” berarti apapun kondisi dan alasannya, tidak ada alasan untuk tidak datang. Tapi disisi lain aku juga merasa bahwa sangat urgent untuk segera pulang ke jakarta. Kereta berikutnya berangkat pukul 12.45 yang selanjutnya adalah jadwal pemberangkatan kereta terakhir yang berangkat 16.45. Kalaupun aku memaksakan datang sore itu, praktis hanya ada 30 menit efektif aku ditempat pertemuan itu sebelum akhirnya harus berangkat ke stasiun mengejar kereta jam 5 itu. Jelas hal ini sama sekali tidak efisien. Makanya kemudian tanpa pikir panjang aku segera berangkat ke stasiun selesai shalat dzuhur. Argh… ternyata aku hampir tertinggal kereta. Kereta itu berangkat hanya sekitar 3 menit setelah aku tiba di stasiun.
Ada hikmah yang kudapat dengan berangkat ba’da zuhur. Aku jadi ada waktu cukup panjang untuk berkeliaran di Jakarta sambil jalan-jalan iseng dengan busway. Aku menyengajakan turun di Gambir, kemudian langsung beli tiket dan naik ke atas busway meskipun sebenarnya sama sekali nggak tau jalan. Aku baru bertanya ketika didalam shelter. Tujuan yang kucari adalah kampung rambutan, rute reguler yang kulewati jika ingin pulang ke depok. Ternyata untuk ke kampung Rambutan rute buswaynya adalah Gambir-Harmoni-Senen, Senen-Kp. Melayu, Kp. Melayu-Kp. Rambutan. Semuanya dengan satu tiket saja… Rp 3500. So, murah meriah juga kan (Maklum jarang di Jakarta… jadi yah… katro dikit gak papa lah).
Akupun sampai dirumah sekitar jam 9 malam. Seperti biasa, teman ngobrolku hanya ibu saja. Ayah sudah tidur, adik-adik sesekali ada pula yang ikut nimbrung. Nggak kerasa, adikku yang ketiga sudah masuk SMA. Ibuku curhat tentang tingginya biaya masuk sekolah saat ini. Beliau membandingkannya dengan kuliah di ITB. Katanya, seandainya bisa loncat langsung kuliah, maka lebih baik adikku langsung kuliah saja daripada harus membayar biaya masuk yang begitu mahal itu. Ya… aku cuma bisa tersenyum miris.
Oh iya… sudah sampai sepanjang ini, tiba-tiba aku ingat bahwa yang ingin aku ceritakan sesuai judul ini sebenarnya tentang adikku. Nggak kerasa adik-adikku sudah pada besar. Adik yang pertama sudah mulai nanya-nanya, kapan si Masnya kawin. Yang kedua, sudah akan masuk tingkat akhir, padahal kuliah kakak sulungnya belum juga berakhir (hiks). Yang ketiga sudah SMU, rambutnya sudah semakin acak adut mengikuti mode di TV. Yang terkecil sudah kelas dua MTs.
Memikirkan mereka mengingatkanku pada mimpi yang kupasang tinggi-tinggi tentang dakwah keluarga. Entah kapan kesempatan itu datang, aku cuma bisa berharap bahwa pada saat itu, apapun yang terjadi, aku dalam kondisi siap dan berpersiapan. Materi-materi yang kudapat di Sekolah Pra Nikah sedikit banyak mengajak aku berpikir dengan cara yang lebih kompleks tentang tema tersebut. Apalagi materi terakhir kemarin, ada satu hadits yang dikutip oleh Ust. Hervi Firdaus, redaksional dan riwayat pastinya mungkin lupa kucatat, tapi isinya kurang-lebih: “Jika sepasang Suami-Istri menikah melalui proses yang tidak diridhoi Allah (diharamkan Allah), maka murka Allah akan menyertai sepanjang usia pernikahan mereka didunia.”. Mendengarnya saja aku merinding, dalam hati aku sempat berkata “Ya Allah, selama ini memang mungkin caraku yang masih belum kau ridhoi.“. Akupun segera bersyukur bahwa saat aku tidak diberikan proses yang mulus-mulus saja. Mungkin Allah memberikan proses yang berliku agar aku dapat belajar menjadi calon suami yang lebih baik.
Aku kemudian sempat berpikir, jika dengan proses ta’aruf yang terhitung syar’i saja masih dimungkinkan adanya cara-cara yang tidak syar’i. Bagaimana dengan mereka yang masih menggunakan pacaran sebagai cara mengenal pasangannya sebelum nikah? Pertanyaaan ini segera mengingatkanku pada adikku yang pertama dan kedua. Adik pertamaku sekarang telah bekerja. Ia berpacaran sejak 4 tahun lalu dan itu mengganggu pikiranku tiap kali kembali ke rumah. Ia berada di pesantren Husnul Khotimah jauh lebih lama dariku. Seharusnya saat ini proses tarbiyahnya jauh lebih matang dibanding aku sebagai kakaknya, jika saja ia menjalankan halaqahnya seperti dulu. Adikku yang keduapun sama, ia mulai halaqah sejak SMA. Kabar terakhir dari ibuku, ia kini justru pacaran. Halaqahnya putus di kampusnya, UIN Syarif Hidayatullah.
Aku hampir tidak habis pikir, apa sih sebenarnya yang salah dengan kampus itu. Mengapa ada saja cerita tentang rekan ikhwah yang lepas seketika dari tarbiyahnya begitu terjun di kampus itu? Mengapa hal-hal semacam ini justru akhirnya kurasakan sendiri didalam keluargaku? Sejenak saja pertanyaan itu seakan mengajak akalku untuk mempersalahkan keberadaan kampus itu. Dulu, nyaris saja aku tidak diizinkan kuliah ditempat lain. Karena UIN lebih dekat dengan rumah, ibuku memintaku untuk masuk ke UIN saja. Untungnya hasil SPMB memihak padaku. Akupun bisa melayang terbang sampai ke kampus Ganesha ini. Aku tidak bisa membayangkan jika sampai tiga anak ibuku yang sudah kuliah harus lepas semua proses tarbiyahnya. Meskipun aku bersyukur bisa menemukan kembali Edensorku disini, tapi tetap… keinginan untuk membawa kembali adik-adik dan seluruh keluargaku pada indahnya tarbiyah masih menjadi mimpi yang tidak tergantikan sampai kapanpun… dan itulah alasanku untuk segera menikah!
Pagi harinya setelah sarapan ada hal yang membuat hatiku tiba-tiba hancur berkeping-keping (hm… terlalu melankolis kayaknya… diganti remuk dan retak-retak deh…). Aku bermaksud mengambil beberapa file lagu dari komputer adikku untuk mengisi komputerku. Iseng-iseng kubuka folder foto. Kubuka pula folder foto pribadi milik adik keduaku dan… sebilah belati besar merobek dada ini lebar… adikku berpose berdua dalam fotobox! Ia memang masih dengan jilbab lebarnya tapi… naudzubillah mindzalik! Ia berpelukan dengan seorang mahasiswa yang kukenal sebagai seniornya sejurusan! Ya Allah… kemana perginya materi tarbiyah yang dulu pernah ia dapatkan dalam pertemuan pekanan?
Alamak… mana ada seorang ikhwan yang rela melihat adiknya dalam keadaan seperti itu. Laki-laki muslim mana yang rela jika melihat bahwa kehormatan adik kecilnya ada diujung tanduk seperti itu? Seorang berakhlak sebejat apapun… selama masih memiliki akal sehat… nuraninya akan menolak jika adiknya diperlakukan seperti itu! Aku segera teringat hadits nabi tentang seseorang yang datang kepada beliau dan meminta izin berzina. Apa jawaban Nabi? Beliau segera berbalik menanyakan pada pria itu, apakah ia rela jika ibu atau saudara perempuannya diperlakukan seperti ia memperlakukan wanita yang dizinainya, yang tentu saja dijawab dengan penolakan dan ketidakrelaan dari pria tersebut. Itulah yang saya rasakan sekarang, hati saya sama tidak relanya dengan apa yang dirasakan si pria pada zaman rasulullah tadi.
Yang membuat belati itu semakin menusuk lebih dalam adalah, saya tidak mampu berbuat apa-apa. Marah dan membentak-bentak adik saya atau melaporkannya pada ibu-ayah saya tidak akan membuat ia serta merta sadar. Bisa jadi yang terjadi ia akan semakin menjauh atau malah semakin memberontak. Lagipula pagi itu juga, pas kebetulan ia baru saja berangkat KKN selama sebulan, sehingga tidak ada kesempatan saya untuk bertemu dengannya pada kesempatan mudik kali ini. Pasrah… pikiran saya kembali pada rencana-rencana masa depan kembali. Ingin rasanya memberikan kakak ipar bagi adik saya tersebut yang bisa membimbingnya menjadi muslimah yang lebih baik. Ingin rasanya mencarikan sosok seorang kakak yang bisa mengayomi dirinya, tidak seperti saya yang nyeleneh dan temperamen seperti ini. Pelan tapi pasti… mata ini tiba-tiba basah walau sekuat tenaga saya tahan agar tidak menangis. Pasrah… harapan itu kembali terucap dalam sunyi… dari hati yang sudah robek-robek dalam kekecewaan.
“Ya Allah… berikan aku istri seorang Murabbiyah yang baik… bagi anak-anakku kelak… bagi adik-adikku… bagi keluarga ini… dan mampukan aku menjadi Murabbi yang senantiasa terus belajar menjadi lebih baik… yang dapat menjadi tumpuan dirinya hingga akhirat kelak… Amin!”
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me
Permalink
July 28, 2008 @ 9:08 pm
· Filed under Diary
Banyak hal yang terjadi saat ini membuat kening berkerut, mengapa bisa hal-hal yang semula bukan apa-apa menjadi suatu yang apa-apa. Bagaimana bisa sesuatu yang dahulu tidak berpengaruh apa pun menjadi sangat berpengaruh. Mengapa ada kejadian yang bisa membuat orang pusing tujuh keliling sementara dibelahan dunia lain hal tersebut menjadi hal yang ’sabodo teuing’. catatan_riyogarta
Diawal [...]
Permalink
July 26, 2008 @ 5:54 am
· Filed under Uncategorized
*Catatan ringan, lumayan untuk temani ahir pekan* *ngiiiing*
Berkunjung, Komentar, dapet Kaos
Hohoho,
Dapet kawos lagi Le?
itulah yang aLe alami pada saat maen2 ke bLog Jeng Lisa
Weleh woi jangan maen meluncur aja donk
baca dulu neh cerita aLe sampe abis
Yang jelas ga semua orang bisa dapet, dan momen itu sudah terlewatkan [...]
Permalink
July 24, 2008 @ 7:01 pm
· Filed under Uncategorized
Temans, cuman mau woro - woro, klo kita bekerja, kita harus rajin membaca kontrak kemudian menaatinya, karena kontrak adalah acuan kerja kita, termasuk gaji dan berapa lama kita bekerja, jika kontrak abis , segerelah minta kontrak yang baru, jangan menunggu lama.
Kejadian nanti seperti saya, saya bekerja di sebuah perusahaan, saya di kontrak 3 bulan dulu [...]

Permalink
July 24, 2008 @ 5:14 am
· Filed under tarbiyah

Para caleg PKS makan siang sambil ‘ngariung’ lesehan setelah acara peresmian di Jakarta…
Rasanya belum ada parpol lain yang secasual ini…
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me
Permalink
July 24, 2008 @ 3:53 am
· Filed under nikmat, nilai, panitia, pelatihan, hidayah, diri saya, pertanyaan, wadah, niat, lancar, sosok, bugar, jalan raya, pagi, segar, besok, dimana, salah, perahu, entah, nyata, letih, karakter, pribadi, Membangun, Penulis, Mindset, tarbiyah, Dakwah, Komunitas, hikmah, Allah, Kendaraan, nyawa, proses, peran, hati, menjemput, syahid, keikhlasan, ajal, kematian, Islam
Saya membuka tulisan ini dengan sebuah pertanyaan. Apa yang akan anda lakukan jika pagi hari ini anda fit dan segar bugar, tapi anda tahu bahwa besok pagi Allah akan mencabut nyawa anda? Saya duga sebagian besar dari anda akan menjawab, “saya akan menggunakan seluruh waktu hari ini untuk berbuat kebaikan sebanyak mungkin dan berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak.”. Mungkin saya pun cenderung akan berpikiran sama seperti itu dan jika melihat keseharian saya pribadi, rasanya ingin sekali hari ini selalu seakan-akan menjadi hari terakhir hidup saya didunia. Saya akan berusaha menjadikan hari ini menjadi hari terindah kehidupan saya, karena saya tahu tidak ada lagi ‘hari esok’ buat saya didunia.
Ya… jika ini hari terakhir dalam hidup saya, saya ingin menjadikannya hari yang begitu bahagia, dimana saya akan tersenyum sepanjang hari seakan-akan syahid akan menjelang beberapa menit lagi. Jika sudah seperti itu, ingin rasanya menghabiskan hari terakhir ini dengan bercengkrama dan berada disekeliling para ikhwah. Saya coba membangun mindset ‘hari terakhir’ seperti ini setiap kali saya dibonceng motor oleh rekan ikhwah yang lain (secara sampai sekarang saya belum juga lancar membawa motor… oups… mengendarai ding… kalo dibawa sih udah pasti cape… hehehe). Entah kenapa, setiap kali saya bertemu jalan raya, saya selalu teringat sama kematian. Jika sudah seperti itu, kadang tiba-tiba muncul rasa takut… “Sudah luruskah niat saya berada diatas motor ini?”.
Sama sekali gak nyambung dengan intro diatas, saya saat ini sebenarnya sedang ingin membahas tentang sebuah istilah yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang jelas dibenak saya, meskipun rasanya sudah berminggu-minggu lalu saya mendengar istilah ini. Saat itu di sebuah pelatihan intern dimana saya menjadi panitia, saya mengikuti satu sesi materi yang diisi oleh seorang senior. Beliau membahas mengenai esensi berjama’ah, namun dengan cara yang cukup menyentak dan menyinggung sebagian diri saya. Beliau mengutip sebuah perkataan dari ust. Rahmat Abdullah (kira-kira esensinya begini):
“Membonceng dalam jama’ah itu sangat nyaman dan nikmat. Jika jama’ah itu memiliki citra yang baik di kalangan masyarakat, maka orang-orang didalamnya akan ikut merasakan citra/reputasi tersebut melekat pada diri mereka, meskipun sebenarnya mereka tidak memiliki tujuan yang sama dengan jama’ah tersebut.”
Anda tahu yang dimaksud dengan membonceng kan? Seorang yang membonceng akan ikut dengan dengan si pengendara hingga batas tertentu. Mungkin saja batas itu adalah tujuan akhir dari si pembonceng, namun bisa juga hanya setengah dari rute perjalanannya. Batas itu bisa saja merupakan tujuan akhir dari si orang yang memboncengi, tapi sangat mungkin pula bukan rute yang ingin dituju. Intinya, membonceng itu tidak mesti memiliki tujuan yang sama dengan sang pembawa kendaraan.
Yang saya resapi dari kalimat ustadz Rahmat tersebut adalah, bergabung dan bercengkerama mesra dalam sebuah komunitas tidak menjamin kita memiliki komitmen kolektif sebagaimana anggota komunitas tersebut. Kita bisa saja diterima dengan sangat hangat, merasa aman karena yakin jika kita salah maka akan banyak saudara kita yang akan mengingatkan, tetapi disisi lain nyatanya tidak ada kontribusi riil yang kita berikan dengan keberadaan kita dalam komunitas tersebut. Bisa dikatakan, ada dan tiadanya kita tidak memberi dampak signifikan dalam keberlangsungan hidup si komunitas tersebut. Sampai pada titik ini, dada saya seperti ditusuk dengan golok tumpul serta berkarat, terasa sesak dan kena sindrom tersinggung akut.
Alamak… seakan-akan perkataan ustadz Rahmat tersebut secara khusus ditujukan pada diri saya. Tiba-tiba saya merasa ditelanjangi hingga tidak ada yang menutupi lagi muka ini dari malu pada diri sendiri. Pertanyaan besar muncul dibenak saya, “Sekarang, apa yang sudah aku lakukan untuk gerbong yang semakin penuh sesak ini?”. Rasanya nyaris kosong andilku! Apa artinya amalan-amalan penuh kehausan akan eksistensi yang kulakukan selama ini. Betapa sulitnya membuat amal-amal itu jadi punya arti jika ujub dan riya masih sulit kuhindari. Betapa seringnya niat itu melenceng sehingga keikhlasan melayang pergi.
Aku selama ini telah merasa terjaga, aman dan nyaman dengan besarnya semangat untuk saling mengingatkan. Tapi kata-kata itu tiba-tiba saja meruntuhkan bangunan kenyamanan itu dengan sebuah hentakan keras. Kata-kata itu seakan sebuah tagihan tegas serta tuntutan akan butuhnya kontribusi riil sebagai konsekuensi keberadaan kita dalam sebuah komunitas. Apalah artinya jika ternyata di pagi hari kita melihat wajah-wajah kusut rekan-rekan kita yang kurang tidur karena terjaga hingga dini hari, sedangkan kita sama kusutnya dengan mereka, tetapi lantaran terlalu banyak waktu tidur tadi malam. Apalah artinya QL berjam-jam jika diluar sana ternyata ada saudara kita yang tidak tertunaikan haknya di sepertiga akhir malam untuk QL lantaran terlalu letih di dua pertiga awal malam.
Ternyata kita seharusnya tidak merasa nyaman dengan hanya berkumpul dengan orang-orang shaleh. Sedikit analogi, tidak cukup sekedar berkawan dengan tukang minyak wangi dengan harapan selalu tertular aroma dari dagangan mereka itu. Kita butuh pula untuk sesekali membeli, atau bahkan membantu agar dagangan dari si tukang minyak wangi itu bisa laku terjual, syukur-syukur jika kemudian ada profit share yang kita peroleh. Dalam barisan ‘dakwah’ (beberapa waktu lalu ada sebuah sindiran halus dari saudaraku Erry, kata-kata ‘dakwah’ dan amal jama’i itu seakan kosong artinya jika kita belum bisa berlapang dada, sebagai tingkatan paling rendah dalam berukhuwah, semoga Allah masih sudi mengikat hati-hati kita hingga ajal menjemput), dagangan kita tak lain adalah nilai-nilai kemuliaan ajaran islam yang telah kita yakini. Produk ini high-quality dan harganya pun mahal bukan main. Butuh investasi besar untuk berniaga dengan ‘Sang Produsen’ (Allah SWT) dengan deposit keikhlasan murni 24 karat dan cadangan koin-koin kesabaran tanpa batas.
Bagi mereka yang tidak mengerti nilai dari produk itu, mungkin akan enggan untuk terjun dalam super-high-risk-trading ini. Mungkin akan lebih nyaman jika berdagang produk ideologi kacangan yang menawarkan keuntungan nyata duniawiyah yang dzahir dan terlihat. Namun bagi mereka yang tahu dan sudah merasakan dagangan ini sekian lama, prospek keuntungan yang didapat terlalu menggiurkan untuk diabaikan. Harga yang sedemikian mahal untuk produk berlisensi eksklusif ini (karena datang-perginya hidayah begitu sulit untuk kita tebak) seakan tidak ada artinya dibandingkan taksiran nilai keuntungan yang tanpa batas diakhirat kelak. Maka dari itu, sebagai objek yang telah berhasil diyakinkan (untuk sampai saat ini dan semoga hingga ajal menjemput) tentang betapa kerennya produk ini, kita belum boleh berpuas diri dengan sekadar mencicipi produk tersebut. Konsekuensi dari mengetahui kelebihan dari si produk ini, kita juga harus meyakinkan orang untuk memilih produk ini. Kita harus punya andil dalam keberjalanan aktivitas dakwah dalam jama’ah ini.
Sejujurnya, saya pribadi menganggap diri saya saat ini masih sebagai pembonceng tulen. Masih sebagai pengambil keuntungan sesaat dari interaksi saya dengan saudara-saudara saya tersebut. Keberadaan saya diantara mereka bisa jadi merupakan wujud ketakutan saya akan hidayah yang bisa saja dicabut kapanpun, padahal ajalpun juga menantipun dan senantiasa mengintaipun (*bleh…!*). Saya ikut nebeng selama ini, mungkin juga masih karena berharap-harap-cemas dengan sosok pendamping hidup dimasa depan. Saya merasa belum cukup puas dengan mencari sosok yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung yang bisa saja ditemukan dimanapun. Solehah dan orientasi hidup yang jauh hingga akhirat merupakan hal paling penting. Meski tidak menjamin, karakter solehah dan bervisi tersebut setidaknya menjadi modal awal yang cukup baik untuk berduet mengarungi belantika kehidupan berumah tangga hingga ajal menjemput.
Intinya, saya mengakui pada diri saya pribadi bahwa mungkin sepanjang beberapa tahun ini, orientasi keberadaan saya dalam komunitas ini sama sekali masih jauh dari nilai-nilai kemurnian dakwah yang seharusnya saya usung. Tetapi sayapun bersadar diri, bahwa berada diluar dengan rasa bersalah yang berlarut-larut bukan pula solusi. Ibaratnya kapal dayung berpenumpang banyak yang mengapung diatas sebuah sungai, jama’ah adalah wadah dimana kita bisa mencapai suatu tujuan secara bersama-sama. Bisa saja kita ikut dalam kapal yang lebih kecil, mendayung perahu sendirian, atau bahkan berenang untuk mencapai tujuan yang sama. Tetapi dalam kesendirian itu akan amat sulit menjaga konsistensi kita untuk sampai ke tujuan. Menumpang kapal dakwah ini mungkin lebih menjamin kita sampai ketujuan.
Tetapi masalahnya tenaga pendayung dalam kapal pun terbatas. Adakalanya barisan pendayung ini keletihan atau mungkin cedera yang memperlambat gerak si kapal. Kalau dibiarkan terus menerus, bisa saja kapal tersebut akan berhenti total. Jika kita hanya sekedar menumpang saja, kita tidak berhak untuk protes atau marah-marah pada para pendayung yang keletihan tersebut, karena keberadaan kita dan mereka pada hakikatnya memiliki kepentingan yang sama dan kita sama-sama dirugikan dengan mandegnya perjalanan tersebut. Sampai disini, satu hikmah yang bisa diambil adalah tidak cukup sekedar merasa aman dalam kapal besar ini jika kemudian kita tidak mampu berbagi peran dengan penumpang-penumpang lainnya. Kita butuh untuk merubah diri kita dari sekedar penumpang menjadi seorang pendayung yang bisa menggantikan mereka yang letih dan cedera. Mungkin butuh proses untuk menjadikan diri kita benar-benar menjadi pendayung tulen yang bisa diandalkan oleh penumpang yang lain. Tetapi jika tidak mulai meniatkan diri menjadi seorang pendayung dari sekarang, proses itu tidak akan kunjung mulai. Menunda untuk merubah peran kita hanya akan memperlambat seluruh penumpang untuk sampai ke tujuan bersama.
Jadi… masih ingin membonceng atau siap menjadi pendayung?
*) Penulis adalah orang yang banyak omong, tapi masih sedikit beramal… semoga tulisan ini menjadi otokritik bagi diri pribadi
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me
Permalink
July 23, 2008 @ 10:43 pm
· Filed under Seminar & Workshop, Blogosfer, wongkito, Palembang Blogger

Hari & Tanggal: Sabtu, 26 Juli 2008 jam 11:00 - selesai
Tempat: SMAN 3 Palembang
Permalink
July 23, 2008 @ 10:00 pm
· Filed under Curhat, Refleksi
Gila. Saya baru 2 bulan mengendarai motor di jalanan, tapi sudah berkali-kali ‘dicolek’ sama kematian. Untungnya, malaikat maut baru ‘nyolek’, belum sampai benar-benar mencabut nyawa. Jalanan memang mengerikan, kematian mengintai di mana-mana jika saja tidak berhati-hati dan kondisi kendaraan kita tidak baik.
Nyaris ditabrak angkot yang belok tanpa lampu sein. Nyaris menabrak motor yang berjalan zig-zag. Nyaris ditabrak truk gara-gara saya mengira truk tersebut akan lurus karena tanpa sein, tapi ternyata belok ke kiri. Dan hampir-hampir ‘bergesekan’ dengan sesama motor yang ketika akan saya susul, motor tersebut malah berbelok ke kanan dan, lagi-lagi, tanpa sein. Duh!! Betapa pentingnya lampu sein bukan?!
Dan kalau saja saya jahat, ingin sekali rasanya menendang pengendara motor yang berkendaraan sambil menelpon. Bikin kagok karena dengan tidak sadar mengendarai motor secara zig-zag.
Berdasarkan’pengamatan’ langsung, secara garis besar pembuat kekacauan di jalanan adalah; pertama, angkutan umum. Segala jenis angkutan umum. Kedua, motor, yang berarti saya juga termasuk di dalamnya. Perilaku sopir angkutan umum di Indonesia memang sangat mengesalkan. Ngetem seenaknya, berhenti mendadak. Kalau perlu ketika melihat calon penumpang, berhenti saat itu juga. Dan saya selalu waspada tiap kali di depan saya adalah angkutan umum.
Pengendara motor, kadang lebih gila lagi. Karena ukurannya yang kecil dan bisa masuk ke celah-celah kemacetan, seringkali jadi bikin jalanan tambah ruwet. Dan banyak sekali saya temukan, di tengah kemacetan semacam itu, dijadikan ajang pamer kebolehan karena bisa kebut-kebutan di tengah kemacetan. Belum lagi jika motor tersebut menggunakan knalpot yang membuat cekak telinga. Lengkap sudah kekacauan tersebut.
Rupanya banyak saya temukan pengendara yang tidak mau standar-standar saja. Artinya, pengendara tersebut ingin kelihatan berbeda dengan yang lain. Maka, knalpot dibuat berisik, lampu dibuat terang sekali, kalau perlu lampu kabut dipasang, sampai-sampai menyilaukan pengendara dari arah berlawanan. Masa bodoh dengan keamanan dan keselamatan diri dan orang lain. Saya bingung, eksistensi diri semacam apa yang ingin dicari di jalanan? Kawan saya mengatakan orang-orang tersebut egois, dan saya sepakat.
Saya merasa lebih nyaman justru ketika melakukan perjalanan ke luar kota karena kendaraan cenderung tidak lebih padat dibandingkan di dalam kota. Di Bandung, saya paling grogi ketika memasuki daerah Cimahi sampai Padalarang. Juga di jalan Soekarno-Hatta. Stress sekali rasanya karena banyaknya motor di jalan-jalan tersebut.
Barangkali memang benar kata ayah saya, setiap orang bisa ngebut, tapi tidak setiap orang bisa membawa kendaraannya pelan-pelan. Sebab membawa kendaraan pelan-pelan lebih banyak menuntut kesabaran. Itulah sebabnya di kursus-kursus mengemudi, orang diajari pelan-pelan dulu, tidak langsung ngebut. Kalau ngebut, orang tidak perlu diajari, cuma perlu keberanian untuk mengambil resiko saja. Sementara, tidak banyak orang yang mau memberi kesempatan kendaraan lain berbelok atau orang lain menyeberang.
Berikut, daftar pelanggaran yang sering saya temukan di jalanan:
- Belok tanpa sein
- Melanggar Lampu Merah, saya belum pernah menemukan pelanggaran terhadap lampu hijau soalnya
- Menyusul dari kanan ketika akan berbelok ke kiri, ini akan mengagetkan pengendara yang disusul
- Melawan arah untuk mengambil jalan pintas
- Menelpon saat mengendarai motor
- Dll, anda sebutkan saja
CTM61.240708.12.00.
Permalink
July 22, 2008 @ 7:52 pm
· Filed under Basbang
Kepada perokok, sebelumnya saya haturkan mohon maaf jika gambar yang ditampilkan ini mungkin agak sedikit menyinggung atau menyungging. Bukan! Bukan saya yang menggambar, karena saya bukan ahli menggambar pake Photoshop dan sejenisnya. Bisanya hanya makan Soto dan Sop, tapi bukan Sotosop. Gambar ini saya dapatkan dari email yang dikirimkan teman via milis
Kreatif juga ya? [...]
Permalink
July 22, 2008 @ 5:18 am
· Filed under Uncategorized
Posted by mobile phone:
I could stay awake just to hear you breathing
Watch you smile while you are sleeping
Far away and dreaming
I could spend my life in this sweet surrender
I could stay lost in this moment forever
Well, every moment spent with you
Is a moment I treasure
I don’t wanna close my eyes
I don’t wanna fall asleep
‘Cause I’d miss you, babe
And I don’t wanna miss a thing
‘Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
I’d still miss you, babe
And I don’t wanna miss a thing
Lying close to you
Feeling your heart beating
And I’m wondering what you’re dreaming
Wondering if it’s me you’re seeing
Then I kiss your eyes and thank God we’re together
And I just wanna stay with you
In this moment forever, forever and ever
I don’t wanna close my eyes
I don’t wanna fall asleep
‘Cause I’d miss you, babe
And I don’t wanna miss a thing
‘Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
I’d still miss you, babe
And I don’t wanna miss a thing
I don’t wanna miss one smile
I don’t wanna miss one kiss
Well, I just wanna be with you
Right here with you, just like this
I just wanna hold you close
Feel your heart so close to mine
And stay here in this moment
For all the rest of time
Don’t wanna close my eyes
Don’t wanna fall asleep
‘Cause I’d miss you, babe
And I don’t wanna miss a thing
‘Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
‘Cause I’d still miss you, babe
And I don’t wanna miss a thing
I don’t wanna close my eyes
I don’t wanna fall asleep
‘Cause I’d miss you, babe
And I don’t wanna miss a thing
‘Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
I’d still miss you, babe
And I don’t wanna miss a thing
Don’t wanna close my eyes
Don’t wanna fall asleep, yeah
I don’t wanna miss a thing
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me
Permalink
July 22, 2008 @ 4:29 am
· Filed under notepad, emas, div, padi, personal, sejahtera, sabit, personal theme, blogger keadilan, ardee, Blogger Keadilan Sejahtera, WebDev, Theme, pks, demokrasi, biru, partai, Widget
Yeah… dengan ini saya resmikan beredarnya dua Theme hasil utak-atik dari Notepad Theme buatannya… aduh… lupa. Tapi ini mah udah turunan keberapanya dari theme tersebut. Banyak perubahan drastis yang saya masukkan didalamnya, diantaranya menambah jumlah opsi template halaman, merombak layout drastis dengan tambahan tag <div> baru, dan yang tak kalah penting menambah jumlah wilayah widget. Saya membuat dua macam ‘taste’ pada theme turunan ini, pertama yang tastenya personal dan penuh nuansa biru. Saya menamakannya “Ardee’est Personal Theme” (Hm… narsis ya… hehehe). Yang kedua saya beri nama “Ikhwah Personal Theme” yang memperkuat taste kampanye menjelang pesta demokrasi nasional 5 tahunan. Dari namanya anda mungkin sudah bisa menebak bahwa theme ini masih berkaitan dengan partai you-know-who berlogo ‘kupu-kupu emas’ (bulan sabit kembar dan padi itu mirip dengan kupu2 kan?).
Bagi yang mau mencicipi bisa silahkan langsung mengunduhnya:


If you see my blog content is valuable, please consider to treat me
Permalink
July 21, 2008 @ 10:11 pm
· Filed under onLine, Warnet, bLak bLak an, Themes, Themes
Weleh,
Lama juga yah aLe ga apdet bLog ^^
Pasti pada kangen ya ama aLe *dilemparin batu, dibakar masa*
Ehm
Jadi bingun neh mo mulai dari mana
Ah, bisa dilihat kok dari judulnya,
Gosip bahwasannya aLe jarang onlen dan jarang bLogwalking memang benar kok, jadi klo ada wartawan mau kutip berita ini silahkan, berita itu memang benar [...]
Permalink
July 21, 2008 @ 6:06 pm
· Filed under Diary
Ini adalah rekor yang baru saja saya ciptakan untuk pekerjaan saya sebagai seorang pembuat script PHP. Delapan jam Duapuluh Tujuh menit ini bukan waktu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah script, namun waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan script tersebut hingga selesai tanpa gangguan. catatan_riyogarta
Bermula dari pekerjaan untuk menganalisis data, saya membutuhkan script yang mampu mengkoversikan [...]
Permalink
July 18, 2008 @ 1:54 am
· Filed under lapangan kerja, pemetaan, sisi, strategis, kota, erat, Blogger Keadilan Sejahtera, kesempatan, perhatian, dimana, Komunitas
Masalah dunia kerja merupakan sisi strategis yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat. Dimana bila suatu komunitas masyarakat memiliki dunia kerja yang sehat, maka mereka memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya dan meraih kondisi penghidupan yang lebih baik.
Pemetaan dan penjaminan lapangan kerja seringkali luput dari perhatian pemerintah. Seringkali pertumbuhan suatu kota lebih didominasi kepentingan pertumbuhan kota secara fisik dan mengabaikan kesertaan warga masyarakatnya dalam pertumbuhan kota tersebut. Akibatnya yang terjadi adalah pertumbuhan kota yang semakin meminggirkan warga masyarakatnya. Selanjutnya>>
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me
Permalink
July 18, 2008 @ 1:13 am
· Filed under Curhat
Sebenernya aku gak sampe hati ngomong ini langsung, tapi apa boleh buat. Kita telah menghabiskan waktu bersama - sama dan bersenang - senang bersama, dan aku pun merasa kamu adalah belahan jiwaku, aku mengenal mu dengan baik, menghiasmu , dan kemudian memperlihatkan mu ke teman - temanku.
Tapi apa lacur, kamu telah berubah! kamu sekarang jadi [...]

Permalink
July 17, 2008 @ 9:17 pm
· Filed under opsi, pernak pernik, jeda, color scheme, alhamdulillah, bakal, previlege, puas, tools bar, waktu shalat, tiga, tiap, pun, halaman, salah, Jagad Wordpress, ruangkopi, Komputer, blogger, detik, Blogging, plugin, bisa, cuman, keadilan sejahtera, WebDev, itb, Wordpress
Hari ini aku ‘belanja’ plugin untuk beberapa ngelengkapin panel administrasi beberapa situs sekaligus, blog ini, situs blogger keadilan sejahtera dan situs angkatan 2003 ITB. Awalnya targetku cuman satu, nyari plugin yang bisa mengatur previlege yang berbeda-beda dari tiap user level. Sebenernya plugin ini sudah pernah aku pake dan tes di localserver. Nah, sekarang ini plugin tersebut kuperlukan untuk menyulap engine wordpress yang kupakai di situs-situs tadi agar menjadi lebih social-network-like-website.
Tetapi ternyata penyakit kecanduan pluginku tiba-tiba kambuh… dan akibatnya ternyata alih-alih mengambil satu plugin yang kumaksud diatas, aku malah sibuk menginstal banyak plugin sekaligus. Kebetulan karena aku pake plugin oneclick installer dan server hosting RuangKoPI mensupport plugin tersebut, aku langsung menginstall setiap plugin itu ke tiga situs sekaligus. Proses instalasi tiap plugin pun hanya dalam hitungan detik. Jadi kebayang jika aku sudah 3 jam berada didepan komputer dan aku menginstall plugin tanpa jeda (kecuali waktu shalat tentunya) ada berapa plugin yang kuinstall.
Salah satu pernak-pernik sederhana yang kualami dalam ‘petualangan’ berburu plugin ini adalah, aku memperoleh juaaaaaaauuuuh lebih buaaaannyyyaakk dari yang aku harapkan dan untuk itu aku patut sangat-sangat bersyukur. Aku mendapat banyak koleksi plugin untuk kustomisasi panel admin, mulai dari berbagai tambahan color scheme, tambahan fungsionalitas dan opsi-opsi tampilan. Nah, diantara plugin yang baru kujajal dengan sangat puas adalah ‘WS Tools Bar‘ (plugin yang menambahkan fungsi administrasi di halaman depan blog/situs berbasis wordpress plus form login didalamnya. Nyaris sama dengan apa yang kumimpikan sebelumnya (lihat My dream wp-plugin…) menyatukan fungsionalitas WordPress Admin Bar dengan plugin Sidebar Login. Satu hal yang tadinya sempat kukhawatirkan adalah, plugin itu bakal berkonflik dengan plugin bar administrasi yang lain (WordPress Admin Bar) yang kupasang sebelumnya. Akhirnya, meski khawatir toh aku tetap menjajal plugin itu.
Target sasaranku lagi-lagi adalah blogku sendiri (hehehe… ya blog ini, ‘laboratorium’ online tempatku praktikum ‘web development’ di jagat internet ini). Awalnya aku menonaktifkan WordPress Admin Bar dulu, baru mengaktivasi WS Tools Bar. Begitu plugin tersebut kuaktivasi, aku segera membuka homepage blogku. Alhamdulillah… ternyata tampilannya memang keren. Sekarang gimana kalo kedua plugin itu diaktifkan bersamaan? Aku kembali ke panel manajemen plugin dan mengaktivasi kembali plugin WordPress Admin Bar dan… Alamak!! kemana WS Tools Bar-nya? Hilang! Untung aksi kaget itu segera reda kembali saat ternyata kusadari bahwa si WS Tools Bar ‘berbagi ruang alias ngumpet dibawah WordPress Admin Bar. Alhamdulillah, kedua plugin itu bisa berjalan berbarengan.
Akhirul kalam, aku menutup postingan ini dengan kumpulan skrinsyut dari beberapa plugin:



