Archive for calon

Lagu lama “Forum Mahasiswa Cinta Bandung”

FORUM MAHASISWA CINTA BANDUNG DUKUNG DADA

Forum Mahasiswa Cinta Bandung Dukung Dada

BANDUNG, DRMC

Sebanyak 140 aktivis kampus dari 20 perguruan tinggi di Bandung yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Cinta Bandung (FMCB), Senin (28/7) melakukan aksi sosial dengan memberi layanan kesehatan gratis bagi masyarakat tidak mampu.

Kegiatan ini murni dilakukan mereka sekaligus membantu ikut kampanye untuk pasangan calon wali kota/wakil wali kota H.Dada Rosada/Ayi Vivananda. Sambil melayani masyarakat, mereka membagi-bagikan pamflet dan selebaran yang isinya menyosialisasikan pasangan Dada/Ayi.

Kegiatan awalnya dari kawasan Andir, selanjutnya massa bergerak hingga ke beberapa daerah. Di Jln. Merdeka Bandung, mereka melakukan aksi simpatik dengan membagi-bagikan selebaran kepada setiap pengguna jalan dan para pengendaraan kendaraan bermotor.

“Ini murni dari kami, karena kami menganggap Pak Dada masih cocok dan masih yang terbaik untuk memimpin Kota Bandung lima tahun mendatang,“ ujar Yudi koordinator aksi sosial. 

Saya dan beberapa kawan ketawa saja dengan tulisan ini dan beberapa spanduk yang terpasang di sudut-sudut jalan bandung dengan mengatasnamakan “Forum Mahasiswa Cinta Bandung”. Langsung terlintas sebuah pertanyaan di benak saya, “Masak iya, sekarang ada mahasiswa yang bisa dibeli sama DADA ROSADA?”. Gak masuk sedikitpun dalam logika saya jika ada mahasiswa yang sekubu dengan si Incumbent ini, karena jelas sikap politik mahasiswa akan berbeda dengan sistem nilai materialis dan penuh kepentingan sesaat tim sukses Dada. Mustahil ada mahasiswa yang masuk ke kubu Dada kalau tidak ada apa-apanya.

Saya mendengar kabar yang lebih nyeleneh lagi. Pak Haru Suandaru mendapat SMS teror dari pihak-yang-tidak-perlu-disebutkan-namanya, yang protes dengan banyaknya aksi mahasiswa menyerang kubu dada, terutama seputar makin menguatnya dugaan korupsi yang dilakukan sang Incumbent ini, salah satunya terkait kasus punclut. Seminggu terakhir ini memang ada beberapa kali aksi mahasiswa yang membawa tuntutan hukum agar dilakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai dugaan korupsi dan kolusi (berdasarkan laporan intelejen kejaksaan seputar kasus punclut yang bocor ke publik beberapa waktu lalu) yang dilakukan Dada Rosada selama menjabat.

Hal yang paling lucu adalah munculnya statement dari pihak penteror, “Ah lagu lama menurunkan mahasiswa kejalan! Ngapain ‘ngirim’ mahasiswa ke kejagung dan kajati segala?”. Hal ini lucu karena pihak yang diteror sendiri tidak tahu menahu secara persis soal seluk beluk geraknya kubu mahasiswa ini. Opini saya pribadi, menurut saya wajar-wajar saja jika TRENDI lebih mendapat dukungan dari kalangan gerakan mahasiswa. Orientasi dan logika mereka match kok satu sama lain. Lagipula mungkin baru fair untuk dikritisi jika para mahasiswa itu tidak membawa argumen dan bukti yang kuat terhadap tuduhan yang mereka alamatkan pada Dada Rosada tersebut. Lha… masalahnya mereka kan membawa argumen dan bukti yang kuat, lagipula mereka bergerak berdasarkan logika dan rasionalitas mereka sendiri. Lalu apa salahnya jika kemudian seakan-akan arus gerakan mereka sejalan dengan apa yang di usung TRENDI?

Justru yang dipertanyakan adalah aksi klaim terhadap dukungan mahasiswa dari kubu Dada Rosada sendiri. Gaya-gaya propaganda yang digunakan tim sukses Dada Rosada (’buntut’nya gak usah disebut lah ya… hanya penjilat yang berhasil mengambil hati Megawati, padahal tidak mengakar di PDIP sendiri) mengingatkan kita dengan spanduk-spanduk dukungan PLTSa yang sempat marak memenuhi Bandung beberapa bulan lalu. Gaya yang mirip itu mengindikasikan bahwa propaganda tersebut ditangani oleh tim media yang sama. Yang butuh dicermati lebih teliti lagi, spanduk PLTSa yang dulu sering kita lihat itu mengatasnamakan warga dari lokasi pemasangan spanduk tersebut. Lucunya, desain spanduknya sama persis dari berbagai lokasi tersebut, hanya berbeda di bagian nama pihak warga yang diklaim.

Nah… sekarang, yang menjadi pertanyaan “beneran gak, ada mahasiswa yang mendukung Dada Rosada? Atau hanya sekedar klaim sepihak saja? Saya dan beberapa kawan jadi tergelitik untuk menantang ‘para mahasiswa’ yang bergabung dengan ‘Forum Mahasiswa Cinta Bandung’ itu. Seperti apa sih tampang mereka? Bisa nggak mereka mempertanggungjawabkan ‘dukungan’ mereka tersebut? Atau mungkin lebih tepatnya, BISA NGGAK TIM SUKSES DADA MEMPERTANGGUNGJAWABKAN KLAIM SEPIHAK YANG MEREKA LAKUKAN? Jadi sekarang siapa yang menyenandungkan ‘lagu lama’ itu?

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Akhirnya… Dua Dosen Blogger Itu Bersatu!

Setelah mengikuti sikap PTUN yang cenderung ‘buying time’, SYNAR membacakan sikap politiknya. Salah satu item paling penting adalah:

Seandainya sampai 10 Agustus 2008 tidak ada keputusan PTUN yang sifatnya berkekuatan hukum, SYNAR memberikan kebebasan kepada pendukungnya untuk menyalurkan aspirasi politiknya. Namun, kami menganjurkan agar para pendukung memilih pasangan calon yang mempunyai komitmen yang tinggi untuk memberantas korupsi di kota Bandung.

Setelah membacakan sikap politik tersebut, kami berkonvoy menuju kubu TRENDI yang sedang menyelenggarakan kampanye TRENDI yang terakhir di lapangan Gasibu dengan ribuan pendukungnya. Kami ditemui Taufikurahman di depan pintu parkir masuk restoran Sindang Reret di sekitar Gasibu. Singkatnya, kami menyatakan bahwa program apapun yang dimiliki siapapun tak akan berjalan jika korupsi di kota Bandung masih dibiarkan. Kami menanyakan, apakah TRENDI siap memberantas korupsi di kota Bandung jika terpilih? Taufikurahman langsung menjawab “Siap” dengan yakin.

Dengan jawaban tersebut, SYNAR menyatakan akan ikut mengawal dan mengawasi jalannya pemerintahan di kota Bandung jika TRENDI terpilih, dan jika sampai 10 Agustus 2008 tidak ada keputusan yang menguntungkan SYNAR, kami akan menganjurkan pendukung SYNAR untuk memilih TRENDI.

Akhirnya SYNAR menyinari TRENDI.

HAYU BABARENGAN BEBENAH BANDUNG.

Akhirnya… mimpi saya jadi kenyataan! Dua dosen blogger itu, kini ada dikubu yang sama. Prediksi sayapun tepat, yang menyatukan mereka adalah sikap progresif mereka dalam menyikapi realita sosial. Kenginginan dan komitmen yang sama dari masing-masing kubu terhadap pemberantasan korupsi telah mendorong SYNAR untuk menyatakan sikap dan anjurannya untuk mengusung TRENDI dalam Pilwalkot Bandung 10 Agustus nanti.

Sumber artikel: http://bandungindependen.wordpress.com/

Artikel Terkait:

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Kakak mana yang akan rela!

Sabtu kemarin akhirnya saya memutuskan untuk pulang kampung kerumah orang tua di jakarta. Ini adalah awal tahun ke-6 dikampus. Mungkin bisa dikatakan sudah terlalu lama saya dikampus, sehingga saya sudah meniatkan untuk tidak memberatkan orangtua lagi masalah biaya kuliah. Niatnya sih sudah ada, tapi jalannya ternyata belum ada. Kerjaan yang baru kurang lebih sebulan ini saya jalani belum cukup menjanjikan untuk jadi sandaran pembayaran uang kuliah. Lagipula, saya sendiri merencanakan gaji pertama akan saya gunakan untuk mencicil rumah kontrakan. Apapun yang terjadi beberapa bulan ini, inilah persiapan yang saya coba lakukan.

Seperti apapun hidup yang kita jalani, pada hakikatnya itu hanyalah rangkaian rencana Allah yang terjadi pada diri kita. Kita sama sekali tidak memiliki kekuatan apapun dalam menentukan akan seperti apa nasib kita dimasa depan. Begitu juga hari itu, sabtu lalu, selepas SPN aku berencana untuk langsung ke stasiun. Pagi harinya aku sudah titip-titip ke Zamzam dan Ninda agar rapat GPH bisa berjalan. Namun ternyata ada yang merubah rencanaku ketika kelas SPN berjalan. Sebuah jarkom masuk, dengan gaya perintah yang nggak mungkin aku tolak, aku memutuskan mengundur keberangkatanku hingga sore tiba. Akhirnya, aku tidak memiliki alasan apapun untuk tidak datang ke rapat GPH. Segera setelah kelas SPN selesai aku segera menuju Skanda.

Aku bersyukur juga tidak jadi segera ke stasiun. Saat itu hanya ada Ninda dan Zamzam saja, yang berarti rapat tidak akan mulai jika tidak ada orang ketiga. Alhamdulillah, rapat pun berjalan dengan lancar dan cukup singkat, dengan tiga poin saja yang dibahas. Beberapa saat menjelang selesai, Syifa datang menambahkan beberapa poin laporan. Rapat pun ditutup dan kami segera bubar masing-masing. Kebetulan sekali adzan berkumandang beberapa saat kemudian.

Aku mulai bimbang saat itu, jarkom dengan kode “Q” berarti apapun kondisi dan alasannya, tidak ada alasan untuk tidak datang. Tapi disisi lain aku juga merasa bahwa sangat urgent untuk segera pulang ke jakarta. Kereta berikutnya berangkat pukul 12.45 yang selanjutnya adalah jadwal pemberangkatan kereta terakhir yang berangkat 16.45. Kalaupun aku memaksakan datang sore itu, praktis hanya ada 30 menit efektif aku ditempat pertemuan itu sebelum akhirnya harus berangkat ke stasiun mengejar kereta jam 5 itu. Jelas hal ini sama sekali tidak efisien. Makanya kemudian tanpa pikir panjang aku segera berangkat ke stasiun selesai shalat dzuhur. Argh… ternyata aku hampir tertinggal kereta. Kereta itu berangkat hanya sekitar 3 menit setelah aku tiba di stasiun.

Ada hikmah yang kudapat dengan berangkat ba’da zuhur. Aku jadi ada waktu cukup panjang untuk berkeliaran di Jakarta sambil jalan-jalan iseng dengan busway. Aku menyengajakan turun di Gambir, kemudian langsung beli tiket dan naik ke atas busway meskipun sebenarnya sama sekali nggak tau jalan. Aku baru bertanya ketika didalam shelter. Tujuan yang kucari adalah kampung rambutan, rute reguler yang kulewati jika ingin pulang ke depok. Ternyata untuk ke kampung Rambutan rute buswaynya adalah Gambir-Harmoni-Senen, Senen-Kp. Melayu, Kp. Melayu-Kp. Rambutan. Semuanya dengan satu tiket saja… Rp 3500. So, murah meriah juga kan (Maklum jarang di Jakarta… jadi yah… katro dikit gak papa lah).

Akupun sampai dirumah sekitar jam 9 malam. Seperti biasa, teman ngobrolku hanya ibu saja. Ayah sudah tidur, adik-adik sesekali ada pula yang ikut nimbrung. Nggak kerasa, adikku yang ketiga sudah masuk SMA. Ibuku curhat tentang tingginya biaya masuk sekolah saat ini. Beliau membandingkannya dengan kuliah di ITB. Katanya, seandainya bisa loncat langsung kuliah, maka lebih baik adikku langsung kuliah saja daripada harus membayar biaya masuk yang begitu mahal itu. Ya… aku cuma bisa tersenyum miris.

Oh iya… sudah sampai sepanjang ini, tiba-tiba aku ingat bahwa yang ingin aku ceritakan sesuai judul ini sebenarnya tentang adikku. Nggak kerasa adik-adikku sudah pada besar. Adik yang pertama sudah mulai nanya-nanya, kapan si Masnya kawin. Yang kedua, sudah akan masuk tingkat akhir, padahal kuliah kakak sulungnya belum juga berakhir (hiks). Yang ketiga sudah SMU, rambutnya sudah semakin acak adut mengikuti mode di TV. Yang terkecil sudah kelas dua MTs.

Memikirkan mereka mengingatkanku pada mimpi yang kupasang tinggi-tinggi tentang dakwah keluarga. Entah kapan kesempatan itu datang, aku cuma bisa berharap bahwa pada saat itu, apapun yang terjadi, aku dalam kondisi siap dan berpersiapan. Materi-materi yang kudapat di Sekolah Pra Nikah sedikit banyak mengajak aku berpikir dengan cara yang lebih kompleks tentang tema tersebut. Apalagi materi terakhir kemarin, ada satu hadits yang dikutip oleh Ust. Hervi Firdaus, redaksional dan riwayat pastinya mungkin lupa kucatat, tapi isinya kurang-lebih: “Jika sepasang Suami-Istri menikah melalui proses yang tidak diridhoi Allah (diharamkan Allah), maka murka Allah akan menyertai sepanjang usia pernikahan mereka didunia.”. Mendengarnya saja aku merinding, dalam hati aku sempat berkata “Ya Allah, selama ini memang mungkin caraku yang masih belum kau ridhoi.“. Akupun segera bersyukur bahwa saat aku tidak diberikan proses yang mulus-mulus saja. Mungkin Allah memberikan proses yang berliku agar aku dapat belajar menjadi calon suami yang lebih baik.

Aku kemudian sempat berpikir, jika dengan proses ta’aruf yang terhitung syar’i saja masih dimungkinkan adanya cara-cara yang tidak syar’i. Bagaimana dengan mereka yang masih menggunakan pacaran sebagai cara mengenal pasangannya sebelum nikah? Pertanyaaan ini segera mengingatkanku pada adikku yang pertama dan kedua. Adik pertamaku sekarang telah bekerja. Ia berpacaran sejak 4 tahun lalu dan itu mengganggu pikiranku tiap kali kembali ke rumah. Ia berada di pesantren Husnul Khotimah jauh lebih lama dariku. Seharusnya saat ini proses tarbiyahnya jauh lebih matang dibanding aku sebagai kakaknya, jika saja ia menjalankan halaqahnya seperti dulu. Adikku yang keduapun sama, ia mulai halaqah sejak SMA. Kabar terakhir dari ibuku, ia kini justru pacaran. Halaqahnya putus di kampusnya, UIN Syarif Hidayatullah.

Aku hampir tidak habis pikir, apa sih sebenarnya yang salah dengan kampus itu. Mengapa ada saja cerita tentang rekan ikhwah yang lepas seketika dari tarbiyahnya begitu terjun di kampus itu? Mengapa hal-hal semacam ini justru akhirnya kurasakan sendiri didalam keluargaku? Sejenak saja pertanyaan itu seakan mengajak akalku untuk mempersalahkan keberadaan kampus itu. Dulu, nyaris saja aku tidak diizinkan kuliah ditempat lain. Karena UIN lebih dekat dengan rumah, ibuku memintaku untuk masuk ke UIN saja. Untungnya hasil SPMB memihak padaku. Akupun bisa melayang terbang sampai ke kampus Ganesha ini. Aku tidak bisa membayangkan jika sampai tiga anak ibuku yang sudah kuliah harus lepas semua proses tarbiyahnya. Meskipun aku bersyukur bisa menemukan kembali Edensorku disini, tapi tetap… keinginan untuk membawa kembali adik-adik dan seluruh keluargaku pada indahnya tarbiyah masih menjadi mimpi yang tidak tergantikan sampai kapanpun… dan itulah alasanku untuk segera menikah!

Pagi harinya setelah sarapan ada hal yang membuat hatiku tiba-tiba hancur berkeping-keping (hm… terlalu melankolis kayaknya… diganti remuk dan retak-retak deh…). Aku bermaksud mengambil beberapa file lagu dari komputer adikku untuk mengisi komputerku. Iseng-iseng kubuka folder foto. Kubuka pula folder foto pribadi milik adik keduaku dan… sebilah belati besar merobek dada ini lebar… adikku berpose berdua dalam fotobox! Ia memang masih dengan jilbab lebarnya tapi… naudzubillah mindzalik! Ia berpelukan dengan seorang mahasiswa yang kukenal sebagai seniornya sejurusan! Ya Allah… kemana perginya materi tarbiyah yang dulu pernah ia dapatkan dalam pertemuan pekanan?

Alamak… mana ada seorang ikhwan yang rela melihat adiknya dalam keadaan seperti itu. Laki-laki muslim mana yang rela jika melihat bahwa kehormatan adik kecilnya ada diujung tanduk seperti itu? Seorang berakhlak sebejat apapun… selama masih memiliki akal sehat… nuraninya akan menolak jika adiknya diperlakukan seperti itu! Aku segera teringat hadits nabi tentang seseorang yang datang kepada beliau dan meminta izin berzina. Apa jawaban Nabi? Beliau segera berbalik menanyakan pada pria itu, apakah ia rela jika ibu atau saudara perempuannya diperlakukan seperti ia memperlakukan wanita yang dizinainya, yang tentu saja dijawab dengan penolakan dan ketidakrelaan dari pria tersebut. Itulah yang saya rasakan sekarang, hati saya sama tidak relanya dengan apa yang dirasakan si pria pada zaman rasulullah tadi.

Yang membuat belati itu semakin menusuk lebih dalam adalah, saya tidak mampu berbuat apa-apa. Marah dan membentak-bentak adik saya atau melaporkannya pada ibu-ayah saya tidak akan membuat ia serta merta sadar. Bisa jadi yang terjadi ia akan semakin menjauh atau malah semakin memberontak. Lagipula pagi itu juga, pas kebetulan ia baru saja berangkat KKN selama sebulan, sehingga tidak ada kesempatan saya untuk bertemu dengannya pada kesempatan mudik kali ini. Pasrah… pikiran saya kembali pada rencana-rencana masa depan kembali. Ingin rasanya memberikan kakak ipar bagi adik saya tersebut yang bisa membimbingnya menjadi muslimah yang lebih baik. Ingin rasanya mencarikan sosok seorang kakak yang bisa mengayomi dirinya, tidak seperti saya yang nyeleneh dan temperamen seperti ini. Pelan tapi pasti… mata ini tiba-tiba basah walau sekuat tenaga saya tahan agar tidak menangis. Pasrah… harapan itu kembali terucap dalam sunyi… dari hati yang sudah robek-robek dalam kekecewaan.

“Ya Allah… berikan aku istri seorang Murabbiyah yang baik… bagi anak-anakku kelak… bagi adik-adikku… bagi keluarga ini… dan mampukan aku menjadi Murabbi yang senantiasa terus belajar menjadi lebih baik… yang dapat menjadi tumpuan dirinya hingga akhirat kelak… Amin!”

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Mencegah Sentralisasi Figur dalam Berjama’ah

Mencegah Sentralisasi Figur dalam Berjama’ah

Oleh Ardian Perdana Putra *

Setelah lama nggak pernah lagi menulis di file word, akhirnya saya menyiapkan postingan ini sejak dari rumah. Karena takut ide yang sudah keburu muncul hilang sebelum sempat dipaparkan. Tulisan ini muncul sebagai tanggapan saya terhadap debat kusir tidak penting seputar PKS di forumdetik yang menurut pendapat saya tidak pada tempatnya dan sudah menjurus pada black campaign. Dialektika dalam obrolan ngalor-ngidul yang nggak jelas ujungnya itupun saya anggap terlalu kekanak-kanakan dan argumen yang digunakan oleh si-orang-bernickname-tobinx itu terlalu dipaksakan dan absurd.

Setidaknya ada dua thread yang tidak sengaja saya masuki di forumdetik yang isinya beraroma hasutan terhadap kader/simpatisan PKS dan masyarakat secara umum. Propaganda semacam ini sebenarnya tidak perlu ditanggapi karena hanya aksi cari ribut dari si provokatornya saja. Tapi bagaimanapun saya merasa butuh untuk memberikan opini dan gagasan saya mengenai salah satu topik tersebut. Hal yang mendorong munculnya tulisan ini hanya satu, saya ingin menunjukkan kepada masyarakat awam tentang indahnya perilaku berjama’ah dari kader dan simpatisan partai ini. Banyak hal yang saya temukan dalam jama’ah tarbiyah yang membuat saya jatuh cinta dengan interaksi dakwah bersama mereka.

Menarik menanggapi salah thread di detik yang membahas tentang ustadz Anis yang juga menyinggung sedikit mengenai tulisan Ust. Anis Matta seputar kader dakwah dan harta (pandangan islam terhadap harta). Saya memang tidak membaca semua, namun ada beberapa isu yang dihembuskan oleh si provokator (yang kemudian saya ketahui menggunakan ID/username ganda ~Thobinx a.k.a Istiqamah~) adalah bahwa sang Ustadz tidak layak berada dalam PKS, berorientasi materialistik, menjadi figur yang ditakuti di internal partai, dll. Dari dialektika absurd dalam forum tersebut saya bisa mengatakan bahwa orang ini (si provokator) pasti bukan kader. Logika-logika berpikirnya pun jauh dari bagaimana seorang bagian dari jama’ah ini dalam melihat interaksi dirinya pribadi dengan jama’ah secara keseluruhan.

Mengenai tulisan yang menjadi awal provokasi si biang ribut, saya pribadi terkesan dengan tulisan Ust. Anis Matta tersebut. Beliau membawakan sebuah cara pandang yang berbeda tentang bagaimana seharusnya seorang kader/da’i melihat realita materialisme dunia disekitarnya dengan tetap menjaga karakter ke-da’i-annya. Tulisan ini mengajak kita berpikir lebih holistik/global tentang konsep zuhud dan wara’ tanpa melupakan sisi sunnatullah manusia dalam melihat harta. Tulisan ini juga memberikan inspirasi baru tentang bagaimana ekspansi dakwah harus masuk ke semua kalangan, tidak saja kalangan dhuafa tetapi juga kalangan berada. Tulisan ini juga mengajak kita menyelami karakteristik psikologis obyek dakwah secara umum yang tentunya amat berguna dalam menentukan langkah-langkah pendekatannya terhadap nilai-nilai keislaman.

Anehnya kemudian yang ditonjolkan oleh si provokator itu justru malah nyasar dari esensinya. Saya prediksi, Ia hanya membaca sekilas paragraf-paragraf awal tulisan saja dan tidak membaca tuntas secara keseluruhan. Wajar jika kemudian yang muncul dalam persepsinya (atau lebih tepatnya ia inginkan agar orang mengira seperti itu persepsinya) adalah sang Ustadz sedang menggiring kader dakwah untuk lebih matre dalam menjalankan aktivitas dakwahnya. Saya berusaha berhusnuzhan bahwa hal itu yang terjadi, namun saya pun tidak menafikan kemungkinan bahwa munculnya tulisan sang Ustadz tersebut tak lain sebagai sebuah argumen yang dipaksakan dalam usaha menjatuhkan citra sang Ustadz. Dari sudut pandang kedua ini, saya melihat kebodohan dan dangkalnya pemahaman si provokator tentang konsep ideal seorang kader.

Berdasarkan sedikit pengalaman saya berinteraksi dengan jama’ah ini, saya melihat bahwa propaganda negatif semacam ini sebenarnya tidak akan berefek pada kader yang memiliki kefahaman yang cukup tentang nilai-nilai kejama’ahan yang di pegang oleh PKS. Mereka (dan juga saya insyaAllah) selalu digembleng dan diarahkan pada orientasi bahwa apapun bentuknya amalan kita tujuannya hanyalah ridho Allah. Orientasi ini menafikan berbagai motif-motif duniawi yang bersifat sesaat dalam aktifitas dakwah keseharian para kader. Mungkin sedikit contoh yang patut untuk disimak adalah salah satu nasehat/taujih dari Kang Haru Suandaru, Ketua DPD Kota Bandung pada ikhwah Relawan P2B seminggu lalu selepas mereka menunaikan tugasnya di posko bantuan korban kebakaran di Cikutra (13/06). Kutipan yang bisa saya ambil kira-kira begini (tidak sama persis, pendekatannya lebih ke esensi taujih tersebut):

“Sesungguhnya jika antum semua melakukan ini semua untuk meraih simpati masyarakat di sana, maka antum akan sakit hati. Jangan lupakan bahwa apapun kondisinya, semua amal tersebut hanyalah bagian dari usaha kita untuk mencari cara tercepat dalam meraih ridho Allah saja. Segala usaha yang antum lakukan telah mengorbankan dana, waktu, dan tenaga (sebagian relawan telah beranak istri dengan mata pencaharian yang bisa dikatakan minim dalam hitungan materil, tapi satu kelebihan yang saya syukuri, mereka kaya akan kefahaman tarbiyah dan militansi), akan menjadi tidak ada artinya jika yang mendasarinya adalah harapan agar mereka disana memilih PKS.

Jangan antum sekali-kali mengharapkan terimakasih atau simpati apapun dari mereka. Sesungguhnya apa yang kita lakukan sama sekali bukan untuk itu Akh…! Mereka berterimakasih pada kita atau justru sebaliknya… entah mereka memilih kita ataupun tidak, itu bukan urusan kita. Itu semua bergantung pada seberapa ridho Allah terhadap amal-amal dakwah kita. Tugas kita hanya satu, berusaha sebaik-baiknya dilapangan untuk membantu mereka dengan keikhlasan untuk Allah semata. Biar nantinya Allah yang menilai amal tersebut di sisinya. Jika Allah berkehendak dari silaturahmi dan amal-amal dakwah kita tersebut untuk membawa hati-hati mereka (masyarakat Bandung) pada dakwah maka dengan insyaAllah kemenangan dakwah akan datang dengan sendirinya.”

Deg… nasehat itu benar-benar menyetrum saya. Kata-kata tadi mengguncang kembali orientasi dan pemahaman saya selama ini tentang dakwah politik yang diusung ikhwah PKS. Merinding saya mendengar kalimat-kalimat itu dan mengingat tentang bagaimana diri saya selama ini. Taujih tadi membakar kembali motivasi yang sempat meredup dalam kejenuhan sesaat lalu. Kalimat-kalimat tadi menghadirkan inspirasi-inspirasi baru untuk menggarap ladang-ladang amal lain yang selama ini masih terbengkalai dan tertelantarkan oleh kepentingan-kepentingan sesaat.

Orientasi keikhlasan dalam amal yang senantiasa ditanamkan dalam diri setiap kader partai dakwah ini telah memunculkan citra dan citarasa baru dalam dunia politik Indonesia. Citarasa kejujuran dan amanah yang telah sekian lama menjadi barang langka sehingga memupus optimisme masyarakat indonesia akan hadirnya perubahan, muncul kembali bersama hadirnya rombongan Ustadz di Senayan. Begitupun di daerah-daerah, keberadaan sosok-sosok asing yang dulu pada kesehariannya mengisi ruang-ruang pengajian dan halaqah, kini merambah ranah yang juga asing bagi mereka. Kiprah mereka yang sebelumnya seperti istilah asing dalam kamus perpolitikan pada era sebelumnya mulai mendapat sorotan publik. Terangkatnya kasus-kasus korupsi, suap-menyuap, gratifikasi dan sejenisnya mulai muncul seiring dengan keistiqamahan mereka dalam menolak apa yang bukan menjadi hak mereka.

Sesungguhnya agak mustahil bagi saya membayangkan jika fenomena tersebut hanya sekedar untuk menarik perhatian publik dan sekedar mengejar popularitas. Keistiqamahan mereka selama 10 tahun ini mungkin cukup menjadi bukti bahwa fenomena ini bukan sekedar pemanis politik saat masa kampanye saja. Toh kenyataannya meski publik pers mengangkat kasus-kasus yang mereka ungkap, para ustadz dan ustadzah tersebut tetap dengan ketawadhuan serta kesederhanaan mereka. Diantara merekapun masih sebagaimana aktivitasnya dahulu, mengisi pengajian dan halaqah seperti biasa. Bahkan rumah-rumah mereka masih sama terpencil dan sempitnya seperti dulu, seperti tergambar dari sosok seorang Ust. Rahmat Abdullah (jika penasaran, tonton saja film ‘Sang Murabbi’ akhir juli ini! Hehehe… promosi!).

Juga kita lihat bagaimana sebenarnya kekuasaan bagi para ustadz tersebut bukanlah sesuatu yang mereka kejar-kejar. Amanah untuk mengisi pos-pos amanah masyarakat di legislatif dan eksekutif sebenarnya merupakan mimpi buruk bagi diri mereka pribadi. Amanah tersebut bagi mereka tak lebih dari sebuah keterpaksaan atas tuntutan kebutuhan dari jama’ah, bahwa harus ada orang-orang yang tepat untuk memangku jabatan-jabatan publik tersebut. Yang lebih menarik adalah, meski terpaksa, mereka tetap mengamban tugas tersebut dengan totalitas penuh sejauh yang mereka bisa. Subhanallah! Dari cara pandang mereka tersebut, muncullah fenomena baru dalam penjaringan calon legislatif/eksekutif. Untuk pertama kalinya ada partai politik dimana para kader intinya berebut menghindar dari pencalonan dan justru saling mendorong saudaranya yang lain.

Tergetar diri saya melihat fenomena-fenomena dari para ustadz, sosok kader inti dan para pendiri PKS ini. Mana mungkin saya tidak jatuh hati dengan sosok-sosok tersebut? Mana mungkin saya tidak percaya bahwa jika saya mengikuti mereka, niscaya saya akan digembleng menjadi figur muslim yang lebih baik? Bagaimana mungkin saya tidak percaya bahwa bangsa dan negeri ini memang jauh lebih mereka cintai dari pada diri-diri mereka sendiri? Bagaimana mungkin saya tidak merasa aman untuk memberikan kepercayaan politik saya dan menitipkan pengelolaan kebijakan negeri ini kepada mereka?

Rasanya nyaris tidak mungkin hal tersebut sekedar ilusi sesaat untuk menutupi motif-motif duniawi mereka dimasa yang akan datang. Nilai keikhlasan yang ditanamkan dalam tarbiyah bertahun-tahun yang mereka jalani telah menghilangkan rasa takut mereka terhadap terpaan opini negatif, pendapat miring, gosip-gosip atau justru kehausan akan popularitas, reputasi positif serta sanjungan yang mungkin muncul seiring datangnya amanah yang menjemput mereka. Sungguh, provokasi dan black campaign secanggih apapun tidak akan membuat mereka bergeming dan kebakaran jenggot karena hal itu tidak akan ada artinya dibandingkan betapa menggiurkannya keridhoan Allah yang mereka kejar. Jadi sungguh aneh tuduhan yang dialamatkan oleh si provokator dalam forumdetik tersebut. Non-sense dan absurd!

Adapun mengenai sentralisme partai terhadap figur-figur tertentu didalamnya, hal itupun sangat musykil dan tidak masuk dalam logika pribadi saya. Sejak awal dirintis, bahkan belasan tahun sebelumnya, saat para masayikh (tetua, sesepuh) dakwah baru merintis dakwah ini di Indonesia, tidak pernah menekankan figuritas dalam komunitas. Jadi, tidak seperti beberapa partai-partai lain yang menonjolkan sosok-sosok tertentu haus kekuasaan yang tak jarang juga dikultuskan oleh pengikut dan simpatisannya, PKS hanya mengenal kepemimpinan kolektif berupa Syuro. Kepemimpinan dan kebijakan internal partai bukanlah ada pada sosok-sosok Presiden Partai, Sekjen, Anggota legislatif, Ketua DPW, DPD, dll. Keberadaan mereka tak lebih adalah sosok komandan lapangan yang menjadi penyambung lidah dari kepemimpinan kolektif dalam Syuro.

Sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabat yang kita baca bersama melalui literatur shirah (riwayat/perikehidupan) Nabawiyah. Rasulullah bukanlah sosok yang dikultuskan oleh para sahabatnya, meskipun Ia adalah orang yang paling dicintai oleh mereka. Suara/aspirasi rasulullah bukanlah suara mutlak pula dalam forum-forum diskusi atau musyawarah dikalangan para sahabat (kecuali yang berkaitan dengan wahyu dan hal-hal fundamental dalam syari’at), terbukti dengan kisah musyawarah beberapa saat menjelang perang Uhud. Pengelolaan struktur kepemerintahan madinah pun tidak sentralistik dengan kekuasaan mutlak pada Rasulullah, melainkan adanya lembaga kebijakan kolektif yang terdiri dari beberapa orang sahabat senior (dan sistem ini terus digunakan pada masa khulafa’urrasyidin).

Jelas terdengar absurd jika muncul tuduhan bahwa sosok beberapa ustadz dalam lingkaran inti PKS mulai berubah menjadi figur yang haus kekuasaan dan ditakuti di internal partainya. Bagaimana mungkin komunitas yang menanamkan nilai-nilai kepemimpinan kolektif serta menjunjung tinggi prinsip musyawarah, akan membiarkan sentralisasi figur terjadi dalam tubuh komunitas tersebut? Apa lagi sebagai sebuah organisasi yang terstruktur dengan baik, PKS telah memiliki mekanisme tersendiri dalam menyelesaikan permasalahan internalnya. Jika ada pelanggaran kode etik dan hal-hal melenceng dari oknum kadernya, sudah ada mekanisme tersendiri untuk menanganinya melalui tabayyun dll. Hal ini membuat tuduhan tadi menjadi semakin tidak masuk akal.

Jadi, sebenarnya bisa dikatakan dengan sistem/mekanisme pembinaan (tarbiyah) yang dijalankan oleh kader dan PKS secara keseluruhan, potensi untuk bersikap oportunistik dan otoriter sebagaimana terbayang dalam pandangan si provokator itu sangat-sangat sulit tumbuh berkembang. Jikapun ada yang sengaja masuk kedalamnya dengan motif tersebut (beberapa waktu lalu saya baru mendapat sebuah istilah unik dari ust Rahmat Abdullah, yaitu “membonceng dalam jama’ah”) maka besar kemungkinan Ia tidak akan betah dalam jama’ah ini. Sistem ini tidak pernah berpegang pada karakter individual seorang tokoh, tetapi karakter kolektif komunitas sebagai suatu kesatuan. Meski begitu, kita pun tidak menafikan bahwa secara manusiawi peluang munculnya dorongan, motif, ego serta kepentingan pribadi dari setiap individu juga tetap ada walaupun insyaAllah sangat amat terminimalisir karena banyaknya kader lain yang akan mengingatkan. Kita pun juga harus menyadari bahwa bagaimanapun jama’ah ini bukanlah jama’ah malaikat yang bersih dari dosa, jama’ah ini tetaplah jama’ah manusia dengan segala bentuk keterbatasan dan kekurangan yang dimilikinya. Meski kurang dan terbatas, dengan mereka bergerak bersama, dalam gemblengan nilai-nilai yang sama, dan demi tujuan yang sama, insyaAllah mereka akan senantiasa bangkit dari dan memperbaiki diri untuk menjadi komunitas yang lebih baik. Wallahu A’lam Bishshawab.

*) Penulis hanyalah seorang blogger biasa yang sedang asyik mencicipi indahnya Tarbiyah

Download Tulisan Ust. Anis Matta: pandangan islam terhadap harta

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Solusi Kepemimpinan = Obat Maag

… Anda tahu… bagaimana sulitnya saya saat harus membujuk mereka berdua agar mau maju (sebagai calon Walikota dan Wakil Walikota)? Yang satu (Ust. Abu Syauqi), begitu dikabari amanah ini Maag-nya langsung kambuh. Yang satu lagi (Dr. Taufik) begitu mendengar namanya disebut (menjadi cawalkot) langsung demam tiga hari. Bahkan begitu mengetahui kemungkinan besar namanya akan disebut Ust. Abu Syauqi langsung mematikan HP-nya, untung saja nomor rumahnya masih bisa dihubungi …

[Taujih Internal Kader PKS oleh Ust. Haru Suandharu 29-06-08]

InsyaAllah saya tidak perlu menjelaskan lagi mengapa saya memilih judul tersebut untuk tulisan singkat ini. Ya, ternyata nasib kepemimpinan kota Bandung ternyata ditentukan oleh beberapa tablet obat sakit maag. Ustadz Abu Syauqi yang beberapa saat kemudian mendapat giliran berorasi juga menambahkan, bahwa sebenarnya hingga hari medical checkup pun beliau dalam pikirannya masih belum bisa menerima bahwa namanya dicalonkan. Tentunya definisi ‘dalam pikirannya masih belum bisa menerima’ yang beliau maksud bukanlah sebentuk ketidakpercayaan terhadap saudara-saudaranya dari PKS yang mengusungnya, melainkan pertanyaan-pertanyaan retoris pada dirinya pribadi tentang kesiapan dirinya untuk mengemban amanah yang maha berat itu.

Pantaslah jika kemudian kepercayaan dan harapan penuh saya letakkan pada pasangan TRENDI ini. Mereka tidak saja sekedar memberikan harapan baru karena usianya yang muda dan track record mereka yang bersih. Tetapi juga dari diri pribadi masing-masing telah dibekali dengan pandangan yang benar terhadap kekuasaan. Mereka maju bukan karena diri mereka MAU untuk maju, tetapi karena keadaan MENUNTUT mereka untuk maju, dengan dukungan dari PKS dan seluruh elemen dalam koalisi sapu lidi yang ikut bergabung untuk mengusung perubahan dalam kepemimpinan kota bandung. Dedikasi yang mereka berdua tunjukkan selama ini dapat menjadi bukti bahwa mereka mampu dan siap memimpin perubahan. Pak Taufik dengan sepak terjangnya sebagai akademisi dan aktivis lingkungan semoga dapat menelurkan kebijakan strategis yang lebih pro rakyat setelah sekian lama bandung ditangani dengan salah urus. Ust. Abu Syauqi dan sepak terjangnya di Rumah Zakat Indonesia semoga dapat membawa perubahan dalam hal pengelolaan anggaran, sehingga peningkatan kesejahteraan masyarakat bisa dirasakan.

Tulisan diatas sekedar celoteh saya saja. Sekedar bayar utang posting setelah hiatus 2 hari ini. Semoga bermanfaat. Dukung TRENDI untuk kota Bandung yang lebih baik. InsyaAllah.

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Shalat Leadership

[Skanda Office: Rabu, 25 Juni 2008, 06.30; Ini langkahku!]

Hohoho… ini dia, ada shalat gaya baru. Waduh, itu mah bid’ah atuh. Gak ding, judul tulisan ini terinspirasi dengan shalat subuh tadi pagi di mesjid Daarud dakwah Pelesiran, Tamansari, Bandung, Jawa Barat, Republik Indonesia, Benua Asia, Planet Bumi! (*halah*) Silsilahnya lengkap pisan, ternyata kita begitu kecil di hadapan-Nya sodara-sodara! Ya, aku berbicara tentang shalat subuh berjama’ah yang ternyata memunculkan insight baru tentang kepemimpinan.

Mungkin benar juga apa yang disebutkan oleh orang-orang arif (meskipun nggak pake ‘Rahman Lubis’) bahwa shalat berjamaah itu adalah miniatur kepemimpinan dalam umat. Jadi wajar jika ketertiban dan keteraturan yang ada dalam prosesi shalat berjama’ah itu seharusnya membekas pada kehidupan keseharian kita, kalau memang kita mendambakan kehidupan bermasyarakat yang teratur (mungkin enaknya pake istilah madani kali ya, biar keren). Ada beberapa nilai yang bisa kita ambil dari shalat berjama’ah, yang kalau dipikir-pikir mungkin analog dan bersifat solutif dalam pembentukan masyarakat madani seperti tersebut diatas.

Nilai pertama adalah bahwa dalam sebuah jama’ah atau masyarakat dibutuhkan kesefahaman (saya mencoba membedakannya dengan keseragaman yang monoton) visi dan tujuan. Maka dari itu, fungsi imam sebagai pemimpin shalat tidak membuka peluang untuk adanya suatu dualisme kepemimpinan, baik secara dzahir maupun bathin. Secara dzahir, gerakan shalat yang dilakukan semua makmum jelas harus mengikuti apa mau imam. Bahkan kalau ada kesalahan atau kelupaan yang dilakukan imam, maka semuanya harus ikut sujud sahwi. Begitu pula jika ada ayat sajadah yang di bacakan, dan imam memutuskan untuk sujud ditengah ayat, semua makmum pun mengikuti. Secara bathin, niat shalat pun harus sama antara imam dan makmum. Mungkin sedikit pengecualian dalam kondisi safar dan dilakukan jama’ qasar dan menjadi ma’mum masbuq ketika kita tidak tahu (barisan shalat) jama’ah yang kita ikuti sedang shalat ini atau shalat itu (wadoh… ini bid’ah lagi, ada ya shalat ‘ini’ dan ‘itu’?).

Nilai kedua, kita sih boleh tawadhu, tapi shalat berjama’ah tetep harus ada imamnya. Ada hal yang menyentil sensor inspirasi saya saat shalat subuh tadi pagi. Selama beberapa saat jama’ah shalat subuh berbaris rapi tanpa ada seorangpun yang mau maju kedepan sebagai imam. Semua saling mempersilahkan jama’ah yang lain karena sama-sama kurang pede. Seorang bapak mempersilahkan seorang mahasiswa ber-sarung-peci-baju koko untuk maju, tapi orang yang disuruh itupun mempersilahkan sang bapak untuk maju pula. Akhirnya satu orang berkacamata yang berdiri diantara mereka memutuskan untuk maju dan memimpin shalat. Tanpa maksud mencela, saya nilai bahwa si mas ini punya masalah dengan tahsin (pertanyaan 1: Siapakah Tahsin itu? A. anaknya ustad Husin, B. Anaknya ustad Mukhlis, atau C. Bukan anak saya).

Nah, kontras sekali dengan kondisi perpolitikan indonesia dan dunia pada umumnya (lho?), mayoritas politisi sudah putus urat malunya untuk mengevaluasi layak tidaknya dirinya untuk maju. Bahkan mungkin sampai ada yang memohon-mohon atau menghalalkan segala cara agar bisa terpilih kembali untuk suatu jabatan. Yang bisa kita ambil mengenai kepemimpinan dalam shalat, kita biasanya berpikir panjang sebelum memutuskan untuk mengimami shalat. Intinya adalah kehati-hatian dalam melihat tanggungjawab yang akan atau harus diemban. Apakah ada yang lebih tua/sepuh? Atau adakah yang lebih fasih bacaannya? Atau adakah yang hafalannya lebih banyak? Hal ini wajar karena kita sadar beban yang ditanggung oleh seorang imam shalat. Masalahnya adalah, mengapa para politisi kita [kebanyakan] tidak berpikir seperti kumpulan calon makmum menentukan imam shalatnya?

Ibroh yang bisa diambil dari kejadian tadi, bahwa ternyata berinisiatif memimpin itu penting, tetapi sebelum kita memutuskan berinisiatif itu, membekali diri dengan kompetensi juga tidak kalah penting (Jleb. Sindiran telak untuk diri sendiri! Ayo lulus, hiks!). Maka dari itu mungkin alternatif terbaiknya adalah apapun yang terjadi di masa depan kita terus berusaha membekali diri dengan berbagai kompetensi tanpa ngoyo mengejar posisi. Tetapi ketika orang-orang disekitar kita ternyata menghendaki kita untuk memimpin (mungkin karena melihat dedikasi dan kompetensi tersebut), maka mantapkan diri untuk maju mengemban amanah tersebut semaksimal yang kita bisa.

Satu nilai lainnya adalah tentang butuhnya mekanisme koreksi yang baik dan beradab untuk mengingatkan kesalahan pemimpin. Pernah liat ada Imam dijitak sama makmumnya? Ditempeleng atau digebuk dari belakang mungkin? Tentu tidak kan sodara-sodara? Dalam shalat mekanisme tersebut dilakukan dengan mengucap subhanallah untuk laki-laki (untuk perempuan klo nggak salah menepuk tangan kan ya? Wallahu a’lam). Menurut saya pribadi bentuk koreksi semacam itu dalam kehidupan riil bisa dilakukan dalam bentuk audiensi ke lembaga legislatif atau aksi simpatik. Yang tidak diharapkan adalah bentuk-bentuk penyampaian koreksi yang rusuh dan menimbulkan kerusakan sehingga malah menyebabkan antipati di masyarakat.

Sebenarnya mungkin masih banyak ibroh yang bisa kita ambil dari shalat berjamaah. Namun mungkin tulisan ini hanya sampai disini, semoga bisa menjadi pancingan bagi kita semua untuk lebih menghayati ibadah yang kita lakukan agar memiliki efek dalam keseharian kehidupan kita. Tulisan ini mungkin menjadi sebuah koreksi bagi penulis pribadi. Semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan keren di masa depan (*halah*). Amin.

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Tiga lembar…

Di deklarasi calon walikota…
kuterima sepucuk biodata…
Terlihat begitu sederhana…
dengan foto mungil diakhirnya…
hanya tiga lembar saja…
Diatas kertas reuse pula…

Aku bertanya-tanya segera…
Dimana amplopnya?
ternyata tidak ada…
Mungkin terlupa saja…
Kubawa segera si biodata…
tetapi bingung mau kemana…

Kubawa saja segera…
Keruang locker pria…
Agar aman melihatnya…
Pelan-pelan kubuka…
Kucoba melihat isinya…
Alhamdulillah, ternyata dia yang kupinta…

Kembali dag-dig-dug bertanya-tanya…
karena inilah pertama kalinya…
Antara sumringah gembira…
dan cemas menunggu berita…
apa yang ‘kan terjadi selanjutnya…
mungkinkah akan lancar-lancar saja?

[mencoba menghibur diri sendiri. Please Ya Allah... please!]

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Taufikurahman-Abu Syauqi untuk Kota Bandung

Kemarin adalah hari yang bersejarah buatku. Pertama, karena kemarin adalah hari deklarasi pasangan Calon Walikota-Wakil Walikota Bandung yang diusung oleh PKS. Kedua, karena ada ‘deklarasi yang lain’ di GOR Citra Arena Cikutra itu (*halah* deklarasi…). Hmmm… kita simpan saja dulu ceritanya untuk nanti. Yang terpenting adalah moment utama dari kehadiran kader dan simpatisan PKS disana, yaitu pengumuman siapa yang akan mendampingi Dr. Taufikurahman sebagai Calon Wakil Walikota Bandung periode 2008-2013.

Saya yakin tidak hanya saya yang berdebar-debar menanti siapakah orangnya yang akan mengemban amanah berat sebagai Cawawalkot PKS tersebut. Format acara pun bisa dikatakan agak diplot surprise. MC yang berada didepan membuat para hadirin penasaran dan menerka-nerka siapa orangnya. Saat MC menunjuk kearah audience tersebut, beberapa ‘cawawalkot bayangan’ terlihat melambai-lambai dari beberapa sisi, membuat audience semakin penasaran. Beberapa saat kemudian akhirnya barulah MC mengumumkan nama Dedi Triesnahadi atau lebih dikenal dengan sebutan Abu Syauqi. Takbir segera bergemuruh memenuhi ruangan GOR.

Setelah penantian dan musyawarah yang alot di internal partai ini, akhirnya terpilihlah ustadz Abu Syauqi pada dini hari, tanggal 22 Juni 2008. Yang bersangkutan pun cukup kaget saat menerima telepon dari Pak Haru (Ka DPD PKS Bandung). Meskipun secara resmi mengundurkan diri sebagai simpatisan beberapa waktu sebelumnya, ternyata tidak menghalangi musyawarah untuk menetapkan pendiri rumah zakat ini sebagai pendamping pak Taufik. Satu hal inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan barisan PKS. Mereka bukan memilih orang-orang yang bernafsu menggapai kekuasaan dengan cara apapun, melainkan figur tawadhu yang secara individu menolak kekuasaan tersebut namun jika ternyata kehendak jama’ah ini menentukan dirinya harus mengemban amanah tersebut, maka ia dengan lapang dada siap mengemban amanah tersebut.

Saya pribadi melihat kombinasi Taufikurahman dan Abu Syauqi merupakan perpaduan yang tepat. Dr Taufik dengan latar belakang kepakaran dan Akademisinya cocok menjadi figur konseptor kebijakan. Disamping itu, eksistensinya sebagai seorang blogger juga menjadi nilai lebih dalam masalah kritisisme dan kepekaan terhadap fenomena sosial yang ada dalam masyarakat. Adapun Abu Syauqi dengan latar belakangnya sebagai pendiri Rumah Zakat adalah sosok praktisi di bidang sosial kemasyarakatan. Pengalamannya dalam mengemban amanah pengelolaan dana umat bagi saya pribadi merupakan jawaban dari masalah korupsi yang selama ini telah mengakar di birokrasi kita. Konsep yang dibawa islam dalam pengelolaan dana umat semoga juga dapat diaplikasikan dalam pengelolaan APBD kota Bandung, sehingga masyarakat bisa lebih merasakan secara utuh alokasi anggaran tersebut.

Menyoroti kedua figur ini, kita juga akan menemukan bahwa mereka berdua berasal dari komunitas yang memegang nilai keagamaan secara kuat. Pak Taufik menghabiskan masa kuliah S1 dan S2 di lingkungan masjid Salman. Sebuah masjid yang dicatat sejarah sebagai masjid kampus pertama dan serta pembinaannya yang fenomenal dalam event LMD (Latihan Mujahid Dakwah) yang telah melahirkan tokoh-tokoh nasional sekelas Al-Hilal Hamdi (mantan Menaker), Hatta Radjasa (Menristek), Husni Thamrin (anggota DPR dari Golkar), Irfan Anshari (anggota DPRD Jabar), Alimin Abdullah (Bendahara PAN) dll. Selain itu beliaupun sejak dekade ‘90-an telah dikenal di komunitas ISNET, komunitas netter tertua indonesia yang banyak berisi aktivis muda islam. Sedangkan Ust. Abu Syauqi sejak 1998 telah dikenal sebagai seorang dai muda bandung. Ia bersama dengan pengajian majlis ta’lim Ummul Quro berinisiatif untuk mendirikan Dompet Sosial Ummul Quro (DSUQ) yang bertujuan mengelola dana umat dari zakat, infaq, shodaqoh dan wakaf secara lebih profesional dengan menitikberatkan program pendidikan, kesehatan, pembinaan komunitas dan pemberdayaan ekonomi sebagai penyaluran program unggulan [1]. DSUQ inilah yang kemudian hari bertransformasi menjadi Rumah Zakat Indonesia.

Pantas bagi kita untuk menaruh harapan besar pada pasangan ini untuk dapat menjadi pengusung perubahan bagi ibukota Jawa Barat yang semakin hari semakin semrawut dengan segala masalahnya. Tentunya tidak sekedar menaruh harapan kemudian menonton perkembangan yang terjadi. Kemenangan tidak akan datang dengan sendirinya. Butuh aksi dan kontribusi riil dari kita semua agar perubahan dikota bandung dapat terwujud. Langkah paling dekatnya adalah bergabung dengan barisan pendukung Taufikurahman-Abu Syauqi dan berkontribusi dengan apapun yang kita punya. Maka dari itu saya menyatakan siap untuk memberdayakan blog ini semaksimal yang saya bisa untuk mengkampanyekan pasangan ini. SAYA MENDUKUNG TAUFIK-ABU SYAUQI, BAGAIMANA DENGAN ANDA?

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Kalo cawalkot kita bergaya… hehehe

Ckckck... si Om Gaya euy...

Gaya... gaya... gaya

[NB: Semua gambar boleh nemu di Flickr, stok fotonya team sukses ceunah...]

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

combined phentermine sibutramine taking viagra after the expiration date paxil cr 25 viagra for women overdose is ambien safe during pregnancy diazepam 2 day shipping viagra chemical formulation pravachol attorney cialis comparison diflucan viagra paxil and alchohol no2 like viagra 1992 soma cyclone truck effectiveness propecia phentermine sources effexor and cholesterol can premarin make you lose weight alcohol treatment centers hoffman estates il aciphex hydrocodone is tylenol an anti inflamation drug re ambien worsening anxiety depression central viagra plavix flomax psa test what are the affect of valiums flomax ativan viagra over night shipping taking nardil and valium marijuana lowers sperm count diazepam vs clonazepam forum will an addict abuse lexapro central america outdoor marijuana grows 180 37.5 phentermine ambien zlp 10 compare levitra cialis versus viagra marijuana trials 1936 soma codes diazepam diazepan finding thc on marijuana leaves uk viagra sales in the facts about alcohol at family guide phentermine and alcholo phentermine tablets no script prevacid 30mg taking zoloft with serzone pcp box telephone compare cymbalta to prozac tramadol effects yasmin bratz dolls getting of effexor ambien vs sonata 5 generic sildenafil citrate overnight viagra imitation taking prozac with wellbutrin phentermine menstrual cycle overnight delivery of phentermine cr paxil paxil phentermine super rx discount can cialis be taken with vasotec intravenous sildenafil cialis and headache where can i get propecia effect of the drug tramadol phentermine alternative medicine diazepam effects side 13 generic ambien singulair allergy xanax oxycontin seizure discount phentermine discount phentermine ambien cr take with maoi cialis daily robert francis kennedy jr ambien continuing medil edution lifornia viagra generic effexor before and after picutures methamphetamine addicts tramadol 26 addiction danger effects phentermine side fake viagra websites diflucan cod tramadol drug guide celebrex advertising agency dhea hydrochlorothiazide interaction celebrex and prednisone bonaire marijuana methamphetamine laws in las vegas nevada phentermine hydrochloride ship to missouri paxil cr product effexor 225 mg premium generic viagra canadian paxil pharmacy diazepam manufacturer27s actavis phentermine hydrochloride phentermine hcl capsules alcohol brain effects long term depakote en er espanol phentermine tenuate ambien cause numbness welcome to candida diflucan directory lowest propecia 1 mg cod phentermine informative phentermine details offshore pharmacy phentermine yellow phentermine 37.5mg picture pass klonopin urine test dyspepsia as a result of effexor taking pain medication with diovan fosamax drug reactions generic viagra levitra and tadalafil yasmin metrogel acyclovir vaniqa valium 5 mg