Archive for hikmah
August 11, 2008 @ 1:31 am
· Filed under kota, gak, Pemilu 2009, persepsi, membaca, alhamdulillah, kampanye, kalah, musyawarah, sepakat, musim, menang, bilang, hasil, coba, kota bandung, tarbiyah, Blogger Keadilan Sejahtera, pilkada, hikmah, Curhat, Bandung, pks, Allah, pilwakot, ambil, bisa, saya, proses, partai, opini
Saya membaca posting ini dan coba memberikan sedikit opini saya tentang pilwakot Bandung.
Menurut saya kita gak kalah…
Masih terlalu banyak hikmah yg bs diambil dari pilwakot ini…
Kang Haru pernah bilang (pendekatan konteks), sebenarnya gak ada istilah ‘kita menyelamatkan bandung’ yang ada adalah ‘warga bandung menyelamatkan diri mereka sendiri’. Kalau ternyata ‘yang itu-itu lagi’ yang menang, berarti warga bandung belum siap menyelamatkan kota mereka, atau persepsi mereka tentang ‘kota bandung yang terselamatkan’ masih berbeda dengan persepsi kita.
Pas jaga jadi saksi di TPS kemarin, saya ngobrol sama seorang ketua RT. Beliau curhat, “seandainya ini (PKS) berkoalisi dengan itu (beliau menunjuk PAN), saya yakin mereka juaranya.”. Pembicaraan itu saya endapkan dipikiran saya hingga beberapa jam kemudian dan kemudian saya teringat bahwa apapun hasil (fisik) pilkada ini, yang kita usung adalah hasil dari sebuah musyawarah dan keberkahan proses syurolah (serta ridho Allah) yang kita kejar.
Dan hikmah yang bisa saya ambil adalah, Allah memberikan hadiah yang lebih besar buat jama’ah ini. Mungkin, jika memang kita berkoalisi dengan partai lain kemenangan itu bisa kita raih. Tetapi bisa jadi muncul ganjalan-ganjalan didalam internal ikhwah yang tidak sepakat dengan koalisi tersebut. Sekarang, memang kita tidak ‘memperoleh suara terbanyak’, tapi Alhamdulillah, Allah menjaga soliditas ikhwah di Bandung. Dengan segala bentuk aktivitas kita selama musim kampanye kemarin (DS, atributisasi dll), insyaAllah, Allah telah memberikan tadrib amal dan telah melengkapi perbekalan kita untuk menyongsong pemilu 2009. Amin…
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me
Permalink
July 28, 2008 @ 9:44 pm
· Filed under rangkaian, rencana, alhamdulillah, persiapan, rumah kontrakan, kabar, sosok, katro, calon, lancar, shalat, kesempatan, pagi, adik perempuan, muslimah, menikah, ninda, orangtua, tidak akan, kerjaan, jika tidak, adzan, belum ada, bimbang, datang ke, saya, pertanyaan, iseng, GPH, jalan-jalan, itb, pribadi, melankolis, tarbiyah, Curhat, Dakwah, Komputer, hikmah, keluarga, zamzam, Allah, belajar, jilbab, pernikahan, proses, hati, halaqah, pesantren, ganesha, murabbiyah, nikah, pasrah, mahasiswa
Sabtu kemarin akhirnya saya memutuskan untuk pulang kampung kerumah orang tua di jakarta. Ini adalah awal tahun ke-6 dikampus. Mungkin bisa dikatakan sudah terlalu lama saya dikampus, sehingga saya sudah meniatkan untuk tidak memberatkan orangtua lagi masalah biaya kuliah. Niatnya sih sudah ada, tapi jalannya ternyata belum ada. Kerjaan yang baru kurang lebih sebulan ini saya jalani belum cukup menjanjikan untuk jadi sandaran pembayaran uang kuliah. Lagipula, saya sendiri merencanakan gaji pertama akan saya gunakan untuk mencicil rumah kontrakan. Apapun yang terjadi beberapa bulan ini, inilah persiapan yang saya coba lakukan.
Seperti apapun hidup yang kita jalani, pada hakikatnya itu hanyalah rangkaian rencana Allah yang terjadi pada diri kita. Kita sama sekali tidak memiliki kekuatan apapun dalam menentukan akan seperti apa nasib kita dimasa depan. Begitu juga hari itu, sabtu lalu, selepas SPN aku berencana untuk langsung ke stasiun. Pagi harinya aku sudah titip-titip ke Zamzam dan Ninda agar rapat GPH bisa berjalan. Namun ternyata ada yang merubah rencanaku ketika kelas SPN berjalan. Sebuah jarkom masuk, dengan gaya perintah yang nggak mungkin aku tolak, aku memutuskan mengundur keberangkatanku hingga sore tiba. Akhirnya, aku tidak memiliki alasan apapun untuk tidak datang ke rapat GPH. Segera setelah kelas SPN selesai aku segera menuju Skanda.
Aku bersyukur juga tidak jadi segera ke stasiun. Saat itu hanya ada Ninda dan Zamzam saja, yang berarti rapat tidak akan mulai jika tidak ada orang ketiga. Alhamdulillah, rapat pun berjalan dengan lancar dan cukup singkat, dengan tiga poin saja yang dibahas. Beberapa saat menjelang selesai, Syifa datang menambahkan beberapa poin laporan. Rapat pun ditutup dan kami segera bubar masing-masing. Kebetulan sekali adzan berkumandang beberapa saat kemudian.
Aku mulai bimbang saat itu, jarkom dengan kode “Q” berarti apapun kondisi dan alasannya, tidak ada alasan untuk tidak datang. Tapi disisi lain aku juga merasa bahwa sangat urgent untuk segera pulang ke jakarta. Kereta berikutnya berangkat pukul 12.45 yang selanjutnya adalah jadwal pemberangkatan kereta terakhir yang berangkat 16.45. Kalaupun aku memaksakan datang sore itu, praktis hanya ada 30 menit efektif aku ditempat pertemuan itu sebelum akhirnya harus berangkat ke stasiun mengejar kereta jam 5 itu. Jelas hal ini sama sekali tidak efisien. Makanya kemudian tanpa pikir panjang aku segera berangkat ke stasiun selesai shalat dzuhur. Argh… ternyata aku hampir tertinggal kereta. Kereta itu berangkat hanya sekitar 3 menit setelah aku tiba di stasiun.
Ada hikmah yang kudapat dengan berangkat ba’da zuhur. Aku jadi ada waktu cukup panjang untuk berkeliaran di Jakarta sambil jalan-jalan iseng dengan busway. Aku menyengajakan turun di Gambir, kemudian langsung beli tiket dan naik ke atas busway meskipun sebenarnya sama sekali nggak tau jalan. Aku baru bertanya ketika didalam shelter. Tujuan yang kucari adalah kampung rambutan, rute reguler yang kulewati jika ingin pulang ke depok. Ternyata untuk ke kampung Rambutan rute buswaynya adalah Gambir-Harmoni-Senen, Senen-Kp. Melayu, Kp. Melayu-Kp. Rambutan. Semuanya dengan satu tiket saja… Rp 3500. So, murah meriah juga kan (Maklum jarang di Jakarta… jadi yah… katro dikit gak papa lah).
Akupun sampai dirumah sekitar jam 9 malam. Seperti biasa, teman ngobrolku hanya ibu saja. Ayah sudah tidur, adik-adik sesekali ada pula yang ikut nimbrung. Nggak kerasa, adikku yang ketiga sudah masuk SMA. Ibuku curhat tentang tingginya biaya masuk sekolah saat ini. Beliau membandingkannya dengan kuliah di ITB. Katanya, seandainya bisa loncat langsung kuliah, maka lebih baik adikku langsung kuliah saja daripada harus membayar biaya masuk yang begitu mahal itu. Ya… aku cuma bisa tersenyum miris.
Oh iya… sudah sampai sepanjang ini, tiba-tiba aku ingat bahwa yang ingin aku ceritakan sesuai judul ini sebenarnya tentang adikku. Nggak kerasa adik-adikku sudah pada besar. Adik yang pertama sudah mulai nanya-nanya, kapan si Masnya kawin. Yang kedua, sudah akan masuk tingkat akhir, padahal kuliah kakak sulungnya belum juga berakhir (hiks). Yang ketiga sudah SMU, rambutnya sudah semakin acak adut mengikuti mode di TV. Yang terkecil sudah kelas dua MTs.
Memikirkan mereka mengingatkanku pada mimpi yang kupasang tinggi-tinggi tentang dakwah keluarga. Entah kapan kesempatan itu datang, aku cuma bisa berharap bahwa pada saat itu, apapun yang terjadi, aku dalam kondisi siap dan berpersiapan. Materi-materi yang kudapat di Sekolah Pra Nikah sedikit banyak mengajak aku berpikir dengan cara yang lebih kompleks tentang tema tersebut. Apalagi materi terakhir kemarin, ada satu hadits yang dikutip oleh Ust. Hervi Firdaus, redaksional dan riwayat pastinya mungkin lupa kucatat, tapi isinya kurang-lebih: “Jika sepasang Suami-Istri menikah melalui proses yang tidak diridhoi Allah (diharamkan Allah), maka murka Allah akan menyertai sepanjang usia pernikahan mereka didunia.”. Mendengarnya saja aku merinding, dalam hati aku sempat berkata “Ya Allah, selama ini memang mungkin caraku yang masih belum kau ridhoi.“. Akupun segera bersyukur bahwa saat aku tidak diberikan proses yang mulus-mulus saja. Mungkin Allah memberikan proses yang berliku agar aku dapat belajar menjadi calon suami yang lebih baik.
Aku kemudian sempat berpikir, jika dengan proses ta’aruf yang terhitung syar’i saja masih dimungkinkan adanya cara-cara yang tidak syar’i. Bagaimana dengan mereka yang masih menggunakan pacaran sebagai cara mengenal pasangannya sebelum nikah? Pertanyaaan ini segera mengingatkanku pada adikku yang pertama dan kedua. Adik pertamaku sekarang telah bekerja. Ia berpacaran sejak 4 tahun lalu dan itu mengganggu pikiranku tiap kali kembali ke rumah. Ia berada di pesantren Husnul Khotimah jauh lebih lama dariku. Seharusnya saat ini proses tarbiyahnya jauh lebih matang dibanding aku sebagai kakaknya, jika saja ia menjalankan halaqahnya seperti dulu. Adikku yang keduapun sama, ia mulai halaqah sejak SMA. Kabar terakhir dari ibuku, ia kini justru pacaran. Halaqahnya putus di kampusnya, UIN Syarif Hidayatullah.
Aku hampir tidak habis pikir, apa sih sebenarnya yang salah dengan kampus itu. Mengapa ada saja cerita tentang rekan ikhwah yang lepas seketika dari tarbiyahnya begitu terjun di kampus itu? Mengapa hal-hal semacam ini justru akhirnya kurasakan sendiri didalam keluargaku? Sejenak saja pertanyaan itu seakan mengajak akalku untuk mempersalahkan keberadaan kampus itu. Dulu, nyaris saja aku tidak diizinkan kuliah ditempat lain. Karena UIN lebih dekat dengan rumah, ibuku memintaku untuk masuk ke UIN saja. Untungnya hasil SPMB memihak padaku. Akupun bisa melayang terbang sampai ke kampus Ganesha ini. Aku tidak bisa membayangkan jika sampai tiga anak ibuku yang sudah kuliah harus lepas semua proses tarbiyahnya. Meskipun aku bersyukur bisa menemukan kembali Edensorku disini, tapi tetap… keinginan untuk membawa kembali adik-adik dan seluruh keluargaku pada indahnya tarbiyah masih menjadi mimpi yang tidak tergantikan sampai kapanpun… dan itulah alasanku untuk segera menikah!
Pagi harinya setelah sarapan ada hal yang membuat hatiku tiba-tiba hancur berkeping-keping (hm… terlalu melankolis kayaknya… diganti remuk dan retak-retak deh…). Aku bermaksud mengambil beberapa file lagu dari komputer adikku untuk mengisi komputerku. Iseng-iseng kubuka folder foto. Kubuka pula folder foto pribadi milik adik keduaku dan… sebilah belati besar merobek dada ini lebar… adikku berpose berdua dalam fotobox! Ia memang masih dengan jilbab lebarnya tapi… naudzubillah mindzalik! Ia berpelukan dengan seorang mahasiswa yang kukenal sebagai seniornya sejurusan! Ya Allah… kemana perginya materi tarbiyah yang dulu pernah ia dapatkan dalam pertemuan pekanan?
Alamak… mana ada seorang ikhwan yang rela melihat adiknya dalam keadaan seperti itu. Laki-laki muslim mana yang rela jika melihat bahwa kehormatan adik kecilnya ada diujung tanduk seperti itu? Seorang berakhlak sebejat apapun… selama masih memiliki akal sehat… nuraninya akan menolak jika adiknya diperlakukan seperti itu! Aku segera teringat hadits nabi tentang seseorang yang datang kepada beliau dan meminta izin berzina. Apa jawaban Nabi? Beliau segera berbalik menanyakan pada pria itu, apakah ia rela jika ibu atau saudara perempuannya diperlakukan seperti ia memperlakukan wanita yang dizinainya, yang tentu saja dijawab dengan penolakan dan ketidakrelaan dari pria tersebut. Itulah yang saya rasakan sekarang, hati saya sama tidak relanya dengan apa yang dirasakan si pria pada zaman rasulullah tadi.
Yang membuat belati itu semakin menusuk lebih dalam adalah, saya tidak mampu berbuat apa-apa. Marah dan membentak-bentak adik saya atau melaporkannya pada ibu-ayah saya tidak akan membuat ia serta merta sadar. Bisa jadi yang terjadi ia akan semakin menjauh atau malah semakin memberontak. Lagipula pagi itu juga, pas kebetulan ia baru saja berangkat KKN selama sebulan, sehingga tidak ada kesempatan saya untuk bertemu dengannya pada kesempatan mudik kali ini. Pasrah… pikiran saya kembali pada rencana-rencana masa depan kembali. Ingin rasanya memberikan kakak ipar bagi adik saya tersebut yang bisa membimbingnya menjadi muslimah yang lebih baik. Ingin rasanya mencarikan sosok seorang kakak yang bisa mengayomi dirinya, tidak seperti saya yang nyeleneh dan temperamen seperti ini. Pelan tapi pasti… mata ini tiba-tiba basah walau sekuat tenaga saya tahan agar tidak menangis. Pasrah… harapan itu kembali terucap dalam sunyi… dari hati yang sudah robek-robek dalam kekecewaan.
“Ya Allah… berikan aku istri seorang Murabbiyah yang baik… bagi anak-anakku kelak… bagi adik-adikku… bagi keluarga ini… dan mampukan aku menjadi Murabbi yang senantiasa terus belajar menjadi lebih baik… yang dapat menjadi tumpuan dirinya hingga akhirat kelak… Amin!”
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me
Permalink
July 24, 2008 @ 3:53 am
· Filed under nikmat, nilai, panitia, pelatihan, hidayah, diri saya, pertanyaan, wadah, niat, lancar, sosok, bugar, jalan raya, pagi, segar, besok, dimana, salah, perahu, entah, nyata, letih, karakter, pribadi, Membangun, Penulis, Mindset, tarbiyah, Dakwah, Komunitas, hikmah, Allah, Kendaraan, nyawa, proses, peran, hati, menjemput, syahid, keikhlasan, ajal, kematian, Islam
Saya membuka tulisan ini dengan sebuah pertanyaan. Apa yang akan anda lakukan jika pagi hari ini anda fit dan segar bugar, tapi anda tahu bahwa besok pagi Allah akan mencabut nyawa anda? Saya duga sebagian besar dari anda akan menjawab, “saya akan menggunakan seluruh waktu hari ini untuk berbuat kebaikan sebanyak mungkin dan berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak.”. Mungkin saya pun cenderung akan berpikiran sama seperti itu dan jika melihat keseharian saya pribadi, rasanya ingin sekali hari ini selalu seakan-akan menjadi hari terakhir hidup saya didunia. Saya akan berusaha menjadikan hari ini menjadi hari terindah kehidupan saya, karena saya tahu tidak ada lagi ‘hari esok’ buat saya didunia.
Ya… jika ini hari terakhir dalam hidup saya, saya ingin menjadikannya hari yang begitu bahagia, dimana saya akan tersenyum sepanjang hari seakan-akan syahid akan menjelang beberapa menit lagi. Jika sudah seperti itu, ingin rasanya menghabiskan hari terakhir ini dengan bercengkrama dan berada disekeliling para ikhwah. Saya coba membangun mindset ‘hari terakhir’ seperti ini setiap kali saya dibonceng motor oleh rekan ikhwah yang lain (secara sampai sekarang saya belum juga lancar membawa motor… oups… mengendarai ding… kalo dibawa sih udah pasti cape… hehehe). Entah kenapa, setiap kali saya bertemu jalan raya, saya selalu teringat sama kematian. Jika sudah seperti itu, kadang tiba-tiba muncul rasa takut… “Sudah luruskah niat saya berada diatas motor ini?”.
Sama sekali gak nyambung dengan intro diatas, saya saat ini sebenarnya sedang ingin membahas tentang sebuah istilah yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang jelas dibenak saya, meskipun rasanya sudah berminggu-minggu lalu saya mendengar istilah ini. Saat itu di sebuah pelatihan intern dimana saya menjadi panitia, saya mengikuti satu sesi materi yang diisi oleh seorang senior. Beliau membahas mengenai esensi berjama’ah, namun dengan cara yang cukup menyentak dan menyinggung sebagian diri saya. Beliau mengutip sebuah perkataan dari ust. Rahmat Abdullah (kira-kira esensinya begini):
“Membonceng dalam jama’ah itu sangat nyaman dan nikmat. Jika jama’ah itu memiliki citra yang baik di kalangan masyarakat, maka orang-orang didalamnya akan ikut merasakan citra/reputasi tersebut melekat pada diri mereka, meskipun sebenarnya mereka tidak memiliki tujuan yang sama dengan jama’ah tersebut.”
Anda tahu yang dimaksud dengan membonceng kan? Seorang yang membonceng akan ikut dengan dengan si pengendara hingga batas tertentu. Mungkin saja batas itu adalah tujuan akhir dari si pembonceng, namun bisa juga hanya setengah dari rute perjalanannya. Batas itu bisa saja merupakan tujuan akhir dari si orang yang memboncengi, tapi sangat mungkin pula bukan rute yang ingin dituju. Intinya, membonceng itu tidak mesti memiliki tujuan yang sama dengan sang pembawa kendaraan.
Yang saya resapi dari kalimat ustadz Rahmat tersebut adalah, bergabung dan bercengkerama mesra dalam sebuah komunitas tidak menjamin kita memiliki komitmen kolektif sebagaimana anggota komunitas tersebut. Kita bisa saja diterima dengan sangat hangat, merasa aman karena yakin jika kita salah maka akan banyak saudara kita yang akan mengingatkan, tetapi disisi lain nyatanya tidak ada kontribusi riil yang kita berikan dengan keberadaan kita dalam komunitas tersebut. Bisa dikatakan, ada dan tiadanya kita tidak memberi dampak signifikan dalam keberlangsungan hidup si komunitas tersebut. Sampai pada titik ini, dada saya seperti ditusuk dengan golok tumpul serta berkarat, terasa sesak dan kena sindrom tersinggung akut.
Alamak… seakan-akan perkataan ustadz Rahmat tersebut secara khusus ditujukan pada diri saya. Tiba-tiba saya merasa ditelanjangi hingga tidak ada yang menutupi lagi muka ini dari malu pada diri sendiri. Pertanyaan besar muncul dibenak saya, “Sekarang, apa yang sudah aku lakukan untuk gerbong yang semakin penuh sesak ini?”. Rasanya nyaris kosong andilku! Apa artinya amalan-amalan penuh kehausan akan eksistensi yang kulakukan selama ini. Betapa sulitnya membuat amal-amal itu jadi punya arti jika ujub dan riya masih sulit kuhindari. Betapa seringnya niat itu melenceng sehingga keikhlasan melayang pergi.
Aku selama ini telah merasa terjaga, aman dan nyaman dengan besarnya semangat untuk saling mengingatkan. Tapi kata-kata itu tiba-tiba saja meruntuhkan bangunan kenyamanan itu dengan sebuah hentakan keras. Kata-kata itu seakan sebuah tagihan tegas serta tuntutan akan butuhnya kontribusi riil sebagai konsekuensi keberadaan kita dalam sebuah komunitas. Apalah artinya jika ternyata di pagi hari kita melihat wajah-wajah kusut rekan-rekan kita yang kurang tidur karena terjaga hingga dini hari, sedangkan kita sama kusutnya dengan mereka, tetapi lantaran terlalu banyak waktu tidur tadi malam. Apalah artinya QL berjam-jam jika diluar sana ternyata ada saudara kita yang tidak tertunaikan haknya di sepertiga akhir malam untuk QL lantaran terlalu letih di dua pertiga awal malam.
Ternyata kita seharusnya tidak merasa nyaman dengan hanya berkumpul dengan orang-orang shaleh. Sedikit analogi, tidak cukup sekedar berkawan dengan tukang minyak wangi dengan harapan selalu tertular aroma dari dagangan mereka itu. Kita butuh pula untuk sesekali membeli, atau bahkan membantu agar dagangan dari si tukang minyak wangi itu bisa laku terjual, syukur-syukur jika kemudian ada profit share yang kita peroleh. Dalam barisan ‘dakwah’ (beberapa waktu lalu ada sebuah sindiran halus dari saudaraku Erry, kata-kata ‘dakwah’ dan amal jama’i itu seakan kosong artinya jika kita belum bisa berlapang dada, sebagai tingkatan paling rendah dalam berukhuwah, semoga Allah masih sudi mengikat hati-hati kita hingga ajal menjemput), dagangan kita tak lain adalah nilai-nilai kemuliaan ajaran islam yang telah kita yakini. Produk ini high-quality dan harganya pun mahal bukan main. Butuh investasi besar untuk berniaga dengan ‘Sang Produsen’ (Allah SWT) dengan deposit keikhlasan murni 24 karat dan cadangan koin-koin kesabaran tanpa batas.
Bagi mereka yang tidak mengerti nilai dari produk itu, mungkin akan enggan untuk terjun dalam super-high-risk-trading ini. Mungkin akan lebih nyaman jika berdagang produk ideologi kacangan yang menawarkan keuntungan nyata duniawiyah yang dzahir dan terlihat. Namun bagi mereka yang tahu dan sudah merasakan dagangan ini sekian lama, prospek keuntungan yang didapat terlalu menggiurkan untuk diabaikan. Harga yang sedemikian mahal untuk produk berlisensi eksklusif ini (karena datang-perginya hidayah begitu sulit untuk kita tebak) seakan tidak ada artinya dibandingkan taksiran nilai keuntungan yang tanpa batas diakhirat kelak. Maka dari itu, sebagai objek yang telah berhasil diyakinkan (untuk sampai saat ini dan semoga hingga ajal menjemput) tentang betapa kerennya produk ini, kita belum boleh berpuas diri dengan sekadar mencicipi produk tersebut. Konsekuensi dari mengetahui kelebihan dari si produk ini, kita juga harus meyakinkan orang untuk memilih produk ini. Kita harus punya andil dalam keberjalanan aktivitas dakwah dalam jama’ah ini.
Sejujurnya, saya pribadi menganggap diri saya saat ini masih sebagai pembonceng tulen. Masih sebagai pengambil keuntungan sesaat dari interaksi saya dengan saudara-saudara saya tersebut. Keberadaan saya diantara mereka bisa jadi merupakan wujud ketakutan saya akan hidayah yang bisa saja dicabut kapanpun, padahal ajalpun juga menantipun dan senantiasa mengintaipun (*bleh…!*). Saya ikut nebeng selama ini, mungkin juga masih karena berharap-harap-cemas dengan sosok pendamping hidup dimasa depan. Saya merasa belum cukup puas dengan mencari sosok yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung yang bisa saja ditemukan dimanapun. Solehah dan orientasi hidup yang jauh hingga akhirat merupakan hal paling penting. Meski tidak menjamin, karakter solehah dan bervisi tersebut setidaknya menjadi modal awal yang cukup baik untuk berduet mengarungi belantika kehidupan berumah tangga hingga ajal menjemput.
Intinya, saya mengakui pada diri saya pribadi bahwa mungkin sepanjang beberapa tahun ini, orientasi keberadaan saya dalam komunitas ini sama sekali masih jauh dari nilai-nilai kemurnian dakwah yang seharusnya saya usung. Tetapi sayapun bersadar diri, bahwa berada diluar dengan rasa bersalah yang berlarut-larut bukan pula solusi. Ibaratnya kapal dayung berpenumpang banyak yang mengapung diatas sebuah sungai, jama’ah adalah wadah dimana kita bisa mencapai suatu tujuan secara bersama-sama. Bisa saja kita ikut dalam kapal yang lebih kecil, mendayung perahu sendirian, atau bahkan berenang untuk mencapai tujuan yang sama. Tetapi dalam kesendirian itu akan amat sulit menjaga konsistensi kita untuk sampai ke tujuan. Menumpang kapal dakwah ini mungkin lebih menjamin kita sampai ketujuan.
Tetapi masalahnya tenaga pendayung dalam kapal pun terbatas. Adakalanya barisan pendayung ini keletihan atau mungkin cedera yang memperlambat gerak si kapal. Kalau dibiarkan terus menerus, bisa saja kapal tersebut akan berhenti total. Jika kita hanya sekedar menumpang saja, kita tidak berhak untuk protes atau marah-marah pada para pendayung yang keletihan tersebut, karena keberadaan kita dan mereka pada hakikatnya memiliki kepentingan yang sama dan kita sama-sama dirugikan dengan mandegnya perjalanan tersebut. Sampai disini, satu hikmah yang bisa diambil adalah tidak cukup sekedar merasa aman dalam kapal besar ini jika kemudian kita tidak mampu berbagi peran dengan penumpang-penumpang lainnya. Kita butuh untuk merubah diri kita dari sekedar penumpang menjadi seorang pendayung yang bisa menggantikan mereka yang letih dan cedera. Mungkin butuh proses untuk menjadikan diri kita benar-benar menjadi pendayung tulen yang bisa diandalkan oleh penumpang yang lain. Tetapi jika tidak mulai meniatkan diri menjadi seorang pendayung dari sekarang, proses itu tidak akan kunjung mulai. Menunda untuk merubah peran kita hanya akan memperlambat seluruh penumpang untuk sampai ke tujuan bersama.
Jadi… masih ingin membonceng atau siap menjadi pendayung?
*) Penulis adalah orang yang banyak omong, tapi masih sedikit beramal… semoga tulisan ini menjadi otokritik bagi diri pribadi
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me
Permalink
July 7, 2008 @ 4:18 am
· Filed under alhamdulillah, anggaran, desain interior, pertolongan allah, hobi, belajar, Dwi, Logo, maisyah, team work, toko online, sukses, sinergi, manajemen keuangan, pentingnya manajemen, alumni, Allah, biografi, Curhat, hikmah, psikologi, blogger, Zakat, Infaq, renungan, munakahat, pribadi, Kamil, itb, desain, tarbiyah, GPH, Wordpress
Belajar mencari sumber penghidupan memang memberikan banyak hikmah bagi kita. Terutama hikmah tentang betapa berharganya setiap tetes keringat kita untuk mencari sesuap nasi (plus segenggam berlian). Kita juga bisa belajar bahwa dari sejumlah penghasilan tersebut ada hak orang lain yang butuh untuk kita tunaikan, baik dalam bentuk infaq, shadaqah ataupun zakat, jika sekiranya penghasilan tersebut telah mencapai nishabnya. Belajar mencari maisyahpun mengajarkan kita tentang arti pentingnya manajemen keuangan dan efisiensi anggaran agar apa yang kita belanjakan bisa sesuai dengan apa yang kita dapatkan dari usaha tersebut.
Artikel ini bukan tentang hikmah-hikmah diatas, tapi mengenai salah satu hikmah lain yang sekarang sedang saya pelajari saat ini, yaitu tentang seberapa mahalnya kepercayaan dan arti dari loyalitas dalam bekerja. Ya, sungguh hanya karena pertolongan Allah lah aku bisa memperoleh pekerjaan freelance yang cukup fleksibel untuk dijalankan bersama kusutnya TA yang baru kembali dijalankan setelah sekian lama vakum (kayak ngeband aja ya… pake acara vakum). Pekerjaan itu alhamdulillah masih berkaitan dengan ‘profesi’ sekunder saya… sebagai seorang blogger yang hobby ngutak-atik wordpress hosting. Seorang bu Dani, seorang alumni desain Interior ITB menawarkan pekerjaan freelance pada temanku kamil yang selanjutnya mengabarkannya kepadaku. Singkat cerita bu Dani cukup sreg denganku dan akhirnya memberikan pekerjaan itu. Kebetulan karena skill dan hobi yang kumiliki tidak jauh-jauh dari dunia desain dan web development, akhirnya aku diberikan pekerjaan yang berkaitan dengan skill tersebut. Tugas pertamaku adalah merancang logo perusahaan dan membuat toko online untuk perusahaan yang baru kumasuki ini.
Well, untuk task pertama tidak ada masalah… karena sebenarnya bukan sekali dua kali saya membuat logo perusahaan/instansi. Setidaknya salah satu logo buatanku secara sukses dan meyakinkan telah digunakan oleh PT. Nusantarindo Agro Energi (Sinergi) perusahaan milik Dwi, sahabatku. Untuk tugas kedua, meskipun aku tidak terlalu asing dengan bidang ini, tugas ini cukup menjadi tantangan tersendiri bagiku. Aku mendapat tugas untuk membuat website dengan budget sekecil mungkin, dengan tampilan seelegan mungkin. Ini berarti aku tidak saja harus mensiasati anggaran untuk akses internet dan mencari hosting serta domain yang murah tapi kualitas lumayan bagus. Untungnya beberapa saat sebelumnya aku kebetulan ada job sejenis, yaitu menangani website pribadi si Dwi juga mensetup situs untuk Blogger Keadilan Sejahtera (Masih on progress nih). Pilihanku pun segera jatuh pada Dijaminmurah, yang sepengetahuanku saat ini adalah yang memberikan penawaran paling murah diantara perusahaan hosting yang lain. Performance servernya pun cukup baik dan hingga saat ini belum menunjukkan ada masalah.
Hal yang pertama kulakukan adalah membuat konsep sistem dan desain layoutnya, plus tentunya rencana anggarannya. Setelah hitung menghitung, akhirnya jadilah konsep website dengan anggaran yang menurutku super irit itu. Kubilang super irit karena alokasi dana untuk akses internet sudah kupangkas sekecil mungkin karena menggunakan jaringan internet kampus. Tetapi ternyata gak semudah itu untuk meyakinkan bahwa anggaran itu sudah seirit-iritnya yang aku bisa buat. Konsep berwujud semi proposal itupun akhirnya harus dibahas ulang. Untungnya untuk logo perusahaan ternyata beliau cukup appreciate dengan rancangan logo buatanku. Hanya sedikit modifikasi kecil saja dan logoku akan segera digunakan untuk dua badan usaha sekaligus! Untuk CV dan PT yang beliau kelola saat ini.
Bisa jadi sebenarnya inti masalahnya adalah bosku itu belum bisa memberikan kepercayaan penuh berhubung aku sendiri masih baru bergabung. Meskipun dari awal aku sudah meniatkan diri untuk belajar menjadi karyawan (cieh… karyawan) yang baik dan loyal, namun ternyata tidak semudah itu kepercayaan dari bosku datang. Itulah sebenarnya tantangan utama yang harus kuhadapi saat ini. Disatu sisi aku harus berpikir untuk menurunkan budget yang sebenarnya sudah cukup kecil itu dan disisi lain juga harus meyakinkan ke beliau bahwa inilah skema anggaran yang paling ekonomis yang bisa kuberikan.
Hikmah yang bisa kuambil adalah, dalam dunia usaha ~sebenarnya berlaku baik bagi entrepreneur maupun karyawan~ harga sebuah kepercayaan jauh lebih bernilai ketimbang tumpukan modal material, skill yang mumpuni ataupun berbagai fasilitas dan infrastruktur yang telah dimiliki. Kesemuanya tidak ada artinya jika tanpa dibarengi adanya sebuah kepercayaan dari mitra kerja kita. Ini merupakan konsekuensi logis karena kita bekerja tidak hanya dengan mesin, namun juga berinteraksi dan berkomunikasi sebagai bagian dari tim kerja, apalagi ini dalam konteks hubungan karyawan-bos. Dalam hal ini, bagiku pribadi ini artinya aku harus lebih menunjukkan kesungguhan dan loyalitas sebagai bagian dari tim ini. Akupun yakin ini nantinya akan ada manfaat dan hikmahnya untuk kugunakan di GPH. Untuk sekarang, sekian dulu deh… udah maghrib.
Rabbanaa dzalamnaa anfusanaa wa in lam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khosiriin…
Bagaimanapun terbatasnya ya Allah… inilah usaha hamba…
In kunta tardhaa… laththif qalbaha yaa muqallibal quluub…
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Permalink
July 4, 2008 @ 1:51 am
· Filed under budaya, halaman, hari hari, sejarah, disini, hati, kegagalan, hasrat, indra, semangat, simbol, rangkaian, membaca, kuat, makna, gagasan, proses, Blogging, Memori, pribadi, tarbiyah, renungan, menulis, hikmah, Membangun, bangsa, belajar, menjemput, Peradaban, ngeblog, Allah, ajal, Islam
Hari-hari ini aku sebenarnya ada dalam kondisi ‘futur nulis’. Tiba-tiba semangat untuk menuliskan berbagai hal seperti hilang. Bahkan meskipun konsep yang ingin dituliskan sebenarnya berlintasan silih berganti, namun hasrat untuk menuangkannya tidak ada. Bahkan beberapa kali ini aku batal untuk posting meskipun sudah ada didepan halaman editor posting dan judul telah kutentukan. Seakan-akan aku baru belajar menulis seperti saat baru memiliki blog, empat tahun lalu.
Bicara soal menulis, ditulisan ini aku coba memaksakan diri untuk tetap mencurahkan hingga sementok-mentoknya kreativitasku. Kuharap cara ini bisa memecah kebuntuan otakku dalam menulis akhir-akhir ini. Kebetulan beberapa hari lalu sebenarnya sudah ada tema yang ingin kuangkat seputar alasanku mengapa meniatkan diri untuk seaktif-aktifnya ngeblog. Dalam tulisan ini sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa untuk menjadi bangsa atau kaum yang kuat, bangsa atau kaum tersebut harus memiliki budaya mencurahkan gagasan dan kreasinya dalam berbagai bentuk, salah satu bentuknya tentunya adalah bentuk tulisan.
Dalam tinjauan sebagai manusia berakal dan berpendidikan, menulis merupakan salah satu tahapan vital inputisasi informasi dalam proses belajar. Dengan menulis kita mereevaluasi informasi yang masuk indra kita dan terekam dalam memori kita untuk kemudian memvisualisasikannya kembali. Bentuk visual tersebut tidak berarti jika hanya dapat dicerna oleh diri kita saja, karena informasi yang kita peroleh tersebut baru punya dampak luas dapat dipahami juga oleh orang lain yang membacanya. Tulisan tidak hanya menjadi media kita menerima input tetapi juga alat bagi kita untuk meneruskan informasi tersebut kepada orang lain.
Sebagaimana kita belajar bersusah payah dalam memahami simbol-simbol yang asing sehingga memiliki rangkaian arti dan makna semasa kita kecil dulu, apa yang kita tuliskan juga harus dapat menjadi informasi baru yang bisa diserap oleh orang lain. Itu merupakan suatu bentuk konsekuensi imbal balik dalam proses belajar yang kita alami. Apa yang kita terima seharusnya sama atau tidak terlalu jauh berbeda jumlahnya dari apa yang kita berikan. Hal ini berjalan seperti sebuah reaksi berantai dalam masyarakat yang membuatnya berkembang dan semakin maju. Jika proses transfer informasi atau ilmu pengetahuan ini mandeg karena individu dalam masyarakat tersebut tidak ingin menuliskannya atau mungkin secara egois ingin tulisan tersebut hanya dapat dipahami oleh kita pribadi saja, maka hal tersebut akan menjadi awal dari kemunduran masyarakat.
Mungkin mengenai eksklusivitas isi tulisan yang kupaparkan barusan masih sangat debatable. Adakalanya tulisan yang kita tulis memang hanya sekedar bentuk pencurahan isi hati dan emosi semata, dan bukan dimaksudkan sebagai sumber informasi bagi orang lain. Adakalanya pula informasi yang kita tuliskan untuk alasan tertentu hanya bisa diakses oleh segelintir orang saja sehingga dibuat untuk tidak secara mudah dapat dicerna semua orang, misalnya karena berpotensi menimbulkan konflik atau dapat membahayakan bagi kalangan tertentu jika tersebar luas. Namun bagiku pribadi, jika sekiranya tidak masuk dalam dua hal diatas, tulisan yang kita tuangkan seharusnya dapat diakses oleh orang lain. Jika tidak untuk semua, setidaknya untuk sebagian orang.
Budaya menulis amat erat berkaitan dengan sejarah, karena dengan tulisanlah peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah terdokumentasikan. Tulisan itu kemudian diteruskan turun menurun selama ribuan tahun sehingga kita mengetahui peristiwa apa yang terjadi pada masa tulisan itu dituliskan. Tulisan membuat manusia menyusun kebudayaan tidak dari nol. Karena tulisanlah sebuah peradaban tumbuh berkembang dan mungkin memberikan pengaruh pada perkembangan peradaban lain, meskipun peradaban masyarakat yang menuliskannya telah runtuh.
Ya, kita sekarang sedang berbicara tentang membangun sebuah peradaban. Bagi diriku sebagai seorang muslim, menulis adalah usaha untuk menemukan kembali kejayaan yang hilang dari umat islam. Menulis adalah merekonstruksi kembali masa-masa pencerahan yang telah sekian lama hilang dan terkubur oleh sejarah keterpurukan yang dialami kaum ini. Menulis adalah usaha untuk menemukan kembali mutiara kesadaran akan eksistensi pencipta kita dan hakikat kemanusiaan kita sebagai hamba-Nya. Berbicara tentang menulis adalah berbicara tentang bagaimana peradaban ini dibangun secara turun temurun dan bagaimana manusia bisa belajar dari keberhasilan atau kegagalan yang dialami generasi sebelumnya. Sampai disini jelaslah bahwa salah satu poin penting yang harus kita pertimbangkan dalam menulis adalah kemudahan orang lain dalam membaca tulisan kita tersebut.
Akhir-akhir ini aku lebih sering mencurahkan tulisanku secara spontan, tanpa kerangka dan sangat-sangat apa adanya atau… sekeluar-keluarnya dari pikiranku. Meskipun kemalasan dan rasa jenuh untuk menulis itu sebenarnya cukup kuat merayuku, tapi sepertinya tidak ada jalan lain selain memaksakan jemari ini terus mengetik dan mengetik selama yang aku bisa. Aku selalu merasa bahwa terlalu banyak hal-hal besar yang belum tercurahkan atau tidak sempat tercurahkan dalam bentuk tulisan. Padahal batas umur kita tidak ada yang dapat memastikan. Pantas jika aku menganggap, berhenti menulis sama dengan berhenti untuk mendokumentasikan memori-memori yang entah kapan akan hilang dari dunia ini. Meneruskannya dalam bentuk tulisan (yang terpublikasikan dan mudah diakses orang) akan memberikan peluang mimpi-mimpi kita akan terwujud oleh orang lain meskipun ajal telah menjemput.
Maka dari itu, aku berniat memaksakan diri untuk terus menulis, terus mengetik, dan terus ngeblog sekonsisten yang aku bisa. Karena aku tidak ingin pelit dan menyembunyikan tulisanku didalam lembar-lembar yang hanya akan bertumpuk tanpa sempat kita ketahui apakah akan memberikan manfaat bagi orang lain. Dari usia yang beberapa puluh hari lagi memasuki seperempat abad, yang sepertinya nyaris semuanya kuhabiskan tanpa kontribusi kongkrit bagi orang lain, aku ingin bahwa entah jika Allah ingin mencabut nyawaku hari ini, esok, lusa atau kapanpun juga, aku masih bisa memberikan sesuatu bagi dunia melalui tulisan ini. Seberapapun idiotnya pemikiran-pemikiranku, seberapa ngejunknya postingan-postinganku, seberapapun tidak bermaknanya tulisan-tulisan ini… aku masih berharap, diluar sana masih ada yang dapat mengambil hikmah dari beberapa ribu kalimat yang ada dalam blog ini.
Maka dari itu, Ayo diri… jangan pelit… ayo nulis… ayo ngeblog… ayo menginspirasi dunia…
Karena esok mungkin tiada…
Wassalamualaikum Wr. Wb.
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Permalink
June 17, 2008 @ 9:58 pm
· Filed under kenal, kumpulan cerpen, lainnya, keadilan sejahtera, jika, gagasan, assalamualaikum, hobi, nyata, p, ril, saya, wadah, poll id, petualangan, partai, penerbitan buku, pertanyaan, ngeblog, Aksi, hikmah, tarbiyah, Jagad Wordpress, Komunitas, aggregator, cerpen, blogger, Dakwah, kisah, Penerbitan, puisi, pks, Kader, Blogger Keadilan Sejahtera, pribadi, Blogging, [BLOGGER] Indonesia Menggunggat!, opini

[poll id="3"]
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Beberapa hari ini saya berpikir cukup dalam tentang satu topik “Perlukah kader/simpatisan PKS yang hobi ngeblog untuk disatukan dalam sebuah wadah silaturahmi?”. Pertanyaan ini muncul seiring semakin banyaknya jumlah ikhwah yang saya kenal sepanjang petualangan saya didunia blogging. Saya berpikir kemudian alangkah kerennya jika blogger-blogger yang secara personal sudah punya mainset tentang dakwah bisa disatukan geraknya. Salah satu harapan besarnya adalah mereka dapat lebih bersinergi dalam memanfaatkan media blog sebagai salah satu sayap dakwah yang dimilikinya. Harapan lainnya para blogger ini bisa berbuat lebih, tidak saja memberi manfaat melalui tulisan-tulisannya, tetapi juga melalui aksi dan kontribusi ril di dunia nyata.
Saya membayangkan banyak hal yang bisa dilakukan dengan adanya wadah silaturahmi tersebut. Dengan adanya wadah silaturahmi, akan lebih mudah untuk mengorganisir kopi darat, pembuatan aggregator, pembuatan mailinglist dll. Selain itu penggalangan kontribusi kongkrit bagi masyarakat bisa dilakukan seperti pembuatan tutorial blog gratis, event ramadhan, acara baksos atau bebersih (keinget sama batagor.net soalnya) lingkungan. Salah satu hal keren lainnya yang bisa dilakukan adalah penerbitan buku karya bersama para anggota komunitas tersebut. Mungkin bisa jadi dengan adanya komunitas tersebut nantinya akan lahir kumpulan cerpen, antologi puisi, kumpulan kisah hikmah, atau kompilasi opini politik dari para blogger yang berafiliasi pada partai yang mengusung visi dakwah dalam gerakannya ini.
Paparan singkat diatas baru hanya sekedar cetusan gagasan pribadi semata. Semoga menjadi pembuka wacana untuk terbentuknya suatu wadah bagi para punggawa dakwah cyber tarbiyah di indonesia.
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Permalink
June 10, 2008 @ 8:20 pm
· Filed under menjemput, jodoh, hamba, belajar, nyawa, pernikahan, ta'aruf, sepertiga malam, proses, syahid, kematian, hikmah, Curhat, biografi, munakahat, tarbiyah, ajal, Allah, husnuzhan, Refleksi
Lagi seneng mengingat ajal. Momen-momen kepanitiaan daurah jadi pelarianku untuk dzikrul maut itu. Dengan ingat maut setidaknya pas mau berangkat jadi ingat untuk meluruskan niat yang mungkin tadinya bengkok. Meskipun secara manusiawi ada rasa takut juga memikirkan bagaimana nyawa ini akan dijemput, tapi diri ini berusaha untuk pasrah dan ridha jika saja ternyata ditengah pemberangkatan ternyata sudah tiba saatnya. Bahkan pengen rasanya menempatkan kematian sebagai sebuah moment yang paling ditunggu-tunggu sepanjang kehidupan yang terasa semakin singkat ini.
Ah… memang begitu singkat. Nggak kerasa beberapa puluh hari lagi akan genap seperempat abad usiaku. Seorang Rasulullah SAW menggenapkan diennya pada usia itu. Beberapa panglima di era gemilang kejayaan islam bahkan telah melakukan beberapa kali penaklukan wilayah pada usia tersebut. Aku… sekedar menyelesaikan TA ku pun masih kebingungan. Menjadi pribadi yang kuat dan berkarakter, rasanya diri ini masih butuh lebih banyak belajar.
Mengenai usia singkat ini, di DMM dan training sejenisnya aku menemukan sebuah telaga perenungan. Telaga dimana aku bisa berhenti sejenak memikirkan betapa bodohnya aku melewati hari-hari lalu. Betapa childish-nya sikapku yang kerap kali reaktif dan begitu emosional dalam menghadapi sesuatu. Begitu sulitnya lidah ini untuk dikontrol, sehingga kerap kali bermulut besar atau menyakiti hati saudara-saudaraku yang lain. Ah… andainya waktu-waktu tersebut dapat kuulang.
Sesungguhnya ada hikmah dibalik kemustahilan repetisi waktu. Manusia harus belajar menjadi figur yang lebih pintar dari keledai! Mereka tidak boleh jatuh kelubang yang sama dua kali. Setiap momen kehidupan adalah kesempatan kita untuk belajar menjadi lebih baik dari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan sebelumnya. Begitupun aku, aku berharap bahwa segala kebodohanku dimasa lalu menjadi tempaan yang membuat diri ini semakin dewasa dan bertanggungjawab. Menjadi figur yang bermanfaat bagi umat. Dan dalam momen daurah kali ini… sebuah langkah baru telah menantiku.
Dalam heningnya malam di lapangan terbuka itu… jawaban itu akhirnya datang. Disaat-saat dimana aku merindukan maut, tantangan baru kehidupan justru datang menjemput. Diakhir-akhir sepertiga malam itu, Murabbiku mengabarkan via SMS sebuah kabar gembira. Beliau menantangku untuk memasuki tahapan kehidupan baru itu dalam tiga bulan kedepan. Ada tanda-tanda positif dari balik hijab itu.
Memang, diri ini butuh banyak belajar. Belajar berhusnudzan terhadap ketentuan dari-Nya yang memiliki setiap inci dari Alam Semesta ini. Mungkin inilah hikmah yang ia selipkan dalam proses yang tertunda-tunda ini. Ia ingin bahwa hambanya ini menjadi seorang ikhwan yang kuat, sadar dan mau belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalunya. Ia ingin bahwa hambanya menjadi orang yang ridha akan apapun keputusan yang Ia tetapkan. Ia ingin hambanya untuk meninggalkan semua borok-borok kesombongan, kecintaan dan posesivitas terhadap hal-hal yang sesungguhnya tidak pernah ia miliki, karena hanya milik-Nya lah segala sesuatu di langit dan di bumi.
Di sepertiga akhir malam itu… aku belajar sedikit tentang arti hidupku
Di sepertiga akhir malam itu… kutemukan Kehidupan di balik Cinta akan Kematian
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Permalink
March 17, 2008 @ 8:14 pm
· Filed under hikmah
Dari kisah para nabi, disebutkan bahwa Nabi Nuh a.s. memiliki kemuliaan yang terpuji. Ketika bangun tidur, hendak tidur, akan makan, berpakaian, keluar rumah atau masuk rumah, pokoknya melakukan berbagai kegiatan, beliau selalu bersyukur memuji Allah. Beliau selalu menyebut kenikmatan Allah yang telah diberikan kepadanya. Allah s.w.t memuji kemuliaan Nabi Nuh seperti yang difirmakankan dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS Al-Isra’ : 3).
Allah memilih hamba-Nya yang banyak bersyukur itu dan mengutusnya sebagai rasul bagi kaumnya. Nabi Nuh memang luar biasa. Dia pandai bersyukur dan memiliki kesabaran tingkat tinggi. Bisa dibayangkan, selama 950 tahun berdakwah, jumlah orang yang beriman sangat sedikit. Tapi the show must go on. Dia terus berdakwah pantang menyerah. Walaupun setelah melihat mempelajari kaumnya yang tidak mungkin beriman, dia berdoa mengadu kepada Allah. Akhirnya Allah memberikan jalan keluar menyelamatkan pengikutnya dari banjir besar.
Bersyukur dan juga bersabar memang memberikan dampak yang luar biasa bagi orang yang melakukannya. Bersyukur mudah diucapkan, namun ternyata juga sulit untuk dilakukan.
Mengapa sekarang banyak sekali orang bingung, stress, tidak bahagia? Salah satu jawabannya cukup sederhana. Karena kita tidak pandai bersyukur. Hidup di jaman sekarang ini, lebih-lebih di kota besar seperti Jakarta, berbagai masalah akan sangat mudah hinggap. Macet, polusi, banjir, harga barang-barang yang melambung sering menjadi kambing hitam sasaran bahwa mereka menjadi penyebab semua ini.
Kita seringkali merasa selalu kekurangan atas segala sesuatu. Kita sering mengeluh, kita biasa mengaduh. Dunia menjadi terlihat begitu kejam kepada kita. Padahal kalau dilihat, kita masih bisa makan yang enak, tidur yang nyenyak, bisa menghabiskan banyak pulsa apalagi marketing gimmick operator sangat menggoda memperlihatkan tarif murah, sering nonton film baik di bioskop maupun DVD, bisa ngeblog menghabiskan bandwidth, bisa kopdar di cafe-cafe mahal. Loh loh loh.. ini ngomong apa ya?
(more…)
Permalink
December 14, 2007 @ 2:00 pm
· Filed under kidal, hikmah, apes, blog
Kemaren sore, tangan kanan Kai abis terkilir, gara2 nahan motor yg oleng mau jatoh Walhasil, jadi gag bisa bawa motor dulu bwt sementara, & otomatis, susah pake tangan kanan Jadi kidal, deh… Tapi kidal yang ini, hubunganna jauh loh, sama kidal yang ini
Jadi susah klu :
Mau makan
hayo.. sapa yang mau nyuapin? [...]
Permalink