Archive for keikhlasan

Seperempat Abad

Posted by mobile phone:

SMS puaaanjang dari Ibuku:

Asww. Ar, slmt ***** ya! 25 thn harusnya sdh menandai momen matang bg seorang muslim dlm sgala hal utk kmudian mlangkah menuju kemantapan. Mulailah hari ini dg muhasabah diri seberapa besar qta sdh bersyukur atas segenap nikmat karunianya dg cara yang benar! Smoga Allah senantiasa membimbing n memelihara jasad, fikir & kalbumu dlm ketawazunan, amin! Kado doa spesial dr Ibu.

Ya Ampun… aku sendiri lupa hari ini hari apa. Duh, seperempat abad mencicipi dunia… aku masih begini-begini saja. Masih dengan lisanku yang nyablak nggak karuan, masih dengan attitude slenge’an yang terus dipertanyakan, masih dengan canda-canda cengengesan gak terkontrol, masih dengan gejolak hati yang nggak berhenti menggoda keikhlasan, masih dengan TA serta Skripsi yang berkejaran dengan waktu. Duh… mak, aku jatuh cinta mak! Izinkan aku menemukan pelangiku mak… please!

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Aku Rela…

Ya Allah…
Aku berwashilah padamu dengan amalku yang sedikit…
dengan amal yang kerap berlumur ujub dan riya ini…
dengan remah-remah keikhlasan yang tersisa… mungkin?
ku memohon berikan aku sedikit kelapangan sabar di dada ini…
barang dua atau empat puluh tahun lagi…

Tuhan… aku berharap aku siap…
Untuk patah hati hari ini…
Meskipun itu berarti kuharus patah hati 3x sehari
Atau, beribu-ribu kalipun tak mengapa juga…
Jika itu caramu menghukumku didunia…
asalkan kau ringankan siksaku diakhirat kelak…

Tuhan… sungguh aku rela…
Kau robek-robek hati ini hari ini…
Meski sakit dan pedihnya mengoyak akal sehatku
Meski ia menjerit dalam sunyi, di hingar bingar hari
Meski itu berarti aku harus tetap tersenyum apapun yang terjadi…
Asalkan itu mengurangi adzab yang kau timpakan padaku kelak…

Tuhan, kutahu tiada tawaran yang kumiliki hari ini…
Untuk menukar keselamatanku dari api nerakamu…
Hanya sesosok pendosa yang tertunduk pasrah…
Berharap sedikit ridho masih tersisa untukku…
sedikiiiiiit saja… dipenghujung malam ini…
entah untuk esok…

[TnC, malam ini terselamatkan...]

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Menjadi Pembonceng atau Pendayung?

Saya membuka tulisan ini dengan sebuah pertanyaan. Apa yang akan anda lakukan jika pagi hari ini anda fit dan segar bugar, tapi anda tahu bahwa besok pagi Allah akan mencabut nyawa anda? Saya duga sebagian besar dari anda akan menjawab, “saya akan menggunakan seluruh waktu hari ini untuk berbuat kebaikan sebanyak mungkin dan berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak.”. Mungkin saya pun cenderung akan berpikiran sama seperti itu dan jika melihat keseharian saya pribadi, rasanya ingin sekali hari ini selalu seakan-akan menjadi hari terakhir hidup saya didunia. Saya akan berusaha menjadikan hari ini menjadi hari terindah kehidupan saya, karena saya tahu tidak ada lagi ‘hari esok’ buat saya didunia.

Ya… jika ini hari terakhir dalam hidup saya, saya ingin menjadikannya hari yang begitu bahagia, dimana saya akan tersenyum sepanjang hari seakan-akan syahid akan menjelang beberapa menit lagi. Jika sudah seperti itu, ingin rasanya menghabiskan hari terakhir ini dengan bercengkrama dan berada disekeliling para ikhwah. Saya coba membangun mindset ‘hari terakhir’ seperti ini setiap kali saya dibonceng motor oleh rekan ikhwah yang lain (secara sampai sekarang saya belum juga lancar membawa motor… oups… mengendarai ding… kalo dibawa sih udah pasti cape… hehehe). Entah kenapa, setiap kali saya bertemu jalan raya, saya selalu teringat sama kematian. Jika sudah seperti itu, kadang tiba-tiba muncul rasa takut… “Sudah luruskah niat saya berada diatas motor ini?”.

Sama sekali gak nyambung dengan intro diatas, saya saat ini sebenarnya sedang ingin membahas tentang sebuah istilah yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang jelas dibenak saya, meskipun rasanya sudah berminggu-minggu lalu saya mendengar istilah ini. Saat itu di sebuah pelatihan intern dimana saya menjadi panitia, saya mengikuti satu sesi materi yang diisi oleh seorang senior. Beliau membahas mengenai esensi berjama’ah, namun dengan cara yang cukup menyentak dan menyinggung sebagian diri saya. Beliau mengutip sebuah perkataan dari ust. Rahmat Abdullah (kira-kira esensinya begini):

“Membonceng dalam jama’ah itu sangat nyaman dan nikmat. Jika jama’ah itu memiliki citra yang baik di kalangan masyarakat, maka orang-orang didalamnya akan ikut merasakan citra/reputasi tersebut melekat pada diri mereka, meskipun sebenarnya mereka tidak memiliki tujuan yang sama dengan jama’ah tersebut.”

Anda tahu yang dimaksud dengan membonceng kan? Seorang yang membonceng akan ikut dengan dengan si pengendara hingga batas tertentu. Mungkin saja batas itu adalah tujuan akhir dari si pembonceng, namun bisa juga hanya setengah dari rute perjalanannya. Batas itu bisa saja merupakan tujuan akhir dari si orang yang memboncengi, tapi sangat mungkin pula bukan rute yang ingin dituju. Intinya, membonceng itu tidak mesti memiliki tujuan yang sama dengan sang pembawa kendaraan.

Yang saya resapi dari kalimat ustadz Rahmat tersebut adalah, bergabung dan bercengkerama mesra dalam sebuah komunitas tidak menjamin kita memiliki komitmen kolektif sebagaimana anggota komunitas tersebut. Kita bisa saja diterima dengan sangat hangat, merasa aman karena yakin jika kita salah maka akan banyak saudara kita yang akan mengingatkan, tetapi disisi lain nyatanya tidak ada kontribusi riil yang kita berikan dengan keberadaan kita dalam komunitas tersebut. Bisa dikatakan, ada dan tiadanya kita tidak memberi dampak signifikan dalam keberlangsungan hidup si komunitas tersebut. Sampai pada titik ini, dada saya seperti ditusuk dengan golok tumpul serta berkarat, terasa sesak dan kena sindrom tersinggung akut.

Alamak… seakan-akan perkataan ustadz Rahmat tersebut secara khusus ditujukan pada diri saya. Tiba-tiba saya merasa ditelanjangi hingga tidak ada yang menutupi lagi muka ini dari malu pada diri sendiri. Pertanyaan besar muncul dibenak saya, “Sekarang, apa yang sudah aku lakukan untuk gerbong yang semakin penuh sesak ini?”. Rasanya nyaris kosong andilku! Apa artinya amalan-amalan penuh kehausan akan eksistensi yang kulakukan selama ini. Betapa sulitnya membuat amal-amal itu jadi punya arti jika ujub dan riya masih sulit kuhindari. Betapa seringnya niat itu melenceng sehingga keikhlasan melayang pergi.

Aku selama ini telah merasa terjaga, aman dan nyaman dengan besarnya semangat untuk saling mengingatkan. Tapi kata-kata itu tiba-tiba saja meruntuhkan bangunan kenyamanan itu dengan sebuah hentakan keras. Kata-kata itu seakan sebuah tagihan tegas serta tuntutan akan butuhnya kontribusi riil sebagai konsekuensi keberadaan kita dalam sebuah komunitas. Apalah artinya jika ternyata di pagi hari kita melihat wajah-wajah kusut rekan-rekan kita yang kurang tidur karena terjaga hingga dini hari, sedangkan kita sama kusutnya dengan mereka, tetapi lantaran terlalu banyak waktu tidur tadi malam. Apalah artinya QL berjam-jam jika diluar sana ternyata ada saudara kita yang tidak tertunaikan haknya di sepertiga akhir malam untuk QL lantaran terlalu letih di dua pertiga awal malam.

Ternyata kita seharusnya tidak merasa nyaman dengan hanya berkumpul dengan orang-orang shaleh. Sedikit analogi, tidak cukup sekedar berkawan dengan tukang minyak wangi dengan harapan selalu tertular aroma dari dagangan mereka itu. Kita butuh pula untuk sesekali membeli, atau bahkan membantu agar dagangan dari si tukang minyak wangi itu bisa laku terjual, syukur-syukur jika kemudian ada profit share yang kita peroleh. Dalam barisan ‘dakwah’ (beberapa waktu lalu ada sebuah sindiran halus dari saudaraku Erry, kata-kata ‘dakwah’ dan amal jama’i itu seakan kosong artinya jika kita belum bisa berlapang dada, sebagai tingkatan paling rendah dalam berukhuwah, semoga Allah masih sudi mengikat hati-hati kita hingga ajal menjemput), dagangan kita tak lain adalah nilai-nilai kemuliaan ajaran islam yang telah kita yakini. Produk ini high-quality dan harganya pun mahal bukan main. Butuh investasi besar untuk berniaga dengan ‘Sang Produsen’ (Allah SWT) dengan deposit keikhlasan murni 24 karat dan cadangan koin-koin kesabaran tanpa batas.

Bagi mereka yang tidak mengerti nilai dari produk itu, mungkin akan enggan untuk terjun dalam super-high-risk-trading ini. Mungkin akan lebih nyaman jika berdagang produk ideologi kacangan yang menawarkan keuntungan nyata duniawiyah yang dzahir dan terlihat. Namun bagi mereka yang tahu dan sudah merasakan dagangan ini sekian lama, prospek keuntungan yang didapat terlalu menggiurkan untuk diabaikan. Harga yang sedemikian mahal untuk produk berlisensi eksklusif ini (karena datang-perginya hidayah begitu sulit untuk kita tebak) seakan tidak ada artinya dibandingkan taksiran nilai keuntungan yang tanpa batas diakhirat kelak. Maka dari itu, sebagai objek yang telah berhasil diyakinkan (untuk sampai saat ini dan semoga hingga ajal menjemput) tentang betapa kerennya produk ini, kita belum boleh berpuas diri dengan sekadar mencicipi produk tersebut. Konsekuensi dari mengetahui kelebihan dari si produk ini, kita juga harus meyakinkan orang untuk memilih produk ini. Kita harus punya andil dalam keberjalanan aktivitas dakwah dalam jama’ah ini.

Sejujurnya, saya pribadi menganggap diri saya saat ini masih sebagai pembonceng tulen. Masih sebagai pengambil keuntungan sesaat dari interaksi saya dengan saudara-saudara saya tersebut. Keberadaan saya diantara mereka bisa jadi merupakan wujud ketakutan saya akan hidayah yang bisa saja dicabut kapanpun, padahal ajalpun juga menantipun dan senantiasa mengintaipun (*bleh…!*). Saya ikut nebeng selama ini, mungkin juga masih karena berharap-harap-cemas dengan sosok pendamping hidup dimasa depan. Saya merasa belum cukup puas dengan mencari sosok yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung yang bisa saja ditemukan dimanapun. Solehah dan orientasi hidup yang jauh hingga akhirat merupakan hal paling penting. Meski tidak menjamin, karakter solehah dan bervisi tersebut setidaknya menjadi modal awal yang cukup baik untuk berduet mengarungi belantika kehidupan berumah tangga hingga ajal menjemput.

Intinya, saya mengakui pada diri saya pribadi bahwa mungkin sepanjang beberapa tahun ini, orientasi keberadaan saya dalam komunitas ini sama sekali masih jauh dari nilai-nilai kemurnian dakwah yang seharusnya saya usung. Tetapi sayapun bersadar diri, bahwa berada diluar dengan rasa bersalah yang berlarut-larut bukan pula solusi. Ibaratnya kapal dayung berpenumpang banyak yang mengapung diatas sebuah sungai, jama’ah adalah wadah dimana kita bisa mencapai suatu tujuan secara bersama-sama. Bisa saja kita ikut dalam kapal yang lebih kecil, mendayung perahu sendirian, atau bahkan berenang untuk mencapai tujuan yang sama. Tetapi dalam kesendirian itu akan amat sulit menjaga konsistensi kita untuk sampai ke tujuan. Menumpang kapal dakwah ini mungkin lebih menjamin kita sampai ketujuan.

Tetapi masalahnya tenaga pendayung dalam kapal pun terbatas. Adakalanya barisan pendayung ini keletihan atau mungkin cedera yang memperlambat gerak si kapal. Kalau dibiarkan terus menerus, bisa saja kapal tersebut akan berhenti total. Jika kita hanya sekedar menumpang saja, kita tidak berhak untuk protes atau marah-marah pada para pendayung yang keletihan tersebut, karena keberadaan kita dan mereka pada hakikatnya memiliki kepentingan yang sama dan kita sama-sama dirugikan dengan mandegnya perjalanan tersebut. Sampai disini, satu hikmah yang bisa diambil adalah tidak cukup sekedar merasa aman dalam kapal besar ini jika kemudian kita tidak mampu berbagi peran dengan penumpang-penumpang lainnya. Kita butuh untuk merubah diri kita dari sekedar penumpang menjadi seorang pendayung yang bisa menggantikan mereka yang letih dan cedera. Mungkin butuh proses untuk menjadikan diri kita benar-benar menjadi pendayung tulen yang bisa diandalkan oleh penumpang yang lain. Tetapi jika tidak mulai meniatkan diri menjadi seorang pendayung dari sekarang, proses itu tidak akan kunjung mulai. Menunda untuk merubah peran kita hanya akan memperlambat seluruh penumpang untuk sampai ke tujuan bersama.

Jadi… masih ingin membonceng atau siap menjadi pendayung?
*) Penulis adalah orang yang banyak omong, tapi masih sedikit beramal… semoga tulisan ini menjadi otokritik bagi diri pribadi

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Mencegah Sentralisasi Figur dalam Berjama’ah

Mencegah Sentralisasi Figur dalam Berjama’ah

Oleh Ardian Perdana Putra *

Setelah lama nggak pernah lagi menulis di file word, akhirnya saya menyiapkan postingan ini sejak dari rumah. Karena takut ide yang sudah keburu muncul hilang sebelum sempat dipaparkan. Tulisan ini muncul sebagai tanggapan saya terhadap debat kusir tidak penting seputar PKS di forumdetik yang menurut pendapat saya tidak pada tempatnya dan sudah menjurus pada black campaign. Dialektika dalam obrolan ngalor-ngidul yang nggak jelas ujungnya itupun saya anggap terlalu kekanak-kanakan dan argumen yang digunakan oleh si-orang-bernickname-tobinx itu terlalu dipaksakan dan absurd.

Setidaknya ada dua thread yang tidak sengaja saya masuki di forumdetik yang isinya beraroma hasutan terhadap kader/simpatisan PKS dan masyarakat secara umum. Propaganda semacam ini sebenarnya tidak perlu ditanggapi karena hanya aksi cari ribut dari si provokatornya saja. Tapi bagaimanapun saya merasa butuh untuk memberikan opini dan gagasan saya mengenai salah satu topik tersebut. Hal yang mendorong munculnya tulisan ini hanya satu, saya ingin menunjukkan kepada masyarakat awam tentang indahnya perilaku berjama’ah dari kader dan simpatisan partai ini. Banyak hal yang saya temukan dalam jama’ah tarbiyah yang membuat saya jatuh cinta dengan interaksi dakwah bersama mereka.

Menarik menanggapi salah thread di detik yang membahas tentang ustadz Anis yang juga menyinggung sedikit mengenai tulisan Ust. Anis Matta seputar kader dakwah dan harta (pandangan islam terhadap harta). Saya memang tidak membaca semua, namun ada beberapa isu yang dihembuskan oleh si provokator (yang kemudian saya ketahui menggunakan ID/username ganda ~Thobinx a.k.a Istiqamah~) adalah bahwa sang Ustadz tidak layak berada dalam PKS, berorientasi materialistik, menjadi figur yang ditakuti di internal partai, dll. Dari dialektika absurd dalam forum tersebut saya bisa mengatakan bahwa orang ini (si provokator) pasti bukan kader. Logika-logika berpikirnya pun jauh dari bagaimana seorang bagian dari jama’ah ini dalam melihat interaksi dirinya pribadi dengan jama’ah secara keseluruhan.

Mengenai tulisan yang menjadi awal provokasi si biang ribut, saya pribadi terkesan dengan tulisan Ust. Anis Matta tersebut. Beliau membawakan sebuah cara pandang yang berbeda tentang bagaimana seharusnya seorang kader/da’i melihat realita materialisme dunia disekitarnya dengan tetap menjaga karakter ke-da’i-annya. Tulisan ini mengajak kita berpikir lebih holistik/global tentang konsep zuhud dan wara’ tanpa melupakan sisi sunnatullah manusia dalam melihat harta. Tulisan ini juga memberikan inspirasi baru tentang bagaimana ekspansi dakwah harus masuk ke semua kalangan, tidak saja kalangan dhuafa tetapi juga kalangan berada. Tulisan ini juga mengajak kita menyelami karakteristik psikologis obyek dakwah secara umum yang tentunya amat berguna dalam menentukan langkah-langkah pendekatannya terhadap nilai-nilai keislaman.

Anehnya kemudian yang ditonjolkan oleh si provokator itu justru malah nyasar dari esensinya. Saya prediksi, Ia hanya membaca sekilas paragraf-paragraf awal tulisan saja dan tidak membaca tuntas secara keseluruhan. Wajar jika kemudian yang muncul dalam persepsinya (atau lebih tepatnya ia inginkan agar orang mengira seperti itu persepsinya) adalah sang Ustadz sedang menggiring kader dakwah untuk lebih matre dalam menjalankan aktivitas dakwahnya. Saya berusaha berhusnuzhan bahwa hal itu yang terjadi, namun saya pun tidak menafikan kemungkinan bahwa munculnya tulisan sang Ustadz tersebut tak lain sebagai sebuah argumen yang dipaksakan dalam usaha menjatuhkan citra sang Ustadz. Dari sudut pandang kedua ini, saya melihat kebodohan dan dangkalnya pemahaman si provokator tentang konsep ideal seorang kader.

Berdasarkan sedikit pengalaman saya berinteraksi dengan jama’ah ini, saya melihat bahwa propaganda negatif semacam ini sebenarnya tidak akan berefek pada kader yang memiliki kefahaman yang cukup tentang nilai-nilai kejama’ahan yang di pegang oleh PKS. Mereka (dan juga saya insyaAllah) selalu digembleng dan diarahkan pada orientasi bahwa apapun bentuknya amalan kita tujuannya hanyalah ridho Allah. Orientasi ini menafikan berbagai motif-motif duniawi yang bersifat sesaat dalam aktifitas dakwah keseharian para kader. Mungkin sedikit contoh yang patut untuk disimak adalah salah satu nasehat/taujih dari Kang Haru Suandaru, Ketua DPD Kota Bandung pada ikhwah Relawan P2B seminggu lalu selepas mereka menunaikan tugasnya di posko bantuan korban kebakaran di Cikutra (13/06). Kutipan yang bisa saya ambil kira-kira begini (tidak sama persis, pendekatannya lebih ke esensi taujih tersebut):

“Sesungguhnya jika antum semua melakukan ini semua untuk meraih simpati masyarakat di sana, maka antum akan sakit hati. Jangan lupakan bahwa apapun kondisinya, semua amal tersebut hanyalah bagian dari usaha kita untuk mencari cara tercepat dalam meraih ridho Allah saja. Segala usaha yang antum lakukan telah mengorbankan dana, waktu, dan tenaga (sebagian relawan telah beranak istri dengan mata pencaharian yang bisa dikatakan minim dalam hitungan materil, tapi satu kelebihan yang saya syukuri, mereka kaya akan kefahaman tarbiyah dan militansi), akan menjadi tidak ada artinya jika yang mendasarinya adalah harapan agar mereka disana memilih PKS.

Jangan antum sekali-kali mengharapkan terimakasih atau simpati apapun dari mereka. Sesungguhnya apa yang kita lakukan sama sekali bukan untuk itu Akh…! Mereka berterimakasih pada kita atau justru sebaliknya… entah mereka memilih kita ataupun tidak, itu bukan urusan kita. Itu semua bergantung pada seberapa ridho Allah terhadap amal-amal dakwah kita. Tugas kita hanya satu, berusaha sebaik-baiknya dilapangan untuk membantu mereka dengan keikhlasan untuk Allah semata. Biar nantinya Allah yang menilai amal tersebut di sisinya. Jika Allah berkehendak dari silaturahmi dan amal-amal dakwah kita tersebut untuk membawa hati-hati mereka (masyarakat Bandung) pada dakwah maka dengan insyaAllah kemenangan dakwah akan datang dengan sendirinya.”

Deg… nasehat itu benar-benar menyetrum saya. Kata-kata tadi mengguncang kembali orientasi dan pemahaman saya selama ini tentang dakwah politik yang diusung ikhwah PKS. Merinding saya mendengar kalimat-kalimat itu dan mengingat tentang bagaimana diri saya selama ini. Taujih tadi membakar kembali motivasi yang sempat meredup dalam kejenuhan sesaat lalu. Kalimat-kalimat tadi menghadirkan inspirasi-inspirasi baru untuk menggarap ladang-ladang amal lain yang selama ini masih terbengkalai dan tertelantarkan oleh kepentingan-kepentingan sesaat.

Orientasi keikhlasan dalam amal yang senantiasa ditanamkan dalam diri setiap kader partai dakwah ini telah memunculkan citra dan citarasa baru dalam dunia politik Indonesia. Citarasa kejujuran dan amanah yang telah sekian lama menjadi barang langka sehingga memupus optimisme masyarakat indonesia akan hadirnya perubahan, muncul kembali bersama hadirnya rombongan Ustadz di Senayan. Begitupun di daerah-daerah, keberadaan sosok-sosok asing yang dulu pada kesehariannya mengisi ruang-ruang pengajian dan halaqah, kini merambah ranah yang juga asing bagi mereka. Kiprah mereka yang sebelumnya seperti istilah asing dalam kamus perpolitikan pada era sebelumnya mulai mendapat sorotan publik. Terangkatnya kasus-kasus korupsi, suap-menyuap, gratifikasi dan sejenisnya mulai muncul seiring dengan keistiqamahan mereka dalam menolak apa yang bukan menjadi hak mereka.

Sesungguhnya agak mustahil bagi saya membayangkan jika fenomena tersebut hanya sekedar untuk menarik perhatian publik dan sekedar mengejar popularitas. Keistiqamahan mereka selama 10 tahun ini mungkin cukup menjadi bukti bahwa fenomena ini bukan sekedar pemanis politik saat masa kampanye saja. Toh kenyataannya meski publik pers mengangkat kasus-kasus yang mereka ungkap, para ustadz dan ustadzah tersebut tetap dengan ketawadhuan serta kesederhanaan mereka. Diantara merekapun masih sebagaimana aktivitasnya dahulu, mengisi pengajian dan halaqah seperti biasa. Bahkan rumah-rumah mereka masih sama terpencil dan sempitnya seperti dulu, seperti tergambar dari sosok seorang Ust. Rahmat Abdullah (jika penasaran, tonton saja film ‘Sang Murabbi’ akhir juli ini! Hehehe… promosi!).

Juga kita lihat bagaimana sebenarnya kekuasaan bagi para ustadz tersebut bukanlah sesuatu yang mereka kejar-kejar. Amanah untuk mengisi pos-pos amanah masyarakat di legislatif dan eksekutif sebenarnya merupakan mimpi buruk bagi diri mereka pribadi. Amanah tersebut bagi mereka tak lebih dari sebuah keterpaksaan atas tuntutan kebutuhan dari jama’ah, bahwa harus ada orang-orang yang tepat untuk memangku jabatan-jabatan publik tersebut. Yang lebih menarik adalah, meski terpaksa, mereka tetap mengamban tugas tersebut dengan totalitas penuh sejauh yang mereka bisa. Subhanallah! Dari cara pandang mereka tersebut, muncullah fenomena baru dalam penjaringan calon legislatif/eksekutif. Untuk pertama kalinya ada partai politik dimana para kader intinya berebut menghindar dari pencalonan dan justru saling mendorong saudaranya yang lain.

Tergetar diri saya melihat fenomena-fenomena dari para ustadz, sosok kader inti dan para pendiri PKS ini. Mana mungkin saya tidak jatuh hati dengan sosok-sosok tersebut? Mana mungkin saya tidak percaya bahwa jika saya mengikuti mereka, niscaya saya akan digembleng menjadi figur muslim yang lebih baik? Bagaimana mungkin saya tidak percaya bahwa bangsa dan negeri ini memang jauh lebih mereka cintai dari pada diri-diri mereka sendiri? Bagaimana mungkin saya tidak merasa aman untuk memberikan kepercayaan politik saya dan menitipkan pengelolaan kebijakan negeri ini kepada mereka?

Rasanya nyaris tidak mungkin hal tersebut sekedar ilusi sesaat untuk menutupi motif-motif duniawi mereka dimasa yang akan datang. Nilai keikhlasan yang ditanamkan dalam tarbiyah bertahun-tahun yang mereka jalani telah menghilangkan rasa takut mereka terhadap terpaan opini negatif, pendapat miring, gosip-gosip atau justru kehausan akan popularitas, reputasi positif serta sanjungan yang mungkin muncul seiring datangnya amanah yang menjemput mereka. Sungguh, provokasi dan black campaign secanggih apapun tidak akan membuat mereka bergeming dan kebakaran jenggot karena hal itu tidak akan ada artinya dibandingkan betapa menggiurkannya keridhoan Allah yang mereka kejar. Jadi sungguh aneh tuduhan yang dialamatkan oleh si provokator dalam forumdetik tersebut. Non-sense dan absurd!

Adapun mengenai sentralisme partai terhadap figur-figur tertentu didalamnya, hal itupun sangat musykil dan tidak masuk dalam logika pribadi saya. Sejak awal dirintis, bahkan belasan tahun sebelumnya, saat para masayikh (tetua, sesepuh) dakwah baru merintis dakwah ini di Indonesia, tidak pernah menekankan figuritas dalam komunitas. Jadi, tidak seperti beberapa partai-partai lain yang menonjolkan sosok-sosok tertentu haus kekuasaan yang tak jarang juga dikultuskan oleh pengikut dan simpatisannya, PKS hanya mengenal kepemimpinan kolektif berupa Syuro. Kepemimpinan dan kebijakan internal partai bukanlah ada pada sosok-sosok Presiden Partai, Sekjen, Anggota legislatif, Ketua DPW, DPD, dll. Keberadaan mereka tak lebih adalah sosok komandan lapangan yang menjadi penyambung lidah dari kepemimpinan kolektif dalam Syuro.

Sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabat yang kita baca bersama melalui literatur shirah (riwayat/perikehidupan) Nabawiyah. Rasulullah bukanlah sosok yang dikultuskan oleh para sahabatnya, meskipun Ia adalah orang yang paling dicintai oleh mereka. Suara/aspirasi rasulullah bukanlah suara mutlak pula dalam forum-forum diskusi atau musyawarah dikalangan para sahabat (kecuali yang berkaitan dengan wahyu dan hal-hal fundamental dalam syari’at), terbukti dengan kisah musyawarah beberapa saat menjelang perang Uhud. Pengelolaan struktur kepemerintahan madinah pun tidak sentralistik dengan kekuasaan mutlak pada Rasulullah, melainkan adanya lembaga kebijakan kolektif yang terdiri dari beberapa orang sahabat senior (dan sistem ini terus digunakan pada masa khulafa’urrasyidin).

Jelas terdengar absurd jika muncul tuduhan bahwa sosok beberapa ustadz dalam lingkaran inti PKS mulai berubah menjadi figur yang haus kekuasaan dan ditakuti di internal partainya. Bagaimana mungkin komunitas yang menanamkan nilai-nilai kepemimpinan kolektif serta menjunjung tinggi prinsip musyawarah, akan membiarkan sentralisasi figur terjadi dalam tubuh komunitas tersebut? Apa lagi sebagai sebuah organisasi yang terstruktur dengan baik, PKS telah memiliki mekanisme tersendiri dalam menyelesaikan permasalahan internalnya. Jika ada pelanggaran kode etik dan hal-hal melenceng dari oknum kadernya, sudah ada mekanisme tersendiri untuk menanganinya melalui tabayyun dll. Hal ini membuat tuduhan tadi menjadi semakin tidak masuk akal.

Jadi, sebenarnya bisa dikatakan dengan sistem/mekanisme pembinaan (tarbiyah) yang dijalankan oleh kader dan PKS secara keseluruhan, potensi untuk bersikap oportunistik dan otoriter sebagaimana terbayang dalam pandangan si provokator itu sangat-sangat sulit tumbuh berkembang. Jikapun ada yang sengaja masuk kedalamnya dengan motif tersebut (beberapa waktu lalu saya baru mendapat sebuah istilah unik dari ust Rahmat Abdullah, yaitu “membonceng dalam jama’ah”) maka besar kemungkinan Ia tidak akan betah dalam jama’ah ini. Sistem ini tidak pernah berpegang pada karakter individual seorang tokoh, tetapi karakter kolektif komunitas sebagai suatu kesatuan. Meski begitu, kita pun tidak menafikan bahwa secara manusiawi peluang munculnya dorongan, motif, ego serta kepentingan pribadi dari setiap individu juga tetap ada walaupun insyaAllah sangat amat terminimalisir karena banyaknya kader lain yang akan mengingatkan. Kita pun juga harus menyadari bahwa bagaimanapun jama’ah ini bukanlah jama’ah malaikat yang bersih dari dosa, jama’ah ini tetaplah jama’ah manusia dengan segala bentuk keterbatasan dan kekurangan yang dimilikinya. Meski kurang dan terbatas, dengan mereka bergerak bersama, dalam gemblengan nilai-nilai yang sama, dan demi tujuan yang sama, insyaAllah mereka akan senantiasa bangkit dari dan memperbaiki diri untuk menjadi komunitas yang lebih baik. Wallahu A’lam Bishshawab.

*) Penulis hanyalah seorang blogger biasa yang sedang asyik mencicipi indahnya Tarbiyah

Download Tulisan Ust. Anis Matta: pandangan islam terhadap harta

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Taujih Ust. Tate Ahad Kemarin

Sebenernya ada sedikit penyesalan saat saya terlambat tiba di Habib siang itu. Aku tiba pukul setengah dua siang, sedangkan agenda yang dijadwalkan oleh panitia adalah pukul duabelas. Meski begitu aku masih bersyukur bahwa aku datang saat itu tanpa keterpaksaan apapun, bahkan sedang bersemangat mengejar isian ruhiyah baru dari taujih kali ini. Sebenarnya aku sedikit ragu, karena rekan-rekan sehalaqah tidak ada yang memutuskan datang sehingga aku datang sendirian.

Habib hari itu sangat-sangat ramai. Motor-motor memenuhi lapangan parkir. Rombongan akhwat jilbab lebarpun terlihat berduyun-duyun memasuki masjid. Ada diantara mereka yang baru saja turun dari angkot tepat didepan gerbang, sebagian yang lain terlihat berjalan bergerombol dari depan gerbang citepus. Mungkin mereka baru saja menyelesaikan agenda halaqahnya. Sudah umum diantara ikhwah bahwa hari sabtu dan ahad sebagai hari ‘Liqo Akhwat Nasional’ karena memang mereka banyak meletakkan agenda pekanannya saat weekend.

Kedatanganku tepat saat seorang ustadz sedang memulai taujihnya. Selesai berwudhu aku segera memasuki masjid. Di pintu masjid seorang ikhwan menepuk betisku pelan. Ah… wajah yang cukup kukenal. Ternyata pak Dudi Lutpi, mas’ul kepemudaan di DPD. Subhanallah, satu hal yang kukagumi dari beliau adalah beliau masih mengingatku persis. Padahal kami sudah 1,5 tahun tidak bertemu setelah masa-masa pembentukan tim P2B kota Bandung. Aku sedikit kelabakan dan malu mengingat bahwa sudah 1,5 tahun ini aku menghilang dari tim itu.

Aku tidak terlalu mengenali wajah sang ustadz, berhubung sebenarnya aku jarang sekali ikut acara semacam ini. Beliau berorasi dengan begitu bersemangat. Aku tidak tahu persis apa temanya, yang pasti saat aku mulai mendengarkan beliau sampai pada bahasan mengenai tafsir Al-Muddatstsir. Kurang lebih isi bahasannya seperti ini:

Seperti kita tahu, rangkaian ayat pertama yang diturunkan oleh Allah pada Nabi Muhammad SAW adalah “Iqra!”, Bacalah! Rangkaian ayat ini bisa ditafsirkan sebagai perintah bagi manusia untuk belajar dan menyerap beragam informasi yang telah disediakan Allah melalui ayat-ayat kauni dan ayat-ayat qaulinya. Hal yang menarik adalah, bagaimana setelah rangkaian surat Al Alaq ini turun, maka Allah kemudian menurunkan surat Al-Muddatstsir (Orang yang berselimut).

Berdasarkan shirah, Al Muddatstsir turun ketika nabi pulang kerumahnya dalam keadaan begitu syok dan terguncang dengan pertemuannya dengan Jibril saat bertahannuts. Istrinya Khadijah segera menyelimuti Rasul yang terlihat menggigil seperti orang kedinginan itu. Saat itulah wahyu ini diturunkan.

Ayat 1:

Kata ‘muddatstsir’ yang disebutkan di ayat ini yang sekaligus menjadi nama surat ke 74 ini secara harfiyah berarti orang yang berselimut. Istilah ‘berselimut’ dalam ayat ini dapat ditafsirkan (seingat saya Ustadz menyebut menurut Fi Dzilalil Quran) dalam pengartian yang luas. Dalam hal ini ’selimut’ yang dimaksud mencakup segala hal yang menghalangi semangat seseorang, sehingga selimut yang dimaksud dapat bermakna ’selimut kemalasan’.

Ayat 2:

Ada dua perintah yang diberikan oleh Allah pada Rasulullah SAW, ‘qum!’(bangkitlah/bangunlah) dan ‘Andzir!’ (serulah!), dimana kedua fi’il amr ini tidak memiliki maf’ul bihi. Berkaitan dengan ayat pertama, kata ‘qum’ berarti bangkit dari segala ’selimut kelemahan’ yang membelenggu ruh kita untuk bangkit. Sedangkan perintah ‘andzir!’ adalah perintah untuk menyerukan apa yang telah diwahyukan pada ayat surat Al-Alaq. Ketiadaan maf’ul bihi (objek penderita) dalam kalimat perintah itu dapat ditafsirkan sebagai universalitas dakwah islam. Dakwah Rasulullah sebagai rasul terakhir ditujukan kepada seluruh umat manusia, dan bukan pada suku, ras, golongan, gender atau kalangan tertentu. Fragmen ayat ini sekaligus juga menjadi perintah dakwah pertama bagi kaum muslim untuk menyeru pada seluruh manusia.

Ayat 3:

Dalam ayat ketiga (’wa Rabbaka fa Kabbir’/”Dan Nama Tuhan-Mu, Besarkanlah!”), terdapat suatu keunikan karena Allah SWT menggunakan susunan kalimat ‘wa rabbaka fa kabbir’ dan bukan ‘fa kabbir rabbaka!’ (besarkanlah nama Tuhanmu!) meskipun keduanya memiliki makna yang nyaris sama persis. Penafsiran mengenai hal ini ada tiga poin:

  1. Bahwa dakwah islam hanya memiliki satu visi, yaitu untuk membesarkan nama Allah SWT. Maka dari itulah ‘rabbaka’ menjadi penekanan dengan diletakkan pada awal kalimat tersebut. Ini adalah penegasan pula bahwa kita berdakwah bukan untuk sebuah kemenangan partai, kemenangan seorang kepala daerah/kepala pemerintahan, melainkan semata untuk menegakkan nilai-nilai islam dimuka bumi ini. Nilai yang bisa diambil disini adalah kelurusan niat.
  2. Bahwa sebesar apapun tantangan dan hambatan yang kita alami dalam jalan ini sesungguhnya tiada artinya dibawah ke’Maha Besar’an Allah SWT. Hal ini sekaligus isyarat bahwa dakwah islam dibangun atas dasar tauhid yang murni, dengan penafian segala kebesaran dzat kecuali kebesaran Allah SWT semata. Nilai yang bisa diambil adalah pentingnya menjaga ma’nawiyah dalam menjalani aktivitas dakwah.
  3. Bahwa dakwah Islam didasari semata atas dasar keikhlasan. Melepaskan semua bentuk motif-motif kesombongan dan takabur yang ada dalam aktivitas dakwah kita, karena hanya milik Allah SWT lah segala Kebesaran. Nilai yang bisa diambil adalah pentingnya kelurusan niat dan keikhlasan dalam beramal.

Ayat 4:

Dalam ayat ini kata ‘bersihkanlah!’ memiliki arti membersihkan diri, hati, niat, dll sehingga karakter/kepribadian yang menarik terpancar dari diri seorang muslim (Jleb! Kena deh!).

Ayat 5:

‘Rujza faHjur’ memiliki makna perintah untuk menghindarkan diri dari segala bentuk kemusyrikan, diantaranya saat niat kita kurang lurus.

Ayat 6:

Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak mengharap-harapkan datangnya balasan yang lebih didunia dari apa yang kita keluarkan dalam amal-amal kita. Meskipun ada pula janji Allah SWT tentang datangnya balasan berlipat didunia dan akhirat dari apa yang kita korbankan. Intinya adalah Tadhiyah dan keikhlasan!

Ayat 7:

Ayat ini menegaskan tentang arti penting tawakkal dan kesabaran setelah segala sesuatu yang kita ikhtiarkan. Ini berkaitan dengan peringatan yang diberikan Allah di surah Al Hajj seputar ‘Kemenangan-kemenangan yang tertunda’. Pemaknaan lebih dalam dari ayat ini merupakan pengingat kita bahwa makna ‘kemenangan’ bagi Allah begitu luas. Apa yang secara dzahir terlihat seperti kegagalan dari sudut pandang manusia bisa jadi sebenarnya kemenangan yang gemilang (berupa ganjaran pahala) dimata Allah atau terdapat hikmah yang mungkin saat itu akan sulit dicerna oleh pikiran manusia, namun terungkap setelah sekian waktu berjalan.

Contoh (oleh-oleh DMM nih), saat Baghdad diduduki pasukan Mongol, ternyata kemudian dakwah islam justru menjadi menemukan ‘kebangkitan baru’ dengan terbukanya jalur laut perdagangan ke Gujarat, yang akhirnya merambah hingga ke Nusantara. Tanpa adanya tragedi penaklukan Baghdad tersebut, mungkin dakwah sampai ke negeri kita akan tertunda puluhan hingga ratusan tahun. Contoh lain misalnya hikmah dibalik perjanjian hudaibiyah yang menjadi pintu ekspansi dakwah  yang lebih luas bagi kaum muslimin.

Alhamdulillah, Allah masih menganugerahkan semangat bagi saya untuk merecharge ruhiyah saya hari ini. Semoga menjadi washilah menjadi diri yang lebih baik dan lebih produktif. Semoga rangkaian taujih hari ahad kemarin menjadi sumber telaga semangat dan inspirasi menuju kemenangan di Pilkada Bandung dan Pemilu Nasional.

Oh iya satu lagi, setelah tanya kanan-kiri, barulah saya ngeh bahwa itu yang namanya ustadz Tate Qomarudin. Hmm… akhirnya saya bertemu dengan orang dibelakang lirik-lirik ‘maknyus’ Shoutul Harokah. Ah dasar gaptar(gagap tarbiyah)nya saya… hehehe.

Wallahu a’lam bisshawab…

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

buy cipro buy clomid buy proscar buy cialis buy viagra buy diflucan

Comments off

Kekalkanlah Ikatan Kami Yaa Allah!

Kemarin, hari jumat siang, alhamdulillah aku diberi kesempatan untuk kembali bersua dan bersilaturahmi dengan saudara-saudaraku alumni Husnul Khotimah di acara silaturahmi ISHLAH (Ikatan Alumni Husnul Khotimah) cabang Bandung. Begitu banyak hal berkesan yang aku dapat dari acara ini, terutama karena bisa berkenalan dengan alumni-alumni angkatan muda yang sebelumnya nggak saya kenal dan berbagi cerita dan kegundahan seputar Pondok serta rekan-rekan yang menghilang dari peredaran selepas keluar dari ma’had. Acara yang berlangsung selepas jumatan hingga maghrib itu benar-benar menjadi sarana melepas kerinduan dan isian ruhiyah yang maknyus buat saya pribadi.

Ada belasan ikhwan serta belasan akhwat dari berbagai angkatan yang hadir. Alhamdulillah aku dan Akh Iman belum menjadi angkatan [paling] tua, karena akh Ginanjar Hatuala datang di acara tersebut. Beliau adalah teman seangkatan Ramdhan TG’03 yang (baru aku ingat ternyata sama sepertiku) keluar dari ma’had selepas MTs untuk melanjutkan studinya di SMU negeri. Keberadaan beliau begitu aku syukuri karena ada kisah dan taushiyah dari Ikhwan yang baru saja berbahagia dengan kelahiran anak pertamanya ini, yang luar biasa mengena bagi diriku. Taushiyah ini beliau dapat dari seorang alumni lain eks-presiden ISHLAH pusat, Akh M. Muthi Ali. Insya Allah taushiyah tersebut akan coba aku rangkaikan bagi antum semua yang membacanya saat ini.

Alkisah…

Di suatu waktu, ada seorang akhwat alumni generasi awal yang selepas lulusnya dari HK kemudian melanjutkan studi dan menetap di daerah jakarta. Bersyukurlah, Allah menghendaki akhwat ini untuk tetap istiqamah dengan aktivitas dakwah dan tarbiyahnya selepas dari ma’had, disaat banyak pula alumni yang lain yang seolah-olah terbebas dari belenggu aturan di ma’had dan kemudian secara utuh kehilangan identitas kesantriannya (kayak saya juga, terutama saat SMA). Seakan gemblengan selama 6 tahun hilang begitu saja, berganti dengan pencarian identitas dan pemaknaan hidup yang semu dalam trend serta mode yang ada di lingkungan barunya. Bahkan tidak jarang pula dari mereka yang kemudian kehilangan ruh dan kemauan untuk tetap istiqamah dalam melanjutkan aktivitas halaqahnya.

Tetapi tidak begitu dengan akhwat ini. Militansi nan menggebu-gebu terbina dalam wajihah aktivitasnya seakan bersinergi dengan tempaan tsaqafah dan pemahaman yang didapat semasa di ma’had. Amanah seakan silih berganti menggoda uluran tangannya, hingga suatu waktu sampailah beliau pada suatu ujian yang menguras energi ruhiyahnya hingga mencapai limit. Himpitan masalah yang sedemikian besar membuatnya gundah hingga titik yang tak tertahankan. Ditengah kegundahan itulah, ia coba untuk berhenti sejenak, menemukan sebuah tujuan pelarian dari kejaran bayang-bayang masalah yang menghantuinya tersebut. Dan… ia memutuskan untuk melarikan diri ke… Ma’had Husnul Khotimah.

Ia memutuskan untuk kembali kerumah yang telah sekian ia tinggalkan. Tanpa banyak pertimbangan, dipacunya mobil pribadinya, menyetir sendirian dirute antara jakarta-kuningan, ditengah malam tanpa ada rekannya yang tahu. Hanya dia dan perjalanan malam itu yang larut dalam perenungan, dengan tujuan satu… kembali ke rumah yang telah menggembleng dan memberinya banyak hal sebagai bekal kehidupan. Dan sampailah ia ke tujuannya di dini hari yang dingin menusuk, dengan segera melanjutkan perenungannya dalam raka’at-raka’at sunyi menjelang subuh. Baginya kini, tujuannya untuk menemukan perhentian sejenak ditengah hiruk-pikuk aktivitas rutinnya telah tercapai.

Ia datang ke rumah ini bukan untuk menanti wejangan dari ustazah-ustazah yang membinanya. Ia datang ke rumah ini bukan pula untuk menemukan wadah curahan hati diantara rekan-rekannya yang masih menetap disini untuk mengabdi pada Ma’had. Bahkan ia telah berniat untuk bungkam seribu bahasa tentang segala masalah yang tengah menimpanya saat itu. Semuanya karena sekali lagi, tujuannya kesini tak lebih hanya sekedar menemukan kembali suasana yang telah lama hilang dari derap langkah kesehariannya di Ibukota. Tidak lebih sedikitpun.

Namun… kedatangan si anak hilang di rumahnya setelah sekian lama ternyata segera disambut oleh kehangatan pelukan rekan-rekan dan ustadzah-ustadzahnya disana. Dan serta merta pertanyaan itu terungkap oleh saudari-saudarinya tersebut…

“Ukhti sedang punya masalah?”

“Ada yang bisa ana bantu ukh?”

“Jika ukhti punya masalah, ukhti bisa cerita ke kami.”

Ajaib!! Serta-merta bantuan yang sesungguhnya tidak ia harap-harapkan tiba-tiba datang begitu saja. Rengkuhan ukhuwah yang hangat tersebut akhirnya mampu melunakkan hatinya untuk mengungkapkan permasalahan yang sebenarnya masih sedemikian menghimpitnya. Para pendengar setia ini mendengarkan dengan seksama dan mencurahkan segala daya upaya mereka untuk meringankan gundah saudarinya ini. Singkat cerita… dengan energi baru yang berlipat-lipat, hati yang plong dengan solusi, ia kembali ke Jakarta dengan kondisi pikiran yang lebih segar. Siap menghadapi tantangan-tantangan baru di ruang-ruang aktivitasnya.

Kisah tersebut membawa kita pada sebuah perenungan, tentang apakah sebenarnya yang telah menggerakkan rekan-rekan dan ustadzah dari si Akhwat ini, sehingga mereka secara spontan dan naluriah segera dapat menyadari akan adanya masalah yang sedang melanda si Akhwat dan secara proaktif menawarkan bantuannya tanpa menunggu curahan hati si Akhwat. Padahal si Akhwatpun sejak awal tidak sedikitpun berniat untuk memberatkan pikiran saudari-saudarinya tersebut dengan masalahnya. Mungkin kita akan secara otomatis mengungkapkan satu kalimat: “Itu semua karena ukhuwah…”. Namun, apakah sesederhana itu penjelasan dari semua fenomena tadi? Apakah fenomena tersebut muncul begitu saja seiring kedekatan yang telah terjalin bertahun-tahun?

Sekarang aku coba mengajak kita semua untuk mungkin sedikit merenung tentang kejadian sejenis yang mungkin pula kita alami dengan bentuk yang berbeda. Mungkin kejadian-kejadian lain ketika kita merasakan adanya kemudahan dan bantuan yang tiba-tiba datang tanpa kita sangka-sangka. Momen-momen yang ternyata jika kita pikirkan lebih dalam, sebenarnya telah menyelamatkan diri kita dari lenyapnya hidayah yang bisa terjadi kapanpun tanpa kita mampu mengelaknya. Mungkinkah itu semuanya muncul begitu saja seiring semakin lamanya kita berinteraksi dengan rekan-rekan kita tersebut?

Satu ucapan akh Ginanjar yang segera menyentak pikiran saya…

Kita nggak akan pernah tahu kapan doa rabithah yang kita ucapkan akan terkabul!

Doa yang sedemikian fasih terucap dari lisan-lisan kita itu, yang mungkin saking seringnya diucapkan mungkin kerapkali terasa kosong tanpa ruh sehingga menjadi lantunan hafalan yang terucap spontan saja. Pernahkan terlintas dipikiran kita bahwa kemudahan-kemudahan dan bantuan-bantuan saudara-saudara kita seiman yang muncul di keseharian aktivitas kita mungkin saja merupakan jawaban Allah terhadap doa Rabithah kita selama ini? Akh Ginanjar pun melanjutkan dengan sedikit gurauan…

Bahkan mungkin doa-doa ma’tsurat kita semasa di pondok dulu yang ‘terpaksa’ kita ucapkan ba’da subuh dan maghrib karena telah menjadi acara wajib yang tidak bisa kita elakkan. Tanpa kita sadari doa itu mungkin telah terkabul dalam bentuk kemudahan-kemudahan yang kita rasakan, dan bantuan yang tidak kita sangka-sangka. Meskipun doa itu terucap setengah terpaksa keadaan.

Dari sinilah kemudian ada baiknya kita memaknai lebih dalam tentang doa yang begitu akrab dengan kita ini. Sesungguhnya jika kita renungkan doa tersebut lebih dalam dan apa yang terjadi dengan diri kita sebagai makhluk, maka kita temukan bahwa sesungguhnya faktor terbesar yang membuat kita tetap istiqamah dalam naungan diin-Nya mungkin bukanlah ikhtiar kita untuk senantiasa dekat dengan saudara-saudara kita, melainkan keridhaan dan kehendak Allah untuk tetap mempertemukan kita dengan saudara-saudara kita tersebut. Maka dari itu secara pemaknaan sendiri, doa rabithah ini sebenarnya terdiri dari dua bagian:

Bagian pertama:

Allahumma… Innaka ta’lam anna hadzihil quluub (Yaa Allah… sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini…)
qad ijtamaat alaa mahabbatik… waltaqqat ala Thaa’atik… (telah berkumpul dalam kecintaan pada Mu, dan bertemu dalam ketaatan kepada Mu…)
wa Tawahhadat ala da’watik… wa ta’aahadat nashrati syari’atik… (dan bersatu dalam dakwah/seruan Mu… dan berjanji/berikrar untuk membantu/memenangkan syari’at Mu…)

Pada hakikatnya bagian pembuka doa rabithah ini bukanlah suatu bentuk permohonan. Bagian ini sebenarnya suatu bentuk pengakuan seorang hamba terhadap ketentuan yang telah menjadi kehendak Allah terhadap dirinya dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan. Bagian ini adalah pengakuan kita bahwa tidak ada kekuasaan apapun yang kita miliki sehingga kita berkumpul dalam jama’ah dan komunitas yang sama, melainkan karena keridhaan Allah terhadap keberadaan kita disini.

Selanjutnya, setelah kepasrahan yang kita berikan tersebut, di bagian kedua/akhir masuklah kita pada rangkaian permohonan:

fa watstsiqillahumma rabithatahaa…
wa adimmuddahaa… wahdiha subulahaa…
wamla’haa bi nuurikalladzi laa yakhbuu…
Wasyrah suduurahaa bi faidzil iimaanubik…
wa jamiilit tawakkuli alaik…
wa ahyihaa bi ma’rifatik…
wa amithaa ala syahaadati fii sabiilik…
wa amithaa ala syahaadati fii sabiilik…
wa amithaa ala syahaadati fii sabiilik…
innaka ni’mal maulaa… wa ni’mannashiir…

Kita memohon supaya ikatan hati yang kita rasakan ini dikekalkan oleh-Nya, dst…, dst…, hingga di permohonan pamungkas, kita meminta untuk dimatikan bersama saudara-saudara kita tersebut bersama-sama dalam predikat kematian tertinggi dan paling mulia, yaitu dalam kesyahidan. Sesungguhnya pada bagian ini kita tidak sedang mendoakan diri kita sendiri. Kita sedang mendoakan agar kita memperoleh kebaikan, dan kita ingin agar saudara-saudara kita menerima kebaikan yang sama baiknya (dan bahkan mungkin lebih). Ditengah ucapan (yang semoga kita ucapkan dengan) tulus pada fragmen terakhir itulah, sesungguhnya kita sedang berusaha berikhtiar menempatkan diri kita dalam tingkatan ukhuwah tertinggi, yaitu itsar. Memberikan permohonan terbaik kita disela-sela doa harian kita bagi mereka, saudara-saudara yang kita coba untuk jauh lebih kita cintai dibanding diri kita sendiri.

Dan pertanyaan penutup… sudahkah perasaan kita menyertai permohonan yang terucap dalam doa kita tersebut?

Ardee’est Things in My Life
[Menjelang dzuhur, Ganesha, 31 Mei 2008]
Teruntuk saudara-saudaraku, Uhibbukum Ahsanu Mahabbatu Fillah

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

acyclovir cream ritalin abuse buy levitra online side effects of provigil discount tramadol buy zithromax online buy generic propecia tramadol online pharmacy toprol medication augmentin online pharmacy buy nasonex without a prescription steroids effects buy xenical without prescription cheap tenuate cheap didrex glucophage xr fioricet with codine risedronate 35mg fioricet cheap serzone claims enalapril side effects hydrocodone picture biaxin used to treat risperdal depression effexor side effects vicodin detox fioricet generic for buy sildenafil propecia discount acne medicine aldactone generic xalatanxanax promethazine codeine cheap prozac adipex ingredients ortho cyclen acyclovir suppression buy phentermine online flonase dosage ativan lawsuits tretinoin for melasma buy phendimetrazine cheap buy prozac order zithromax online cyclobenzaprine effects sarafem half life growing marijuana lanoxin side effects cost of drug evista prozac and breastfeeding buspar info zovirax cost purchase zithromax soma online avandia drug buy cheap roxicet alprazolam without prescription no prescription propecia nasonex nasal spray psilocyn mushrooms ibuprofen overdose clomiphene citrate fioricet long term effects atenolol levitra buy tamiflu mexico 200mg fluconazole order phentermine online condylox gel buying oxycodone without prescription zestril oral what is tramadol used for vaniqa buy bursal injection suprax ultravate generic medicine temazepam naprosyn 500mg temazepam 30mg cheap alprazolam no perscription online valium ultram without a prescription what is combivent diethylpropion neurontin addiction macrobid breastfeeding buy zithromax without prescription buy tramadol online buy adipex without prescription suprax brand name about flexeril metabolism aricept facts zovirax pills zyban quit smoking effects of roxicet acyclovir suppositories phentermine online nizoral tablets buy sildenafil citrate nardil side effects xanax dosage buy tamiflu no prescription fda protopicprovigil buy adipex suprax chemical compound cephalexin for dogs pantoprazole side effects lotensin side effects effects of rohypnol hashish oil trimox dental uses for temovate medicinetenuate steroids pictures buy atenolol order bontril overnight cream verapamil accupril side effects atarax warnings relafen oral xanax oral atrovent dosage didrex pharmacy online amoxicillin and alcohol side effects of acyclovir 400mg alesse pill ritalin adhd patanol generic fluconazole overnight delivery ionamin overnight cheap paxil nortriptyline pregnancynorvasc cheapest xenical buy online paroxetine withdrawal antivert drug mescaline statistics norco windows fexofenadine generic skelaxin drug information amoxicillin no prescription azithromycin alcohol about flexeril naltrexone implant information on microzide tricor side effects ativan online manufacturer of prinivil nexium price lipitor and grapefruit side effects for flomax online tamiflu neurontin 300mg buy roxicet pills online prilosec zantac keppra more drug side effects buy ativan with overnight delivery dog pepcid ac or zantac tramadol buy dead pro wrestlers steroids pepcid side effects lorazepam addiction cheap sibutramine pills meridia 10mg adderall online order oxycodone snorting tramadoltransderm scop generic ramipril buy floventfluconazole sumatriptan cvs pharmacy famvir tablets fioricet oral how effective is adipex order viagra online what is pantoprazole actonel generic clonidine side effects cheap propecia buy singulair ultram side effects albuterol atrovent nicotrol patches what is vicoprofen cardura half life online diazepam loratadine overdoselorazepam tetracycline cream cheap zithromax online plavix 75mg valium buy what is pcp make ghb ghb drug adderall side effects lisinopril more drug side effects what is preven benicar perscription cheap wellbutrinxalatan tamiflu online prescription famvir oral symmetrel abusesynalar what is roxicet medication singulair ortho evra side effects keppra ingredients fosamax drug nortriptyline side effects buy fluconazole medication nexium miralax glycolax powdermircette psilocybin mushrooms for sale topical steroids information on lotensin buy effexor altace generic stability of esomeprazole infusion buy cheap fioricet ovral tabletsoxazepam levoxyl oral online pharmacy sibutramine imitrex oral what is levoxyl cialis levitra viagra what is soma methylphenidate kid valacyclovir dosage generic sarafemselsun blue paroxetine hcl oral lanoxin toxicity patanol eye drops enalapril buy generic valium remeron more drug side effects sumatriptan mexico imitrex sumycin 500mg carisoprodol abuse buy cheap meridia clonazepam with no prescription what is rohypnol premarin alternatives mononitrate buy serzone withdrawal skelaxin medication clonidine hcl surgery and coumadin coreg tamsulosin hcl what is zebutal pepcid during pregnancy estradiol cream macrobid 100mg alendronate and breast calcification proscar no prescription glipizide oral paxil side affects natural furosemide meridia stories buy lorazepam online tadalafil softtabs health suite hydrocodone apap metformin more drug side effects ativan addition fluconazole and dangerous buy cheap phentermine flexeril medication rohypnol drug cephalexin adipex without prescription no presciption amoxicillin singulair children buy triphasil hydrocodone vicodin flonase side effects biaxin and sleepy elidel black tar heroin diazepam without a prescription oxycodone withdrawal what is orlistat lotrel medicine prodam meridia lescol drug buy oxycontin no prescription acyclovir does metformin make ohss worse? proctocort suppository side effects of paxil what is keflex used for fioricet generic qualitest synthroid without prescription order butalbital no prescription fosamax 70mg valium diazepam lipitor and zocor prozac withdrawal morphine pump oxycontin detox oxycontin picture soma carisoprodol robaxim and relafen generic dovonex side effects of naprosyn renova without a perscription sarafem side effects buy fexofenadinefinasteride serevent warning lorazepam more for patients smoke carisoprodol cheapest sibutramine bactroban cream alprazolam dosage actos altace snorting ritalin search for fioricet lisinopril oral pepcid buy macrobid medication information on steroids purchase tetracycline without prescriptiontiazac purchase propoxyphene buy triphasil online hydrocodone without prescription acyclovir 400 mg tablets pioglitazone hydrochloride what does levitra look like acyclovir drop albuterol side effects buy nordette no prescription cheapest what is lorcet what is flovent fioricet with codeine can you buy rohypnol detrol reviews buy naproxen protopic medicine aciphex rebates butalbital effects aldara ulcer evista side affectsevoxac paroxetine more drug side effects what is zyloprim vicodin abuse search phentermine antabuse drug amoxicillin vaniqa discount valporic acid rx methylprednisolone 4mg metformin oral flomax tamsulosin spironolactone and pregnancy generic zyloprim pictures of mdma elavil on line how keppra works wellbutrin no prescription pepcid complete side effects of the drug nexium lsd trip birth control nordette transderm fast shipping naproxen more drug uses oxycodone addiction online order tramadol actonel free shipping norco hydrocodone prozac fluoxetine order metrogel online ciprofloxacin levaquin tablets lotrisone cream famvir 500mg information on prednisone amphetamine from methylphenidate tenuate cheap cheap famvir for sale ephedrine trazodone mechanism of action for keppra ativan usage hyzaar medication xanax bar generic for flonase online valtrex miralax for constipation tenuate diet pills cartia anobolic steroids buy butalbital lorazepam withdrawal program azithromycin without prescription flonase nasal spray side effects of xanax tylenol recall hydrocodone bitartrate generic klonopin pregnancy folic acid celecoxib tetracycline hcl cheap hydrocodone lips like morphine naproxen overdose lortab pills trazodone dosage discount soma neurontin withdrawal buy a prescription online tamiflu buy celexa xr rx adipex compare adipex prices evista hydrocodone pharmacy nicotine gum levitra prescription prilosec online bontril online order adipex online prempro without a prescription ortho evra patch how to make lsd buy nardil on line side effects of azithromycin nexium ingredient cheap meridia fioricet online pharmacy cheap fioricet tramadol 180 effects of phencyclidine vicodin and pregnancy canada phendimetrazine about soma best price viagra color of tadalafil tablets effexor overdose keflex more drug side effects buy triamterene tramadol on line viagra for women buy sibutramine online protonix side effects ranitidine side effects butalbital compound depakote and alcohol phendimetrazine 35mg cheap zithromaxzocor steroids anabolic antabuse long term use levoxyl and weightloss oxycodone apap drug fioricet zithromax online buy opiumorlistat viagra prescription orlistat oral buy tussionex soma for sale psilocybin spores methamphetamine recipe does propecia work buy prinivilproctocort plendil prescription propecia no prescription tramadol overnight prilosec coupons generic plavix levaquin alcohol tetracycline more drug uses what is synalar cheap adipex without a prescription diuretics diazepam ambien withdrawl actonel vertigo amoxycillin premarin cream protopic cancer side effects of famvir discount phendimetrazine buy xenical online butalbital child overdose lisinopril tramadol cod levitra and cialis and viagra lescol side effects zanaflex 2 mg methamphetamine recipes gemfibrozil lopid altace benefits valium addiction generic cialis softtabs alprazolam without perscription prednisone oral clomiphene free shipping buy pantoprazole lorazepam effects pantoprazole formulation ritalin effects metformin dosage cheap lipitor temovate gel what is vicodin generic alendronate