Carilah Kontrakan Sampai…
Sebenarnya agak setengah terpaksa jika harus mulai membicarakan tempat tinggal pasca hengkang dari Markaz yang sudah 3 tahun ini jadi pemukimanku. Kontrakan ini sudah memberikan aku banyak kenangan, mulai dari zaman saat aku ditolak masuk ke Astra Salman yang mempertemukan aku dengan kamil… hingga sekarang saat satu per satu penghuninya hengkang karena lulus dan bekerja diberbagai tempat. Tinggal Aku, Erry, Hendra dan Dimas yang masih bertahan hingga selama itu. Kini Hendra telah mendapat kerja di jakarta, Erry hanya tinggal menunggu wisuda Oktober nanti. Praktis tinggal Dimas yang tersisa di kontrakan bersejarah ini.
Lho… bagaimana denganku? Hmm… aku sendiri sudah memutuskan untuk segera mencari rumah kontrakan sendiri. Yup… bagiku, inilah caraku untuk ‘membakar perahu Thariq’ dan terus melaju menaklukkan ‘Andalusia’ku. Bismillah… niatku sudah bulat, apapun yang terjadi… siapapun calonnya… aku bertekad untuk segera menggenapkan dien tahun ini! Dan targetku adalah bulan Agustus ini, saat usiaku genap 25 tahun hadir di belantika dunia yang penuh kefanaan ini. Tentunya akhirnya keputusannya hanya ada ditangan Allah semata, kita hanya bisa berikhtiar saja. Masalah apakah niatku ini dikabulkan oleh Allah ataupun tertunda, itu hanya masalah waktu dan bagaimana persepsi kita dalam melihatnya. Sekali lagi, itu mungkin cara Allah untuk membuatku semakin kuat dan istiqamah atau justru tersisih dari daftar hambanya yang taat.
Lho kok jadi ngelantur kesana ya? Sebenarnya itu tadi intermezzo saja, sebelum bercerita tentang pengalaman nyari rumah kontrakan kemarin. Setelah berpetualang di daerah kelurahan Tamansari, akhirnya kemarin sore dengan ditemani Erry aku merambah daerah Kebon Kembang. Kebetulan disana ada Akh Bobo Ki’04 dan istrinya yang kini telah dikaruniai anak sesosok akhwat mungil dan lucu. Meskipun daerah ini bertetangga dengan daerah pelesiran-kebon bibit, tapi aku agak asing dan baru pertama kalinya merambah daerah ini (sebenernya yang kedua kalinya, tapi dulu hanya sebatas sampai ke masjidnya saja). Karena sebenarnya kami datang tanpa tujuan yang jelas, aku segera menelepon Bobo begitu sampai disana.
Setelah beberapa kali ditelepon tanpa ada yang mengangkat, aku dan erry berinisiatif untuk berjalan saja kemanapun kaki kami melangkah. Alhamdulillah beberapa saat kemudian kami menemukan sebuah lokasi yang ‘terlihat mirip’ rumah petak seperti rumah kontrakan nenekku didaerah Kampung Melayu, Jakarta. Tapi… karena sepi dan tidak ada ‘tanda-tanda kehidupan’, kami bingung mau bertanya pada siapa. Ah… ada seorang ibu sedang menyapu halaman agak jauh dari situ. Aku segera menghampiri dan bertanya padanya. Dengan pede aku menjelaskan panjang lebar maksud kedatanganku kesini, tapi… beberapa saat kemudian tidak ada tanggapan apapun dari ibu itu. Ia hanya memandangi aku saja dengan ekspresi bingung. Ia seperti ingin berbicara tetapi ragu. Tiba-tiba sambil bergumam “ah… mmmah… tu… tu…”, ia membawa kami dengan menunjuk-nunjuk kesebuah rumah didekat situ. Barulah aku tahu bahwa beliau gagu, dan berusaha membawa kami kepada penguni daerah itu yang bisa berbicara normal.
Nenek yang ada didalam rumah itupun menunjukkan beberapa alternatif kosan didaerah itu. Tapi kami tidak segera mendatangi tempat yang ditunjuk. Perhatian kami justru tertuju pada sebuah rumah dengan tulisan “DIKONTRAKKAN” yang berada disebelah sebuah warung. Dengan bersemangat, seorang perempuan datang dan menyambut. Melihat ekspresinya yang berseri-seri itu aku agak kaget. Ternyata kamar yang ditawarkan itu tidak sesuai harapanku. Hanya sebuah kamar 2,5 x 2,5 meter dengan kamar mandi disampingnya. Padahal kebutuhan yang terbayangkan olehku adalah sebuah rumah petak dengan setidaknya satu kamar yang berfungsi sebagai ruang privat, ruang depan sebagai ruang publik/menerima tamu, space untuk dapur dan kamar mandi didalam.
Begitu mendengar keinginanku itu, si mbak lincah itu segera membawaku ke luar dan menunjukkan padaku warkop yang tadi kami lewati. Ternyata warung itu juga akan dikontrakkan, meski saat ini masih ditempati oleh penyewanya. Bangunan warung itu ternyata cukup memenuhi kebutuhan yang kuharapkan, walaupun karena digunakan sebagai warung penampilannya terlihat lusuh dengan perabotan dan dagangan yang masih bertumpuk dimana-mana. Meski masih ragu, aku pribadi cukup sreg dengan rumah itu. But, kata erry terlalu cepat untuk mengambil keputusan.
Kamipun kembali berkeliling tanpa juntrungan yang jelas. Memasuki gang-gang, bertanya dari rumah kerumah (jadi latihan DS juga ternyata), melihat dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya. Nggak ada yang benar-benar menarik perhatianku. Rata-rata ruang yang dikontrakkan berformat kostan yaitu sebuah kamar dengan kamar mandi terletak diluar. Aku tidak mungkin mengambil tempat tinggal dengan format seperti ini, karena agak menyusahkan bagi akhwat, terutama masalah hijab. Selain itu hampir semua kost/kontrakan itu dikhususkan untuk pria saja atau wanita saja. Alhasil, pilihan terbaik masih rumah warkop tadi.
Tak berapa lama setelah kami hampir menyerah berkeliling, tiba-tiba ada telepon dari Bobo. Ia menawarkan untuk ketemuan. Saat itu aku sudah hampir mantap untuk mengambil si rumah warkop tadi meskipun entah mengapa seperti ada hal yang masih mengganjal pikiranku. Aku sempet bilang ke erry, “apa perlu istikhoroh dulu ya Ry?”. Dia cuma cengengesan sambil menjawab bahwa menurutnya jika memang diperlukan ya… bisa dilakukan. Akhirnya, niat kami untuk menyudahi perburuan kami urungkan kembali. Kami pun menemui Bobo di tempat yang ia sebutkan. Ia menunjukkan beberapa rumah petak, yang sebenarnya sempat ingin kami tanyakan sebelum akhirnya sampai di rumah warkop tadi. Setelah memberanikan diri bertanya pada tetangga yang tinggal diseberang rumah itu, kami akhirnya harus kembali pasrah karena ternyata semua rumah petak itu sudah di sewa, hanya saja belum ditempati oleh penyewanya. Kami sempat mendatangi beberapa lokasi lagi, namun hasilnya nihil.
Saat itulah Bobo bercerita bahwa ia berniat pindah ke lokasi yang lebih dekat ke kampus. Kupikir berarti tempat yang dimaksud adalah di sekitar taman hewan. Iapun menawarkan rumah yang ditempatinya itu, meski itu berarti aku harus menunggu hingga pertengahan agustus untuk pindah kesana. Alhamdulillah, setidaknya aku jadi mendapatkan pembanding untuk si rumah warkop. Kulihat sekilas, lokasi rumah Bobo lebih kondusif ketimbang rumah warkop itu. Luasnya pun lebih besar dan tampilannya terlihat lebih bersih. Aku cenderung lebih tertarik dengan rumah itu ketimbang si rumah warkop. Namun begitu, aku memutuskan untuk memikirkannya kembali selama seminggu kedepan, untuk memastikan bahwa pilihan yang kulakukan adalah pilihan terbaik.
Azan maghrib pun menutup pertemuan kami dengan Bobo. Aku dan Erry shalat maghrib di masjid dekat situ. Setelah itu Erry segera pergi, sedangkan aku kembali ke Markaz. Hikmah yang bisa kuambil dari perjalanan berburu kontrakan ini… hmmm…. apa ya? Mungkin hikmahnya adalah, apapun yang Allah rencanakan bagi kita, yang bisa kita lakukan adalah selalu berusaha bersiap dan terus menyiapkan perbekalan. Meski rencana-Nya ternyata berbeda dengan apa yang kita rencanakan, setidaknya insyaAllah akan selalu ada ganjaran dari persiapan-persiapan yang kita lakukan. Toh yang Ia perintahkan pada kita hanyalah berikhtiar dan terus berikhtiar, masalah hasil akhirnya tergantung keridhoannya saja.
Rabbanaa dzalamnaa anfusanaa wa in lam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khosiriin…
Bagaimanapun terbatasnya ya Allah… inilah usaha hamba…
In kunta tardhaa… laththif qalbaha yaa muqallibal quluub…
If you see my blog content is valuable, please consider to treat mePermalink Comments off

