Al Ardhu lana [nasyid kenangan di HK]
Permalink Comments off
Permalink Comments off
Permalink Comments off
Permalink Comments off
Permalink Comments off
Menanti SENJA di Masjid Kampus
[Markaz, 16 Jan 2008; “Aku ingin menulis, Aku HARUS menulis!”]
Satu kata untuk ‘DeJa Vu’, film yang baru saja aku tonton. Alur ceritanya benar-benar cerdas dan menegangkan sekaligus mengharukan sampai akhir. I think it’s a destiny when I decided to saw this film just now. The plot is really amazing, but the implicit message is what makes this film worth to watched.
The story begun with a scene of a ferry with a lot of passangers inside. There were some NAVY with their family who just met after separated for some periods. Not for long, at the basement a huge explosion broke the entire ferry. Depicted that some victims thrown by the explosion to the water. After a couple of minutes, police were coming and start doing an investigation. (halah… nggak gw banget lah, nulis pake bahasa inggris)
Intinya ada seorang agen FDA cerdas yang punya analisis bagus dalam melakukan penyelidikan. Kecerdasannya ini menarik perhatian FBI (ato polisi) untuk merekrut dia dalam proses penanganan kasus terorisme itu. Namanya Doug Carlin (Denzel Washington). Saat itulah ia mendapati bahwa FBI punya alat khusus yang dapat digunakan untuk melihat kejadian masa lalu secara sangat mendetail. Dengan bantuan alat inilah si pelaku bisa terlacak.
Salah satu korban yang diketahui memiliki kejanggalan adalah Claire Kuchever (Gak tau siapa, tapi mirip Halle Bery), yang menurut analisis polisi meninggal sebelum ledakan terjadi dan berada sangat dekat dengan pusat ledakan. Dari sini Doug menyimpulkan bahwa jika polisi dapat menemukan pelaku pembunuhan Kuchever maka mereka akan menemukan pula sang pelaku pengeboman.
Cerita kemudian berjalan mengikuti penelusuran Doug terhadap kronologi kejadian 2 hari sebelum ledakan, menggunakan alat milik FBI. Dan… jadi deh cinta pada pandangan pertama, Doug terpesona sama mayat yang bernama Claire itu dan mati-matian mengusahakan cara agar kematian Claire bisa dicegah. Dalam setting cerita, mesinnya FBI itu bisa mentransfer material ke masa lalu. Cara inipun dengan ngotot digunakan Doug untuk mengirim dirinya sendiri ke masa lalu, beberapa jam sebelum kejadian. Singkat cerita, Claire ditemukan dalam kondisi nyaris dibakar hidup-hidup oleh pelakunya. Dan nyawa Claire terselamatkan, tapi belum dengan kapal ferinya.
Doug akhirnya mengejar mobil berisi bom itu hingga masuk kapal. Tapi si pelaku yang tadinya berencana kabur menyadari dan menyusul Doug ke kapal. Melihat pelaku mengejar Doug, Claire pun nekat ikut masuk kedalam kapal dengan cara meloncat ke kapal yang sedang berjalan itu. Disinilah terjadi penyekapan terhadap Claire didalam mobil yang terisi penuh dengan bom. Setelah saling
The greatest scene is when Claire met ‘the actual’ Doug who accidentally ordered to investigate her after that. She was really regret what she done before when she suspicious with Doug who know exactly about everything in her life (especially the condition of hers house). Otherwise, she sus Then she ask him a question which ‘the Future’ Doug ask her before. And then Doug answer it exactly same with her answer before.
Claire : What if you had to tell someone the most important thing in the world, but you knew they’d never believe you?
Doug : I’d try.
Then, The story ends.
Gile… gimana kalo kita dalam posisinya Claire saat itu?

….
[Jam 2 kurang dikit: aku nyerah, aku harus tidur…]
[Jam 4.30: aku bangun dengan mata sepet dan perut mules, udah iqomat dimasjid depan]
….
Untuk Denzel, aku yakin with his experience, this character is just a piece of cake.
Aku terlibat diskusi dengan diriku sendiri, berandai-andai jika waktu bisa diulang atau jika saja sejarah dapat diubah. Beberapa film yang mengangkat tema itu biasanya membuai disepanjang cerita, tetapi diujung sebenarnya pesan yang dibawa tak lain “look at the reality, not by ‘erasing’ the history but ‘making’ a new history to fix the past.”. But this film is a different one. I think the main message is “Don’t give up… there’s always be a way to make a change”, dan sepertinya mirip dengan konsep islam mengenai takdir.
Dalam islam, kita mengenal ada yang disebut dengan qadha dan qadar.
Begitu pula dengan jodoh (tulisan ini jadi semacam hiburan bagi diri sendiri ternyata…) yang menjadi salah satu faktor yang disebut dalam hadits arbain ke 4 (kalo nggak salah). Nama calonnya bisa jadi sudah ada sejak ruh kita ditiupkan di zaman ‘jebot’ dahulu. Tapi gimana prosesnya, keberjalanannya, langgeng ato nggaknya mungkin masih menjadi variabel yang berubah tergantung ikhtiar. Makanya, selembar kertas itu cuma media, dan sebelum ia benar-benar datang, ia sebenarnya akan senantiasa jadi sesuatu yang misterius. Seperti juga rezeki, ia akan datang ‘min haitsu lam yakhtasib (dari arah yang tidak dapat diperkirakan)’. Bisa jadi dulu musuhan, eh… bertahun-tahun kemudian anaknya udah 5 gitu misalnya. Atau justru sebaliknya, pake acara pacaran satu dekade, begitu nikah cerai dalam hitungan bulan. Sekali lagi ia memang misterius. Ia memang misterius.
….
[Jam 5.15 : Paketu Panpel butuh kompie, jadi aku harus ngalah…]
[Jam 7.15: aku bangun dengan mata sepet lagi, nasi goreng salman udah nggak kekejar]
….
Ngomongin soal ajal, jadi inget chemistry yang aku dapet dari beberapa arsip yang isinya testimonial tentang akhuna Alm. Sigit Firmansyah. Subhanallah (ekspresi yang jauh lebih pantas, tadinya mau ber“Damn!”ria or extremely-unnecessary-expression yang lain), sosok Sigit adalah sosok yang tidak perlu dramatisasi untuk menggambarkan kehidupannya sehari-hari. Kalo ada figur mahasiswa muslim yang mendekati ideal (reminding me with someone) maka dialah orangnya. Testimonial rekan-rekannya bisa menunjukkan itu semua, baik kawan-lawan, baik sesama muslim atau agama lain mengakui hal itu. Dan aku berani bilang bahwa dialah prototipe dari keberhasilan dakwah menyentuh mahasiswa.
Sosok yang disegani kawan maupun lawan, aktivis dengan berbagai aktivitas yang seakan tidak pernah kehabisan energi untuk terus melangkah. Seorang danlap yang tidak hanya peduli dengan tetek-bengek teknis dilapangan tetapi begitu dalam menyelami materi. Seorang da’i dan murabbi teladan sekaligus mutarabbi yang dapat diandalkan bagi murabbinya. Apa yang kurang lengkap dengan sosok itu? Hidupnya begitu simultan dijalani sehingga setelah selesai suatu urusan, ia segera terburu-buru beralih pada urusan lainnya. Waktu malamnya hanya tersisa sedikit baginya waktu untuk merebahkan diri sebelum kembali bangun di sepertiga malam, tetapi dengan energi penuh pagi hingga malam seakan letih tak mampu meruntuhkannya.
Tidak butuh waktu lama untuk meyakinkan diriku untuk melakukan apapun agar sosok super-keren ini dapat terabadikan dalam bentuk sebuah buku. Mungkin untuk sampai pada sebuah memoar masih amat jauh, tetapi sekadar kumpulan testimonial/kesaksian tentang diri Sigit sudah lebih dari cukup untuk sedikit memberi inspirasi orang-orang tentang etos kerja dan pencarian identitas. Kapanpun buku ini akan terealisasi, mungkin masih jauh jalan yang harus aku lalui. Butuh riset dan observasi lebih mendalam untuk dapat menggali informasi dari rekan-rekan beliau. Akupun merasa tidak cukup kuat untuk mewujudkan ini sendirian, sehingga aku amat berharap ada rekan yang membantu, setidaknya ditengah jalan.
Satu-satunya naskah yang lebih kongkrit dan sudah jalan sekitar 30% adalah novel yang kutulis tersendat-sendat sejak Mei 2007, hingga kini sudah sekitar 12 bab. Memang masih jauh, karena kuperkirakan masih sekitar 20-25 bab lagi sampai ending. Tapi ‘senjataku’ kini sudah lebih lengkap, matriks karakter sudah kubuat, kronologi waktu dan gambaran alur sudah lebih jelas saat ini, bahkan gambaran sequel selanjutnya amazingly sudah kubuat.
Sekarang masalah spending waktu yang clear buat menulis. Karena aku bukan tipe orang yang bisa dipush untuk menulis, walaupun juga tidak terlalu moody. Balancing dengan schedule TA is one of the main problem, ketersediaan sarana (‘cangkul’ yang dalam hal ini maksudnya komputer) adalah hal lainnya. InsyaAllah sebelum umurku beranjak memasuki 25 agustus nanti naskah ini akan aku realisasikan.
Ceritanya ringan dan cukup sederhana, menyoroti pergolakan hati aktivis masjid menghadapi hubungan lawan jenis, lika-liku halaqah dan kehidupan keseharian seorang mahasiswa. Setting yang kuambil sengaja kuangkat disekitar area Salman dan ITB, karena mengurangi effort untuk observasi lokasi dan kondisi sosial yang menjadi latar cerita. Latar waktu adalah pertengahan 2007 hingga akhir 2008. Kalimat yang bisa mewakili gambaran cerita keseluruhan terpampang pada judul tulisan ini.
Cerita berfokus pada keseharian seorang mahasiswa bernama Arie aktivis senior Gamais dan Anindya seorang mahasiswa TPB yang juga seorang penulis novel. Sebuah insiden mempertemukan mereka yang kemudian menjadi awal dari gejolak perasaan kedua insan itu. Diluar kedua karakter ini ada tokoh Tresno teman sekost Arie (seorang mantan ADK yang punya trauma masa lalu dengan aktivitasnya di Salman), Nada (mahasiswi TPB yang menjadi kejaran Tresno) dan soulmatenya Tiara (Mahasiswi TPB yang gaul, senang musik dan blogging) yang sama-sama mendapat pencerahan melalui halaqah. Ada pula tokoh Zahra (akhwat alumni sebuah pesantren) dan Rani (akhwat senior yang menjadi murabbi dari Anindya, Tiara, Nada dan Irma).
Beberapa bab versi mentah sudah aku posting diblog ini. Aku memberi codename “JDDSK” yang kuambil dari judul awal naskah ini yang setelah kupikir kembali ternyata kurang pas dengan endingnya. Tapi tidak akan terlalu menggambarkan kisah yang di versi lengkapnya. Aku butuh support semangat, jadi jika ada yang membaca dan ingin melihat versi lengkapnya silahkan ikut memberikan komentar.
[Laruku’s “Time to Say Goodbye, piano version”, ON]
Wassalam….
Sunset’s Admirer
Permalink Comments off
Addicted with Cooking
[Markaz, 14 jan 2008; “U’r the best thing I’ve ever had”]
Hehe… ini postingan telat, padahal udah bulan januari aja. But gapapa lah… pengalaman keren yang sayang kalo nggak didokumentasikan. Sekali lagi aku puas banget bisa masak untuk banyak orang dan bisa memuaskan orang dengan hasil racikan tanganku (cie… kayak jago aja!). Seperti setahun lalu, aku jadi ‘tukang masak’ lagi untuk acara makan-makan di asrama turki. [L’Arc En Ciel: “Pieces”, ON]
Bantai…!
Pas idul adha kemarin, gw ‘kejebak’ ikut rombongannya Rumah Amal yang mo ngedistribusiin hewan kurban ke sekitaran bandung. Tau-tau aja di samber yudhis pas mo balik ke kost dari shalat Ied. Akhirnya ikut deh ke daerahnya Ust. Hervi di daerah Padasuka. Bawa mobil Avanza klo gak salah. Drivernya siapa lagi kalo bukan ‘Sopir sejuta umat’, Kamil. Akhirnya singkat cerita kita berangkat ke daerah ‘pembantaian’.
Kesannya? Seeeruuuu… gw nggak nyesel deh ‘kejebak’ ikut rombongan itu, walaupun tadinya mah niatnya rada nggak lurus juga. Cuma pengen jalan-jalan ngikut kamil yang bawa mobil. Tapi akhirnya dilapangan, kita jadi ikutan bantu nyembelih. Good… this was my first experience to do this. Kalo jaman SD ato MTs gw Cuma nonton di pinggir lapangan, sekarang jadi ngerasain mengangin kaki kambing yang mau menghadapi ajal itu. Ternyata kambing kalo berontak parah juga ya, gak cukup seorang untuk yang megangin. Apa lagi sapi yang segitu gedenya. Tapi gw nggak ikut megang kalo sapi. [L’Arc En Ciel: “Stay Away”, ON]
Selesai proses ‘eksekusi’, waktunya menguliti dan motong-motong. Nah, kalo ini sih gw lumayan jago. Secara 4 taon dipesantren dan 4 taon kuliah nggak pernah pulang pas idul adha. Kalo dulu dipesantren gw sempet bantu-bantu motong (walopun lebih sering nontonnya). Ngulitin dan motong-motong daging ternak itu ada seninya lho… dan ini kelebihan gw dari anak-anak. Makanya begitu ada pisau nganggur mereka percaya aja ngliatin gw menyayat-nyayat jaringan lemak antara kulit sama otot (halah… ini mah belajar dari praktikum).
Menarik banget proses yang kita jalanin seharian itu. Pas dzuhur, daging udah hampir selesai diplastikin. Ibu-ibu juga ternyata dari tadi udah selese masak untuk kita-kita yang ikut bantuin. Jadilah target ‘pembantaian’ selanjutnya adalah sate kambing, gule, daging bumbu kecap dan… torpedo kambing (Nyerah… nyerah… amit-amit! gak lagi-lagi deh). Puas pisan!
Trus waktu ampe Ashar kita abisin untuk jalan-jalan ke lokasi kurbannya Kamifa (hihi… rikitiw) trus jalan pulang ke Salman.Eh… ternyata ada acara pundung-pundungan di jalan. Tadinya kita ketawa-ketiwi sepanjang jalan, tapi mampir ke Ust. Hervi ternyata STNK si kamil ilang! Nggak ada yang ngerasa megang, padahal sempet (dia ngerasanya sih dikasihin ke dimas/yudhis) dititipin ke yang bawa motor dia. Tiba-tiba suasananya jadi nggak enak lah… gak enak ngeliat si kamil bete gitu, soalnya dulu pas backpacking keliling jateng dulu emang serem ngeliat kamil kalo lagi bete. Akhirnya suasana mobil mendadak sepi sepanjang jalan antara Suci-Salman.
Untungnya abis sholat ashar ternyata STNKnya ketemu. Pundungnya hampir ilang, tapi masih keliatan shocknya. Baru beberapa hari sebelumnya si kamil kehilangan kamera temennya dan harus ngeganti. Yang bikin dia pundung berat tadi sebenarnya karena dia harus ngeluarin kocek gede kalo STNK itu beneran ilang. Ya… sudah lah, alhamdulillah.
Resep + Insting + Nekat = Rendang
Semingguan setelah itu, kita diundang makan-makan di Asrama Turki. Maklumlah, Yayasan Pribadi kalo qurban nggak kira-kira… Sapi aja kalo nggak salah itung ada 50-an lebih. Dari sekian itu puluhan kilo di alokasiin untuk anak-anak di asrama binaannya mereka. Salah satunya ya… asrama temen kita yang di gegerkalong ini. Belom apa-apa si Kamil langsung minta gw untuk siap-siap bikin rendang buat 3 kilo daging pas hari H.
Sebenarnya gw nggak asing-asing banget dalam hal ngeracik rendang, berhubung tiap lebaran kemungkinan besar Ayah dan Ibuku bakal bergotong-royong di dapur. Ya… bisa dibilang gw nggak ‘buta-buta’ banget lah soal resep ini (Please… don’t try this at home kecuali lo cukup pede nggak bakal ‘ngebunuh’ orang dengan masakan lo). Gw masih inget kok cara masaknya.
Untuk masalah bumbu, dari pada gambling mending beli bumbu halus dipasar. Selain racikannya udah (lumayan) pas, kita nggak usah pake acara ulek-ulekan (Iya lah… mau selesai kapan kalo pake acara ngulek bumbu dulu… masaknya aja berjam-jam). Gw sengaja milih ‘daging bagus’ (Daging yang isinya otot semua jadi warnanya merah cerah, nggak terlalu banyak lemak dan jaringan lain yang warnanya putih) buat rendang, soalnya kalo banyak gajih dan urat hasilnya nggak akan terlalu mantep. Kamil hampir protes karena dia pikir bakal lebih enak kalo daging bagus gitu di sate aja. Tapi karena kokinya gw, dia akhirnya nurut aja.
Sebenarnya step untuk bikin rendang nggak susah, tapi mesti sabar. Tinggal di siapin daging, bumbu, santan dan alat-alatnya, trus direbus dulu sampe empuk dan kaldunya keluar. Berhubung daging tadi awalnya dalam keadaan beku, lebih enak motongnya setelah direbus. Pemotongan daging kalo bisa tegak lurus arah serat biar pas dimakan nggak alot.
Setelah daging direbus dan dipotong, kita siapin santannya. Si kamil nggak mau pake santan instan, jadi ya… gw meres santan sendiri. Gw Cuma ambil santan kentalnya aja, ampas kelapanya gw ambil sedikit buat dipake di masakan lain. Trus setelah santan siap baru proses masak yang sebenarnya dimulai. Bumbu ditumis dengan api sedang, trus dagingnya dimasukin, aduk sampe daging kebungkus sama bumbu. Trus kaldu yang tadi kita buat dimasukin, masak dengan api gede sampe kaldunya hampir abis. Trus baru masukin santan, aduk, tungguin sampe mendidih.
Bedanya masakan kayak rendang dengan masakan berkuah kayak sayur lodeh, gule ato kolak adalah rendang nggak perlu sering diaduk. Kalo sayur berkuah kan harus sering diaduk biar santennya nggak pecah, karena rendang agak kering jadi hal itu nggak perlu (gw juga baru tau kalo ternyata masakan yang namanya ‘kalio’ ternyata rendang yang kuahnya gak di masak terus-menerus sampe kering). Setelah mendidih rendang terus dimasak dengan api kecil sampe santennya mengental dan berubah warna jadi kecoklatan (gw sempet salah disini, gw masak dengan api sedang/agak gede, untungnya nggak ngerusak rasanya). Nah… ini nih proses yang paling butuh kesabaran… banget. Gw manfaatin waktu nunggu yang berjam-jam ini dengan masak 2 menu lagi, sop sumsum sapi dan gule iga. Buat dua itu bumbunya nggak susah jadi prosesnya juga nggak ribet, paling bingung nyari panci karena jumlah panci yang dipake pas-pasan banget.
Akhirnya setelah mulai menjajah dapur dari jam 18.30 prosesi masak selesai juga sekitar jam delapanan. Baru deh, acara makan-makannya dimulai. Lauknya ada sate kambing, rendang, gule, dan sop sumsum… pokoknya nampoooooolll banget. Sayang sih, gw udah keburu kenyang karena siangnya ke nikahannya Awan, jadi gak lama kemudian harus nyerah. Tapi alhamdulillah, rendang gw laku keras! Tinggal sisa dikit buat dibawa pulang untuk anak-anak markaz. Perasaan puasnya kerasa banget lah, rasanya bahagia banget bisa bikin seneng orang dengan masakan enak.
Buat gw, masak itu sekarang udah naluriah banget. Sedikit pengetahuan tentang bumbu dan tips ringan untuk mengolah bahan udah lebih dari cukup untuk jadi modal berkreasi sebebas-bebasnya dalam memasak. Dari sini gw jadi inget, pas kelas dua SMU bokap gw dengan setengah becanda pernah nawarin sekolah perhotelan (semacam NHI) di Bandung. Gw sih waktu itu nggak kepikiran sama sekali sama ide gila kayak gitu. Tapi setelah dipikir-pikir, sayang juga ya… gw baru nyadar bahwa sebenarnya gw justru lebih exciting dengan dunia masak, musik dan desain ketimbang ngurusin Saccharomyces di cawan petri ampe ngerjain TA aja bingung. [L’Arc En Ciel: “Round and Round”, ON]
InsyaAllah kedepan buat gw tawaran masak bakal jadi tantangan untuk bisa ngeracik makanan dengan lebih keren dan lebih ‘nendang’ lagi. Gw harus bisa bikin orang tersenyum bukan Cuma dengan banyolan gw, tapi juga dengan ‘tangan gatel’ gw yang nggak bisa diem kalo liat penggorengan, kompor dan talenan. Hahaha… gak rugi lah cewe yang mau nikah sama gw (ngomik mode “ON”: menghadap belakang, tolak pinggang, dengan badan berapi-api yang bikin serem orang, terus ketawa terbahak-bahak padahal sebenarnya garing). [L’Arc En Ciel: “Vivid Color”, ON]
Pieces
[L’Arc En Ciel: “Pieces”, ON]
Nakanaide, nakanaide taisetsu na hitomi yo
Kanashisa ni tsumazuite mo shinjitsu wo mite ite ne
Sonomama no anata de ite
Daisuki na sono egao kumorasete gomen ne
Inottemo toki no nagare hayasugite tooku made
Nagasareta kara modorenakute
Aa, odayaka na kagayaki ni irodorare
Saigetsu wa yoru wo yume ni kaeru mitai dakara
Me wo korashite, saa!
Anata no sugu soba ni
Mata atarashii hana ga umarete
Komorebi no naka de azayaka ni yureteru
Itsumademo mimamotte agetai kedo
Mou daijoubu
Yasashii sono te wo matteru hito ga iru kara
Kao wo agete
Nee tooi hi ni koi wo shita ano hito mo
Uraraka na kono kisetsu aisuru hito to ima
Kanjiteru kana?
Aa, watashi no kakera yo
Chikarazuyoku habataite yuke
Furi kaeranaide hiroi umi wo koete
Takusan no hikari ga itsunohi nimo arimasuyou ni
Anata ga iru kara
Kono inochi wa eien ni tsuzuite yuku
Aa, ryoute ni afuresou na
Omoidetachi karenai you ni
Yukkuri ashita wo tazunete yuku kara
Watashi no kakera yo
Chikara zuyoku habataite yuke
Furi kaeranaide hiroi umi wo koete
Wassalam….
Sunset’s Admirer
Permalink Comments off
Tiba-tiba pengen posting aja…
PHIL COLLINS- Against All Odds
[00:08]How can I just let you walk away
[00:11]Just let you leave without a trace
[00:15]When I stand here taking
[00:18]Every breath with you
[00:23]You’re the only one
[00:26]Who really knew me at all
[00:32]How can you just walk away from me
[00:36]When all I can do is watch you leave
[00:40]’Cause we’ve shared the laughter and the pain
[00:44]And even shared the tears
[00:48]You’re the only one
[00:50]Who really knew me at all
[00:55]So take a look at me now
[00:59]Oh there’s just an empty space
[01:04]And there’s nothing left here to remind me
[01:08]Just the memory of your face
[01:11]Take a look at me now
[01:16]’Cause there’s just an empty space
[01:20]And you coming back to me is against all odds
[01:24]And that’s what I’ve got to face
[01:35]I wish I could just make you turn around
[01:39]Turn around and see me cry
[01:43]There’s so much I need to say to you
[01:47]So many reasons why
[01:51]You’re the only one
[01:53]Who really knew me at all
[01:58]So take a look at me now
[02:02]’Cause there’s just an empty space
[02:06]And there’s nothing left here to remind me
[02:11]Just the memory of your face
[02:14]Take a look at me now
[02:18]’Cause there’s just an empty space
[02:23]But to wait for you is
[02:25]All I can do
[02:27]And that’s what I’ve got to face
[02:30]Take a good look at me now
[02:34]’Cause l’ll still be standing here
[02:39]And you coming back to me is against all odds
[02:44]That’s the chance I’ve got to take
[03:01]Take a look at me now
Permalink Comments off
Hitomi no Jyunin
by: L’Arc~en~ciel
Kazoe kirenai… demo sukoshi no
saigetsu wa nagare
ittai kimi no koto wo dorekurai
wakatteru no kana? (more…)
Permalink Comments off
4th avenue café
Kisetsu wa odayaka ni owari wo tsugeta ne
Idorareta kioku ni yosete
Sayonara ai wo kureta ano hito wa
Kono hitomi ni yurameite ita
Togirenai kimochi nante
Hajime kara shinjite nakatta
Utsuri yuku machinami ni tori nokosareta mama
Yukikau ano hitobito ga ima wa
Tooku ni kanjirarete
Zawameki sae usurete wa
Tameiki ni kiete shimau
Kuuseki ni mitsumerareta
Taikutsu na kyuujitsu wa
Owaru koto naku anata ga nagare tsuzukete iru
Wakatte itemo kizukanai furi shite
Oborete ita yo itsudemo
Dareka no koto omotteru
Yokogao demo suteki datta kara
Kisetsu wa odayaka ni owari wo tsugeta ne
Irodorareta kioku ni yosete
Sayonara ai wo kureta ano hito wa
Kono hitomi ni yurameite ita
Ato… dorekurai darou?
Soba ni… ite kureru nowa
Sou… omoi nagara toki wo kizande ita yo
Yosete wa kaeshiteku… nami no you ni
Kono konoro wa sarawarete
Kyou mo machi wa ai mo kawarazu omoi megurase
Sorezore ni egaite yuku…
Sayonara ai wo kureta ano hito wa
Tooi sora ni koi kogarete
Kono hitomi ni yurameite ita
Utsuri yuku machi nami ni tameiki wa koboreta
Lyric by Laruku
Permalink Comments off