Archive for politik

Lagu lama “Forum Mahasiswa Cinta Bandung”

FORUM MAHASISWA CINTA BANDUNG DUKUNG DADA

Forum Mahasiswa Cinta Bandung Dukung Dada

BANDUNG, DRMC

Sebanyak 140 aktivis kampus dari 20 perguruan tinggi di Bandung yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Cinta Bandung (FMCB), Senin (28/7) melakukan aksi sosial dengan memberi layanan kesehatan gratis bagi masyarakat tidak mampu.

Kegiatan ini murni dilakukan mereka sekaligus membantu ikut kampanye untuk pasangan calon wali kota/wakil wali kota H.Dada Rosada/Ayi Vivananda. Sambil melayani masyarakat, mereka membagi-bagikan pamflet dan selebaran yang isinya menyosialisasikan pasangan Dada/Ayi.

Kegiatan awalnya dari kawasan Andir, selanjutnya massa bergerak hingga ke beberapa daerah. Di Jln. Merdeka Bandung, mereka melakukan aksi simpatik dengan membagi-bagikan selebaran kepada setiap pengguna jalan dan para pengendaraan kendaraan bermotor.

“Ini murni dari kami, karena kami menganggap Pak Dada masih cocok dan masih yang terbaik untuk memimpin Kota Bandung lima tahun mendatang,“ ujar Yudi koordinator aksi sosial. 

Saya dan beberapa kawan ketawa saja dengan tulisan ini dan beberapa spanduk yang terpasang di sudut-sudut jalan bandung dengan mengatasnamakan “Forum Mahasiswa Cinta Bandung”. Langsung terlintas sebuah pertanyaan di benak saya, “Masak iya, sekarang ada mahasiswa yang bisa dibeli sama DADA ROSADA?”. Gak masuk sedikitpun dalam logika saya jika ada mahasiswa yang sekubu dengan si Incumbent ini, karena jelas sikap politik mahasiswa akan berbeda dengan sistem nilai materialis dan penuh kepentingan sesaat tim sukses Dada. Mustahil ada mahasiswa yang masuk ke kubu Dada kalau tidak ada apa-apanya.

Saya mendengar kabar yang lebih nyeleneh lagi. Pak Haru Suandaru mendapat SMS teror dari pihak-yang-tidak-perlu-disebutkan-namanya, yang protes dengan banyaknya aksi mahasiswa menyerang kubu dada, terutama seputar makin menguatnya dugaan korupsi yang dilakukan sang Incumbent ini, salah satunya terkait kasus punclut. Seminggu terakhir ini memang ada beberapa kali aksi mahasiswa yang membawa tuntutan hukum agar dilakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai dugaan korupsi dan kolusi (berdasarkan laporan intelejen kejaksaan seputar kasus punclut yang bocor ke publik beberapa waktu lalu) yang dilakukan Dada Rosada selama menjabat.

Hal yang paling lucu adalah munculnya statement dari pihak penteror, “Ah lagu lama menurunkan mahasiswa kejalan! Ngapain ‘ngirim’ mahasiswa ke kejagung dan kajati segala?”. Hal ini lucu karena pihak yang diteror sendiri tidak tahu menahu secara persis soal seluk beluk geraknya kubu mahasiswa ini. Opini saya pribadi, menurut saya wajar-wajar saja jika TRENDI lebih mendapat dukungan dari kalangan gerakan mahasiswa. Orientasi dan logika mereka match kok satu sama lain. Lagipula mungkin baru fair untuk dikritisi jika para mahasiswa itu tidak membawa argumen dan bukti yang kuat terhadap tuduhan yang mereka alamatkan pada Dada Rosada tersebut. Lha… masalahnya mereka kan membawa argumen dan bukti yang kuat, lagipula mereka bergerak berdasarkan logika dan rasionalitas mereka sendiri. Lalu apa salahnya jika kemudian seakan-akan arus gerakan mereka sejalan dengan apa yang di usung TRENDI?

Justru yang dipertanyakan adalah aksi klaim terhadap dukungan mahasiswa dari kubu Dada Rosada sendiri. Gaya-gaya propaganda yang digunakan tim sukses Dada Rosada (’buntut’nya gak usah disebut lah ya… hanya penjilat yang berhasil mengambil hati Megawati, padahal tidak mengakar di PDIP sendiri) mengingatkan kita dengan spanduk-spanduk dukungan PLTSa yang sempat marak memenuhi Bandung beberapa bulan lalu. Gaya yang mirip itu mengindikasikan bahwa propaganda tersebut ditangani oleh tim media yang sama. Yang butuh dicermati lebih teliti lagi, spanduk PLTSa yang dulu sering kita lihat itu mengatasnamakan warga dari lokasi pemasangan spanduk tersebut. Lucunya, desain spanduknya sama persis dari berbagai lokasi tersebut, hanya berbeda di bagian nama pihak warga yang diklaim.

Nah… sekarang, yang menjadi pertanyaan “beneran gak, ada mahasiswa yang mendukung Dada Rosada? Atau hanya sekedar klaim sepihak saja? Saya dan beberapa kawan jadi tergelitik untuk menantang ‘para mahasiswa’ yang bergabung dengan ‘Forum Mahasiswa Cinta Bandung’ itu. Seperti apa sih tampang mereka? Bisa nggak mereka mempertanggungjawabkan ‘dukungan’ mereka tersebut? Atau mungkin lebih tepatnya, BISA NGGAK TIM SUKSES DADA MEMPERTANGGUNGJAWABKAN KLAIM SEPIHAK YANG MEREKA LAKUKAN? Jadi sekarang siapa yang menyenandungkan ‘lagu lama’ itu?

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Cracker simpatisan TRENDI kalahkan tim IT DADA

Lucunya…

Beberapa hari lalu, kubu TRENDI sempat dibuat ‘gerah’ dengan polling yang dilakukan oleh dua media online, Detikcom dan Tribun Jabar. Yang membuat gerah bukan perolehan suara mereka yang berlomba-lomba dengan pasangan Dada Rosada-Ayi VIvananda, melainkan kuatnya indikasi kecurangan/manipulasi dari ‘kubu tetangga’ itu. Seorang senior saya di tim sukses TRENDI pun sempat menyampaikan kesaya: “Setiap dua hari sekali, suara Dada-Ayi melonjak tidak wajar di polling web. Antum bisa ajak temen-temen netter yang lain nggak untuk ikut voting?”. Beliau juga sempat curhat, dan bertanya, “Antum ada usulan strategi untuk mengimbangi Dada?”. Saya bilang ke beliau, paling strategi yang saya tahu adalah dengan menggenjot jumlah voter dan sedikit bermain dengan jumlah lokasi akses (manipulasi IP), ternyata hal inipun juga sempat terlintas dibenak senior saya itu.

Kita belum sempat menerapkan strategi itu saat tiba-tiba saja kondisi di polling berubah. Kita cuma bisa tersenyum-senyum aja ketika angka polling di tribun jabar tiba-tiba berbalik untuk keunggulan TRENDI. Dari selentingan yang saya dengar, hal ini adalah hasil ulah usil seorang webadmin dari salah satu perusahaan di Bandung yang berhasil mengimbangi manipulasi/akal-akalan tim ITnya Dada Rosada. Terlepas dari benar atau tidaknya berita itu, saya pribadi menanggapinya dengan cengengesan, karena dari kubu TRENDI sendiri keheranan dan tidak tahu menahu masalah ini. Alangkah lucunya jika tim kampanye Dada yang menghabiskan dana besar untuk kampanye web dikalahkan inisiatif usil simpatisan TRENDI.

Efeknya langsung menimpa pihak Tribun Jabar. Saya mendapat kabar kantor mereka segera didatangi tim Dada Rosada yang keberatan jika polling itu tetap dipasang di website. Nampaknya mereka gusar juga dengan ulah tadi. Maka jadilah gambar diatas yang terpampang di sidebar kanan website mereka sebagai pengganti polling. Adapun mengenai polling detikbandung, isunya pun tak kalah ramai di milis PKS. Yang intinya menuntut atas adanya indikasi ketidaknetralan detikbandung dalam pilkada ini (sama seperti ketika pilkada Jabar).

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Akhirnya… Dua Dosen Blogger Itu Bersatu!

Setelah mengikuti sikap PTUN yang cenderung ‘buying time’, SYNAR membacakan sikap politiknya. Salah satu item paling penting adalah:

Seandainya sampai 10 Agustus 2008 tidak ada keputusan PTUN yang sifatnya berkekuatan hukum, SYNAR memberikan kebebasan kepada pendukungnya untuk menyalurkan aspirasi politiknya. Namun, kami menganjurkan agar para pendukung memilih pasangan calon yang mempunyai komitmen yang tinggi untuk memberantas korupsi di kota Bandung.

Setelah membacakan sikap politik tersebut, kami berkonvoy menuju kubu TRENDI yang sedang menyelenggarakan kampanye TRENDI yang terakhir di lapangan Gasibu dengan ribuan pendukungnya. Kami ditemui Taufikurahman di depan pintu parkir masuk restoran Sindang Reret di sekitar Gasibu. Singkatnya, kami menyatakan bahwa program apapun yang dimiliki siapapun tak akan berjalan jika korupsi di kota Bandung masih dibiarkan. Kami menanyakan, apakah TRENDI siap memberantas korupsi di kota Bandung jika terpilih? Taufikurahman langsung menjawab “Siap” dengan yakin.

Dengan jawaban tersebut, SYNAR menyatakan akan ikut mengawal dan mengawasi jalannya pemerintahan di kota Bandung jika TRENDI terpilih, dan jika sampai 10 Agustus 2008 tidak ada keputusan yang menguntungkan SYNAR, kami akan menganjurkan pendukung SYNAR untuk memilih TRENDI.

Akhirnya SYNAR menyinari TRENDI.

HAYU BABARENGAN BEBENAH BANDUNG.

Akhirnya… mimpi saya jadi kenyataan! Dua dosen blogger itu, kini ada dikubu yang sama. Prediksi sayapun tepat, yang menyatukan mereka adalah sikap progresif mereka dalam menyikapi realita sosial. Kenginginan dan komitmen yang sama dari masing-masing kubu terhadap pemberantasan korupsi telah mendorong SYNAR untuk menyatakan sikap dan anjurannya untuk mengusung TRENDI dalam Pilwalkot Bandung 10 Agustus nanti.

Sumber artikel: http://bandungindependen.wordpress.com/

Artikel Terkait:

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Primus Inter Minus Malum

Senin, 02/06/2008
Hajriyanto Y Thohari
Primus Inter Minus Malum

Suka atau tidak suka, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah menjadi sebuah fenomena. Pada saat popularitas semua partai politik merosot dan mesin politiknya macet, PKS menanjak secara fenomenal.

Setelah mampu mengimbangi koalisi (baca: keroyokan) semua partai politik yang mendukung Fauzi Bowo dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta dan kemudian tampil mengesankan dalam serangkaian pilkada di beberapa daerah lain, PKS kini membuktikan diri sebagai parpol yang solid, hidup, dan kuat. PKS tampaknya bukanlah parpol biasa yang konvensional. PKS adalah parpol dengan genre baru yang unik yang telah menjadi semacam komunitas.

Apa yang disebut dengan “komunitas PKS” i tu ada dan nyata. Salah satu karakteristik dari partai dengan genre ini adalah apa kata partai, itulah kata anggotanya! Sementara dalam parpol lain, apa kata partai tidak selalu
paralel dengan apa kata anggota. Padahal paralelisme seperti itu sangatlah sentral dan signifikan dalam sebuah partai politik.

Paralelisme ini bukan hanya menunjukkan soliditas dan solidaritas internal partai, tetapi juga merefleksikan adanya saling kepercayaan (mutual trust) antara anggota dan pimpinan yang juga menunjukkan berjalannya mesin politik sebuah partai. Manakala mesin politik tidak berjalan, sejatinya partai politik tersebut telah kehilangan raison d’etre-nya.

Tan Malaka dalam bukunya Aksi Maksa(1926) menegaskan bahwa “keputusan yang setengah betul tetapi dengan gembira dikerjakan oleh seluruh barisan anggota lebih baik daripada keputusan yang bagus sekali tetapi dikhianati oleh setengah anggota”.

Frase dengan gembira dikerjakan oleh seluruh barisan anggota ini penting karena perasaan gembira inilah yang menjadi roh partai. Seluruh barisan anggota bersedia bekerja menjalankan keputusan partai dengan gembira-meski keputusannya hanya setengah betul-,ini menunjukkan mesin politik dalam partai tersebut berjalan.Inilah yang disebut dengan partai politik yang sebenarnya alias partai politik par excellence!

Sangat sedikit

Di Indonesia sangatlah sedikit parpol yang organisasinya hidup, solid, dan kuat seperti itu. Di antara yang sedikit itu,demikian menurut banyak studi, adalah-jangan terkejut-Partai Komunis Indonesia (PKI). Antonie CA Dake dalam In The Spirit of The Red Banteng: Indonesian Communists Between Moscow and Peking (2002) menggambarkan betapa hidup dan dinamisnya PKI di bawah kepemimpinan Aidit.

Di samping berhasil menghela partai keluar dari isolasi politik,Aidit menerapkan disiplin partai serta membuka diri dengan menggandeng aliansi dengan kalangan borjuis nasional. Begitu pula, “The party was to increase its membership in six months from around 7,000 to 100,000. At the same time, a multitude of mass organizations were to be created or revamped, encompassing not only workers and peasents but also youth, women, poor people,ex-serviceme n, and others.

SementaraTempo( 7 Oktober 2007) melukiskan dengan sangat baik sebagai berikut.” Kantor PKI. adalah markas yang hidup dan bergerak. Organisasi tak hanya mengurus program partai tapi juga tetek bengek lainnya seperti anggota yang meninggal dan melahirkan.

PKI tak hanya menjadi organisasi politik tapi juga menjadi komunitas. Ketika kantor pusat PKI dibangun di Jalan Kramat Raya, Jakarta, sebagian besar dananya diperoleh dari sumbangan anggota yang pengelolaannya dilaporkan secara transparan. Koran Harian Rakjatdigenjot oplahnya hingga mencapai 60 ribu eksemplar–jumlah yang fantastis untuk zaman itu!”

Kini PKS

Tetapi benarkah hanya PKI yang berhasil membangun partai politik yang solid,hidup, dan dinamis seperti itu? Dake dan Tempo harus melakukan koreksi atas teorinya itu atau setidaknya menoleh ke PKS.

Pasalnya, kini telah muncul partai seperti itu, yaitu PKS! Meski secara ideologi dan cita-cita berbeda secara diametral, PKS seperti halnya PKI memiliki mesin organisasi yang hidup, kuat, dan dinamis. Rapat-rapat massa dan rally PKS yang selalu rapi dan disiplin menambah bukti hidupnya partai ini. PKS mengurus anggotanya dan karena itu anggotanya juga menjalankan keputusan partainya, termasuk membayar iuran karena merasakan manfaat dari kehadiran partainya.

Partai bukan hanya menguntungkan dan menjadi alat bagi elitenya, melainkan juga bagi anggotanya dan cita-citanya. Di PKS, presiden partai harus berkonsentrasi penuh untuk mengurus partai dengan segala tetek bengeknya. Ada konvensi yang unik dan menarik di sana: jika presiden partai terpilih menduduki jabatan publik, dia harus melepaskan jabatannya di partai.

Walhasil,dengan tradisi ini,orang yang bersangkutan bukan hanya tidak dihadapkan pada situasi dilematis karena konflik kepentingan akibat
perangkapan jabatan, melainkan juga waktu, energi, dan pikirannya tercurah untuk partai atau jabatan politik yang dipegangnya. Sementara partai-partai politik lain justru punya kelaziman yang sebaliknya: memilih orang yang sedang menduduki jabatan publik (berkuasa) untuk menjadi ketua.

Di sisi lain, untuk mengamankan jabatan publik yang sudah diraihnya (menteri, gubernur, bupati, dan lain-lain), orang tersebut justru semakin
memperkuat cengkeramannya dalam partainya.Rupanya ada psikologi ketakutan dalam diri orang-orang ini bahwa jika posisinya di partai lepas akan membahayakan jabatan politiknya itu.

Walhasil, alih-alih membangun partai menjadi kuat, mereka justru memperalat partai! Dalam suasana kepartaian yang seperti itulah PKS dengan spirit yang merona menyeruak ke depan dalam pentas politik nasional. Primus inter minus malum! (*)

Hajriyanto Y Thohari Pengamat Kenegaraan dan Keagamaan

Sumber: Koran Sindo
Pengirim: Navis Update: 09/06/2008 Oleh: Navis

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Bandung Harus Tahu! Sang Incumbent Terindikasi Korupsi!

Artikel bagus… Bandung harus tahu… Bandung harus tahu…

pemerintahan dada rosada terindikasi korupsi

4 08 2008

Setelah melihat siaran TV one kemarin pagi dan membaca berita okezone malam ini, saya jadi ingin menulis.

Jika kamu sudah memastikan diri untuk memilih incumbent dalam pemilu nanti, harap segera berpikir ulang dan pertimbangkan masak-masak, apa dampak yang akan kamu terima selama 5 tahun ke depan.

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Shalat Leadership

[Skanda Office: Rabu, 25 Juni 2008, 06.30; Ini langkahku!]

Hohoho… ini dia, ada shalat gaya baru. Waduh, itu mah bid’ah atuh. Gak ding, judul tulisan ini terinspirasi dengan shalat subuh tadi pagi di mesjid Daarud dakwah Pelesiran, Tamansari, Bandung, Jawa Barat, Republik Indonesia, Benua Asia, Planet Bumi! (*halah*) Silsilahnya lengkap pisan, ternyata kita begitu kecil di hadapan-Nya sodara-sodara! Ya, aku berbicara tentang shalat subuh berjama’ah yang ternyata memunculkan insight baru tentang kepemimpinan.

Mungkin benar juga apa yang disebutkan oleh orang-orang arif (meskipun nggak pake ‘Rahman Lubis’) bahwa shalat berjamaah itu adalah miniatur kepemimpinan dalam umat. Jadi wajar jika ketertiban dan keteraturan yang ada dalam prosesi shalat berjama’ah itu seharusnya membekas pada kehidupan keseharian kita, kalau memang kita mendambakan kehidupan bermasyarakat yang teratur (mungkin enaknya pake istilah madani kali ya, biar keren). Ada beberapa nilai yang bisa kita ambil dari shalat berjama’ah, yang kalau dipikir-pikir mungkin analog dan bersifat solutif dalam pembentukan masyarakat madani seperti tersebut diatas.

Nilai pertama adalah bahwa dalam sebuah jama’ah atau masyarakat dibutuhkan kesefahaman (saya mencoba membedakannya dengan keseragaman yang monoton) visi dan tujuan. Maka dari itu, fungsi imam sebagai pemimpin shalat tidak membuka peluang untuk adanya suatu dualisme kepemimpinan, baik secara dzahir maupun bathin. Secara dzahir, gerakan shalat yang dilakukan semua makmum jelas harus mengikuti apa mau imam. Bahkan kalau ada kesalahan atau kelupaan yang dilakukan imam, maka semuanya harus ikut sujud sahwi. Begitu pula jika ada ayat sajadah yang di bacakan, dan imam memutuskan untuk sujud ditengah ayat, semua makmum pun mengikuti. Secara bathin, niat shalat pun harus sama antara imam dan makmum. Mungkin sedikit pengecualian dalam kondisi safar dan dilakukan jama’ qasar dan menjadi ma’mum masbuq ketika kita tidak tahu (barisan shalat) jama’ah yang kita ikuti sedang shalat ini atau shalat itu (wadoh… ini bid’ah lagi, ada ya shalat ‘ini’ dan ‘itu’?).

Nilai kedua, kita sih boleh tawadhu, tapi shalat berjama’ah tetep harus ada imamnya. Ada hal yang menyentil sensor inspirasi saya saat shalat subuh tadi pagi. Selama beberapa saat jama’ah shalat subuh berbaris rapi tanpa ada seorangpun yang mau maju kedepan sebagai imam. Semua saling mempersilahkan jama’ah yang lain karena sama-sama kurang pede. Seorang bapak mempersilahkan seorang mahasiswa ber-sarung-peci-baju koko untuk maju, tapi orang yang disuruh itupun mempersilahkan sang bapak untuk maju pula. Akhirnya satu orang berkacamata yang berdiri diantara mereka memutuskan untuk maju dan memimpin shalat. Tanpa maksud mencela, saya nilai bahwa si mas ini punya masalah dengan tahsin (pertanyaan 1: Siapakah Tahsin itu? A. anaknya ustad Husin, B. Anaknya ustad Mukhlis, atau C. Bukan anak saya).

Nah, kontras sekali dengan kondisi perpolitikan indonesia dan dunia pada umumnya (lho?), mayoritas politisi sudah putus urat malunya untuk mengevaluasi layak tidaknya dirinya untuk maju. Bahkan mungkin sampai ada yang memohon-mohon atau menghalalkan segala cara agar bisa terpilih kembali untuk suatu jabatan. Yang bisa kita ambil mengenai kepemimpinan dalam shalat, kita biasanya berpikir panjang sebelum memutuskan untuk mengimami shalat. Intinya adalah kehati-hatian dalam melihat tanggungjawab yang akan atau harus diemban. Apakah ada yang lebih tua/sepuh? Atau adakah yang lebih fasih bacaannya? Atau adakah yang hafalannya lebih banyak? Hal ini wajar karena kita sadar beban yang ditanggung oleh seorang imam shalat. Masalahnya adalah, mengapa para politisi kita [kebanyakan] tidak berpikir seperti kumpulan calon makmum menentukan imam shalatnya?

Ibroh yang bisa diambil dari kejadian tadi, bahwa ternyata berinisiatif memimpin itu penting, tetapi sebelum kita memutuskan berinisiatif itu, membekali diri dengan kompetensi juga tidak kalah penting (Jleb. Sindiran telak untuk diri sendiri! Ayo lulus, hiks!). Maka dari itu mungkin alternatif terbaiknya adalah apapun yang terjadi di masa depan kita terus berusaha membekali diri dengan berbagai kompetensi tanpa ngoyo mengejar posisi. Tetapi ketika orang-orang disekitar kita ternyata menghendaki kita untuk memimpin (mungkin karena melihat dedikasi dan kompetensi tersebut), maka mantapkan diri untuk maju mengemban amanah tersebut semaksimal yang kita bisa.

Satu nilai lainnya adalah tentang butuhnya mekanisme koreksi yang baik dan beradab untuk mengingatkan kesalahan pemimpin. Pernah liat ada Imam dijitak sama makmumnya? Ditempeleng atau digebuk dari belakang mungkin? Tentu tidak kan sodara-sodara? Dalam shalat mekanisme tersebut dilakukan dengan mengucap subhanallah untuk laki-laki (untuk perempuan klo nggak salah menepuk tangan kan ya? Wallahu a’lam). Menurut saya pribadi bentuk koreksi semacam itu dalam kehidupan riil bisa dilakukan dalam bentuk audiensi ke lembaga legislatif atau aksi simpatik. Yang tidak diharapkan adalah bentuk-bentuk penyampaian koreksi yang rusuh dan menimbulkan kerusakan sehingga malah menyebabkan antipati di masyarakat.

Sebenarnya mungkin masih banyak ibroh yang bisa kita ambil dari shalat berjamaah. Namun mungkin tulisan ini hanya sampai disini, semoga bisa menjadi pancingan bagi kita semua untuk lebih menghayati ibadah yang kita lakukan agar memiliki efek dalam keseharian kehidupan kita. Tulisan ini mungkin menjadi sebuah koreksi bagi penulis pribadi. Semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan keren di masa depan (*halah*). Amin.

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Taufikurahman-Abu Syauqi untuk Kota Bandung

Kemarin adalah hari yang bersejarah buatku. Pertama, karena kemarin adalah hari deklarasi pasangan Calon Walikota-Wakil Walikota Bandung yang diusung oleh PKS. Kedua, karena ada ‘deklarasi yang lain’ di GOR Citra Arena Cikutra itu (*halah* deklarasi…). Hmmm… kita simpan saja dulu ceritanya untuk nanti. Yang terpenting adalah moment utama dari kehadiran kader dan simpatisan PKS disana, yaitu pengumuman siapa yang akan mendampingi Dr. Taufikurahman sebagai Calon Wakil Walikota Bandung periode 2008-2013.

Saya yakin tidak hanya saya yang berdebar-debar menanti siapakah orangnya yang akan mengemban amanah berat sebagai Cawawalkot PKS tersebut. Format acara pun bisa dikatakan agak diplot surprise. MC yang berada didepan membuat para hadirin penasaran dan menerka-nerka siapa orangnya. Saat MC menunjuk kearah audience tersebut, beberapa ‘cawawalkot bayangan’ terlihat melambai-lambai dari beberapa sisi, membuat audience semakin penasaran. Beberapa saat kemudian akhirnya barulah MC mengumumkan nama Dedi Triesnahadi atau lebih dikenal dengan sebutan Abu Syauqi. Takbir segera bergemuruh memenuhi ruangan GOR.

Setelah penantian dan musyawarah yang alot di internal partai ini, akhirnya terpilihlah ustadz Abu Syauqi pada dini hari, tanggal 22 Juni 2008. Yang bersangkutan pun cukup kaget saat menerima telepon dari Pak Haru (Ka DPD PKS Bandung). Meskipun secara resmi mengundurkan diri sebagai simpatisan beberapa waktu sebelumnya, ternyata tidak menghalangi musyawarah untuk menetapkan pendiri rumah zakat ini sebagai pendamping pak Taufik. Satu hal inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan barisan PKS. Mereka bukan memilih orang-orang yang bernafsu menggapai kekuasaan dengan cara apapun, melainkan figur tawadhu yang secara individu menolak kekuasaan tersebut namun jika ternyata kehendak jama’ah ini menentukan dirinya harus mengemban amanah tersebut, maka ia dengan lapang dada siap mengemban amanah tersebut.

Saya pribadi melihat kombinasi Taufikurahman dan Abu Syauqi merupakan perpaduan yang tepat. Dr Taufik dengan latar belakang kepakaran dan Akademisinya cocok menjadi figur konseptor kebijakan. Disamping itu, eksistensinya sebagai seorang blogger juga menjadi nilai lebih dalam masalah kritisisme dan kepekaan terhadap fenomena sosial yang ada dalam masyarakat. Adapun Abu Syauqi dengan latar belakangnya sebagai pendiri Rumah Zakat adalah sosok praktisi di bidang sosial kemasyarakatan. Pengalamannya dalam mengemban amanah pengelolaan dana umat bagi saya pribadi merupakan jawaban dari masalah korupsi yang selama ini telah mengakar di birokrasi kita. Konsep yang dibawa islam dalam pengelolaan dana umat semoga juga dapat diaplikasikan dalam pengelolaan APBD kota Bandung, sehingga masyarakat bisa lebih merasakan secara utuh alokasi anggaran tersebut.

Menyoroti kedua figur ini, kita juga akan menemukan bahwa mereka berdua berasal dari komunitas yang memegang nilai keagamaan secara kuat. Pak Taufik menghabiskan masa kuliah S1 dan S2 di lingkungan masjid Salman. Sebuah masjid yang dicatat sejarah sebagai masjid kampus pertama dan serta pembinaannya yang fenomenal dalam event LMD (Latihan Mujahid Dakwah) yang telah melahirkan tokoh-tokoh nasional sekelas Al-Hilal Hamdi (mantan Menaker), Hatta Radjasa (Menristek), Husni Thamrin (anggota DPR dari Golkar), Irfan Anshari (anggota DPRD Jabar), Alimin Abdullah (Bendahara PAN) dll. Selain itu beliaupun sejak dekade ‘90-an telah dikenal di komunitas ISNET, komunitas netter tertua indonesia yang banyak berisi aktivis muda islam. Sedangkan Ust. Abu Syauqi sejak 1998 telah dikenal sebagai seorang dai muda bandung. Ia bersama dengan pengajian majlis ta’lim Ummul Quro berinisiatif untuk mendirikan Dompet Sosial Ummul Quro (DSUQ) yang bertujuan mengelola dana umat dari zakat, infaq, shodaqoh dan wakaf secara lebih profesional dengan menitikberatkan program pendidikan, kesehatan, pembinaan komunitas dan pemberdayaan ekonomi sebagai penyaluran program unggulan [1]. DSUQ inilah yang kemudian hari bertransformasi menjadi Rumah Zakat Indonesia.

Pantas bagi kita untuk menaruh harapan besar pada pasangan ini untuk dapat menjadi pengusung perubahan bagi ibukota Jawa Barat yang semakin hari semakin semrawut dengan segala masalahnya. Tentunya tidak sekedar menaruh harapan kemudian menonton perkembangan yang terjadi. Kemenangan tidak akan datang dengan sendirinya. Butuh aksi dan kontribusi riil dari kita semua agar perubahan dikota bandung dapat terwujud. Langkah paling dekatnya adalah bergabung dengan barisan pendukung Taufikurahman-Abu Syauqi dan berkontribusi dengan apapun yang kita punya. Maka dari itu saya menyatakan siap untuk memberdayakan blog ini semaksimal yang saya bisa untuk mengkampanyekan pasangan ini. SAYA MENDUKUNG TAUFIK-ABU SYAUQI, BAGAIMANA DENGAN ANDA?

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Pasarku Oh… pasarku…

Pak Taufik kunjungan ke pasar

Liat foto dari flickrnya pak taufik ini jadi inget sama acara peletakan batu pertama pasar balubur. Kalo sedikit mencermati lebih teliti, kasak-kusuk soal relokasi pasar balubur ini udah mulai kerasa sejak saya baru jadi mahasiswa, sekitar 2003-2004. Heran tuh incumbent… jadi selama masa kerjanya 5 tahun kemarin kemana wae? kenapa baru sekarang-sekarang (saat udah mau pilkada lagi) hal beginian baru ‘MULAI’ direalisasi? Apa sekedar make-up politik semata kah?

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Kalo cawalkot kita bergaya… hehehe

Ckckck... si Om Gaya euy...

Gaya... gaya... gaya

[NB: Semua gambar boleh nemu di Flickr, stok fotonya team sukses ceunah...]

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Taujih Ust. Tate Ahad Kemarin

Sebenernya ada sedikit penyesalan saat saya terlambat tiba di Habib siang itu. Aku tiba pukul setengah dua siang, sedangkan agenda yang dijadwalkan oleh panitia adalah pukul duabelas. Meski begitu aku masih bersyukur bahwa aku datang saat itu tanpa keterpaksaan apapun, bahkan sedang bersemangat mengejar isian ruhiyah baru dari taujih kali ini. Sebenarnya aku sedikit ragu, karena rekan-rekan sehalaqah tidak ada yang memutuskan datang sehingga aku datang sendirian.

Habib hari itu sangat-sangat ramai. Motor-motor memenuhi lapangan parkir. Rombongan akhwat jilbab lebarpun terlihat berduyun-duyun memasuki masjid. Ada diantara mereka yang baru saja turun dari angkot tepat didepan gerbang, sebagian yang lain terlihat berjalan bergerombol dari depan gerbang citepus. Mungkin mereka baru saja menyelesaikan agenda halaqahnya. Sudah umum diantara ikhwah bahwa hari sabtu dan ahad sebagai hari ‘Liqo Akhwat Nasional’ karena memang mereka banyak meletakkan agenda pekanannya saat weekend.

Kedatanganku tepat saat seorang ustadz sedang memulai taujihnya. Selesai berwudhu aku segera memasuki masjid. Di pintu masjid seorang ikhwan menepuk betisku pelan. Ah… wajah yang cukup kukenal. Ternyata pak Dudi Lutpi, mas’ul kepemudaan di DPD. Subhanallah, satu hal yang kukagumi dari beliau adalah beliau masih mengingatku persis. Padahal kami sudah 1,5 tahun tidak bertemu setelah masa-masa pembentukan tim P2B kota Bandung. Aku sedikit kelabakan dan malu mengingat bahwa sudah 1,5 tahun ini aku menghilang dari tim itu.

Aku tidak terlalu mengenali wajah sang ustadz, berhubung sebenarnya aku jarang sekali ikut acara semacam ini. Beliau berorasi dengan begitu bersemangat. Aku tidak tahu persis apa temanya, yang pasti saat aku mulai mendengarkan beliau sampai pada bahasan mengenai tafsir Al-Muddatstsir. Kurang lebih isi bahasannya seperti ini:

Seperti kita tahu, rangkaian ayat pertama yang diturunkan oleh Allah pada Nabi Muhammad SAW adalah “Iqra!”, Bacalah! Rangkaian ayat ini bisa ditafsirkan sebagai perintah bagi manusia untuk belajar dan menyerap beragam informasi yang telah disediakan Allah melalui ayat-ayat kauni dan ayat-ayat qaulinya. Hal yang menarik adalah, bagaimana setelah rangkaian surat Al Alaq ini turun, maka Allah kemudian menurunkan surat Al-Muddatstsir (Orang yang berselimut).

Berdasarkan shirah, Al Muddatstsir turun ketika nabi pulang kerumahnya dalam keadaan begitu syok dan terguncang dengan pertemuannya dengan Jibril saat bertahannuts. Istrinya Khadijah segera menyelimuti Rasul yang terlihat menggigil seperti orang kedinginan itu. Saat itulah wahyu ini diturunkan.

Ayat 1:

Kata ‘muddatstsir’ yang disebutkan di ayat ini yang sekaligus menjadi nama surat ke 74 ini secara harfiyah berarti orang yang berselimut. Istilah ‘berselimut’ dalam ayat ini dapat ditafsirkan (seingat saya Ustadz menyebut menurut Fi Dzilalil Quran) dalam pengartian yang luas. Dalam hal ini ’selimut’ yang dimaksud mencakup segala hal yang menghalangi semangat seseorang, sehingga selimut yang dimaksud dapat bermakna ’selimut kemalasan’.

Ayat 2:

Ada dua perintah yang diberikan oleh Allah pada Rasulullah SAW, ‘qum!’(bangkitlah/bangunlah) dan ‘Andzir!’ (serulah!), dimana kedua fi’il amr ini tidak memiliki maf’ul bihi. Berkaitan dengan ayat pertama, kata ‘qum’ berarti bangkit dari segala ’selimut kelemahan’ yang membelenggu ruh kita untuk bangkit. Sedangkan perintah ‘andzir!’ adalah perintah untuk menyerukan apa yang telah diwahyukan pada ayat surat Al-Alaq. Ketiadaan maf’ul bihi (objek penderita) dalam kalimat perintah itu dapat ditafsirkan sebagai universalitas dakwah islam. Dakwah Rasulullah sebagai rasul terakhir ditujukan kepada seluruh umat manusia, dan bukan pada suku, ras, golongan, gender atau kalangan tertentu. Fragmen ayat ini sekaligus juga menjadi perintah dakwah pertama bagi kaum muslim untuk menyeru pada seluruh manusia.

Ayat 3:

Dalam ayat ketiga (’wa Rabbaka fa Kabbir’/”Dan Nama Tuhan-Mu, Besarkanlah!”), terdapat suatu keunikan karena Allah SWT menggunakan susunan kalimat ‘wa rabbaka fa kabbir’ dan bukan ‘fa kabbir rabbaka!’ (besarkanlah nama Tuhanmu!) meskipun keduanya memiliki makna yang nyaris sama persis. Penafsiran mengenai hal ini ada tiga poin:

  1. Bahwa dakwah islam hanya memiliki satu visi, yaitu untuk membesarkan nama Allah SWT. Maka dari itulah ‘rabbaka’ menjadi penekanan dengan diletakkan pada awal kalimat tersebut. Ini adalah penegasan pula bahwa kita berdakwah bukan untuk sebuah kemenangan partai, kemenangan seorang kepala daerah/kepala pemerintahan, melainkan semata untuk menegakkan nilai-nilai islam dimuka bumi ini. Nilai yang bisa diambil disini adalah kelurusan niat.
  2. Bahwa sebesar apapun tantangan dan hambatan yang kita alami dalam jalan ini sesungguhnya tiada artinya dibawah ke’Maha Besar’an Allah SWT. Hal ini sekaligus isyarat bahwa dakwah islam dibangun atas dasar tauhid yang murni, dengan penafian segala kebesaran dzat kecuali kebesaran Allah SWT semata. Nilai yang bisa diambil adalah pentingnya menjaga ma’nawiyah dalam menjalani aktivitas dakwah.
  3. Bahwa dakwah Islam didasari semata atas dasar keikhlasan. Melepaskan semua bentuk motif-motif kesombongan dan takabur yang ada dalam aktivitas dakwah kita, karena hanya milik Allah SWT lah segala Kebesaran. Nilai yang bisa diambil adalah pentingnya kelurusan niat dan keikhlasan dalam beramal.

Ayat 4:

Dalam ayat ini kata ‘bersihkanlah!’ memiliki arti membersihkan diri, hati, niat, dll sehingga karakter/kepribadian yang menarik terpancar dari diri seorang muslim (Jleb! Kena deh!).

Ayat 5:

‘Rujza faHjur’ memiliki makna perintah untuk menghindarkan diri dari segala bentuk kemusyrikan, diantaranya saat niat kita kurang lurus.

Ayat 6:

Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak mengharap-harapkan datangnya balasan yang lebih didunia dari apa yang kita keluarkan dalam amal-amal kita. Meskipun ada pula janji Allah SWT tentang datangnya balasan berlipat didunia dan akhirat dari apa yang kita korbankan. Intinya adalah Tadhiyah dan keikhlasan!

Ayat 7:

Ayat ini menegaskan tentang arti penting tawakkal dan kesabaran setelah segala sesuatu yang kita ikhtiarkan. Ini berkaitan dengan peringatan yang diberikan Allah di surah Al Hajj seputar ‘Kemenangan-kemenangan yang tertunda’. Pemaknaan lebih dalam dari ayat ini merupakan pengingat kita bahwa makna ‘kemenangan’ bagi Allah begitu luas. Apa yang secara dzahir terlihat seperti kegagalan dari sudut pandang manusia bisa jadi sebenarnya kemenangan yang gemilang (berupa ganjaran pahala) dimata Allah atau terdapat hikmah yang mungkin saat itu akan sulit dicerna oleh pikiran manusia, namun terungkap setelah sekian waktu berjalan.

Contoh (oleh-oleh DMM nih), saat Baghdad diduduki pasukan Mongol, ternyata kemudian dakwah islam justru menjadi menemukan ‘kebangkitan baru’ dengan terbukanya jalur laut perdagangan ke Gujarat, yang akhirnya merambah hingga ke Nusantara. Tanpa adanya tragedi penaklukan Baghdad tersebut, mungkin dakwah sampai ke negeri kita akan tertunda puluhan hingga ratusan tahun. Contoh lain misalnya hikmah dibalik perjanjian hudaibiyah yang menjadi pintu ekspansi dakwah  yang lebih luas bagi kaum muslimin.

Alhamdulillah, Allah masih menganugerahkan semangat bagi saya untuk merecharge ruhiyah saya hari ini. Semoga menjadi washilah menjadi diri yang lebih baik dan lebih produktif. Semoga rangkaian taujih hari ahad kemarin menjadi sumber telaga semangat dan inspirasi menuju kemenangan di Pilkada Bandung dan Pemilu Nasional.

Oh iya satu lagi, setelah tanya kanan-kiri, barulah saya ngeh bahwa itu yang namanya ustadz Tate Qomarudin. Hmm… akhirnya saya bertemu dengan orang dibelakang lirik-lirik ‘maknyus’ Shoutul Harokah. Ah dasar gaptar(gagap tarbiyah)nya saya… hehehe.

Wallahu a’lam bisshawab…

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

buy cipro buy clomid buy proscar buy cialis buy viagra buy diflucan

Comments off

Jawaban bagi saudaraku…

Setelah artikel ini, yang kemudian saya tanggapi dengan ini, penulisnya kemudian memberikan tanggapan lebih lanjut yaitu ini. Oleh karena itu saya coba untuk memberikan tanggapan sebagai berikut:

Hmm… ok, Insya Allah saya bisa menangkap pesannya. Oleh karena itu saya mohon maaf, berarti masalah ini ada pada tataran perbedaan pandangan kita seputar dakwah politik serta bagaimana kita memandang hubungan kita sebagai individu muslim dengan ulil amri/penguasa. Hal ini bersifat furu’iyah (ijtihadi dalam dakwah), dan bukan hal yang bersifat Ushul (pokok ).
Saya menghormati argumen dan sikap antum tersebut seutuhnya, namun disamping itu saya berharap pula antum bisa menghormati sikap yang kami pilih yang meninjau fenomena ini dari sudut pandang berbeda. Sekali lagi, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga gesekan-gesekan kecil dalam hal pemikiran ini tidak menghalangi kita untuk tetap berukhuwah sebagai sesama muslim.

Penyebab utamanya telah jelas, yaitu bagaimana masing-masing memahami interaksi antara seorang muslim dengan pemerintahnya memang sama sekali berbeda. Tanpa mencoba untuk merendahkan atau beradu/menyanggah argumen beliau, saya coba memaparkan sedikit dari apa yang saya pahami. Bahwa sebagaimana rukun islam yang lima, dakwah dan amar ma’ruf nahyi munkar merupakan kewajiban yang secara inheren muncul bersama dengan keislaman kita. Pada intinya, dakwah merupakan kewajiban yang melekat pada diri seorang muslim.

Salah satu bentuknya adalah mengkritisi dan meluruskan kedzaliman yang dilakukan institusi pemerintah terhadap rakyat yang diayominya. Inti dari keberadaan pemerintahan adalah untuk memberikan kemaslahatan bagi ummat, jika hal itu tidak dapat dilakukan oleh ulul amri dan bahkan cenderung terjadi hal sebaliknya (eksploitasi rakyat secara zalim) maka sudah sepatutnya sebagai seorang muslim mengingatkan. Tujuannya agar yang sudah salah tidak semakin bertambah salah.

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-ra’du: 19)

Wallahu a’lam bishshawab

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Negeri Penghutang Bermobil Mewah

Saya tiba-tiba tertarik untuk memberi komentar terhadap artikel milik “Jagoan Saya” ini. Berkaitan seputar kesemrawutan lalu lintas kota bandung dan juga isu Pengurangan “Subsidi” (yang menurut pak Kwik sebenarnya mengada-ada) BBM, menurut saya pembatasan tempat parkir bukan suatu solusi yang tepat, setidaknya untuk menjawab dua masalah sekaligus. Bagaimanapun saya pikir sumber masalahnya adalah terlalu banyaknya jumlah kendaraan yang dimiliki penghuni Republik indonesia. Jadi solusinya (edited)…

Menurut saya yang harus dibatasi bukan parkirannya pak… Tapi jumlah kendaraannya.

Nyambung dengan kasak-kusuk akhir-akhir ini soal BBM dan Bantuan Langsung Tewas (karena rebutan) sebenarnya langkah pengurangan subsidi yang dilakukan pemerintah bisa kita nilai sebagai kebijakan yang tidak perlu terjadi.

Ahmadinejad bisa membuat subsidi BBM bagi masyarakatnya hingga dibawah Rp. 1000/L, tetapi dengan konsekuensi logis, jumlah kendaraan dikurangi (diantaranya kebijakan 1 keluarga 1 mobil, pelarangan penggunaan mobil tua dan pengetatan peraturan kepemilikan mobil baru). Kebijakan penaikan harga BBM oleh pemerintah menurut saya hanya menambah ironi yang terlihat dari bangsa ini.

Saat mahasiswa, karyawan dan buruh berdemo protes kenaikan harga BBM, ternyata banyak juga masyarakat yang protes karena kendaraan pribadinya terjebak macet karena demo tersebut. Padahal kalau jumlah kendaraan pribadi bisa direduksi dan fasilitas transportasi umum bisa dibenahi, kemacetan bisa hilang dengan sendirinya.

Wajarlah jika kemudian bangsa yang miskin fisik dan moral ini membuat orang luar terbengong-bengong. Saat mereka ingin mengucurkan ‘bantuan’ a.k.a hutang, yang mereka temui adalah serombongan pejabat berjas diatas mobil berkursi empuk dan sejuk ala selebritis. Padahal mereka sendiri hanya naik transportasi umum.

Jadi, masalahnya sekarang jumlah kendaraan atau luas area parkir di Bandung?

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Seandainya Pemerintah Kita Tidak Tuli…

Saya baca artikel ini, dan merasa perlu memberikan tanggapan seperti dibawah ini (Siapa tau orangnya menolak komentar saya):

Wallahu A’lam ya…
Saya termasuk yang pro terhadap Demonstrasi dengan banyak argumen:

Pertama, karena pengungkapan aspirasi paling murah dan dapat menggugah perhatian orang banyak adalah demonstrasi. Yakinlah mas, mau sekeren apapun konsep dan solusi yang anda buat untuk masalah bangsa ini, kalo anda nggak bisa menyampaikannya pada pejabat kita yang tuli dan mati hati di jakarta sana maka konsep anda sampai kapanpun hanya sekedar tumpukan kertas.
Kedua, mahasiswa dan demonstran itu bukan selebritis mas, temen2 kita yang buruh juga bukan artis. Tapi mereka punya aspirasi untuk pemerintah/legislatif. Apa anda pikir jika mereka ngirim perwakilan ke Istana/DPR suara mereka akan didenger? NGGAK mas! Kenyataan dilapangan: Kalo aspirasi kita-kita yang rakyat kecil ini mau didenger, nggak ada jalan lain bahwa Demonstrasi lah sarananya.
Ketiga, masalah kemudian banyak efek samping dari demonstrasi seperti kemacetan dan kerusuhan, itu sih balik lagi ke para demonstran dan manajemen massanya. Bukti nyatanya bahwa demonstrasi itu tidak selalu berefek buruk ada kok. Coba anda perhatikan kalo Kader PKS (bahkan sejak 1999 masih bernama PK) turun kejalan, sudah hampir dipastikan polisi udah nggak dibutuhkan di jalanan untuk menjaga ketertiban demo. Mereka udah bisa mengatur diri mereka sendiri.
Jadi kesimpulannya… ‘DEMO = Rusuh + Macet’ itu nggak benar…

Saya ingin menutup posting ini dengan 3 buah lagu aksi yang sampai sekarang masih melekat dihati:

Lagu pertama adalah lagu yang paling sering digunakan pada Aksi kabinet KM ITB masa Presiden Ahmad Mustofa hingga Anam:

Kepada para mahasiswa, yang merindukan kejayaan…
Kepada rakyat yang kebingungan, dipersimpang jalan…
Kepada pewaris peradaban, yang telah menggoreskan…
sebuah catatan kebanggaan, dilembar sejarah manusia…

wahai kalian yang rindu kemenangan, wahai kalian yang turun kejalan
demi mempersembahkan jiwa dan raga, untuk negeri tercinta (2X)

Lagu kedua, kreasi dari rekan-rekan aktivis kiri. Tapi pesan dan semangat yang dibawa sebenarnya universal:

Buruh, Tani, Mahasiswa, Rakyat Miskin Kota

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
bersatu padu tuntut perubahan
bersatu tekad dalam satu suara
demi tugas suci yang mulia

Hari-hari esok adalah milik kita
terciptanya masyarakat sejahtera
terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa orba

marilah kawan mari kita berjuang
di tangan kita tergenggam arah bangsa
ayolah kawan ayo kita dendangkan
sebuah lagu tentang perubahan

di bawah topi jerami
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

di bawah topi jerami
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
bersatu padu tuntut perubahan
bersatu tekad dalam satu suara
demi tugas suci yang mulia

Hari-hari esok adalah milik kita
terciptanya masyarakat sejahtera
terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa orba

marilah kawan mari kita berjuang
di tangan kita tergenggam arah bangsa
ayolah kawan ayo kita dendangkan
sebuah lagu tentang kebebasan

di bawah rezim tirani
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

di bawah rezim tirani
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

bagiku suatu langkah pasti

Lagu ketiga, kebanggaan mahasiswa ITB. Judulnya Kampusku, sebuah simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan militer terhadap mahasiswa selama orde baru. Sekarang jadi simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan rektorat terhadap kreativitas mahasiswanya:

“Kampusku rumahku, Kampusku negeriku
Kampusku kebebasanku, Kampusku wahana kami

Di sana kami DIBINA, menjadi MANUSIA DEWASA
Namun kini apa yang terjadi, ditindas semena-mena

Berjuta Rakyat menanti tanganmu, mereka lapar dan bau keringat
Kusampaikan salam-salam perjuangan, kami semua cinta-cinta Indonesia.”

Semoga jadi janji yang tidak akan pernah mati:
SALAM GANESHA!! BAKTI KAMI, UNTUKMU TUHAN, BANGSA DAN ALMAMATER! MERDEKA!

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Dr. Taufikurahman for Bandung City