Archive for proses

Alhamdulillah, Kita Menang!

Saya membaca posting ini dan coba memberikan sedikit opini saya tentang pilwakot Bandung.

Menurut saya kita gak kalah…
Masih terlalu banyak hikmah yg bs diambil dari pilwakot ini…
Kang Haru pernah bilang (pendekatan konteks), sebenarnya gak ada istilah ‘kita menyelamatkan bandung’ yang ada adalah ‘warga bandung menyelamatkan diri mereka sendiri’. Kalau ternyata ‘yang itu-itu lagi’ yang menang, berarti warga bandung belum siap menyelamatkan kota mereka, atau persepsi mereka tentang ‘kota bandung yang terselamatkan’ masih berbeda dengan persepsi kita.
Pas jaga jadi saksi di TPS kemarin, saya ngobrol sama seorang ketua RT. Beliau curhat, “seandainya ini (PKS) berkoalisi dengan itu (beliau menunjuk PAN), saya yakin mereka juaranya.”. Pembicaraan itu saya endapkan dipikiran saya hingga beberapa jam kemudian dan kemudian saya teringat bahwa apapun hasil (fisik) pilkada ini, yang kita usung adalah hasil dari sebuah musyawarah dan keberkahan  proses syurolah (serta ridho Allah) yang kita kejar.
Dan hikmah yang bisa saya ambil adalah, Allah memberikan hadiah yang lebih besar buat jama’ah ini. Mungkin, jika memang kita berkoalisi dengan partai lain kemenangan itu bisa kita raih. Tetapi bisa jadi muncul ganjalan-ganjalan didalam internal ikhwah yang tidak sepakat dengan koalisi tersebut. Sekarang, memang kita tidak ‘memperoleh suara terbanyak’, tapi Alhamdulillah, Allah menjaga soliditas ikhwah di Bandung. Dengan segala bentuk aktivitas kita selama musim kampanye kemarin (DS, atributisasi dll), insyaAllah, Allah telah memberikan tadrib amal dan telah melengkapi perbekalan kita untuk menyongsong pemilu 2009. Amin…

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Kakak mana yang akan rela!

Sabtu kemarin akhirnya saya memutuskan untuk pulang kampung kerumah orang tua di jakarta. Ini adalah awal tahun ke-6 dikampus. Mungkin bisa dikatakan sudah terlalu lama saya dikampus, sehingga saya sudah meniatkan untuk tidak memberatkan orangtua lagi masalah biaya kuliah. Niatnya sih sudah ada, tapi jalannya ternyata belum ada. Kerjaan yang baru kurang lebih sebulan ini saya jalani belum cukup menjanjikan untuk jadi sandaran pembayaran uang kuliah. Lagipula, saya sendiri merencanakan gaji pertama akan saya gunakan untuk mencicil rumah kontrakan. Apapun yang terjadi beberapa bulan ini, inilah persiapan yang saya coba lakukan.

Seperti apapun hidup yang kita jalani, pada hakikatnya itu hanyalah rangkaian rencana Allah yang terjadi pada diri kita. Kita sama sekali tidak memiliki kekuatan apapun dalam menentukan akan seperti apa nasib kita dimasa depan. Begitu juga hari itu, sabtu lalu, selepas SPN aku berencana untuk langsung ke stasiun. Pagi harinya aku sudah titip-titip ke Zamzam dan Ninda agar rapat GPH bisa berjalan. Namun ternyata ada yang merubah rencanaku ketika kelas SPN berjalan. Sebuah jarkom masuk, dengan gaya perintah yang nggak mungkin aku tolak, aku memutuskan mengundur keberangkatanku hingga sore tiba. Akhirnya, aku tidak memiliki alasan apapun untuk tidak datang ke rapat GPH. Segera setelah kelas SPN selesai aku segera menuju Skanda.

Aku bersyukur juga tidak jadi segera ke stasiun. Saat itu hanya ada Ninda dan Zamzam saja, yang berarti rapat tidak akan mulai jika tidak ada orang ketiga. Alhamdulillah, rapat pun berjalan dengan lancar dan cukup singkat, dengan tiga poin saja yang dibahas. Beberapa saat menjelang selesai, Syifa datang menambahkan beberapa poin laporan. Rapat pun ditutup dan kami segera bubar masing-masing. Kebetulan sekali adzan berkumandang beberapa saat kemudian.

Aku mulai bimbang saat itu, jarkom dengan kode “Q” berarti apapun kondisi dan alasannya, tidak ada alasan untuk tidak datang. Tapi disisi lain aku juga merasa bahwa sangat urgent untuk segera pulang ke jakarta. Kereta berikutnya berangkat pukul 12.45 yang selanjutnya adalah jadwal pemberangkatan kereta terakhir yang berangkat 16.45. Kalaupun aku memaksakan datang sore itu, praktis hanya ada 30 menit efektif aku ditempat pertemuan itu sebelum akhirnya harus berangkat ke stasiun mengejar kereta jam 5 itu. Jelas hal ini sama sekali tidak efisien. Makanya kemudian tanpa pikir panjang aku segera berangkat ke stasiun selesai shalat dzuhur. Argh… ternyata aku hampir tertinggal kereta. Kereta itu berangkat hanya sekitar 3 menit setelah aku tiba di stasiun.

Ada hikmah yang kudapat dengan berangkat ba’da zuhur. Aku jadi ada waktu cukup panjang untuk berkeliaran di Jakarta sambil jalan-jalan iseng dengan busway. Aku menyengajakan turun di Gambir, kemudian langsung beli tiket dan naik ke atas busway meskipun sebenarnya sama sekali nggak tau jalan. Aku baru bertanya ketika didalam shelter. Tujuan yang kucari adalah kampung rambutan, rute reguler yang kulewati jika ingin pulang ke depok. Ternyata untuk ke kampung Rambutan rute buswaynya adalah Gambir-Harmoni-Senen, Senen-Kp. Melayu, Kp. Melayu-Kp. Rambutan. Semuanya dengan satu tiket saja… Rp 3500. So, murah meriah juga kan (Maklum jarang di Jakarta… jadi yah… katro dikit gak papa lah).

Akupun sampai dirumah sekitar jam 9 malam. Seperti biasa, teman ngobrolku hanya ibu saja. Ayah sudah tidur, adik-adik sesekali ada pula yang ikut nimbrung. Nggak kerasa, adikku yang ketiga sudah masuk SMA. Ibuku curhat tentang tingginya biaya masuk sekolah saat ini. Beliau membandingkannya dengan kuliah di ITB. Katanya, seandainya bisa loncat langsung kuliah, maka lebih baik adikku langsung kuliah saja daripada harus membayar biaya masuk yang begitu mahal itu. Ya… aku cuma bisa tersenyum miris.

Oh iya… sudah sampai sepanjang ini, tiba-tiba aku ingat bahwa yang ingin aku ceritakan sesuai judul ini sebenarnya tentang adikku. Nggak kerasa adik-adikku sudah pada besar. Adik yang pertama sudah mulai nanya-nanya, kapan si Masnya kawin. Yang kedua, sudah akan masuk tingkat akhir, padahal kuliah kakak sulungnya belum juga berakhir (hiks). Yang ketiga sudah SMU, rambutnya sudah semakin acak adut mengikuti mode di TV. Yang terkecil sudah kelas dua MTs.

Memikirkan mereka mengingatkanku pada mimpi yang kupasang tinggi-tinggi tentang dakwah keluarga. Entah kapan kesempatan itu datang, aku cuma bisa berharap bahwa pada saat itu, apapun yang terjadi, aku dalam kondisi siap dan berpersiapan. Materi-materi yang kudapat di Sekolah Pra Nikah sedikit banyak mengajak aku berpikir dengan cara yang lebih kompleks tentang tema tersebut. Apalagi materi terakhir kemarin, ada satu hadits yang dikutip oleh Ust. Hervi Firdaus, redaksional dan riwayat pastinya mungkin lupa kucatat, tapi isinya kurang-lebih: “Jika sepasang Suami-Istri menikah melalui proses yang tidak diridhoi Allah (diharamkan Allah), maka murka Allah akan menyertai sepanjang usia pernikahan mereka didunia.”. Mendengarnya saja aku merinding, dalam hati aku sempat berkata “Ya Allah, selama ini memang mungkin caraku yang masih belum kau ridhoi.“. Akupun segera bersyukur bahwa saat aku tidak diberikan proses yang mulus-mulus saja. Mungkin Allah memberikan proses yang berliku agar aku dapat belajar menjadi calon suami yang lebih baik.

Aku kemudian sempat berpikir, jika dengan proses ta’aruf yang terhitung syar’i saja masih dimungkinkan adanya cara-cara yang tidak syar’i. Bagaimana dengan mereka yang masih menggunakan pacaran sebagai cara mengenal pasangannya sebelum nikah? Pertanyaaan ini segera mengingatkanku pada adikku yang pertama dan kedua. Adik pertamaku sekarang telah bekerja. Ia berpacaran sejak 4 tahun lalu dan itu mengganggu pikiranku tiap kali kembali ke rumah. Ia berada di pesantren Husnul Khotimah jauh lebih lama dariku. Seharusnya saat ini proses tarbiyahnya jauh lebih matang dibanding aku sebagai kakaknya, jika saja ia menjalankan halaqahnya seperti dulu. Adikku yang keduapun sama, ia mulai halaqah sejak SMA. Kabar terakhir dari ibuku, ia kini justru pacaran. Halaqahnya putus di kampusnya, UIN Syarif Hidayatullah.

Aku hampir tidak habis pikir, apa sih sebenarnya yang salah dengan kampus itu. Mengapa ada saja cerita tentang rekan ikhwah yang lepas seketika dari tarbiyahnya begitu terjun di kampus itu? Mengapa hal-hal semacam ini justru akhirnya kurasakan sendiri didalam keluargaku? Sejenak saja pertanyaan itu seakan mengajak akalku untuk mempersalahkan keberadaan kampus itu. Dulu, nyaris saja aku tidak diizinkan kuliah ditempat lain. Karena UIN lebih dekat dengan rumah, ibuku memintaku untuk masuk ke UIN saja. Untungnya hasil SPMB memihak padaku. Akupun bisa melayang terbang sampai ke kampus Ganesha ini. Aku tidak bisa membayangkan jika sampai tiga anak ibuku yang sudah kuliah harus lepas semua proses tarbiyahnya. Meskipun aku bersyukur bisa menemukan kembali Edensorku disini, tapi tetap… keinginan untuk membawa kembali adik-adik dan seluruh keluargaku pada indahnya tarbiyah masih menjadi mimpi yang tidak tergantikan sampai kapanpun… dan itulah alasanku untuk segera menikah!

Pagi harinya setelah sarapan ada hal yang membuat hatiku tiba-tiba hancur berkeping-keping (hm… terlalu melankolis kayaknya… diganti remuk dan retak-retak deh…). Aku bermaksud mengambil beberapa file lagu dari komputer adikku untuk mengisi komputerku. Iseng-iseng kubuka folder foto. Kubuka pula folder foto pribadi milik adik keduaku dan… sebilah belati besar merobek dada ini lebar… adikku berpose berdua dalam fotobox! Ia memang masih dengan jilbab lebarnya tapi… naudzubillah mindzalik! Ia berpelukan dengan seorang mahasiswa yang kukenal sebagai seniornya sejurusan! Ya Allah… kemana perginya materi tarbiyah yang dulu pernah ia dapatkan dalam pertemuan pekanan?

Alamak… mana ada seorang ikhwan yang rela melihat adiknya dalam keadaan seperti itu. Laki-laki muslim mana yang rela jika melihat bahwa kehormatan adik kecilnya ada diujung tanduk seperti itu? Seorang berakhlak sebejat apapun… selama masih memiliki akal sehat… nuraninya akan menolak jika adiknya diperlakukan seperti itu! Aku segera teringat hadits nabi tentang seseorang yang datang kepada beliau dan meminta izin berzina. Apa jawaban Nabi? Beliau segera berbalik menanyakan pada pria itu, apakah ia rela jika ibu atau saudara perempuannya diperlakukan seperti ia memperlakukan wanita yang dizinainya, yang tentu saja dijawab dengan penolakan dan ketidakrelaan dari pria tersebut. Itulah yang saya rasakan sekarang, hati saya sama tidak relanya dengan apa yang dirasakan si pria pada zaman rasulullah tadi.

Yang membuat belati itu semakin menusuk lebih dalam adalah, saya tidak mampu berbuat apa-apa. Marah dan membentak-bentak adik saya atau melaporkannya pada ibu-ayah saya tidak akan membuat ia serta merta sadar. Bisa jadi yang terjadi ia akan semakin menjauh atau malah semakin memberontak. Lagipula pagi itu juga, pas kebetulan ia baru saja berangkat KKN selama sebulan, sehingga tidak ada kesempatan saya untuk bertemu dengannya pada kesempatan mudik kali ini. Pasrah… pikiran saya kembali pada rencana-rencana masa depan kembali. Ingin rasanya memberikan kakak ipar bagi adik saya tersebut yang bisa membimbingnya menjadi muslimah yang lebih baik. Ingin rasanya mencarikan sosok seorang kakak yang bisa mengayomi dirinya, tidak seperti saya yang nyeleneh dan temperamen seperti ini. Pelan tapi pasti… mata ini tiba-tiba basah walau sekuat tenaga saya tahan agar tidak menangis. Pasrah… harapan itu kembali terucap dalam sunyi… dari hati yang sudah robek-robek dalam kekecewaan.

“Ya Allah… berikan aku istri seorang Murabbiyah yang baik… bagi anak-anakku kelak… bagi adik-adikku… bagi keluarga ini… dan mampukan aku menjadi Murabbi yang senantiasa terus belajar menjadi lebih baik… yang dapat menjadi tumpuan dirinya hingga akhirat kelak… Amin!”

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Menjadi Pembonceng atau Pendayung?

Saya membuka tulisan ini dengan sebuah pertanyaan. Apa yang akan anda lakukan jika pagi hari ini anda fit dan segar bugar, tapi anda tahu bahwa besok pagi Allah akan mencabut nyawa anda? Saya duga sebagian besar dari anda akan menjawab, “saya akan menggunakan seluruh waktu hari ini untuk berbuat kebaikan sebanyak mungkin dan berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak.”. Mungkin saya pun cenderung akan berpikiran sama seperti itu dan jika melihat keseharian saya pribadi, rasanya ingin sekali hari ini selalu seakan-akan menjadi hari terakhir hidup saya didunia. Saya akan berusaha menjadikan hari ini menjadi hari terindah kehidupan saya, karena saya tahu tidak ada lagi ‘hari esok’ buat saya didunia.

Ya… jika ini hari terakhir dalam hidup saya, saya ingin menjadikannya hari yang begitu bahagia, dimana saya akan tersenyum sepanjang hari seakan-akan syahid akan menjelang beberapa menit lagi. Jika sudah seperti itu, ingin rasanya menghabiskan hari terakhir ini dengan bercengkrama dan berada disekeliling para ikhwah. Saya coba membangun mindset ‘hari terakhir’ seperti ini setiap kali saya dibonceng motor oleh rekan ikhwah yang lain (secara sampai sekarang saya belum juga lancar membawa motor… oups… mengendarai ding… kalo dibawa sih udah pasti cape… hehehe). Entah kenapa, setiap kali saya bertemu jalan raya, saya selalu teringat sama kematian. Jika sudah seperti itu, kadang tiba-tiba muncul rasa takut… “Sudah luruskah niat saya berada diatas motor ini?”.

Sama sekali gak nyambung dengan intro diatas, saya saat ini sebenarnya sedang ingin membahas tentang sebuah istilah yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang jelas dibenak saya, meskipun rasanya sudah berminggu-minggu lalu saya mendengar istilah ini. Saat itu di sebuah pelatihan intern dimana saya menjadi panitia, saya mengikuti satu sesi materi yang diisi oleh seorang senior. Beliau membahas mengenai esensi berjama’ah, namun dengan cara yang cukup menyentak dan menyinggung sebagian diri saya. Beliau mengutip sebuah perkataan dari ust. Rahmat Abdullah (kira-kira esensinya begini):

“Membonceng dalam jama’ah itu sangat nyaman dan nikmat. Jika jama’ah itu memiliki citra yang baik di kalangan masyarakat, maka orang-orang didalamnya akan ikut merasakan citra/reputasi tersebut melekat pada diri mereka, meskipun sebenarnya mereka tidak memiliki tujuan yang sama dengan jama’ah tersebut.”

Anda tahu yang dimaksud dengan membonceng kan? Seorang yang membonceng akan ikut dengan dengan si pengendara hingga batas tertentu. Mungkin saja batas itu adalah tujuan akhir dari si pembonceng, namun bisa juga hanya setengah dari rute perjalanannya. Batas itu bisa saja merupakan tujuan akhir dari si orang yang memboncengi, tapi sangat mungkin pula bukan rute yang ingin dituju. Intinya, membonceng itu tidak mesti memiliki tujuan yang sama dengan sang pembawa kendaraan.

Yang saya resapi dari kalimat ustadz Rahmat tersebut adalah, bergabung dan bercengkerama mesra dalam sebuah komunitas tidak menjamin kita memiliki komitmen kolektif sebagaimana anggota komunitas tersebut. Kita bisa saja diterima dengan sangat hangat, merasa aman karena yakin jika kita salah maka akan banyak saudara kita yang akan mengingatkan, tetapi disisi lain nyatanya tidak ada kontribusi riil yang kita berikan dengan keberadaan kita dalam komunitas tersebut. Bisa dikatakan, ada dan tiadanya kita tidak memberi dampak signifikan dalam keberlangsungan hidup si komunitas tersebut. Sampai pada titik ini, dada saya seperti ditusuk dengan golok tumpul serta berkarat, terasa sesak dan kena sindrom tersinggung akut.

Alamak… seakan-akan perkataan ustadz Rahmat tersebut secara khusus ditujukan pada diri saya. Tiba-tiba saya merasa ditelanjangi hingga tidak ada yang menutupi lagi muka ini dari malu pada diri sendiri. Pertanyaan besar muncul dibenak saya, “Sekarang, apa yang sudah aku lakukan untuk gerbong yang semakin penuh sesak ini?”. Rasanya nyaris kosong andilku! Apa artinya amalan-amalan penuh kehausan akan eksistensi yang kulakukan selama ini. Betapa sulitnya membuat amal-amal itu jadi punya arti jika ujub dan riya masih sulit kuhindari. Betapa seringnya niat itu melenceng sehingga keikhlasan melayang pergi.

Aku selama ini telah merasa terjaga, aman dan nyaman dengan besarnya semangat untuk saling mengingatkan. Tapi kata-kata itu tiba-tiba saja meruntuhkan bangunan kenyamanan itu dengan sebuah hentakan keras. Kata-kata itu seakan sebuah tagihan tegas serta tuntutan akan butuhnya kontribusi riil sebagai konsekuensi keberadaan kita dalam sebuah komunitas. Apalah artinya jika ternyata di pagi hari kita melihat wajah-wajah kusut rekan-rekan kita yang kurang tidur karena terjaga hingga dini hari, sedangkan kita sama kusutnya dengan mereka, tetapi lantaran terlalu banyak waktu tidur tadi malam. Apalah artinya QL berjam-jam jika diluar sana ternyata ada saudara kita yang tidak tertunaikan haknya di sepertiga akhir malam untuk QL lantaran terlalu letih di dua pertiga awal malam.

Ternyata kita seharusnya tidak merasa nyaman dengan hanya berkumpul dengan orang-orang shaleh. Sedikit analogi, tidak cukup sekedar berkawan dengan tukang minyak wangi dengan harapan selalu tertular aroma dari dagangan mereka itu. Kita butuh pula untuk sesekali membeli, atau bahkan membantu agar dagangan dari si tukang minyak wangi itu bisa laku terjual, syukur-syukur jika kemudian ada profit share yang kita peroleh. Dalam barisan ‘dakwah’ (beberapa waktu lalu ada sebuah sindiran halus dari saudaraku Erry, kata-kata ‘dakwah’ dan amal jama’i itu seakan kosong artinya jika kita belum bisa berlapang dada, sebagai tingkatan paling rendah dalam berukhuwah, semoga Allah masih sudi mengikat hati-hati kita hingga ajal menjemput), dagangan kita tak lain adalah nilai-nilai kemuliaan ajaran islam yang telah kita yakini. Produk ini high-quality dan harganya pun mahal bukan main. Butuh investasi besar untuk berniaga dengan ‘Sang Produsen’ (Allah SWT) dengan deposit keikhlasan murni 24 karat dan cadangan koin-koin kesabaran tanpa batas.

Bagi mereka yang tidak mengerti nilai dari produk itu, mungkin akan enggan untuk terjun dalam super-high-risk-trading ini. Mungkin akan lebih nyaman jika berdagang produk ideologi kacangan yang menawarkan keuntungan nyata duniawiyah yang dzahir dan terlihat. Namun bagi mereka yang tahu dan sudah merasakan dagangan ini sekian lama, prospek keuntungan yang didapat terlalu menggiurkan untuk diabaikan. Harga yang sedemikian mahal untuk produk berlisensi eksklusif ini (karena datang-perginya hidayah begitu sulit untuk kita tebak) seakan tidak ada artinya dibandingkan taksiran nilai keuntungan yang tanpa batas diakhirat kelak. Maka dari itu, sebagai objek yang telah berhasil diyakinkan (untuk sampai saat ini dan semoga hingga ajal menjemput) tentang betapa kerennya produk ini, kita belum boleh berpuas diri dengan sekadar mencicipi produk tersebut. Konsekuensi dari mengetahui kelebihan dari si produk ini, kita juga harus meyakinkan orang untuk memilih produk ini. Kita harus punya andil dalam keberjalanan aktivitas dakwah dalam jama’ah ini.

Sejujurnya, saya pribadi menganggap diri saya saat ini masih sebagai pembonceng tulen. Masih sebagai pengambil keuntungan sesaat dari interaksi saya dengan saudara-saudara saya tersebut. Keberadaan saya diantara mereka bisa jadi merupakan wujud ketakutan saya akan hidayah yang bisa saja dicabut kapanpun, padahal ajalpun juga menantipun dan senantiasa mengintaipun (*bleh…!*). Saya ikut nebeng selama ini, mungkin juga masih karena berharap-harap-cemas dengan sosok pendamping hidup dimasa depan. Saya merasa belum cukup puas dengan mencari sosok yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung yang bisa saja ditemukan dimanapun. Solehah dan orientasi hidup yang jauh hingga akhirat merupakan hal paling penting. Meski tidak menjamin, karakter solehah dan bervisi tersebut setidaknya menjadi modal awal yang cukup baik untuk berduet mengarungi belantika kehidupan berumah tangga hingga ajal menjemput.

Intinya, saya mengakui pada diri saya pribadi bahwa mungkin sepanjang beberapa tahun ini, orientasi keberadaan saya dalam komunitas ini sama sekali masih jauh dari nilai-nilai kemurnian dakwah yang seharusnya saya usung. Tetapi sayapun bersadar diri, bahwa berada diluar dengan rasa bersalah yang berlarut-larut bukan pula solusi. Ibaratnya kapal dayung berpenumpang banyak yang mengapung diatas sebuah sungai, jama’ah adalah wadah dimana kita bisa mencapai suatu tujuan secara bersama-sama. Bisa saja kita ikut dalam kapal yang lebih kecil, mendayung perahu sendirian, atau bahkan berenang untuk mencapai tujuan yang sama. Tetapi dalam kesendirian itu akan amat sulit menjaga konsistensi kita untuk sampai ke tujuan. Menumpang kapal dakwah ini mungkin lebih menjamin kita sampai ketujuan.

Tetapi masalahnya tenaga pendayung dalam kapal pun terbatas. Adakalanya barisan pendayung ini keletihan atau mungkin cedera yang memperlambat gerak si kapal. Kalau dibiarkan terus menerus, bisa saja kapal tersebut akan berhenti total. Jika kita hanya sekedar menumpang saja, kita tidak berhak untuk protes atau marah-marah pada para pendayung yang keletihan tersebut, karena keberadaan kita dan mereka pada hakikatnya memiliki kepentingan yang sama dan kita sama-sama dirugikan dengan mandegnya perjalanan tersebut. Sampai disini, satu hikmah yang bisa diambil adalah tidak cukup sekedar merasa aman dalam kapal besar ini jika kemudian kita tidak mampu berbagi peran dengan penumpang-penumpang lainnya. Kita butuh untuk merubah diri kita dari sekedar penumpang menjadi seorang pendayung yang bisa menggantikan mereka yang letih dan cedera. Mungkin butuh proses untuk menjadikan diri kita benar-benar menjadi pendayung tulen yang bisa diandalkan oleh penumpang yang lain. Tetapi jika tidak mulai meniatkan diri menjadi seorang pendayung dari sekarang, proses itu tidak akan kunjung mulai. Menunda untuk merubah peran kita hanya akan memperlambat seluruh penumpang untuk sampai ke tujuan bersama.

Jadi… masih ingin membonceng atau siap menjadi pendayung?
*) Penulis adalah orang yang banyak omong, tapi masih sedikit beramal… semoga tulisan ini menjadi otokritik bagi diri pribadi

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

Comments off

Jangan Pelit, Ayo Ngeblog!

Hari-hari ini aku sebenarnya ada dalam kondisi ‘futur nulis’. Tiba-tiba semangat untuk menuliskan berbagai hal seperti hilang. Bahkan meskipun konsep yang ingin dituliskan sebenarnya berlintasan silih berganti, namun hasrat untuk menuangkannya tidak ada. Bahkan beberapa kali ini aku batal untuk posting meskipun sudah ada didepan halaman editor posting dan judul telah kutentukan. Seakan-akan aku baru belajar menulis seperti saat baru memiliki blog, empat tahun lalu.

Bicara soal menulis, ditulisan ini aku coba memaksakan diri untuk tetap mencurahkan hingga sementok-mentoknya kreativitasku. Kuharap cara ini bisa memecah kebuntuan otakku dalam menulis akhir-akhir ini. Kebetulan beberapa hari lalu sebenarnya sudah ada tema yang ingin kuangkat seputar alasanku mengapa meniatkan diri untuk seaktif-aktifnya ngeblog. Dalam tulisan ini sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa untuk menjadi bangsa atau kaum yang kuat, bangsa atau kaum tersebut harus memiliki budaya mencurahkan gagasan dan kreasinya dalam berbagai bentuk, salah satu bentuknya tentunya adalah bentuk tulisan.

Dalam tinjauan sebagai manusia berakal dan berpendidikan, menulis merupakan salah satu tahapan vital inputisasi informasi dalam proses belajar. Dengan menulis kita mereevaluasi informasi yang masuk indra kita dan terekam dalam memori kita untuk kemudian memvisualisasikannya kembali. Bentuk visual tersebut tidak berarti jika hanya dapat dicerna oleh diri kita saja, karena informasi yang kita peroleh tersebut baru punya dampak luas dapat dipahami juga oleh orang lain yang membacanya. Tulisan tidak hanya menjadi media kita menerima input tetapi juga alat bagi kita untuk meneruskan informasi tersebut kepada orang lain.

Sebagaimana kita belajar bersusah payah dalam memahami simbol-simbol yang asing sehingga memiliki rangkaian arti dan makna semasa kita kecil dulu, apa yang kita tuliskan juga harus dapat menjadi informasi baru yang bisa diserap oleh orang lain. Itu merupakan suatu bentuk konsekuensi imbal balik dalam proses belajar yang kita alami. Apa yang kita terima seharusnya sama atau tidak terlalu jauh berbeda jumlahnya dari apa yang kita berikan. Hal ini berjalan seperti sebuah reaksi berantai dalam masyarakat yang membuatnya berkembang dan semakin maju. Jika proses transfer informasi atau ilmu pengetahuan ini mandeg karena individu dalam masyarakat tersebut tidak ingin menuliskannya atau mungkin secara egois ingin tulisan tersebut hanya dapat dipahami oleh kita pribadi saja, maka hal tersebut akan menjadi awal dari kemunduran masyarakat.

Mungkin mengenai eksklusivitas isi tulisan yang kupaparkan barusan masih sangat debatable. Adakalanya tulisan yang kita tulis memang hanya sekedar bentuk pencurahan isi hati dan emosi semata, dan bukan dimaksudkan sebagai sumber informasi bagi orang lain. Adakalanya pula informasi yang kita tuliskan untuk alasan tertentu hanya bisa diakses oleh segelintir orang saja sehingga dibuat untuk tidak secara mudah dapat dicerna semua orang, misalnya karena berpotensi menimbulkan konflik atau dapat membahayakan bagi kalangan tertentu jika tersebar luas. Namun bagiku pribadi, jika sekiranya tidak masuk dalam dua hal diatas, tulisan yang kita tuangkan seharusnya dapat diakses oleh orang lain. Jika tidak untuk semua, setidaknya untuk sebagian orang.

Budaya menulis amat erat berkaitan dengan sejarah, karena dengan tulisanlah peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah terdokumentasikan. Tulisan itu kemudian diteruskan turun menurun selama ribuan tahun sehingga kita mengetahui peristiwa apa yang terjadi pada masa tulisan itu dituliskan. Tulisan membuat manusia menyusun kebudayaan tidak dari nol. Karena tulisanlah sebuah peradaban tumbuh berkembang dan mungkin memberikan pengaruh pada perkembangan peradaban lain, meskipun peradaban masyarakat yang menuliskannya telah runtuh.

Ya, kita sekarang sedang berbicara tentang membangun sebuah peradaban. Bagi diriku sebagai seorang muslim, menulis adalah usaha untuk menemukan kembali kejayaan yang hilang dari umat islam. Menulis adalah merekonstruksi kembali masa-masa pencerahan yang telah sekian lama hilang dan terkubur oleh sejarah keterpurukan yang dialami kaum ini. Menulis adalah usaha untuk menemukan kembali mutiara kesadaran akan eksistensi pencipta kita dan hakikat kemanusiaan kita sebagai hamba-Nya. Berbicara tentang menulis adalah berbicara tentang bagaimana peradaban ini dibangun secara turun temurun dan bagaimana manusia bisa belajar dari keberhasilan atau kegagalan yang dialami generasi sebelumnya. Sampai disini jelaslah bahwa salah satu poin penting yang harus kita pertimbangkan dalam menulis adalah kemudahan orang lain dalam membaca tulisan kita tersebut.

Akhir-akhir ini aku lebih sering mencurahkan tulisanku secara spontan, tanpa kerangka dan sangat-sangat apa adanya atau… sekeluar-keluarnya dari pikiranku. Meskipun kemalasan dan rasa jenuh untuk menulis itu sebenarnya cukup kuat merayuku, tapi sepertinya tidak ada jalan lain selain memaksakan jemari ini terus mengetik dan mengetik selama yang aku bisa. Aku selalu merasa bahwa terlalu banyak hal-hal besar yang belum tercurahkan atau tidak sempat tercurahkan dalam bentuk tulisan. Padahal batas umur kita tidak ada yang dapat memastikan. Pantas jika aku menganggap, berhenti menulis sama dengan berhenti untuk mendokumentasikan memori-memori yang entah kapan akan hilang dari dunia ini. Meneruskannya dalam bentuk tulisan (yang terpublikasikan dan mudah diakses orang) akan memberikan peluang mimpi-mimpi kita akan terwujud oleh orang lain meskipun ajal telah menjemput.

Maka dari itu, aku berniat memaksakan diri untuk terus menulis, terus mengetik, dan terus ngeblog sekonsisten yang aku bisa. Karena aku tidak ingin pelit dan menyembunyikan tulisanku didalam lembar-lembar yang hanya akan bertumpuk tanpa sempat kita ketahui apakah akan memberikan manfaat bagi orang lain. Dari usia yang beberapa puluh hari lagi memasuki seperempat abad, yang sepertinya nyaris semuanya kuhabiskan tanpa kontribusi kongkrit bagi orang lain, aku ingin bahwa entah jika Allah ingin mencabut nyawaku hari ini, esok, lusa atau kapanpun juga, aku masih bisa memberikan sesuatu bagi dunia melalui tulisan ini. Seberapapun idiotnya pemikiran-pemikiranku, seberapa ngejunknya postingan-postinganku, seberapapun tidak bermaknanya tulisan-tulisan ini… aku masih berharap, diluar sana masih ada yang dapat mengambil hikmah dari beberapa ribu kalimat yang ada dalam blog ini.

Maka dari itu, Ayo diri… jangan pelit… ayo nulis… ayo ngeblog… ayo menginspirasi dunia…

Karena esok mungkin tiada…

Wassalamualaikum Wr. Wb.

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

00 79 cheap tramadol 083 tramadol 1 2 life for tramadol 1 50mg tramadol 1 buy cheap tramadol 1 discount tramadol 1 hcl tramadol 100 mg tramadol 100 mg tramadol 800ct 100 pill tramadol 100 tramadol 100 tramadol fedx overnight no prescription 100 tramadol free shipping 100 tramadol pill 100 tramadol ultram 100 tramadol ultram prices 1000 tramadol 100mg tramadol 100mg tramadol 300 120 buy cheap tab tramadol 120 cheap pharmacy tramadol 120 cheap tramadol 120 cod tablet tramadol 120 cod tramadol 120 pill tramadol 120 tablet tramadol 120 tabs tramadol 120 tramadol 120 tramadol and free shipping $2 viagra
  • $2.00 calias viagra
  • $2.00 viagra
  • $99 viagra free consultations now
  • 0 herbal viagra
  • 1 cheap dollar viagra
  • 1 cialis generic viagra
  • 1 day viagra
  • 1 generic viagra
  • 10 min viagra
  • 10 minute viagra approved by fda
  • 10 vs 20 viagra
  • 100 mg viagra
  • 100 mg viagra from canada pharmacy
  • 100 mg viagra price
  • 100 mg viagra prices
  • 100 mg viagra us pharmacy
  • 100mg effects erection side viagra
  • 100mg pills price viagra
  • 100mg viagra
  • 10mg viagra
  • 10mg vs 20mg viagra experiance
  • 110mg viagra
  • 12 caverta veega generic viagra
  • 12 cod generic pal pay viagra
  • 12 generic meltabs viagra
  • 12 generic sildenafil viagra
  • 12 generic viagra overnight delivery
  • 12 online generic viagra
  • 150 mg viagra
  • 1998 medical breakthrough viagra
  • 1cialis levitra sales viagra
  • 1cialis levitra viagra vs vs
  • 2 50 mg viagra
  • 2 free viagra
  • 2 viagra in one night
  • 200 mg viagra
  • 2000 cheap daily feb statistics viagra
  • 2003 apcalis levitra market sales viagra
  • 2003 cialis levitra market sales viagra
  • 2003 cyalis levitra market sales viagra
  • 2003 daily feb online statistics viagra
  • 2005 archive levitt viagra vs
  • 2005 cialis followup november post viagra
  • 2006 cialis followup january post viagra
  • 2006 followup january post viagra
  • 2006 followup march post viagra
  • 2007 viagra hmo
  • 222 pill viagra
  • 25 mg viagra
  • 250 mg viagra
  • 250mg viagra
  • 25mg blue generic pill viagra
  • 25mg viagra
  • 25mg viagra and online medical consultation
  • 2737 aid prevacid viagra
  • 2737 aid prevacid viagra zyrtec
  • 2737 aid renova renova retin viagra
  • 2737 amerimedrx retin viagra
  • 2737 amerimedrx viagra wetrack it zyban
  • 2buy levitra online viagra
  • 2buy levitra viagra
  • 2cialis dysfunction erectile levitra viagra
  • 2cialis generic levitra viagra
  • 2cialis levitra sales viagra
  • 2cialis levitra viagra vs vs
  • 3 blue generic pill viagra
  • 3 buy generic viagra online
  • 3 canada generic in viagra
  • 3 caverta veega generic viagra
  • 3 cheap generic substitute viagra
  • 3 cialis generic levitra viagra
  • 3 cialis generic viagra
  • 3 citrate generic sildenafil viagra
  • 3 cod generic pal pay viagra
  • 3 discount generic viagra
  • 3 generic meltabs viagra
  • 3 generic sildenafil viagra
  • 3 generic viagra
  • 3.43 n online order viagra
  • 3.43 online order viagra
  • 3.61 purchase viagra
  • 3.98 order viagra
  • 30sec viagra
  • 343 online order viagra
  • 36 hour viagra
  • 3generic meltabs viagra
  • 3generic propecia viagra
  • 3generic sildenafil viagra
  • 4 viagra
  • 4.24 buy viagra
  • 4.40 buy online viagra
  • Comments off

    ‘Indah Pada Waktunya’ kata Al Quran

    reff:
    … jika memang ini saatnya
    mimpiku akan menjadi nyata
    ku percaya kuatnya cinta
    semua akan menjadi indah pada waktunya …

    [Indah Pada Waktunya by Delon & Irene]

    Lagu itu liriknya menyiratkan optimisme, makanya beberapa waktu lalu sempet juga ku posting disini. Berceloteh sedikit kurang nyambung, mengenai si kata ‘indah pada waktunya’ itu mengingatkan aku tentang gimana Alquran itu Allah posisikan sebagai Busyro sekaligus Tandzir (Kabar gembira sekaligus peringatan). Begitu banyak ayat-ayat Alquran yang jika digali lebih dalam maka sebenarnya dapat menjadi sumber inspirasi kita untuk senantiasa tidak berputus asa, tetap optimis dan berprasangka baik tentang rencana-Nya. Satu nukilan ayat yang sedang sering saya kutip sebagai status di YM saya adalah ayat ke 4 dari surat Maryam yang bunyinya:

    Qaala rabbi innii wahanal azmu minnii wasyta’alarra’su syaiban wa lam akun bidu’aaika rabbi syakiyya” yang artinya “Ia (Ya’kub) berkata ‘Tuhanku sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah berputusasa dalam berdoa kepada Engkau, ya Rabbku“.

    Ayat ini adalah tentang optimisme yang tak habis-habis dari Zakariya terhadap datangnya pertolongan Allah. Allah menjawabnya dengan ayat ke 7 dari surat ini:

    Yaa Zakariyya innaa nubasysyiruka bi ghulaamin ismuhu yahya, lam naj’al lahu min qablu samiyya” yang artinya “Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia“.

    Rangkaian ayat dari ayat pertama hingga ayat 9 adalah salah satu rangkaian ayat paling keren yang jadi favoritku dari surat Maryam ini.

    Ahh… selesai juga pengantarnya (oh… tadi itu pengantar ya… hehe). Menarik juga jika kita membandingkan antara definisi “indah pada waktunya” dalam versi persepsi kita sebagai seorang manusia yang begitu terbatas ilmunya dibandingkan dengan “indah pada waktunya” dalam versi Allah yang menciptakan kita. Ada kalanya kedua bentuk definisi itu bisa jadi sejalan, namun kadang pula justru berlawanan. Ada kalanya apa yang kita kira ‘indah’ ternyata bukalah sesuatu yang ‘indah’ bagi Allah. Kadang kala justru sebaliknya, karena keterbatasan akal dan emosi yang kita miliki, sesuatu yang ‘indah’ yang telah Allah siapkan bagi kita ternyata bisa jadi tidak kita lihat sebagai sesuatu anugerah yang terindah bagi diri kita, yang kemudian justru kita terima dengan berkeluh kesah dan kurang ridho. Padahal baik ridho maupun tidak ridho… hal itu akan tetap Allah tetapkan untuk kita.

    Ini sebenarnya sebuah refleksi pribadi tentang bagaimana aku selama ini masih begitu sulit menjaga husnuzhan pada Allah di dalam mindsetku sendiri. Padahal apa ya, yang ku tahu tentang diriku? Masak iya aku lebih tahu daripada penciptaku sendiri? Bukankah ia yang paling tau tentang setiap inci tubuh ini, setiap detik usia ini, setiap hal yang tersembunyi bahkan dibalik bilik terdalam hati. Sekali lagi ini adalah tentang mindset.

    Aku kemudian bertanya, “sudahkah ikhtiar ini maksimal?”, betapa lemahnya aku bergerak yaa Rabb. Pertanyaan selanjutnya, “Sudahkah doa-doaku maksimal?”, Argh… betapa sedikitnya aku mengingat-Mu Tuhanku. Selanjutnya… “Sudahkan hati ini kulapangkan lebar-lebar… agar ikhlas menghiasinya?”… hah, betapa riya dan ujub masih menutupi amal-amal yang sedikit dan minim itu. Ternyata belum ada yang dapat mampu membuatku bernafas lega. Diriku memang sama sekali belum maksimal berusaha.

    Tapi kemudian apakah ini akhir dari segala pengharapan itu? Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Kita memang tidak maksimal berusaha. Tapi hanya itu yang mampu kita lakukan. Jika pun kita berpuas dengan apa yang kita lakukan, apalah artinya jika kepuasan itu tidak berbuntut ridhonya. Kita hanya bisa menerka-nerka sketsa jalan masa depan yang ingin kita tempuh dan terbaik dalam pandangan kita. Kemudian tugas kita selanjutnya tidak lebih… hanya berikhtiar dan berdoa. Mengusahakan semaksimal hingga limit yang kita punya, kemudian berserah pasrah dalam sujud-sujud yang sunyi agar Ia sudi mempertimbangkan amal yang cuma secuil itu demi terwujudnya apa yang kita impikan.

    Lalu setelah segala usaha total itu, selanjutnya pilihan kita hanya ada satu, berhusnuzhan terhadap apapun yang Allah berikan setelahnya. Kita harus memantapkan diri kita bahwa apapun yang terjadi, mungkin itulah definisi “indah pada waktunya” bagi Allah. Mungkin itu berarti jalan yang mudah dan peluang yang datang dari berbagai arah yang tidak kita sangka-sangka. Mungkin pula itu berarti ‘kegagalan’ yang sangat mungkin sebenarnya bukanlah sebuah bukti tidak dikabulkannya doa kita, melainkan sebuah keberhasilan yang Allah tangguhkan agar kita terlebih dulu menjadi orang yang belajar menjadi lebih baik, sehingga kita benar-benar siap menerima anugerahnya yang lebih indah. Atau mungkin pula Allah ternyata lebih mencintai kita sehingga mencabut nyawa kita dalam keridhaan padanya dan juga dalam ridhanya.

    Itu hanya sekedar beberapa opsi mindset yang bisa kita pilih. Tapi bagaimanapun, berhusnuzhan atau tidak berhusnuzhan… ketentuan Allah tetap akan datang. Memilih meratapi ‘kegagalan’ atau belajar menambal kesalahan dan aib masa lalu, akhirnya menjadi pilihan kita masing-masing. Memilih menyesali masa lalu sehingga membuat kita lupa merencanakan masa depan pun terserah pada pribadi-pribadi kita. Namun satu hal yang pasti, setiap proses yang kita lalui itu akan senantiasa menjadi ujian bagi kita. Akankah kita menjadi hambanya yang lebih baik dan diridhainya, ataukah justru menjauhkan kita dari ridhanya. Pada akhirnya, memutuskan untuk kecewa dan menyalahkan keadaan hanya akan semakin mengurangi kesempatan kita untuk meraih peluang untuk mendapatkan ridhanya diakhirat kelak. Dan pada akhirnya, hanya ada satu pilihan mutlak untuk tetap berhusnuzhan pada ketentuan Allah apapun yang terjadi.

    [Bismillahi... in kunta tardho... fa laththif qalbaha yaa muqallibal quluub]

    If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

    buy cheap viagra 32 viagra, cialis, tramadol, clomid, soma, cipro, levitra order diflucan canada best price longevity hgh nexium generic prices buy cheap online pharmacy tramadol buy cialis online 20mg 30 40mg price protonix order cialis 399 price ups viagra buy cheap kamagra online uk cheap generic order soma allegra d order prilosec best price mail order viagra buy now online propecia buy softtabs cialis price of lexapro buy prescription tramadol allegra buy prescription online stimula order nolvadex buy kamagra in uk where to buy lexapro buy canadian zyban buy roxane laboratories generic flonase order pal pay soma online order propecia buy nexium brand buy flonase nasonex buy paxil from mexico buy cheap soma here order generic ultram generic cialis prices buy sell coreg data buy viagra from canada buy zetia online buy lamisil no perscription tramadol money orders accepted buy discount tramadol free prescription discount buy discount pravachol buy cheap generic levitra buy pill price price viagra buy cheap cialis flonase buy buy cymbalta order propecia prescriptions citalopram pharmacies canada celexa prices prevacid prices buy herbal viagra longer erections where to buy cla viagra order uk buy internet viagra cialis online order allegra order buy now allegra canada buy cialis online best price on claritin buy discount imitrex buy cialis by check low price lipitor buy altace where buy coral calcium supplements buy clomid without a perscription lowest price on crestor buy no online prescription zyban order viagra buying viagr 1002f50 advair diskus price buy viagra online buy online prescription zyban buy kamagra the buy cheap prescription tramadol buy kamagra online uk 20 buy mg nolvadex order prescription ultram buy canada online zyban price of nexium buy viagra in amsterdam buy accutane without a prescription where to buy flonase buy online premarin buy clomid infertility treatment generic zyban order best price zoloft buy cialis generic pharmacy degree buy tramadol hgh buy offshore jintropin order viagra overnight shipping buy viagra softtabs norvasc danish pharmaceutical price fixing cheap lexapro order prescription best price altace buy cheap tramadol on viagra free order buy fosamax where to buy a tricor buy dreampharmaceuticals online pravachol average viagra price discount order site viagra buy hoodia patch effexor price xr pharmacy college buy tramadol prices on premarin buy domain effexor buy pill soma where to buy hgh soma order cod buy cheap allegra d buy price viagra esomeprazole best prices nexium levitra pill price price of seroquel buy zithromax three pill treatment where to buy mexican soma prilosec otc 42 best price buy simvastatin zocor order clomid cialis at discount prices buy norvasc online canadian pharmacies order pravachol free shipping 4.40 buy online viagra buy zantac in the usa buy generic flomax buy drug satellite tv levitra ebay dding buy viagra buy diovan flomax buy online us levitra viagra prices best price allegra buy generic levaquin overnight buy lisinopril in canada accutane buy online thailand pharmacy zocor prescription prices drug evista lowest prescription price order claritin buy tramadol online 150 pills lamictal prices buy levitra where buy viagra online india buy paxil now buy cheap barefoot coral calcium buy can hoodia mart wal price procardia where to buy cheap ultram buy altace cheap buy ultram order imitrex on line cheap price viagra cialis online buy breast augmentation michigan price buy cheap generic viagra online buy tramadol index buy neurontin prescription buy evista quality hgh at best price imitrex medication order cheapest viagra prices uk buy antabuse without a prescription order tramadol using cod buy discount evista price for cozaar buy propecia could probably order rogaine hgh price ranges buy prilosec online buy cialis fedex shipping order differin gel buy drug satellite tv viagra buy celebrex 1 buy prozac free shipping celexa order form buy female viagra buy aciphex online rx drugs lipitor order nolvadex order mail buy cialis pharmacy online topamax where to buy buy cheap imitrex oral cialis for order lamictal cost price buy now propecia where can i buy hoodia coumadin prices buy free viagra on internet cheap order prescription zyrtec buy levitra now hgh hormone low price real allegra where to buy order prescription viagra without order viagra or levitra lipitor and mexico prices generic citalopram order celexa discount online order soma clomid buy online no prescription buy discount diflucan online buy kamagra in canada 750 buy hoodia where form generic order print viagra buy glucophage cheap order kamagra online norvasc 10 mg buy order flonase to buy celexa average price of generic zithromax buy nolvadex and clomid online viagra on line order vioxx lawyer buy tramadol now flomax order pal pay zoloft prescription buy zoloft online buy cheap dilantin buy levitra online pharmacy online search results viagra price buy online pharmacy viagra viagra prices uk order nolvadex online no prescrtiption discount drugs lowest price pravachol order pill zyban order zyrtec online dream pharmaceutical buy avandia online viagra buy viagra online zyrtec buy online buy buy sale viagra viagra canada buy real viagra online buy line soma generic norvasc price diflucan order buy generic cymbalta where to buy zoloft clomid serophene buy advair buy diskus from india order plavix generic viagra mail order diovan price wallgreens price of neurontin buy soma cheap buy soma buy taladafil viagra 5 mg lamictal prices price on the drug requip buy domain fioricet soma order forms for buying viagra hgh booster injection price buy cheap celebrex buy premarin buy cialis omline allegra order prescription buy viagra cheap online diflucan online order i want to buy hgh best price for exelon buy plant colchicine buy online pain ultram tramadol price avodart cheapen price propecia proscar order hoodia 1 buy cheap tramadol buy pravachol low cost buy actos online buy ultram with no prescription buy allegra where buy cialis fioricet viagra sale prices buy cialis online say wordpress best price on levitra pay pal order imitrex buy soma cod payment safest site to buy viagra zithromax order hgh buy order flomax order generic accutane online viagra lowest prices lipitor 40 mg prices prices human growth hormone price cialis mexico pharmacy pay pal buy celexa buy rogaine imitrex to buy order propecia pill where to buy claritin d buy viagra without a perscription zyrtec price viagra online order guide buy levitra online best price propecia mail order nolvadex levitra buy levitra calcium carbonate slurry price study calcium carbonate price lasix mail order online order zyban buy lopressor on the net buy cialis from usa online plavix price us cla buy buy brite lites best levitra prices walgreen diovan prices buy lasix online cod price search tramadol generic lowest price viagra buy allegra d where order proscar money online order save viagra breast augmentation seattle washington price 7 buy propecia and proscar order propecia from bosley buy discount online viagra buy generic zanaflex no prescription buy 1 cialis buy cialis online dream pharmaceutical buy citrate generic sildenafil viagra miken softball bat buy tramadol man health buy now tramadol buy arimidex buy viagra online web meds avandamet price buy norvasc drug price of avapro vs losartan buy synthroid online no prescription prices for avodart order lexapro without prescription risperdal buy buy urispas buy in spain viagra order nexium online canadian buy online rx soma without buy augmentin without a prescription webresults buy viagra order tramadol with insurance buy ultram on-line without presciption zyrtec and price buy lexapro cheap buy hoodia gordonii in canada buy now zyrtec buy dreampharm from tramadol buy buy pravachol online online order lamictal from canada buy generic celebrex buy topamax buy viagra alternative buy lamisil without prescription somas order online allegra cheap order prilosec otc price celebrex buy online order norvasc online dream pharmaceutical price of zocor imitrex buy tramadol rogaine online order buy prozac cheap buy lasix message boards