Kakak mana yang akan rela!
Sabtu kemarin akhirnya saya memutuskan untuk pulang kampung kerumah orang tua di jakarta. Ini adalah awal tahun ke-6 dikampus. Mungkin bisa dikatakan sudah terlalu lama saya dikampus, sehingga saya sudah meniatkan untuk tidak memberatkan orangtua lagi masalah biaya kuliah. Niatnya sih sudah ada, tapi jalannya ternyata belum ada. Kerjaan yang baru kurang lebih sebulan ini saya jalani belum cukup menjanjikan untuk jadi sandaran pembayaran uang kuliah. Lagipula, saya sendiri merencanakan gaji pertama akan saya gunakan untuk mencicil rumah kontrakan. Apapun yang terjadi beberapa bulan ini, inilah persiapan yang saya coba lakukan.
Seperti apapun hidup yang kita jalani, pada hakikatnya itu hanyalah rangkaian rencana Allah yang terjadi pada diri kita. Kita sama sekali tidak memiliki kekuatan apapun dalam menentukan akan seperti apa nasib kita dimasa depan. Begitu juga hari itu, sabtu lalu, selepas SPN aku berencana untuk langsung ke stasiun. Pagi harinya aku sudah titip-titip ke Zamzam dan Ninda agar rapat GPH bisa berjalan. Namun ternyata ada yang merubah rencanaku ketika kelas SPN berjalan. Sebuah jarkom masuk, dengan gaya perintah yang nggak mungkin aku tolak, aku memutuskan mengundur keberangkatanku hingga sore tiba. Akhirnya, aku tidak memiliki alasan apapun untuk tidak datang ke rapat GPH. Segera setelah kelas SPN selesai aku segera menuju Skanda.
Aku bersyukur juga tidak jadi segera ke stasiun. Saat itu hanya ada Ninda dan Zamzam saja, yang berarti rapat tidak akan mulai jika tidak ada orang ketiga. Alhamdulillah, rapat pun berjalan dengan lancar dan cukup singkat, dengan tiga poin saja yang dibahas. Beberapa saat menjelang selesai, Syifa datang menambahkan beberapa poin laporan. Rapat pun ditutup dan kami segera bubar masing-masing. Kebetulan sekali adzan berkumandang beberapa saat kemudian.
Aku mulai bimbang saat itu, jarkom dengan kode “Q” berarti apapun kondisi dan alasannya, tidak ada alasan untuk tidak datang. Tapi disisi lain aku juga merasa bahwa sangat urgent untuk segera pulang ke jakarta. Kereta berikutnya berangkat pukul 12.45 yang selanjutnya adalah jadwal pemberangkatan kereta terakhir yang berangkat 16.45. Kalaupun aku memaksakan datang sore itu, praktis hanya ada 30 menit efektif aku ditempat pertemuan itu sebelum akhirnya harus berangkat ke stasiun mengejar kereta jam 5 itu. Jelas hal ini sama sekali tidak efisien. Makanya kemudian tanpa pikir panjang aku segera berangkat ke stasiun selesai shalat dzuhur. Argh… ternyata aku hampir tertinggal kereta. Kereta itu berangkat hanya sekitar 3 menit setelah aku tiba di stasiun.
Ada hikmah yang kudapat dengan berangkat ba’da zuhur. Aku jadi ada waktu cukup panjang untuk berkeliaran di Jakarta sambil jalan-jalan iseng dengan busway. Aku menyengajakan turun di Gambir, kemudian langsung beli tiket dan naik ke atas busway meskipun sebenarnya sama sekali nggak tau jalan. Aku baru bertanya ketika didalam shelter. Tujuan yang kucari adalah kampung rambutan, rute reguler yang kulewati jika ingin pulang ke depok. Ternyata untuk ke kampung Rambutan rute buswaynya adalah Gambir-Harmoni-Senen, Senen-Kp. Melayu, Kp. Melayu-Kp. Rambutan. Semuanya dengan satu tiket saja… Rp 3500. So, murah meriah juga kan (Maklum jarang di Jakarta… jadi yah… katro dikit gak papa lah).
Akupun sampai dirumah sekitar jam 9 malam. Seperti biasa, teman ngobrolku hanya ibu saja. Ayah sudah tidur, adik-adik sesekali ada pula yang ikut nimbrung. Nggak kerasa, adikku yang ketiga sudah masuk SMA. Ibuku curhat tentang tingginya biaya masuk sekolah saat ini. Beliau membandingkannya dengan kuliah di ITB. Katanya, seandainya bisa loncat langsung kuliah, maka lebih baik adikku langsung kuliah saja daripada harus membayar biaya masuk yang begitu mahal itu. Ya… aku cuma bisa tersenyum miris.
Oh iya… sudah sampai sepanjang ini, tiba-tiba aku ingat bahwa yang ingin aku ceritakan sesuai judul ini sebenarnya tentang adikku. Nggak kerasa adik-adikku sudah pada besar. Adik yang pertama sudah mulai nanya-nanya, kapan si Masnya kawin. Yang kedua, sudah akan masuk tingkat akhir, padahal kuliah kakak sulungnya belum juga berakhir (hiks). Yang ketiga sudah SMU, rambutnya sudah semakin acak adut mengikuti mode di TV. Yang terkecil sudah kelas dua MTs.
Memikirkan mereka mengingatkanku pada mimpi yang kupasang tinggi-tinggi tentang dakwah keluarga. Entah kapan kesempatan itu datang, aku cuma bisa berharap bahwa pada saat itu, apapun yang terjadi, aku dalam kondisi siap dan berpersiapan. Materi-materi yang kudapat di Sekolah Pra Nikah sedikit banyak mengajak aku berpikir dengan cara yang lebih kompleks tentang tema tersebut. Apalagi materi terakhir kemarin, ada satu hadits yang dikutip oleh Ust. Hervi Firdaus, redaksional dan riwayat pastinya mungkin lupa kucatat, tapi isinya kurang-lebih: “Jika sepasang Suami-Istri menikah melalui proses yang tidak diridhoi Allah (diharamkan Allah), maka murka Allah akan menyertai sepanjang usia pernikahan mereka didunia.”. Mendengarnya saja aku merinding, dalam hati aku sempat berkata “Ya Allah, selama ini memang mungkin caraku yang masih belum kau ridhoi.“. Akupun segera bersyukur bahwa saat aku tidak diberikan proses yang mulus-mulus saja. Mungkin Allah memberikan proses yang berliku agar aku dapat belajar menjadi calon suami yang lebih baik.
Aku kemudian sempat berpikir, jika dengan proses ta’aruf yang terhitung syar’i saja masih dimungkinkan adanya cara-cara yang tidak syar’i. Bagaimana dengan mereka yang masih menggunakan pacaran sebagai cara mengenal pasangannya sebelum nikah? Pertanyaaan ini segera mengingatkanku pada adikku yang pertama dan kedua. Adik pertamaku sekarang telah bekerja. Ia berpacaran sejak 4 tahun lalu dan itu mengganggu pikiranku tiap kali kembali ke rumah. Ia berada di pesantren Husnul Khotimah jauh lebih lama dariku. Seharusnya saat ini proses tarbiyahnya jauh lebih matang dibanding aku sebagai kakaknya, jika saja ia menjalankan halaqahnya seperti dulu. Adikku yang keduapun sama, ia mulai halaqah sejak SMA. Kabar terakhir dari ibuku, ia kini justru pacaran. Halaqahnya putus di kampusnya, UIN Syarif Hidayatullah.
Aku hampir tidak habis pikir, apa sih sebenarnya yang salah dengan kampus itu. Mengapa ada saja cerita tentang rekan ikhwah yang lepas seketika dari tarbiyahnya begitu terjun di kampus itu? Mengapa hal-hal semacam ini justru akhirnya kurasakan sendiri didalam keluargaku? Sejenak saja pertanyaan itu seakan mengajak akalku untuk mempersalahkan keberadaan kampus itu. Dulu, nyaris saja aku tidak diizinkan kuliah ditempat lain. Karena UIN lebih dekat dengan rumah, ibuku memintaku untuk masuk ke UIN saja. Untungnya hasil SPMB memihak padaku. Akupun bisa melayang terbang sampai ke kampus Ganesha ini. Aku tidak bisa membayangkan jika sampai tiga anak ibuku yang sudah kuliah harus lepas semua proses tarbiyahnya. Meskipun aku bersyukur bisa menemukan kembali Edensorku disini, tapi tetap… keinginan untuk membawa kembali adik-adik dan seluruh keluargaku pada indahnya tarbiyah masih menjadi mimpi yang tidak tergantikan sampai kapanpun… dan itulah alasanku untuk segera menikah!
Pagi harinya setelah sarapan ada hal yang membuat hatiku tiba-tiba hancur berkeping-keping (hm… terlalu melankolis kayaknya… diganti remuk dan retak-retak deh…). Aku bermaksud mengambil beberapa file lagu dari komputer adikku untuk mengisi komputerku. Iseng-iseng kubuka folder foto. Kubuka pula folder foto pribadi milik adik keduaku dan… sebilah belati besar merobek dada ini lebar… adikku berpose berdua dalam fotobox! Ia memang masih dengan jilbab lebarnya tapi… naudzubillah mindzalik! Ia berpelukan dengan seorang mahasiswa yang kukenal sebagai seniornya sejurusan! Ya Allah… kemana perginya materi tarbiyah yang dulu pernah ia dapatkan dalam pertemuan pekanan?
Alamak… mana ada seorang ikhwan yang rela melihat adiknya dalam keadaan seperti itu. Laki-laki muslim mana yang rela jika melihat bahwa kehormatan adik kecilnya ada diujung tanduk seperti itu? Seorang berakhlak sebejat apapun… selama masih memiliki akal sehat… nuraninya akan menolak jika adiknya diperlakukan seperti itu! Aku segera teringat hadits nabi tentang seseorang yang datang kepada beliau dan meminta izin berzina. Apa jawaban Nabi? Beliau segera berbalik menanyakan pada pria itu, apakah ia rela jika ibu atau saudara perempuannya diperlakukan seperti ia memperlakukan wanita yang dizinainya, yang tentu saja dijawab dengan penolakan dan ketidakrelaan dari pria tersebut. Itulah yang saya rasakan sekarang, hati saya sama tidak relanya dengan apa yang dirasakan si pria pada zaman rasulullah tadi.
Yang membuat belati itu semakin menusuk lebih dalam adalah, saya tidak mampu berbuat apa-apa. Marah dan membentak-bentak adik saya atau melaporkannya pada ibu-ayah saya tidak akan membuat ia serta merta sadar. Bisa jadi yang terjadi ia akan semakin menjauh atau malah semakin memberontak. Lagipula pagi itu juga, pas kebetulan ia baru saja berangkat KKN selama sebulan, sehingga tidak ada kesempatan saya untuk bertemu dengannya pada kesempatan mudik kali ini. Pasrah… pikiran saya kembali pada rencana-rencana masa depan kembali. Ingin rasanya memberikan kakak ipar bagi adik saya tersebut yang bisa membimbingnya menjadi muslimah yang lebih baik. Ingin rasanya mencarikan sosok seorang kakak yang bisa mengayomi dirinya, tidak seperti saya yang nyeleneh dan temperamen seperti ini. Pelan tapi pasti… mata ini tiba-tiba basah walau sekuat tenaga saya tahan agar tidak menangis. Pasrah… harapan itu kembali terucap dalam sunyi… dari hati yang sudah robek-robek dalam kekecewaan.
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me“Ya Allah… berikan aku istri seorang Murabbiyah yang baik… bagi anak-anakku kelak… bagi adik-adikku… bagi keluarga ini… dan mampukan aku menjadi Murabbi yang senantiasa terus belajar menjadi lebih baik… yang dapat menjadi tumpuan dirinya hingga akhirat kelak… Amin!”
Permalink Comments off

