Jangan Pelit, Ayo Ngeblog!
Hari-hari ini aku sebenarnya ada dalam kondisi ‘futur nulis’. Tiba-tiba semangat untuk menuliskan berbagai hal seperti hilang. Bahkan meskipun konsep yang ingin dituliskan sebenarnya berlintasan silih berganti, namun hasrat untuk menuangkannya tidak ada. Bahkan beberapa kali ini aku batal untuk posting meskipun sudah ada didepan halaman editor posting dan judul telah kutentukan. Seakan-akan aku baru belajar menulis seperti saat baru memiliki blog, empat tahun lalu.
Bicara soal menulis, ditulisan ini aku coba memaksakan diri untuk tetap mencurahkan hingga sementok-mentoknya kreativitasku. Kuharap cara ini bisa memecah kebuntuan otakku dalam menulis akhir-akhir ini. Kebetulan beberapa hari lalu sebenarnya sudah ada tema yang ingin kuangkat seputar alasanku mengapa meniatkan diri untuk seaktif-aktifnya ngeblog. Dalam tulisan ini sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa untuk menjadi bangsa atau kaum yang kuat, bangsa atau kaum tersebut harus memiliki budaya mencurahkan gagasan dan kreasinya dalam berbagai bentuk, salah satu bentuknya tentunya adalah bentuk tulisan.
Dalam tinjauan sebagai manusia berakal dan berpendidikan, menulis merupakan salah satu tahapan vital inputisasi informasi dalam proses belajar. Dengan menulis kita mereevaluasi informasi yang masuk indra kita dan terekam dalam memori kita untuk kemudian memvisualisasikannya kembali. Bentuk visual tersebut tidak berarti jika hanya dapat dicerna oleh diri kita saja, karena informasi yang kita peroleh tersebut baru punya dampak luas dapat dipahami juga oleh orang lain yang membacanya. Tulisan tidak hanya menjadi media kita menerima input tetapi juga alat bagi kita untuk meneruskan informasi tersebut kepada orang lain.
Sebagaimana kita belajar bersusah payah dalam memahami simbol-simbol yang asing sehingga memiliki rangkaian arti dan makna semasa kita kecil dulu, apa yang kita tuliskan juga harus dapat menjadi informasi baru yang bisa diserap oleh orang lain. Itu merupakan suatu bentuk konsekuensi imbal balik dalam proses belajar yang kita alami. Apa yang kita terima seharusnya sama atau tidak terlalu jauh berbeda jumlahnya dari apa yang kita berikan. Hal ini berjalan seperti sebuah reaksi berantai dalam masyarakat yang membuatnya berkembang dan semakin maju. Jika proses transfer informasi atau ilmu pengetahuan ini mandeg karena individu dalam masyarakat tersebut tidak ingin menuliskannya atau mungkin secara egois ingin tulisan tersebut hanya dapat dipahami oleh kita pribadi saja, maka hal tersebut akan menjadi awal dari kemunduran masyarakat.
Mungkin mengenai eksklusivitas isi tulisan yang kupaparkan barusan masih sangat debatable. Adakalanya tulisan yang kita tulis memang hanya sekedar bentuk pencurahan isi hati dan emosi semata, dan bukan dimaksudkan sebagai sumber informasi bagi orang lain. Adakalanya pula informasi yang kita tuliskan untuk alasan tertentu hanya bisa diakses oleh segelintir orang saja sehingga dibuat untuk tidak secara mudah dapat dicerna semua orang, misalnya karena berpotensi menimbulkan konflik atau dapat membahayakan bagi kalangan tertentu jika tersebar luas. Namun bagiku pribadi, jika sekiranya tidak masuk dalam dua hal diatas, tulisan yang kita tuangkan seharusnya dapat diakses oleh orang lain. Jika tidak untuk semua, setidaknya untuk sebagian orang.
Budaya menulis amat erat berkaitan dengan sejarah, karena dengan tulisanlah peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah terdokumentasikan. Tulisan itu kemudian diteruskan turun menurun selama ribuan tahun sehingga kita mengetahui peristiwa apa yang terjadi pada masa tulisan itu dituliskan. Tulisan membuat manusia menyusun kebudayaan tidak dari nol. Karena tulisanlah sebuah peradaban tumbuh berkembang dan mungkin memberikan pengaruh pada perkembangan peradaban lain, meskipun peradaban masyarakat yang menuliskannya telah runtuh.
Ya, kita sekarang sedang berbicara tentang membangun sebuah peradaban. Bagi diriku sebagai seorang muslim, menulis adalah usaha untuk menemukan kembali kejayaan yang hilang dari umat islam. Menulis adalah merekonstruksi kembali masa-masa pencerahan yang telah sekian lama hilang dan terkubur oleh sejarah keterpurukan yang dialami kaum ini. Menulis adalah usaha untuk menemukan kembali mutiara kesadaran akan eksistensi pencipta kita dan hakikat kemanusiaan kita sebagai hamba-Nya. Berbicara tentang menulis adalah berbicara tentang bagaimana peradaban ini dibangun secara turun temurun dan bagaimana manusia bisa belajar dari keberhasilan atau kegagalan yang dialami generasi sebelumnya. Sampai disini jelaslah bahwa salah satu poin penting yang harus kita pertimbangkan dalam menulis adalah kemudahan orang lain dalam membaca tulisan kita tersebut.
Akhir-akhir ini aku lebih sering mencurahkan tulisanku secara spontan, tanpa kerangka dan sangat-sangat apa adanya atau… sekeluar-keluarnya dari pikiranku. Meskipun kemalasan dan rasa jenuh untuk menulis itu sebenarnya cukup kuat merayuku, tapi sepertinya tidak ada jalan lain selain memaksakan jemari ini terus mengetik dan mengetik selama yang aku bisa. Aku selalu merasa bahwa terlalu banyak hal-hal besar yang belum tercurahkan atau tidak sempat tercurahkan dalam bentuk tulisan. Padahal batas umur kita tidak ada yang dapat memastikan. Pantas jika aku menganggap, berhenti menulis sama dengan berhenti untuk mendokumentasikan memori-memori yang entah kapan akan hilang dari dunia ini. Meneruskannya dalam bentuk tulisan (yang terpublikasikan dan mudah diakses orang) akan memberikan peluang mimpi-mimpi kita akan terwujud oleh orang lain meskipun ajal telah menjemput.
Maka dari itu, aku berniat memaksakan diri untuk terus menulis, terus mengetik, dan terus ngeblog sekonsisten yang aku bisa. Karena aku tidak ingin pelit dan menyembunyikan tulisanku didalam lembar-lembar yang hanya akan bertumpuk tanpa sempat kita ketahui apakah akan memberikan manfaat bagi orang lain. Dari usia yang beberapa puluh hari lagi memasuki seperempat abad, yang sepertinya nyaris semuanya kuhabiskan tanpa kontribusi kongkrit bagi orang lain, aku ingin bahwa entah jika Allah ingin mencabut nyawaku hari ini, esok, lusa atau kapanpun juga, aku masih bisa memberikan sesuatu bagi dunia melalui tulisan ini. Seberapapun idiotnya pemikiran-pemikiranku, seberapa ngejunknya postingan-postinganku, seberapapun tidak bermaknanya tulisan-tulisan ini… aku masih berharap, diluar sana masih ada yang dapat mengambil hikmah dari beberapa ribu kalimat yang ada dalam blog ini.
Maka dari itu, Ayo diri… jangan pelit… ayo nulis… ayo ngeblog… ayo menginspirasi dunia…
Karena esok mungkin tiada…
Wassalamualaikum Wr. Wb.
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me
Permalink Comments off